Women on the Verge of a Nervous Breakdown

Women on the Verge of a Nervous Breakdown

Mujeres al borde de un ataque de nervios

Download Indonesian Subtitle

Release info

Women on the Verge of a Nervous Breakdown (1988) Bluray 720p
A Commentary by Irwan19

Tags

BluRay
720p
720
Published on: 2014-04-16
Downloads: 65
Hearing Impaired: Yes

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Ivan dan aku pindah ke sini beberapa bulan yang lalu.

Dunia sedang kacau balau...

dan aku ingin menyelamatkannya dan juga menyelamatkan diriku.

Aku merasa seperti Nuh.

Di lingkup terasku ini...

Aku ingin menyelamatkan sepasang dari tiap spesies.

Meskipun begitu...

Aku tak bisa menyelamatkan pasangan yang paling kusayangi:

Ivan dan aku.

Pepa, sayang...

Aku tak ingin mendengar kau berkata, "Aku tak bahagia."

Salam sayang, Ivan.

Hidup tak berarti tanpamu.

Maukah menikah denganku?

Seribu malam tak akan cukup.

Aku tak bisa hidup tanpamu.

Aku cinta padamu, mendambakanmu, membutuhkanmu.

Malam itu di hutan terasa seperti surga.

Ayo menikah lagi.

Kau adalah geisha hidupku. Sayonara.

Denganmu di sisiku, aku tak butuh kesuksesan.

Aku akan menerimamu apa adanya.

Sayang, beberapa hal jelas terlihat orang Amerika.

Aku sepenuhnya milikmu.

- Aku menerimamu apa adanya. - Luar biasa.

Berapa banyak lelaki yang harus kau lupakan?

Katakan sesuatu yang menghibur.

Berbohonglah.

Katakan padaku kau telah menungguku...

Dan bisa mati jika aku tak kembali.

Katakan kau masih mencintaiku seperti aku mencintaimu.

Terima kasih.

Terima kasih banyak.

Hubungi dua nomor ini.

Pertama, aku akan menelepon satu dulu...

lalu yang satunya lagi.

Pepa.

Pepa, sayang, apa kau tertidur?

Kami mulai tanpamu.

Dengar. Kemasi semua barangku dalam sebuah koper.

Aku akan pergi besok.

Aku akan datang dan mengambilnya dan berpamitan...

tapi aku akan meneleponmu lebih dulu.

Jika kau tak ingin menemuiku, taruh saja kopernya di bawah.

Terima kasih karena sudah memaklumiku.

Aku tak layak mendapatkannya.

Aku akan meneleponmu lagi, sayang.

Ivan?

"EXA." Halo.

Ivan ada di sana?

Dia baru saja meneleponku.

Maaf. Dia baru saja pergi.

Tapi sutradaramu di sini marah-marah karena kau tak datang.

Ya. Ini dia.

Maafkan aku, German.

Aku tak bisa tidur, jadi aku meminum obat tidur.

Tak masalah. Datanglah sekarang.

Aku akan segera ke sana.

Aku harus singgah sebentar untuk mengetahui hasil tes.

Ok, tapi jangan lama-lama.

Beberapa orang beruntung. Aku akan memanggil taksi untukmu.

Siapa yang menginginkan taksi?

Siapa pun yang membutuhkan taksi, harap datang ke resepsionis.

Jangan merokok...

makan teratur, dan kau akan baik-baik saja.

Tn. Salcedo, tolong angkat teleponnya.

Tepat pada waktunya. Studio tujuh.

Apa Ivan menelepon lagi?

Tidak. Lupakan dia, manis.

Aku berusaha.

Hanya saja butuh waktu.

Dan matikan mikrofonnya.

Berikan kertasnya! Berikan!

- Aku benar-benar minta maaf. - Ok, ayo.

Arturo, apakah kau bersedia menerima...

Eugenia sebagai istrimu...

dan berjanji untuk setia, baik saat senang maupun susah...

saat sakit maupun saat sehat, sampai kematian memisahkan kalian?

Ya, aku bersedia.

Dan kau, Eugenia. Eugenia?

Ya, Bapa?

Apa kau bersedia menerima Arturo sebagai suamimu?

Tentu. Aku bersedia.

Apa yang Tuhan telah satukan, jangan ada yang memisahkannya.

Bisa kami berciuman sekarang, Bapa?

Anakku, jangan pernah mempercayai lelaki manapun.

Bahkan suamiku sendiri?

Kau harus hati-hati.

Bagus. Kita akan memeriksanya nanti.

Rekam itu.

- Kau bisa mulai. - Terima kasih.

Ini. Minumlah.

Aku tak haus.

Ini akan membantumu tidur.

Aku sudah mencobanya, dan sama sekali tak membantu.

Berapa banyak lelaki yang harus kau lupakan?

Sebanyak perempuan yang pernah kau ingat.

Jangan pergi.

Aku belum beranjak.

Katakan sesuatu yang menghibur.

