The first 200 lines.
=Jatuh Cinta=
=Episode 1=
Sudah sepuluh tahun meninggalkan Shanghai.
Sekarang semua berita yang tersebar di koran...
...memberitakan keadaan Shanghai yang kacau...
...dan membuat hati tak tenang.
Sedangkan, ayahku di tengah kekacauan ini...
...menjadi Ketua Direktur Perdagangan Tiongkok.
Kediaman Mu yang familier itu juga sudah ada pemilik wanita baru.
(Putri Mu Zhiyuan, orang kaya Shanghai, Mu Wanqing)
Kalian pelan-pelanlah sedikit.
Cepatlah, sudah pukul berapa ini.
Siapa yang letakkan bunga ini?
Mengapa miring?
- Cepatlah perbaiki. - Nyonya.
Nona Wanting meminta mobil untuk jemput saudarinya.
Namun, mobil di rumah diutus ke stasiun kereta.
Jemput Panglima Perang dan Pejabat Militer.
Hanya tersisa satu mobil.
Nanti masih harus ke pelabuhan menjemput Nona Wanqing.
Pinjam mobil untuk menjemputnya saja.
Namun, kapal Nona Wanqing sudah mau sampai pelabuhan.
Waktunya mungkin sudah tak sempat.
Xiao Hui.
Apa otakmu bermasalah?
Apa kau tak paham yang aku bilang?
Tidak penting sekali.
Wanqing.
Mulai sekarang, kau harus merencanakan hidupmu sendiri.
Jika kembali ke Keluarga Mu dan hidup tak bahagia,...
...maka juallah mas kawin yang aku tinggalkan.
Belilah rumah sendiri.
Lewati hari dengan baik.
Ibu.
Anda tenang saja.
Aku pasti mendengar perkataan Anda.
Hidup dengan baik untuk Anda dan Kakak.
Halo, silakan di sini.
Silakan.
Izin bertanya mau memesan apa?
Secangkir kopi dan Surat Kabar Jepang.
Baik, tunggu sebentar.
Sayang.
Aku merasa...
Aku merasa perutku tak enak.
Kau duduk di sini, makan sendiri dulu.
Aku berbaring sebentar, ya?
Bagaimana bisa?
Jika tak ada kau, aku bagaimana bisa makan?
Perutku sungguh tak enak.
Kau patuhlah.
Baik-baik di sini.
Aku tak selera makan sendiri.
Namun, perutku memang tak enak.
Begini.
Jika tak percaya, kau cobalah.
Sungguh sakit.
Pergilah.
Nona, surat kabarmu.
Terima kasih.
Perut sudah tak sakit?
(Jenderal Muda Pasukan Keluarga Tan, Tan Xuanlin)
(Sekretaris kepercayaan Tan Xuanlin, Xu Man)
Kenapa membuka koperku?
Jika kau bertindak gegabah, akan membuat masalah.
Panglima Perang Xu punya fondasi kuat di Shanghai.
Kau pikir kau bisa mengacau hanya dengan...
...menyuap komandan Pusat Keamanan Shanghai?
Ini tak mungkin.
Jadi, kau mau mencuri peta pertahananku...
...memberinya pada orang Xu Bojun, ya?
Jika informasinya dibocorkan, kau akan membatalkan aksi.
Jenderal Muda.
Sebenarnya, aku berbuat ini untuk membantumu.
Aku demi menghalangimu membuat kesalahan besar.
Kau sudah mengkhianatiku, masih bilang untuk kebaikanku.
Jenderal Muda.
Kau berbicara begini, apa kau tak merasakan ketulusan hatiku?
Jenderal Muda.
Kau sudah menyakiti orang.
Jangan bersuara.
Terima kasih.
Orang Jepang?
Orang Jepang?
Baik.
Tenanglah.
Jika tidak, aku akan membunuhmu.
Paham?
Ada orang menjemputku di bawah.
Jika aku tak muncul, mereka akan melapor polisi.
Ayo, pergi.
Tidak.
Santailah.
Mulai sekarang,...
...kau harus bersamaku kapan pun itu.
Setelah turun dari kapal, aku akan membebaskanmu.
Tetap di sini.
Tolong!
