The first 185 lines.
sudah agak lama kusadari betapa lemahnya diriku
yowai jibun nante tokku ni jikaku shiten da yo
ku tak ingin terlalu akrab dengan seseorang seperti itu
sonna mon ni nareaitakunai ne
walau kuputuskan benang kegalauan dunia yang tak ada baiknya ini
tatoeba zokuseken dame da to nageku doukasen
itu takkan nyalakan api di bawahku
jibun ni hi ga tsukanu you ni
kita berpegangan tangan selama ribuan tahun
iku sennen mo te wo toriatte teitaraku wo
urusan menyedihkan ini terkuak dan kita mendarat di tempat berbeda
sarashiatte zureta chakuchi ten
walau ku harusnya bisa tertawa dan melihatnya
waratte mieta tsumori na no ni
jarak jauhnya tampak begitu jauhnya
toonoku kyori ha So Far
walau bukan karena ku kesepian
sabishii wake ja nai no ni
walau ku terus mengejarnya
oikakeru no ni
bawalah cintaku, terus coba ambil cintaku dan buatku menggila
boku no ai wo kurae Love wo kuratte miro Drive Me Crazy
kau pasti tahu cita-cita seseorang
dareka no risou wo hoshitten darou nee
ku tak ingin lakukan hal seperti biarkan kesensitifan kedewasaanku
kansei no seijuku nante shitaku ha nain da
kau mengerti, 'kan?
wakaru deshou
inilah simpati sederhana, yang lenyap di depan mata
tanjun Sympathy kieta me no mae no
lebih menggelora dari
keshiki ha aseta
warna yang memudar
iro yori koi
ZainuddinAri
mempersembahkan
Rakuzan
Seirin
Serangan balasan yang ampuh, tapi...
Saat ini kami tak punya shooter.
Kalau hanya three-point, Kagami, Koga dan aku juga bisa melakukannya.
Tapi, kemungkinan berhasilnya sangat jauh di bawah Hyuuga!
Sedangkan Rakuzan punya shooter yang lebih mengerikan dari Akashi.
Mibuchi!
Jangan-jangan, ini...
Insting Hewan Buas?
Three-point tanpa fake?
Tidak, ini...
Hampa!
Dia coba hentikan shot Hampa milik mbak Reo?
Jatuhlah!
Sial!
Berkat Koga, aku tahu cara hentikan ketiga shot itu.
Dan juga, aku sudah sadari apa Hampa itu!
Sebuah Peringatan
Quarter 72
Hyuuga, apa kau akan bermain?
Ya, meski aku tahu risikonya besar.
Meski begitu, aku pasti akan kalahkan Mibuchi!
Maaf, Hyuuga, aku tak sanggup menghadapinya.
Bicara apa kau ini? Berkatmu, aku jadi merasa bisa menghadapinya!
Tenang saja, aku pasti juga akan balaskan dendammu padanya!
Baik, kuserahkan padamu. Berjuanglah, Hyuuga.
Sisa waktu tinggal 10 menit.
Kita tak perlu tergesa-gesa.
Tapi, jangan hanya pertahankan selisihnya saja.
Teruslah menyerang, dan habisi Seirin tanpa ampun!
Baik!
Reo, kelihatannya Hyuuga akan kembali bermain.
Tapi, meski dia punya empat foul, jangan sampai meremehkannya.
Baik.
Eikichi.
Sepertinya Kiyoshi masih belum menyerah. Terus awasi dia.
Baik!
Kotaro, mau sampai kapan kau akan terus menahan diri?
Aku ingin kau kembali cetak angka.
Tentu saja!
Dan dia ingin biarkanku bermain tanpa katakan apa pun, ya?
Memanfaatkanku seperti habis manis sepah dibuang.
Praktis sekali cara berpikirmu itu, dasar konglomerat sialan.
Tapi...
Aku tak tahu apa penyebabnya, tapi rasanya ada yang aneh dengan Akashi yang sekarang ini.
Waktu istirahat selesai.
Baiklah! Ayo maju!
Teppei?
Eh? Ada apa, Riko?
Tidak, bukan apa-apa.
Kiyoshi!
Ya.
Kita pasti menang! Seirin, fight!
Ya!
Akhirnya quarter keempat, ya.
Dengan ini, juara Winter Cup akan ditentukan.
Apa Seirin bisa kejar ketinggalan 20 angka?
Entahlah.
Tapi, mereka masih belum menyerah.
Untuk lakukan Giant Killing, yang terpenting bukanlah taktik, melainkan keinginan.
Giant Killing: Balikkan keadaan saat selisih angka sudah terlampau besar.
Baru mulai langsung three-point?
Responsnya juga cepat!
Pelatih, aku punya satu permintaan.
Eh?
Bisa tolong lakukan sesuatu untuk hentikan tanganku yang gemetaran ini?
