The first 200 lines.
Akhirnya.
- Terima kasih. - Sama-sama.
- Tak enak? - Larry...
Rasanya seperti kaumasukkan sebotol garam ke dalamnya.
Ini terlalu asin.
Baiklah, terlalu asin. Maaf.
- Bisa buat ruangannya lebih panas? - Ini nyaman.
- Nyaman? - Ya, 24 derajat Celsius, sempurna.
Aku tak bisa tidur di sini saat malam. Terlalu panas. Sumpah.
- Berapa suhu yang kau mau? - 20 derajat Celsius.
20? Itu masalahnya dengan orang kulit putih, LD.
Orang kulit hitam suka sedikit lebih hangat saat malam.
- Setidaknya kompromi... - Tidak. 24 derajat cocok untukku.
Aku akan panggil Leon. Tanya pendapatnya. Leon?
Dia akan bilang itu yang kami suka.
Aku tak bisa tidur. Terlalu panas saat malam.
Aku mau tidur dengan suhu 20 derajat, dia mau 24 derajat.
Ayo kompromi, 22 derajat.
Tidak mau. Kau temanku, Larry. Tapi 22 derajat? Tidak.
- Sama saja tidur di luar. - Baiklah.
- Aku lebih suka 28 derajat. - Dengar? Sudah kubilang.
28 derajat, itu yang aku suka. Itu suhu favoritku.
- Dia suka 20 derajat. - 20 derajat katanya?
- Jangan bercanda! Mau apa kau? - Itu seperti kulkas.
- Astaga. Seperti saat masuk hotel. - Jika bawa wanita ke hotel...
- Kau tahu maksudku. - Saat dia kedinginan...
Harus hangatkan bokongnya.
Baiklah. Kerjakan PR sebelum menonton TV.
- Siap, Bu. - Hai, Larry.
- Apa kabar? - Kurekam acara Tivo. Jangan hapus.
- Mereka hapus semua acara Tivo-ku. - Ada perampokan lagi di area ini.
Aku baru bicara dengan tetangga. Ini ketiga kalinya bulan ini.
- Buat apa bicara dengan tetangga? - Mereka datang memberitahuku.
- Tak perlu bicara dengan tetangga. - Tapi ada perampokan...
Lebih baik pencuri daripada tetangga. Pencuri tak mengganggu.
- Apa maksudmu? - Tetangga inginkan waktu kita.
Pencuri inginkan barang. Lebih baik aku berikan barang daripada waktu.
Sudah ada kabar dari dokter tentang biopsi Loretta?
Belum. Mereka bilang beberapa hari.
Awalnya aku sangat cemas.
Tapi apa pun hasilnya, kau ada di sisinya.
Kau tahu keadaan bisa memburuk. Tapi kau akan mendukungnya.
Jika dia harus lakukan kemoterapi, membuatnya botak dan muntah...
Kau akan tetap di sisinya. Terima kasih, Larry.
24 derajat Celsius? Aku terpanggang di kamar saat malam.
Aku seperti Cinderella. Sumpah.
- Cinderella? Apa maksudmu? - Kau tak pernah lihat dongengnya?
Aku tahu dia. Tapi Cinderella dalam aspek apa? Apa maksudmu?
Pikirmu aspek apa yang aku maksud?
- Entahlah, sepatunya... - Dia disiksa ibu tirinya!
Ibu tiri kejamnya. Jadi, kau bandingkan Loretta...
- Aku membandingkan diriku... - Jangan marah padaku!
- Karena kau bodoh sekali. - Jangan marah padaku.
- Jadi, seperti itu? Mengerikan. - Ya, seperti itu. Tepat. Buruk.
- Dan kau tahu bagian terburuknya? - Apa?
Menunggu hasil biopsinya.
Waktuku 24 jam untuk lepas dari ini sebelum hasilnya keluar.
Kau tak bisa putuskan orang yang menderita kanker.
Kau harus putuskan dia sebelum hasilnya keluar.
- Ini bisa sangat sulit. - Kenapa? Apa masalahnya?
Menjelaskannya itu sulit. Seluruh keluarganya harus pindah.
- Ini masalah besar. - Bukan.
Lebih baik aku ada di posisi Loretta.
