The first 200 lines.
Suara yang kau dengar ini bukanlah suaraku berbicara,
tapi suara hatiku.
Aku menjadi bisu sejak umur 6 tahun
Tak ada yang tahu kenapa. Bahkan diriku sendiri.
Ayahku bilang Aku punya sifat misterius
dan sifat itu akan selalu kubawa hingga aku meninggal.
Hari ini, ayah menikahkanku dengan pria yang belum pernah kutemui.
Aku dan putriku harus segera menyusul ke negara asal suamiku.
Suamiku bilang, kebisuanku bukanlah masalah baginya.
Dia menulis, jika Tuhan saja mencintai orang bisu, kenapa dia tidak?
Bagus dia punya kesabaran seperti Tuhan...
...karena diam pada akhirnya akan berpengaruh bagi semua orang.
Anehnya, aku sendiri tidak merasa jika aku pendiam.
Ini karena pianoku.
Aku akan merindukannya selama perjalanan.
Raih tangannya, ayo.
Kau denganku.
Dia sudah kugendong.
Kau sudah sampai.
Stasiun Paddington.
Sebelah sini!
Ayo buka celanamu..
Kita kencing sama-sama.
Ayo!
Dalam hitungan ketiga,
Ya ampun, peti siapa ini?
Ya Tuhan, berat sekali!
Sialan! Kita tinggalkan saja mereka. Itu yang mereka mau.
Sialan kau!
Oh, aku suka itu. Bagus.
Tinggalkan mereka dan biarkan mereka mati?
Cuacanya buruk.
Mereka tak bisa melanjutkan perjalanan dengan cuaca seperti ini.
Kau punya sesuatu untuk berteduh?
Dia bilang, "Terima kasih."
Apakah ibumu mau ikut dengan kami ke Nelson?
Dia bilang tidak.
Dia bilang lebih baik direbus hidup-hidup oleh orang pribumi
daripada kembali bersama orang-orang bau.
Beruntung tak kutampar mulut kecilmu, gadis kecil!
Sungguh beruntung!
Kita semua siap sekarang.
Ma, awas!
Ayamnya tidak apa-apa kan? Sini.
Lihat, aku si kupu-kupu raksasa.
Akankah ini terbakar?
Aku tak akan memanggilnya papa. Aku tak akan memanggilnya apapun.
Aku bahkan takkan meliriknya.
Apa kita berhenti?
Haruskah kita berhenti?
Kita harus lanjutkan.
Hmm?
Nn. McGrath? Aku Alisdair Stewart.
Ayo bangun, aku bawa orang untuk mengangkut barang-barangmu.
Oh, kau bawa banyak peti.
Aku ingin tahu apa isi dari setiap peti...
Kau bisa mendengarku?
Bagus. Ya, itu bagus.
Ini apa isinya?
Kau kurus sekali. Aku tak mengira kau begitu kurus.
Dan yang ini?
Ini besar sekali.
- Apa isinya, ranjang? - Ini piano ibuku.
Baines, bilang pada mereka, angkut secara berpasangan. Angkut semua peti, meja dan, uh...
...koper.
Bagaimana menurutmu?
Dia terlihat lelah.
Dia kurus, itu yang pasti.
Bagaimana dengan peti besar ini?
Tidak, tidak. Hanya koper dan peti seperti yang kubilang tadi.
- Tidak, ini tak bisa diangkut sekarang. - Harus. Dia mau ini diangkut.
Ya, aku juga. Tapi tidak cukup orang untuk mengangkut semuanya sekarang.
Terlalu berat!
Apa, maksudmu lebih baik tinggalkan pakaian dan peralatan dapur?
Begitu maksudmu?
Jangan tinggalkan pianonya!
Jangan berdebat lebih jauh.
Aku senang kalian datang dengan selamat.
Ibuku ingin tahu apakah mereka bisa segera kembali.
Aku minta maaf untuk keterlambatan, aku menyesal...
Setelah mereka selesai mengangkut barang-barang yang lain.
Kusarankan lebih baik bersiap untuk perjalanan yang berat.
Kita harus lewati semak dan lumpur di sepanjang perjalanan.
Apa yang mereka lakukan? Kita tak punya waktu untuk ini.
Baines!
Ada masalah? Kenapa mereka berhenti?
Ini rute menuju tempat pemakaman. Tapu.
- Kita turun lewat jalan ini. - Aku yakin kita bisa.
Mereka mau uang lebih. Perjalanan jadi lebih lama.
Tidak.
Tidak, mereka tahu rute lain.
Septimus, lepaskan bajunya!
Lepaskan!
Hey, hati-hati!
Septimus! Hentikan!
