The first 194 lines.
Kenapa hanya berdiri di sana? Masuklah.
Masuklah, Anak Nakal.
Kau sebut dirimu pria?
Kau tidak mau? Katakan lagi.
Haruskah aku bertindak seperti pecundang karenamu?
Haruskah?
Dasar sampah tidak berguna!
Kau tahu nasib anak-anak tidak berguna sepertimu?
Jun, buka pintunya!
- Jangan. - Jun, buka pintunya!
Lepaskan.
- Ayah, hentikan ini. - Minggir!
- Lepaskan. - Tolong hentikan.
Kau tidak mau melepaskannya?
- Buka pintunya! - Ayah!
Lepaskan!
Jun!
Dasar kau...
Jun-wan.
Kakak?
Tinggalkan kami.
Kak, begini...
Keluarlah.
Kak Jun-wan...
Jun-wan, kau juga tak lihat, 'kan?
Kau.
Kau memukulinya tanpa sepengetahuanku?
Jun-wan, dengarkan ayah.
Sudah kuperingatkan
kau tak boleh mengusik Jun.
Tapi anak nakal itu
bertingkah...
Kau makin lemah.
Menyakitkan melihatnya.
Kau tidak muak melakukan ini?
Bukankah perbuatanmu selama ini cukup?
Kumohon hentikan, sialan!
Apa yang terjadi?
Katakan apa yang terjadi! Jun-wan mana?
Jun-wan?
Jun-wan, buka pintunya.
Jun-wan, buka pintunya!
Jun-wan, buka pintunya. Jun-wan!
Jangan, Jun-wan!
Jun-wan, buka pintunya!
Kejadian hari itu terulang lagi.
Sejak hari itu, Jun-wan menjadi sangat tertutup.
Dia tidak lagi tertawa.
Tidak...
Jun-wan, buka pintunya! Jun-wan!
Jun-wan!
Ibu.
Ibu, aku sakit.
Minggir, sial!
Jun-wan, ibu mohon buka pintunya.
Jun-wan...
Halo?
Kumohon...
Kumohon selamatkan putraku.
Kumohon selamatkan putraku.
Jun-wan, astaga.
Hei, So-bin.
Soo-hyun, Jun sudah kembali?
Belum.
Dia tidak bisa dihubungi sampai sekarang, aku khawatir.
Akan kusuruh dia meneleponmu saat dia sudah pulang.
Soo-hyun.
Aku mungkin tidak bisa membantu,
tapi setidaknya bisa mendengarkan.
Terkadang,
Jun tampak sangat jauh.
Aku ingin menghapus jarak itu,
tapi aku khawatir mungkin bukan itu
yang dia inginkan.
Jika kau sabar, mungkin saja dia akan mendekat sendiri.
Seperti itulah dia.
Itu membantu.
Terima kasih, Soo-hyun.
Bagaimana dengan Ayah?
Dia akan dihukum dan semua orang akan tahu perbuatannya.
Jadi, seperti ini akhirnya.
Begitu media tahu soal ini, hidupmu akan terganggu.
Tidak apa-apa.
Aku sudah familier
jika menyangkut ketenaran.
Kakak sudah bertekad saat menemukanmu
pingsan karena dipukuli olehnya.
Bahwa kakak akan melindungimu darinya.
Kakak kira hanya perlu menghadapi dia sendirian.
Bahwa kakak hanya perlu menjauhkanmu dari jangkauannya.
Kakak pun yakin semua baik-baik saja.
Kakak.
Maafkan kakak.
Itu malah memperburuk keadaanmu.
Dahulu kau anak lelaki menawan yang secerah matahari.
Aku masih sangat menawan sekarang.
Jadi, jangan khawatir.
Aku akan melupakan ini
dan hidup bahagia.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
- Bagaimana dengan Kakak? - Apa?
Bagaimana dengan hidup Kakak?
Kakak tak pernah melakukan kemauan Kakak
dan menempuh jalan yang dipilih orang tua kita.
Kakak baik-baik saja.
Kakak harus menjalani hidup dengan melakukan keinginan Kakak.
Tak ada hal semacam itu.
