The first 200 lines.
Merekalah alasan
aku tidak bisa memaafkan diriku.
Kenapa aku melakukan hal seperti itu?
Bagaimanapun,
aku bersyukur.
Terima kasih sudah mendengarkanku.
Apa?
Tolong turun dari sana.
Pak, jangan melakukan ini. Kau harus hidup.
Kau harus terus hidup.
Aku akan terus hidup. Aku tidak akan melompat.
Tunggu. Tunggu. Sakit.
Kami mengerti, jadi, tolong tenanglah.
Jangan bergerak.
Mari kita tarik napas.
Tarik napas dan buang.
Jangan melakukan ini sesulit apa pun hidup.
Aku tidak berniat melompat. Aku serius.
Kau yakin?
Aku hanya menelepon
untuk menyampaikan isi hatiku.
Tetap saja, kau harus ikut ke kantor polisi.
Kenapa?
Seperti kataku, aku tidak akan melompat.
Anggota keluarga harus mengantarmu pulang.
Begitukah?
Namun... Aku tidak berniat melompat.
Kita akan bicara di kantor polisi. / - Tunggu.
Tidak apa-apa. / - Aku tidak berniat melompat.
Hidup adalah pertempuran, bukan? / - Astaga.
Aku tidak ingin lompat! / - Ya, kami mengerti.
Kami hanya ingin bicara. / - Namun...
Tidak apa-apa, Pak. Kau tidak ditangkap.
Aku suka warnanya. Itu menunjukkan gairah.
Begitukah?
Cobalah.
Namun, aku harus melepas ini.
Pakai saja di atasnya.
Omong-omong, apa kesanmu tentang dia?
Dia tidak muda,
tapi dia tampak cukup polos.
Selain itu, dia pengacara.
Pengacara?
Dia bos Hyeonjae.
Apa?
Jangan beri tahu Gyeongae dahulu.
Mereka pernah berpapasan
dan Gyeongae tidak menyukainya.
Jika dia kepala firma hukum,
dia pasti lebih tua.
Ya, itu sedikit menggangguku.
Dia lebih tua dari Yunjae.
Namun, dia tetap menyukainya?
Sepertinya dia tergila-gila kepadanya.
Untuk apa lagi dia memperkenalkanku padanya?
Astaga.
Jadi, bagaimana menurutmu?
Kau tampak hebat.
Kau harus memakai itu saat pergi yoga.
Aku suka warna cerahnya.
Ke mana ayahmu pergi bersama Yunjae hari ini?
Kau tidak bertanya padanya?
Sudah, tapi tidak memberiku jawaban langsung.
Dia mungkin tidak ingin memberitahumu.
Kenapa begitu?
Aku ragu belakangan ini.
Kenapa aku diperlakukan seperti ini
setelah semua yang kulakukan untuk mereka?
Kau tahu bagaimana anak-anak.
Kita bukan prioritas mereka.
Jangan terlalu kesal soal itu.
Aku bertemu Yuna hari ini.
Kulihat kau tidak bisa menahan diri.
Aku menjadi lemah saat bertemu dengannya.
Kurasa aku mulai menyukainya.
Kubilang dia membuatku muak,
tapi saat melihat wajahnya, aku menyukainya.
Aku tahu kau tidak bisa berhati keras.
Aku tetap tidak ingin Yuna bersama Sujae.
Dia harus merelakannya
agar bisa mengakhiri semuanya.
Sujae tidak bisa putus karena merasa bersalah.
Siapa yang meneleponmu selarut ini?
Aku tidak tahu.
Halo?
Apa kau ayah Lee Sujae?
Ya, benar.
Kantor polisi?
Ya. Aku akan segera ke sana. Baiklah.
Apa itu? Ada apa?
Apa Sujae ada di kantor polisi? Kenapa?
Permisi. Aku di sini untuk bertemu Lee Sujae.
Begitu rupanya. Dia ada di sana.
Astaga, Sujae. Kenapa kau melakukan itu?
Kenapa kau melakukan itu?
Bagaimana Ibu bisa hidup tanpamu?
Tidak, Ibu. Bukan begitu.
Aku tidak sekarat. Aku tidak mencoba bunuh diri.
Cukup. Hentikan.
Ayah. / - Hei.
Apa yang terjadi? / - Kalian juga di sini.
Kami bersamanya. Kami harus datang.
