The first 200 lines.
Tahun ketika cerita ini terjadi
adalah tahun dimana hampir semua hal terjadi padaku.
Tahun ketika aku pindah dari kota ke sebuah kota kecil
untuk menyelesaikan SMA ku.
Tahun dimana polusi industri
tak ada hentinya di pinggiran kota...
Sementara itu, polusi pabrik semakin parah...
Tahun dimana ayahku mendapati rasa gatal
yang kemudian hari menjadi kanker,
dan merontokkan seluruh rambut dan membuatnya meninggal.
Tahun ketika seorang pembunuh berantai bermantel putih
menggemparkan wilayah ini, membuat anak-anak kecil tak bisa tidur.
Tapi hal yang lebih besar adalah... inilah tahun ketika aku mencoba
menjadi seseorang yang lain sesaat
dan untuk pertama kalinya aku jadi gila karena jatuh cinta.
Seakan dunia akan berakhir.
Namun pada awalnya
Ini sama sekali tak kurencanakan.
Aku hanya mencoret kalenderku
dan tiba-tiba aku menjadi seorang gadis baru di sebuah sekolah baru
dimana tak ada seorang pun yang mau bicara padaku
Owh. Kau membawa sebangsa logam?
Kurasa tidak.
Kau harus diperiksa dulu.
Apa ini?
Bola bowling.
Kami tahan.
Pernahkah kau masuk ke sebuah ruang
dimana kau tahu betul semua orang membencimu?
Kalikan situasi itu sejuta kali
dan kau akan mengerti pengalaman SMA ku ini.
Saat aku tahu orang membenciku,
daripada meluruskan persangkaan mereka,
Aku malah menjadi-jadi dan aneh
lalu berusaha menjadi seperti apa yang mereka gambarkan tentangku.
Tapi sekolah ini tak hanya brengsek dan penuh penggosip.
Tempat ini bahkan menakutkan.
Biar kau punya gambaran, akan kuceritakan tentang Laura Lee.
Kurasa jawabannya minus 5.
Laura Lee adalah seorang siswi di sekolah kami
yang ketika malam menari di klub telanjang.
Tak ada yang mau bicara padanya, tapi seluruh tim football
memanaskan koin dengan korek gas
dan melemparkan padanya ketika ia melewati lorong sekolah
Koin-koin panas itu mengujaninya seperti hujan es.
Namun yang mengagumkan dari gadis malang ini adalah
absensinya sempurna.
Bayangkan ia harus menari sampai jam 2 malam atau lebih
dikagetkan dengan koin-koin panas
dan dia masih bisa mengikuti kelas dua kali lipat
dari kebanyakan orang.
Sungguh, sebuah kisah tentang semangat hidup yang mengagumkan,
namun kau tak akan menemukan omong kosong ini di acara Oprah.
Lalu akhir Maret, ketika sekelompok anak bermain di lapangan
mereka menemukan mayatnya.
Seluruh kakinya, penuh bekas sulutan api,
seperti bekas disundut dengan berbagai macam koin.
Sejauh ini, hanya sedikit hasil dari penyelidikan.
Namun sumber kepolisian sedang mencari
seorang tersangka laki-laki yang mengenakan setelan putih.
Seperti itulah kehidupan di SMA Hargrove.
Semua masuk kelas sekarang!
Terima kasih.
Hei!
Mau merokok ganja bareng setelah sekolah?
Ehm, tentu. Pasti asyik.
Pastinya.
Ya Tuhan.
Siapa tadi namamu?
Caroline.
Aku Paul.
Charles, Craig, dan ini Thurston.
Ya, kami pernah ketemu.
Kenapa kau mau pindah ke tempat seperti ini?
Ehm, ayahku kerja di proyek besar itu.
Kau tak menghisapnya kawan.
Aku menghisapnya.
Kamu hanya pura-pura menghisapnya. Jerawatmu menempel semua di pipanya.
- Ada cewek di sini. - Owh.
Ternyata aku masuk sebuah SMA yang paling penuh dengan pecandu
di negara bagian ini, ya ampun.
Mereka menghisap ganja,
menghirup lem, amphetamin,
mengkonsumsi Ecstasy dalam WC... apapun untuk mengusir kebosanan.
Tapi Thurston...
dia punya alasan sendiri.
Hei, Thurston.
OK, anak-anak.
Anak-anak,
tulisan-tulisan ini sangat...
Apa kalian begitu membenci sekolah?
Atau, apa karena saya?
Apa karena saya membiarkan kalian memanggil saya 'Barry' saja, tanpa 'Pak'?
Dengar, kalian tahu...