- Hentikan! - Hentikan!
Hentikan! Nanti bajunya sobek!
Oh, tag-nya rusak.
Septimus, hentikan!
Hati-hati. Nanti bajunya sobek.
Turunkan lengan.
Jika kalian tak bisa bersama saat pesta pernikahan,
setidaknya kalian bisa punya fotonya.
Hati-hati. Rendanya mudah sobek.
Ayah kandungku seorang komposer terkenal asal Jerman.
Mereka bertemu saat ibuku jadi penyanyi opera di Luxembourg.
Kenapa?
Aku ingin ikut difoto.
Kau sengaja tinggalkan pakaian di sini?
Tidak, tidak. Ini supaya kursinya tetap kering.
Aku nyaris terpeleset Kayunya sangat licin.
Beri dia kursi.
Tarik terpalnya.
Maaf, kita harus berfoto di luar walau hujan. Tidak cukup cahaya di dalam.
Aku harus berdiri sebelah mana, di sini atau pindah sisi lain?
Sisi lain! Pindahlah.
Tolong pegang ini.
Silakan duduk...
Uh...
Tahan.
Di mana mereka menikah?
Di suatu hutan, para peri menjadi pengiringnya,
masing-masing menggandeng kurcaci.
Tidak, aku bohong. Yang benar di gereja kecil di kaki gunung.
- Gunung mana itu, sayang? - Pyrenees.
Oh. Aku belum pernah ke sana.
Ibuku suka menyanyikan lagu Jerman
dan suaranya akan bergema di sepanjang lembah.
- Tapi itu sebelum kecelakaan? - Apa yang terjadi?
Suatu hari, saat ayah dan ibuku menyanyi di hutan,
ada badai besar datang.
Mereka terlalu bersemangat bernyanyi hingga tak menyadari.
tidak juga berhenti saat hujan mulai turun.
Dan saat suara mereka meninggi, di bagian akhir duet mereka,
datang petir menyambar ayahku,
dia terbakar seperti obor.
Ayahku tewas seketika,
dan ibuku menjadi bisu.
Dia tak lagi bicara sepatah kata pun.
Ya, ampun!
Tak sepatah kata pun?
Oh, setelah kecelakaan. Ya.
Sangat menyedihkan.
Menyedihkan.
Menyedihkan. Oh.
Menyedihkan, menyedihkan.
Kemari...
Sayang?
Maaf.
Um, aku harus pergi selama beberapa hari.
Ada beberapa lahan di Maori yang menarik untuk dibeli.
Kuharap kau bisa mengisi waktu dan semakin betah di sini
dan mungkin... dengan suatu cara...
...kita bisa memulai lagi.
Ok?
Aku tak bisa membaca.
Tolong antar kami kembali ke pantai.
Maaf. Aku tak bisa.
Aku tak punya waktu.
Bye.
Aku tak bisa antar kalian ke sana.
Tak bisa.
Whoa, whoa!
Mama! Mama, lihat aku! Lihat!
Mama! Mama!
- Hello. - Hello.
Oh, kau berhenti menyisir rambutmu, itu bagus.
Terlalu berlebihan.
Lihat, di sini ada celah untuk memasukkan kepala.
- Tunjukkan, Nessie. - Celah.
Pendeta akan menggunakan darah hewan.
Tak diragukan lagi. Ini akan sangat dramatis.
- Sangat dramatis. - Teh.
Morag...
...bagaimana menurutmu jika seseorang memainkan meja dapur...
...seolah-olah itu piano?
Seolah-olah itu piano?
Ini aneh, bukan? Maksudku, itu bukanlah piano.
Tak ada suara apapun.
Biskuit.
Tidak, tak ada suara.
Aku tahu dia bisu, tapi sekarang aku rasa...
...mungkin lebih dari itu.
Aku jadi ragu apakah otaknya tidak terganggu.
Shush!
- Tak ada suara sama sekali? - Tidak. Itu meja.
Dia juga amat kasar saat melepas gaun. Dia merobek rendanya.
Jika saat itu aku tak di sana,
aku yakin dia akan mengigit dan menginjak-injak gaunnya.
Menginjak-injak gaunnya.
Kita belum bisa menyimpulkan apapun. Sementara, ini jadi perhatian.
Ya.
Ya, tentu. Perhatian.
Ada yang perlu dijelaskan soal diam.
Tentu saja. Supaya disukai.
Seiring waktu, aku yakin dia akan jadi... penuh kasih.
Pastinya tak ada yang lebih mudah disukai selain hewan peliharaan.
Dan mereka cukup pendiam.
And when they were down, they were down
And when they were only halfway up, they were neither up or down
No comments yet. Be the first to leave one.