Ditipu karena uang
bukan alasan untuk melakukan hal seperti itu!
Aku tidak berniat melompat. / - Astaga.
Aku tidak mencoba bunuh diri. / - Astaga.
Ayah. Aku tidak melakukan apa pun.
Lalu kenapa kau berakhir di sini?
Terjadi kesalahpahaman.
Kalian tidak tahu itu?
Aku hanya melihat telepon dan menelepon.
Aku butuh teman bicara.
Aku hanya menelepon.
Hei, apa polisi muncul karena dia menelepon?
Itu tidak cukup untuk membuat polisi bertindak.
Kau pasti mengatakan hal serius.
Kau bisa bilang ingin mati
saat melalui masa sulit.
Kenapa kau berkata begitu, Bodoh?
Cukup. / - Aku tidak berniat bunuh diri.
Mereka mencoba bekerja di sini.
Maaf soal ini. / - Maafkan aku.
Dasar bodoh. / - Ayo.
Ayo. / - Keluarlah.
Hei, bangun. Ayo, Ibu.
Apa? / - Bangun saja, Berandal.
Sujae, pulanglah dengan Ibu.
Baiklah. Bisakah kau hentikan itu?
Sebelum pergi, kita mungkin harus beli tahu.
Kau harus memakannya.
Sayang, ayo makan tahu. / - Ibu.
Ayah sendiri di rumah. Kita tidak bisa makan.
Beli tahu. Dia bisa memakannya saat pulang.
Kenapa dia mau makan tahu?
Itu maksudku.
Diam saja.
Baiklah. Ayo pulang saja. / - Baiklah. Ayo.
Pergilah. Ikut kami.
Kenapa kau bersikap seperti ini
kepada adikmu? Hentikan.
Astaga.
Sempit sekali.
Pegang dia erat-erat agar tidak bisa kabur.
Ibu, aku harus ke mana saat kita di mobil? Sial!
Astaga. / - Entah ke mana kau akan pergi.
Ayah. Yunjae. Bisa katakan sesuatu kepada Ibu?
Hei, dia hanya bisa memercayaimu sejauh itu.
Apa yang bisa kukatakan?
Kalian tidak boleh mengatakan apa pun.
Apa yang kalian katakan kepada adikmu
hingga membuatnya lepas kendali?
Astaga, Ibu. Itu konyol.
Kami tidak pantas mendengar itu. / - Ya.
Itu bukan salah mereka.
Setidaknya, kau tahu.
Astaga, jangan ganggu aku. / - Kau diam saja.
Di sini sempit. Jangan bergerak. / - Sakit.
Mari kita pergi dengan tenang.
Anak-anak, jangan berisik!
Kau yang paling berisik di sini.
Baiklah.
Astaga.
Ini Ayah.
Ayah, ini aku.
Bagaimana hasilnya? Kenapa kau tidak pulang?
Bukan masalah. Kami dalam perjalanan pulang.
Baiklah.
Ibu, apa Kakek tahu?
Dia tahu kami pergi ke kantor polisi.
Kami tidak bisa menyembunyikannya.
Kemarilah.
Lihat perbuatanmu, Berandal.
Kenapa kau memukulku?
Kau pantas mendapatkannya.
Kubilang aku tidak akan bunuh diri.
Kau pantas dihajar.
Dasar anak nakal. / - Bisa berhenti bergerak?
Sempit sekali di sini.
Aku tidak percaya para berandalan itu.
Halo, Haejun. / - Aku mengacaukan semuanya.
Apa kau akan keluar lagi?
Aku akan pergi ke tempat Haejun.
Maksudku, Bu Sim.
Kenapa kau sering mengunjungi rumahnya?
Ini sudah larut.
Pacar Haejun adalah
kakak Hyeonjae.
Apa? Bagaimana mungkin?
Jadi, banyak yang harus kami bicarakan.
Seperti apa?
Haejun bertemu kakek Hyeonjae hari ini.
Kakeknya?
Kurasa mereka ingin menikah.
Kurasa Haejun juga.
Kurasa pacarnya merasakan hal yang sama.
Itu sebabnya dia memperkenalkan kakeknya.
Apa usianya 40-an sekarang?
Ya. Usianya 42 tahun.
Kakak Hyeonjae dua tahun lebih muda darinya.
Dia juga tidak semuda itu.
No comments yet. Be the first to leave one.