The first 200 lines.
Halo?
Joon Ho?
Kamu mengganti nomor teleponmu?
Tidak, aku membeli ponsel lagi.
Hubungi aku di nomor ini mulai sekarang.
Kamu bersikap pintar, ya?
Kamu mau menghindari istrimu yang memata-mataimu?
Kamu sudah mendengarnya?
Kenapa kamu sangat tidak beruntung dengan cinta?
Kurasa itu bukan hal yang seharusnya kamu katakan.
Anggap saja karma buruk.
Jangan menyalahkan karma.
Hubungilah aku di nomor ini mulai sekarang.
Aku tidak bisa bicara di malam hari, jadi, kirim pesan saja.
Kenapa aku harus melakukannya? Kita tidak berselingkuh.
Kalau perlu bicara denganmu,
aku akan menelepon nomor aslimu. Begitulah.
Karma? Karma...
Memangnya apa lagi kalau bukan karma?
Kenapa kamu belum pulang?
Sekarang kamu pulang?
Sedang apa kamu?
Kamu belum tidur?
Kenapa kamu tidak tidur padahal tidak enak badan?
Aku baru mau tidur.
Matamu lebih cekung daripada sebelumnya.
Beri tahukan gejalamu
dan akan kucarikan obat.
Tidak perlu.
Ibuku mengirimi pesan.
- Di mana kado ulang tahunku? - Apa?
Soal itu? Aku lupa. Tunggu sebentar.
Apakah kamu membukanya?
Tidak.
Ibumu pasti sibuk. Dia mengirimkannya seperti ini.
Kamu suka jam tangannya?
- Ya. - Syukurlah.
Kenapa kamu terdengar sangat sedih?
Apakah Song Joo memarahimu lagi?
Kenapa tidak ada surat?
Apa?
Sekalipun tidak membelikanku kado,
Ibu selalu menuliskan surat pada hari ulang tahunku.
Ibu terlalu sibuk dengan latihan.
Song Joo membuang semua surat Ibu kepadaku.
Serta batu-batu yang kukumpulkan.
Apa?
Kenapa dia membuang surat-surat dari ibu?
Halo?
Dong Hyun.
Dong Hyun.
Kenapa kamu tidak mau bicara?
Dong Hyun, maafkan ibu.
Ibu akan mengirimkanmu surat.
Dong Hyun.
Dong Hyun?
Aku lelah, Ibu.
Sampai jumpa.
Jadi? Apakah kamu setuju membantu mereka tidur bersama?
Soal itu?
Kubilang ya,
tapi sekalipun untuk Ayah,
aku tidak bisa melakukan hal seperti itu.
Aku tahu. Ibu pasti akan membencinya.
Meskipun anak-anak mereka, kita tidak boleh melewati batas.
Benar.
Menikah denganmu membuatku sadar
betapa sulitnya bagi Ibu.
Aku tidak tahu Ayah seotoriter itu.
Lalu putri yang dipercayainya
bersikeras menikah dengan pria sepertiku.
Aku tahu.
Aku merasa prihatin terhadap Ibu dan kasihan terhadap Ayah.
Ayah bahkan tidak bisa membuka penanak nasi tanpa bantuan Ibu.
Kulihat hari ini, dia bukannya tidak bisa apa-apa.
Dia hanya tidak mau belajar.
Benar sekali.
Apakah tidak ada yang bisa kita lakukan?
Aku jadi mengkhawatirkan mereka sekarang.
Aku akan tegas kepada kalian mulai sekarang, jadi, bersiaplah.
Pastikan mengerjakan PR kalian.
Kamu memberi kami terlalu banyak PR.
Kalian harus meluangkan banyak waktu untuk matematika pada awalnya.
Begitu melakukannya,
itu menjadi mata pelajaran termudah untuk dikuasai.
Tidak usah khawatir.
Akan kupastikan kakakku mengerjakan PR-nya.
Jangan konyol dan kerjakan PR-mu sendiri.
Kakak bahkan tidak bisa menjawab satu soal tanpaku.
Kakak bisa. Kakak bisa mengikuti dengan baik di sekolah.
- Kakak lebih pintar dari dugaanmu. - Kamu sudah selesai?
Halo.
Apakah sulit mengajar Il Lan?
Ibu.
Di masa kami, anak yang tertinggal tidur malam untuk mengejar.
Kelas tambahan sekarang ini tidak menerima anak dengan nilainya.
Yi Ran diterima di mana pun dia mau.
Aku tidak mau belajar kalau Ibu terus mengatakan itu.
Apa? Kamu tidak mau belajar?
Kamu seharusnya merasa terhormat
seorang siswa kedokteran Universitas Goyeon
mau mengajarimu, jadi, jaga ucapanmu.