Eh, kenapa? Bukankah kau baru saja beri aba-aba untuk tim?
Ini beda lagi penyebabnya!
Aku sudah kena empat foul, tahu! Tekanannya terlalu besar buatku!
Dasar. Hadap sana!
Ba-Baik!
Aduh, sakit!
Cepat sekali!
Bagus, Kapten!
Rakuzan
Seirin
Bagus! Lihat saja, Rakuzan!
Kukira dia akan tertekan karena sudah dapatkan empat foul.
Tak kusangka, kondisinya malah lebih prima dibanding sebelumnya.
Baiklah! Ayo kita hentikan serangan mereka!
Ya!
Defense! Defense! Defense!
Defense yang bagus. Masuknya Hyuuga benar- benar bawa perubahan besar pada tim mereka.
Tapi, kalau dia tak boleh dapatkan satu pun foul lagi, bagaimana cara menghadapinya?
Berjuanglah, Junpei!
Itu shoot Langit!
Tapi, Hyuuga sudah membacanya!
Fake? Kalau begitu, ini...
Shoot Bumi, dan foul kelima Hyuuga!
Kapten!
Dia tak lompat! Jangan-jangan, dia membacanya?
Mibuchi, ketiga jenis shoot-mu itu,
hingga sebelum lompat, posturnya memang sangat mirip.
Tapi, masing-masing pusat gravitasinya sangat berbeda!
Langit, Bumi, Hampa.
Tepat sebelum lakukan masing-masing shoot, pusat gravitasimu pasti akan bergeser!
Kalau aku bisa melihatnya...
Maju, Hyuuga!
Hyuuga!
Kenapa tenaganya jadi lebih kuat dibanding sebelumnya?
Teppei, jangan-jangan...
Si bodoh itu!
Pikirkan masa depan dan cederaku hanya akan buatku tak bisa ambil keputusan yang benar!
Karenanya, saat ini juga...
Tak bisa! Sekalipun memaksa, posisinya tetap tak bisa direbut!
Sudah kuduga dia akan lakukan hal seperti itu.
Meski sudah berkali-kali kami ingatkan, kau ini benar-benar nekat!
Sekalipun kami mencadangkanmu, kau akan buat Riko menangis dan memaksa untuk bermain.
Kami sudah tak bisa hentikanmu!
Hoi, Kiyoshi! Memangnya sudah berapa lama kau jadi center?
Jangan sampai kalah sama orang yang gede otot doang!
Apa? Cepat sekali!
Maju!
Kagami!
Ayo!
Beraninya kau, Junpei.
Aku pasti akan hancurkanmu.
Harusnya aku yang bilang begitu! Selain itu, jangan memanggilku begitu!
Meski kesal, tapi dia masih bisa tenang. Sepertinya kita tak perlu khawatirkan mbak Reo, ya.
Di sisi lain...
Sialan!
Tenang sedikit, dong, Ei.
Apa yang kaulakukan, Kotaro?
Soalnya sama sepertiku, kau ini cepat emosi. Jadi, kau harus hati-hati.
Kiyoshi itu kuat.
Sekalipun sedang cedera, dia itu punya julukan yang sama dengan kita bertiga, tahu.
Jangan sampai remehkan dia, ya!
Berisik. Aku juga tahu, kok.
Wah! Sudah berapa kali para shooting guard saling berhadapan?
Junpei Hyuuga. Dia benar-benar berbahaya.
Dia bisa bedakan ketiga jenis shoot-ku, dan bertindak menghadapinya.
Kalau memang begitu, akan kugunakan shoot Hampa yang buatnya tak bisa lompat!
Tapi, bisa jadi dia sudah tahu soal shoot Hampa.
Haruskah kuhadapi dengan three-point? Ataukah mengoper bolanya?
Tidak, justru karena itu aku harus menghadapinya!
Sebagai pemain Rakuzan, aku tak boleh mundur!
Akan aku pertaruhkan seluruh harga diri yang kumiliki
untuk lakukan shoot Hampa!
Begitu rupanya, aku mengerti sekarang!
Rahasia kenapa pemain bertahan tak bisa lompat untuk menghentikannya!
Yaitu seberapa rendahnya ancang-ancang yang dia lakukan sebelum lompat!
Saat Mibuchi lakukan shoot Hampa, dia akan lakukan ancang-ancang lebih rendah dari biasanya.
Lalu, saat lompat, dia sengaja berhenti saat pemain bertahan baru akan luruskan lututnya.
Pemain bertahan yang terkecoh, akan kehilangan tenaga gerakan ancang-ancangnya,
sehingga dia tak bisa lompat.
Tapi, karena ancang-ancang Mibuchi lebih rendah, tenaganya masih tersisa.
Dan dia manfaatkan sisa tenaga itu untuk lakukan shoot.
Itulah rahasia di balik shoot Hampa!
No comments yet. Be the first to leave one.