The first 200 lines.
Begini, Ros...
Kurasa kau terlalu lama tinggal di Jawa.
Jadi, kau terlalu mudah kompromi.
Bukan soal kompromi.
Ini demi kebahagiaan keluarga kita.
Kau lihat muka Ita? Dia hampir gila.
Aku pusing dibuatnya.
Tapi kau produktif juga.
Dia lebih muda lima tahun,
usia kakaknya delapan tahun.
Itu pas.
Kau pintar memilih istri.
Dia sudah punya asuransi.
Diam!
Sudah coba kambing gulingnya?
Ke pernikahan harus makan kambing guling.
Betul. Ayo.
Aku sudah empat piring.
Ini lezat.
Kau mau lagi?
Boleh coba?
Bun, siapa dia?
Dia?
Pipit, putri Bibi Rika.
Itu karena kau tak pernah ikut kumpul. Sok sibuk.
Sepupu, ya?
Ya.
Bun, jaga dia dulu.
Bawa ini.
Aku belum makan.
Kemari, Mama capek.
Lihat itu sama Papa, ya?
Alasan.
- Ican, kemari! - Ada apa?
- Apa kabar? - Baik.
Kenapa kau disusul terus sama sepupu yang lain?
Jangan terlalu kebarat-baratan!
Tapi kita memang orang Barat.
Maksudku, Sumatera Barat.
Jangan membantah orang tua terus, kasihan ibumu.
Dia ingin cucu perempuan.
Miskin dia!
Terima kasih perhatiannya.
Aku memang ingin cucu perempuan, itu sebabnya aku berdoa.
Maksudku biar dia cepat menikah.
Kasihan dia sudah tua, anaknya masih kecil.
Ya, tapi jangan bilang aku miskin. Malu.
Maaf.
Can.
Sebentar.
Aku ingin tambah.
Nanti saja.
Sebentar.
Mama bertemu Bibi Len, anaknya cantik.
Katanya dia dokter di Maninjau.
Baik, kita bicara besok, aku mau makan dulu.
Apa kabar?
Alhamdulillah, sehat.
Kenalkan putra keduaku, Ican.
Dia sudah menikah?
Kita bisa kenalkan pada Novi.
Bisa dicoba. Apa dia di sini?
Tadi dia di sini, sekarang entah ke mana...
- Di mana dia? - Sudah makan?
Kau mau pulang?
Tidak. Cuma ingin cari udara segar.
Kukira perempuan ini mau pulang.
Kenapa tak betah di acara keluarga?
Bukan begitu, Nathan tak bisa diam.
Normal jika anak kecil tak bisa diam, lain halnya dengan orang dewasa.
Tak apa-apa, kenalkan ini Bibi Len dari Pariaman.
Halo.
Permisi.
Ican...
Jangan mau sama putrinya.
Ibu sudah bertemu. Dia tak cantik, merokok pula.
Orang tak dinilai dari wajahnya, Bu,
tapi dari hatinya.
Jangan bilang begitu.
Bukan wajahnya, tapi cantik atau tidak.
Kami keluar sebentar, Bu. Nathan rewel.
- Ya. - Sebentar, Can.
Ya. Nathan...
- Ayo minum kopi. - Ayo.
Kalian mau ke mana?
Pulang, ke mana lagi?
- Katanya mau minum kopi? - Ayo.
Kau ikut?
- Itu siapa? - Mana?
Itu...
Saudaranya Asril.
- Aku pulang, ya. - Baik.
Hai.
Hai.
- Saudaranya Asril? - Ya.
Kenapa belum pernah bertemu?
Padahal aku sering ke rumahmu menemani Ibu dan Rostina.
Kau saudaranya Rostina?
Sepupu.
- Ican. - Rike.
Bibiku pernah bilang
kau kerja di periklanan, 'kan?
Ya.
Menunggu siapa?
Ibu. Entah kenapa lama sekali.
Begitulah orang tua.
Alasan pamit, tapi malah mengobrol.
Ican, mobilnya mana?
Ya, Ibu.
Asril punya nomormu?
Aku akan minta darinya, ya.
- Ican! - Tunggu, Bu.
Siapa itu?
Jangan dekat-dekat, nanti fitnah.
Tidak. Aku ambil mobil dulu.
Ayo.
Allah berfirman, tiap manusia mempunyai batas waktu.
Maka apabila waktunya datang,
mereka tak dapat menundanya,
meski hanya sesaat,
atau mempercepatnya.
Kita semua mempunyai masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.
Generasi sekarang, generasi yang lalu, dan generasi yang akan datang.
Semua mempunyai masa dan cara masing-masing.
Itu baru?
Ya, Pak Giran.
Bagus, olahraga biar sehat.
Anak muda harus seperti itu.
Lihat aku, 65 tahun masih sehat.
Tapi ingat,
jangan terlalu sering minum kopi dan merokok.
Tak baik bagi tubuh.
Berapa kali, Can?
Sebisaku saja.
Ini bagus.
Lagi.
- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.
Ini masih ada kue.
Boleh dibungkus?
- Tentu. - Baguslah.
Aku tak pernah lihat Ican bersama perempuan.
Dia sudah 32 tahun.
Aku dulu sudah punya anak dua.
- Kami pamit dulu, Bu. - Baik.
- Sudah bungkus? - Ya.
Terima kasih.
Pengajian nanti datang lagi.
- Terima kasih. - Kami pulang dengan kenyang.
Assalamualaikum.
- Waalaikumsalam. - Waalaikumsalam.
Mungkin doa Bu Ros yang didengar Allah.
Apa maksudmu?
Ibu ingat waktu Ican kuliah di Bandung?
Ibu selalu berdoa dia tak terpikat wanita.
Agar dia dijauhkan dari zina.
Mungkin Allah mendengarnya,
makanya Ican tak suka wanita.
Itu tak benar!
Tak mungkin.
Doa orang tua selalu didengar Tuhan.
Pola hidup kalian yang harus diubah.
Can...
Kau bisa buat sinetron yang lebih bagus? Kantormu buat film, 'kan?
Ya.
Tapi kami tak buat sinetron.
Kenapa tidak?
Kau bisa buat cerita
tentang menantu yang sayang mertua.
Pasti bagus.
Baik, aku akan buat nanti.
Sinetron tentang mertua yang baik kepada menantunya,
mertuanya orang Padang.
Cerewet sekali!
- Assalamualaikum. - Waalaikumsalam.
Waalaikumsalam.
Duduk, Sayang.
Kubawakan sop kambing kesukaan Mama.
Aku masak sendiri.
Ini banyak tulang mudanya.
Ndoy bilang Ibu suka.
Sudah berapa bulan kandunganmu?
Sudah enam bulan, Bu.
Semoga sehat.
Makanannya sudah siap, Ibu mau langsung makan?
Kalau sudah siap,
terserah aku mau makan sekarang atau besok.
Biarkan saja di sana.
Bu...
Maya masak untuk Ibu, jangan ketus.
Siapa yang ketus?
Dia menawari makan, tapi Ibu sedang nonton TV,
jadi, Ibu bilang taruh saja di situ.
Tapi cara bicaranya jangan seperti itu.
Kenapa kau mengatur cara bicara Ibu?
Perempuan itu sudah sangat memengaruhimu!
Ibu.
Coba ganti salurannya.
Iklan tak bisa ditonton.
Apa maksudmu?
Lihat saja.
No comments yet. Be the first to leave one.