Saya baru pindah kembali ke kota ini.
Dan tempat ini betul-betul kacau balau.
Saya pernah seumuran kalian.
Saya tahu kalian punya pikiran-pikiran sendiri berkecamuk dalam otak kalian.
Jadi, besok tak ada lagi tugas membaca.
Saya minta kalian menulis essay tiga halaman.
tentang tokoh sejarah atau agama yang paling kalian kagumi.
OK?
Ceritakan pada saya mirip siapakah kalian.
Aku tak tahu bagaimana pikiran itu bisa muncul,
tiba-tiba aku berpikir hidupku akan lebih menarik.
Bukankah kadang kita ingin menjadi seseorang yang berbeda,
seseorang yang lebih cerdas, seksi, dan berani?
Atau mungkin hanya karena aku bertemu seseorang yang sama-sama kesepian.
Setelah ibu meninggal dan kami berpindah-pindah,
sepertinya aku dan ayah punya begitu banyak cinta
tapi tak tahu akan dicurahkan ke siapa.
Atau mungkin aku telah gila.
Thomas.
Sejenak aku serasa...
dikelilingi kegilaan.
Dan kami benar-benar menikmatinya.
Ingin bertemu saya?
Ya, aku ingin bicara sesuatu dengan anda.
Silahkan.
Aku ingin bilang...
aku siswi baru di sini, dan sejauh ini aku benci tempat ini.
OK, tapi kalau kau berupaya keras...
Anak-anak di sini tak ada yang dewasa dan mendiskriminasikan jenis kelamin.
Dan anak-anak perempuan di sini lebih payah lagi.
Mereka menerima perlakuan itu begitu saja... tak menghargai diri-sendiri.
Dan itu sangat tak pantas
jika kita mengingat sejarah kaum wanita, anda tahu?
Andai saja saya bisa mendebatmu.
Saya pergi ke pesta itu
dimana mereka teler karena Rohypnol.
Pesta obat bius itu.
Aku tahu pil perangsang yang mereka pakai.
Berapa umur anda?
Saya tak akan menjawab itu.
35? 34?
Sekitar itu.
Anda naif juga.
Ngomong-ngomong,
Aku beritahu... anda tidak sendiri.
Ini tugasku.
Acungkan jempol kakimu lalu sepaklah.
Jangan seperti perempuan.
- Oh! - Ooh, sial.
Sial!
Kau tak apa-apa?
Ya. Ya...
Luwes sekali kan?
Aku tak suka skateboard.
Kalau begitu, buang saja.
Ya.
Apa kamu...
mau membuangnya denganku?
Apa kau masih ingat bertemu aku di pesta?
Tentu saja.
Aku minta maaf tentang...
Oh ya. Tak apa-apa.
Nona Wexler...
Ya?
...bagaimana menurutmu kota kami yang indah ini?
ehm...
Aku tunggu jawabanmu.
Menurutku ini tempat yang mengagumkan dan bersahabat
penuh dengan orang bermoral, takut Tuhan,
orang-orang yang menenteng senapan.
Tak seburuk itu.
Berilah orang lain kesempatan.
Kau... sedang mabuk?
Banyak hubungan incest di kota ini lebih dari film Atom Egoyan.
Siapa?
Kubilang banyak hubungan incest disini.
Oh, ya. incest...
itu game yang bisa dimainkan seluruh keluarga.
Ehm, aku harus pergi.
Ya,
selalu begitu, kamu selalu...
hidupmu selalu terpogram, Nona Wexler.
Bye.
Sampai nanti.
OK.
Pertama kali aku bertemu Thurston
dia mendekatiku di sebuah pesta, berusaha tampil semenarik mungkin.
Lalu aku berpikir ada yang salah dengan dia.
Dia merasa orang hidup yang paling tak beruntung.
Bagaimana sekolahnya, Lily?
- Teman-teman kelasku bodoh. - Masa?
Tyler Jenkins bahkan tak bisa membaca.
Keluarga Jenkins adalah orang kulit putih yang bodoh.
Jaga kata-katamu, Thurston. Ibu yakin Tyler sudah berusaha.
Bu, dia payah. Dia punya 6 jempol.
Ibu yakin itu bermanfaat, untuk renang misalnya.
Thurston.
Aku tak tahu.
Thurston.
Tidak. Jangan.
Jangan.
Itu bukan salahmu.
Baiklah, aku tak mau makan.
Thomas.
Aku mencintaimu melebihi udara yang kuhirup.
Tolong datang dan tolong aku dari semua hal bodoh ini.
No comments yet. Be the first to leave one.