Tuan.
Aku tadi mendengar ada benda yang pecah.
Apa perlu dibersihkan?
Tuan.
Jika kau tak bicara, aku masuk, ya.
Keluar!
Maaf, Tuan.
Kau harus ingat perkataanku.
Paham tidak?
Biarkan aku pergi, aku mohon padamu.
Tentu, ikut denganku.
Ayo.
Ikut denganku.
Santai saja.
Apa mereka orang yang menunggumu?
Lupakan semua yang kau lihat.
Jangan merepotkanku, ya?
Pergi.
Hati-hati, tolong beri aku jalan.
Beri aku jalan.
Maaf, beri aku jalan.
Halo.
Halo.
Lao Wu.
Perkembangan masalahnya lancar, 'kan?
Xu Bojun semakin ketat memantauku dalam dua hari ini.
Dia mengutus orang mengikutiku ke mana pun aku pergi.
Aku bilang hari ini mau ke pelabuhan menjemput keponakanku.
Baru bisa menyingkirkan orang yang mengikutiku.
Lao Wu.
Kenapa aku merasa kau mengambil keuntungan dariku?
Tak ada cara lain.
Dia selalu menangkap kelemahanku...
...dan ingin orang kepercayaannya menggantikanku.
Hidup matiku hanya mengandalkan Pasukan Keluarga Tan.
Kau tenang saja.
Aku masuk kota sendiri.
Semua harta ada denganmu.
Aku sungguh menganggapmu orang sendiri.
Tahun itu kau menolongku dari medan perang.
Aku tahu kau orang yang setia kawan.
Kau mau mengikutiku, berarti kau menganggap aku bisa.
Asalkan aku ada makanan, kau tak akan kelaparan.
Jenderal Muda, pasukanmu...
Sudah diatur di luar kota.
Tenang saja, mereka sangat bisa diandalkan.
Oh, ya.
Siapa wanita yang keluar bersamamu tadi?
Apa kau masih ingat Xu Man?
Dia menjadi pengkhianat.
Gadis itu melihatku saat aku mengurus mayatnya.
Bukankah kau seharusnya membuat dia...
Hati-hati, tolong beri aku jalan.
Dia paham bahasa Mandarin.
Gawat.
Kejar!
Kenapa sopir di rumah belum datang?
Tidak kelihatan.
Kau pintar juga.
Jangan berpura-pura lagi.
Patuhlah.
Jangan bergerak.
Jangan sentuh!
Tuan, aku pulang ke tanah air hanya untuk menguburkan ibuku.
Aku janji tak akan asal bicara.
Mu Wanqing.
Kau hampir membohongiku.
Aku pikir kau orang Jepang dan tak menggangguku.
Apa yang mau kau lakukan?
Harus merepotkanmu.
Beberapa waktu ini, ikut bersamaku.
Untuk mencegah kau membuat masalah.
Tak ada masalah, 'kan?
Jenderal Muda, menurutku, bunuh saja dia dengan pistol ini.
Buang ke sungai saja.
Lao Wu, turunkan pistolmu.
Bukankah ini menantu dari keponakanmu?
Sudahlah.
Jenderal Muda bisa mengerti dan memerhatikan wanita.
Baiklah.
Patuhlah.
Kau hati-hati sedikit.
Dasar.
Ibu.
Bajuku ini bagus tidak?
Cocok tidak dengan Kakak Guangyao?
Anakku.
Kau jangan selalu membicarakan Guangyao.
Kita juga wanita bermartabat.
Kalem sedikit.
Ibu.
Jika aku lebih kalem, Kakak Guangyao akan direbut orang.
Kali ini Panglima Perang Xu datang ke Shanghai, sudah memohon ayahmu.
Masalah kau dengan Guangyao, sudah diselesaikan.
Sungguh?
Lao Wu, pulang saja dulu.
Dari Divisi Pusat Keamanan Shanghai.
Ini kamar yang dipesan.
(Nama, Liu Zijiang, pria, 3 Juli tahun ke-12 Republik Tiongkok)
Lalu, siapa Nyonya ini?
Aku keponakan Komandan Wu.
Ini istriku.
No comments yet. Be the first to leave one.