Tidak, kau yang memutuskan, pegang kendali.
Pasangan harus punya kesepakatan pra-putus sebelum mulai kencan.
Karena semua hubungan pasti akan berakhir.
Tinggal kirim pesan. Kesepakatan. Jika lihat kata aprikot, berakhir.
Ini hanya hipotesis. Bagaimana jika satu dari kalian memakan aprikot?
- Mau aku beri tahu tentang aprikot? - Apa?
Hanya 1 dari 30 yang bagus.
Buah yang persentasenya sangat rendah.
- Seperti tepung, kering... - Apa kabar?
- Hai, Lar. - Hai.
- Mau ikut pesta makan malam ini? - Malam ini?
Kau suka masakanku.
- Undangannya agak terlambat, 'kan? - Tapi tetap undangan.
- Siapa lagi yang akan datang? - Kau tak perlu tahu.
- Kenapa? - Karena belum beres.
- Apa maksudmu, "belum beres"? - Ini konvensi sosial.
Orang tak tanya siapa yang datang ke pesta makan malam. Belum beres.
- Tak penting. Kenapa belum beres? - Belum. Aku tak tahu asal katanya.
- Kenapa kau ikuti secara membuta? - Kau harus senang begitu caranya.
Jika aku beri tahu kau datang, orang lain mungkin tak datang.
Mungkin karena itu orang tak bilang karena jika tahu yang datang...
Tak ada yang akan mau datang. Lalu untuk apa diadakan...
- Jika orang tak mau berkumpul? - Kurasa bukan itu sebabnya.
- Hanya saja, ini belum beres. - Apa ruginya memberitahuku?
Kurasa tak ada ruginya, kecuali...
- Siapa yang akan datang? - Jangan beri tahu dia.
- Apa? Aku tak tahu. - Siapa yang akan datang?
Kenapa kauributkan soal ini? Itu pertanyaanku.
- Pukul berapa? - Pukul 19.30.
- Jika ada pekerjaan, kerjakanlah. - Tidak sekarang, nanti malam saja.
- Terima kasih. Sampai nanti. - Tak sabar bertemu denganmu.
- Jaga dirimu. Sama-sama. - Terima kasih, Dokter.
Masih belum tahu apa pun.
Sial, aku lupa harus beri makan ikan lagi.
Ini tanggung jawab besar, memberi makan ikan.
Tak menyenangkan. Pikirkanlah.
Aku di luar, harus pulang beri makan ikan.
- Serius, siapa yang peduli? - Tn. David, aku mau bicara soal...
- Pacarmu. - Ikan bukan hewan peliharaan.
Tapi tanggung jawabnya sama. Tapi kita tak dapat timbal balik.
Kita memperhatikannya. Apa itu menakjubkan?
Entahlah.
- Bisa aku bicara tentang Loretta? - Bagaimana menurutmu?
Menurutmu dia menderita...
Menurutmu dia menderita kanker?
Aku tak bisa berspekulasi tentang itu sekarang.
- Kami lakukan biopsi di RS dan... - Aku mau tanya.
Anggaplah kau taruhan dengan Vegas tentang ini.
Apa taruhanmu, kanker atau bukan?
Aku tak suka berjudi.
- Kau pasti punya dugaan. - Aku tak punya.
- Tak punya? - Ya.
Apa ini? Sudah agak lama begini.
Hanya kulit tergores. Olesi losion saja.
Tapi, tunggu sebentar.
Aku akan buatkan resep untuk kau tebus.
Aku akan buatkan resep Zithromax dan Tylenol dengan Codeine.
Tylenol dibutuhkan untuk rasa sakitnya.
Dalam beberapa hari, kita akan dapatkan hasil biopsinya.
Dan itu akan membantu menentukan apa langkah selanjutnya.
Tapi kini aku ingin kau tetap tenang dan...
Ada apa?
Kau buka kulkas tanpa minta izin?
Aku hanya ambil limun. Apa itu...
Aku hanya kaget kau tak minta izin.
- Aku kaget kau tak menawari. - Aku baru mau menawari.
- Kurasa kau tak akan menawari. - Baru mau.
- Kau tak menawariku sekarang. - Agak aneh...
Buka kulkas orang tanpa minta izin, 'kan?