Kakak juga harus berkencan.
Bagaimana caranya?
Urus saja dirimu sendiri
dan jalani hubungan sehat dengan So-bin.
Jangan menjalani hidup yang terlalu sesuai aturan.
Mengerti?
Aku akan mengawasi Kakak.
Aku permisi.
Pergilah.
Aku selalu pergi lebih dahulu tanpa menunggu Kakak.
Masuklah.
Tidak akan sampai Kakak pergi.
[adalah menjalani hidup yang dia inginkan.]
Kau jalani saja hidupmu.
Dengan bebas.
[Tapi selain itu, terima kasih sudah mengingatkanku]
Kulihat kau sudah menghapusnya dari ingatanmu.
tapi aku mengingatnya setiap hari.
Jadi, jangan coba-coba melupakannya tanpa seizinku.
Kau sudah pulang.
Ada apa?
Jun.
Kau baik-baik saja? So-bin sangat mencemaskanmu.
Apa yang terjadi?
Kelas terasa kosong tanpa Jun.
Mataku bosan.
Jangan bilang kau masih...
Tentu tidak. Perasaanku kepadanya sama seperti saat melihat selebritas.
Kenapa dia jarang ke kampus?
Tanya Kim So-bin. Dia pacarnya, pasti tahu.
Itulah yang kuinginkan.
Agar semua orang tahu kita pasangan.
Soo-hyun, kenapa kau berdiri di sini?
Aku menunggumu.
- Aku? - Ya.
Kupikir kau ingin ditemani karena Jun tidak ada di sini.
Jadi, kau mau makan siang denganku menggantikannya?
Kapan aku mulai bicara santai denganmu?
Tidak butuh waktu lama dengan Jun.
Begitukah?
Aku sungguh tidak menduga kalian akan berteman.
Aku tinggal bersama Jun pasti tidak nyaman untukmu.
Tidak. Aku merasa tenang.
Mengetahui ada orang sepertimu di sisinya
menenangkanku.
Tapi aku tidak seberguna itu.
Bahkan saat aku tidak ada,
ada kau di sampingnya.
Berkat kau, dia bisa tertawa.
Seperti itukah rasanya menyukai seseorang?
Kau mengharapkan kebahagiaan orang itu bahkan saat tidak di sisinya.
Apa tidak ada orang seperti itu dalam hidupmu?
Aku yakin kau tak penasaran soal itu.
Kenapa kau tak menanyakan kabar Jun?
Karena membahasnya hanya membuatku makin merindukannya.
Jangan terlalu mencemaskan Jun.
Apa itu Jun?
Aku merindukanmu.
Aku merindukanmu.
Kenapa kau masih berdiri di situ dan merusak suasana?
Untuk memberimu catatanku.
Ini.
Yang penting sudah ditandai, jadi, ingatlah itu.
Dan ini milikku.
Ada apa dengan kalian? Bukan ini yang kubutuhkan sekarang.
Jangan konyol.
Setelah bolos beberapa kelas, pelajar harus mengejar ketinggalan.
Catatan siapa yang akan kau ambil?
Kau cuma bisa memilih sekali, dan hanya ada satu kesempatan.
Lupakan saja. Aku tak mau mengikuti kelas apa pun.
Aku punya dua orang yang menyayangiku untuk mencatat semuanya,
jadi, kenapa repot-repot?
- Enak saja. - Enak saja.
Jangan bergaul dengannya. Dia memengaruhimu.
Selalu merusak suasana.
Tunggu sebentar.
Ya, Profesor.
Kau sudah merasa lebih baik?
Aku pulang hari itu setelah menyelesaikan semuanya dengan ayahku,
tapi melihatmu membuatku menangis.
Hal yang sudah lama menyakitiku
bukan lagi masalah besar bagiku, dan itu tampak sia-sia.
Kurasa rasa sakitnya telah menjadi temanku.
Aku sudah terlalu lama menahannya.
Jadi, meninggalkannya
terasa seperti aku berpisah dengan diriku di masa lalu.
Itu sebabnya kau menangis tersedu-sedu. Karena rasa sakit perpisahan.
No comments yet. Be the first to leave one.