Dasar anak nakal.
Terima kasih untuk hari ini, Dae Young.
Aku harus berbicara dengan Il Lan,
jadi, tidak bisa mengantarmu keluar. Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Il Lan!
Kuharap kamu mengerti. Seperti inilah hidup kami.
Pemandangan yang menyenangkan. Sampai jumpa.
Hati-hati.
Kenapa kamu bangun sangat pagi?
Ayolah, Ibu.
Sudah kubilang akan buat sarapan selama berada di sini.
Kenapa lakukan itu jika kamu di sini karena tidak enak badan?
Kurasa aku hanya merindukan Ibu.
Karena kini berada di sini, aku merasa baik-baik saja.
Kamu tahu cara berkata manis karena kini sudah menikah.
Kamu memasak sup?
Ya. Aku membuat sup doenjang dengan kaldu teri.
Dengan sayuran kering dari kulkas.
Kenapa kamu memakai syal? Apakah kamu terserang sesuatu?
Kurasa pemanas di kamarku rusak.
Tidak apa-apa semalam, tapi sangat dingin di pagi hari.
Benarkah? Kamu pasti kesulitan.
Tidak apa-apa. Aku memakai semua pakaian yang kupunya
dan memeluk erat Hyeon U.
Jaga ucapanmu di dekat ibumu.
Ayah, sepertinya mustahil memperbaikinya sendiri.
Perlukah kupanggil jasa perbaikan?
Diamlah.
- Turunkan itu. - Baiklah.
Ada apa, Ayah?
Mengenai pemanasnya.
Itu tidak sulit diperbaiki. Aku hanya tidak mau memperbaikinya.
Ayah sebaiknya memanggil seseorang sebelum cuaca makin dingin.
Astaga.
Kenapa kamu sangat lamban dalam berpikir?
Apa?
Kamu dan So Young tidak bisa tidur di kamar itu lagi.
Maka kalian akan harus pindah ke bawah.
Ya. Itu artinya...
Kamar Ibu?
Lalu di mana dia akan tidur?
Maka dia akan tidak punya pilihan selain tidur denganku.
Begitu rupanya.
Beri tahu Soon Young hal yang baru saja kuberi tahu.
Kalian harus bilang kamarnya terlalu dingin untuk ditempati.
Begitu kalian melakukan itu, aku akan mengurus selebihnya.
Baiklah, Ayah.
Selamat pagi.
Apakah terlihat pagiku indah?
Aku hampir tidak bisa tidur karenamu.
Apa yang sudah kulakukan?
Kamu terpikirkan ide-ide aneh seperti krim baru dan set hadiah.
Apa kamu tahu betapa merepotkannya itu?
Aku hanya menyarankannya untuk melontarkan ide di luar sana.
Kalau itu sangat merepotkan, apa sebaiknya kita cari cara lain?
Bagaimana kita bisa melakukan itu?
Idenya mengagumkan.
CEO sudah memberi izin
dan produksi dimulai pagi ini.
- Benarkah? - Apakah kamu sesenang itu?
Tentu saja.
Ideku menjadi produk sungguhan.
Akulah yang mewujudkannya,
jadi, traktir aku makan.
Aku belum menerima bonusnya.
Kenapa aku sudah harus mentraktirmu makan?
Kamu berubah sangat cepat.
Kamu bahkan tidak ada di sini kalau bukan karena aku.
Kamu benar.
Baiklah kalau begitu. Kamu mau apa?
Makanan rumahan.
Apa? Makanan Korea?
Bukan. Dae Young selalu mengatakan sesuatu di Afrika.
Bahwa masakan ibunya yang terbaik di dunia.
Aku mau mencicipinya.
Aku hampir tidak makan apa-apa selama berhari-hari
berusaha mengembangkan produk barunya. Apakah kamu tahu itu?
Begitukah?
Ya, begitu.
Aku tidak makan tepat waktu, dan bagian dalam tubuhku sakit.
Jadi,
itu salahmu.
Halo.
Ini Real Estat Tak. Kamu datang kemarin.
Ya. Aku sudah berbicara dengan pemilik rumah saat ini dan...
Hai, duduklah dan tunggu sebentar.
Ya.
Dia akan melakukan sesuatu mengenai kertas dindingnya,
tapi wastafel baru tidak mungkin.
Dasar berengsek.
Mereka seharusnya membuat rumah bisa huni, lalu menagih uang sewa.
Tidak, itu bukan aku.
Hubungilah aku kembali setelah membahasnya.
Terima kasih, sampai jumpa.
Orang-orang tidak punya hati nurani.
Apakah terjadi sesuatu?
Adakah yang membuatmu kesal?
No comments yet. Be the first to leave one.