Apa yang harus kukatakan?

Berbohonglah. Katakan kau telah menungguku sekian lama.

Aku telah menunggumu selama bertahun-tahun.

Katakan kau bisa mati jika aku tak kembali.

Aku akan mati jika kau tak kembali.

Katakan kau masih mencintaiku seperti aku mencintaimu.

Aku masih mencintaimu seperti kau mencintaiku.

Terima kasih. Terima kasih banyak.

Pepa, kau tak apa-apa?

Ya, aku baik-baik saja. Aku akan segera kembali.

Kau punya nyali juga rupanya.

Telepon nomor ini, tolong.

Kau tak punya hak, Pepa.

Tekan saja nomornya.

Kau hanya menyakiti dirimu sendiri.

Sakit sedikit lagi tak akan berpengaruh.

- Apa kau menangis? - Ya.

Lihat! Kau lihat? Aku tahu, Pepa.

Hubungi! Mereka tak membayarmu untuk menghambat pekerjaan kami.

Baiklah, segera. Permisi! Aku siap melayani!

Kopiku bisa menunggu.

Aku cukup mendapat sarapan pada waktunya.

Nomor perempuan lain.

Dia tak pernah belajar. Tidak.

Seharusnya dia menyadarinya. Tidak.

Tak pernah.

- Siapa ini? - Pepa Marcos. Apa Ivan ada?

- Maaf mengganggu. - Takkan kumaafkan.

Aku harus bicara padanya. Ini penting sekali.

Beraninya kau menelepon ke sini?

Jangan berteriak padaku. Aku baru saja jatuh pingsan.

Aku tak peduli meskipun kau mati!

Dengar, Ivan dan aku sudah berpisah.

- Peduli setan! - Persetan juga denganmu!

Katakan padanya untuk menghubungiku.

Pepa, aku tak tahu jika kamu baru saja pingsan.

Kasihan.

Ini sudah kelewatan!

Beraninya kau membelanya!

- Ibu. - Ya?

Kita harus bicara.

Jangan sekarang. Aku sedang merias alisku, kau membuatku gugup.

Ok. Nanti bisa?

Nanti. Nanti.

Ada masalah apa?

Perempuan yang tidur dengan Ivan itu berani-beraninya meneleponku.

Dia harusnya lebih bijaksana.

Kenapa aku belum membuangnya?

Ayah melarangmu.

Aku bisa menjualnya di toko, kau tahu?

Aku suka mengenakannya.

Seolah-olah waktu berhenti.

Waktu tak pernah berhenti.

Jangan kasar begitu. Biarkan dia memakai yang disukainya.

Teruskan. Hibur dia. Dia tak akan pernah sembuh.

Sini aku bantu.

- Pegang ini. - Coba lihat. Ini dia.

Suka?

Kau terlihat luar biasa.

Kau pembohong besar, ayah. Itulah kenapa aku menyayangimu.

Menurutmu itu tak terlalu gelap?

- Tidak. - Begitu juga menurutku.

- Apa aku mengganggu? - Tidak. Bagaimana kabarmu?

- Baik. - Bagaimana apartemennya?

- Kau nyaman tinggal di sana? - Ya, tapi aku datang untuk mengiklankannya.

Kami akan menawarkan harga yang bagus.

Bagus. Aku ingin menyewa apartemen.

Boleh aku memakai teleponnya? Aku keluar seharian ini.

Ingin tipe apartemen seperti apa?

Yang punya teras, tapi tak terlalu besar.

- Apartemenmu Montalban nomor tujuh? - Ya, lantai tujuh.

220 meter persegi termasuk terasnya.

Semua orang menyukai model buatanmu.

Hasilnya bagus.

Dia belum menelepon.

- Berapa? - 200 pesetas.

- Isabel ada? - Dia sibuk. Bisa kubantu?

- Aku harus bertemu dengannya. - Tunggu sebentar.

Hai.

Kau ingin mencoba perawatan muka?

- Aku tak bisa sekarang. - Ini gratis.

Mereka sedang memberikan demonstrasi.

Aku butuh obat tidur.

Aku kehabisan.

- Kau punya resepnya? - Tidak. Akan kubawa nanti atau besok.

Aku tak bisa tidur tanpa itu.

- Ok. - Terima kasih.

- Dia tak mirip. - Dia lebih kurus dari yang terlihat di TV.

Pepa, sayang, kau ada di sana?

Jika aku tak bisa menghubungimu, aku akan merasa khawatir.

Begitu juga aku.

Aku kurang beruntung tak bisa menemuimu hari ini, jadi...

Bagaimana?

Aku merasa kau menghindariku.

Omong kosong.

Aku akan terus berusaha untuk menemuimu.

- Mungkin aku akan beruntung. - Tentu.

Aku benar-benar ingin bicara padamu.

- Aku merindukanmu. - Aku tahu.

Kalau begitu, jaga dirimu.

More Indonesian subtitles for Women on the Verge of a Nervous Breakdown

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left