Aku bisa tahu kapan orang akan menawariku limun. Kau tak akan.
Kau hanya mengeluh padaku soal punya ikan dan semacamnya.
- Punya ikan memang repot. - Itu prioritasmu? Pacarmu sakit!
Aku tak bilang itu prioritas, hanya memikirkan ikan harus diberi makan.
Kau tak perlu pikirkan itu. Pikirkan saja wanita sakit di atas!
Aku memikirkan itu. Tapi kenapa kau tak minta izin?
Apa kau terlalu tampan hingga tak mau bilang, "Boleh minta air?"
"Boleh minta kue pai?" Mungkin ikan tuna, tak masalah.
- Tapi ini sebuah masalah. - Kau mau? Ambil ini.
Orang tak menawari, misalnya pada tukang, ikan tuna saat hari panas.
- Mau buah pir ini? - Jangan merendahkanku dengan pir.
Bukan aku yang punya masalah di sini, melainkan kau.
- Baiklah. Terserah. - Terserah.
- Hai, Dr. Schaffer. - Halo.
- Lihat pria itu? - Ada ribut-ribut apa?
- Dia buka kulkasku. Itu tak biasa. - Apa yang dia ambil?
- Limun. - Minuman tak apa-apa.
Aku tak mau orang buka kulkasku.
- Aturan bodoh apa itu? - Apa maksudmu?
- Aku tak buka kulkas orang. - Kau boleh buka kulkasku.
- Aku tak mau. - Kau adalah tamuku.
- Omong-omong, bagaimana saudarimu? - Bam Bam?
Terima kasih sudah bertanya. Dia sudah jauh lebih baik.
- Sungguh? - Aku senang...
- Kami keluarkan dia dari RSJ. - Itu bagus.
- Aku bahagia. - Jika ada yang bisa aku bantu...
Katakan saja.
Kau tahu? Memang ada hal yang bisa kau bantu.
- Apa? - Kau bisa datang pukul 13.00 ini.
- Kunjungi dia. - Kunjungi dia?
- Kau bercanda? - Kenapa? Kau tak serius?
- Tentu tidak. - Lalu kenapa bilang begitu?
Itu hanya ucapan basa-basi.
Coba tebak? Kau sudah mengatakannya.
Datanglah pukul 13.00. Tapi satu hal...
Saat masuk rumah, lihat sepatunya sebelum dia panggil namamu.
Jangan lihat matanya. Dia akan senang melihatmu.
Astaga. Entah kenapa kau serius menanggapinya.
Kau sudah bilang, harus kautepati. Buat dia merasa senang.
Baiklah. Sampai jumpa di rumah Jeff malam ini.
Ada apa di rumah Jeff?
Dia mengadakan...
Pesta makan malam.
Kurasa aku tak diundang.
Aku tak percaya ini.
Kenapa tak pastikan sebelum bilang, "Sampai jumpa nanti malam"...
- Bahwa mereka diundang? - Asumsiku...
- Jangan berasumsi. - Jika mereka beri tahu aku...
Siapa yang akan datang ke pesta, aku akan tahu dan tidak bertanya.
- Tapi mereka tak mau beri tahu aku. - Kau tak perlu tanya yang datang.
Aku hanya memintamu hibur saudariku selama 2 jam...
Lalu kau bisa pergi ke pestamu.
Semoga dia tak berbahaya.
- Datanglah pukul 13.00, bisa? - Aku akan datang!
Aku harus seruangan dengan orang gila?
- Kau tampak sehat. - Benar.
Terima kasih. Terima kasih, Jeff.
Dan aku hargai usahamu, Larry.
- Aku tidak berusaha. - Tak perlu mengusahakannya.
Baiklah. Berarti kita semua bahagia.
Jadi, ada berita baru apa? Benar, 'kan?
Jadi, apa yang sedang terjadi?
Tebak siapa yang suruh Marty diam.
- Kapan terjadinya? Siapa? - Aku menyerah.
- Dia tak memberitahumu? - Tidak.
Yang benar saja. Dia seorang aktris hebat.
- Angelina Jolie? - Bukan.
Kau tahu siapa maksudku. Dia seorang aktris.
No comments yet. Be the first to leave one.