The first 200 lines.
Setidaknya bawa saja obat tetes mata.
Bagaimana bisa membawa obat tetes mata saat audisi?
Seharusnya kau memikirkan hal yang sedih.
Sudah kucoba.
Apa yang kau pikirkan?
Berpikir tentang aku yang mati muda.
Astaga.
Kau bisa mencoba audisi itu lagi. Minumlah segelas soju dan lupakan itu.
Menyebalkan.
Seharusnya kau menangis seperti ini di audisi.
Sudah berapa kali kukatakan.
Sutradaranya sangat lucu.
Karena itu, emosionalmu saat akting tidak keluar.
Seberapa pun lucunya orang itu, dia tetap saja orang.
Kalau kau terus begitu, bagaimana kau bisa akting nantinya?
Siapa itu? Sutradara?
Sial. Ayo pergi.
Ayo minum soju .
Benar. Itu ide bagus.
Apa restoran ikan pollack sudah buka?
Ibu, kami pergi dulu.
Ya, itu ide bagus.
Ayo.
- Astaga. - Apa?
Ada yang datang.
Kau siapa?
Kau Joo-hee? Aku hampir tak mengenalimu.
Ya.
Ada yang datang?
Ya, ada tamu.
- Cepat pergi dan jangan banyak minum. - Baiklah.
- Baiklah. - Dah.
Sampai nanti.
Kenapa tiba-tiba ke sini?
Aku hanya teringat padamu
saat kebetulan lewat.
Aku tak mengenali Joo-hee.
Dia cantik sekali. Ya, 'kan?
Aku ada urusan. Ayo pergi.
Mungkin Ji-min juga seusia Joo-hee.
Dia pasti cantik jika mirip denganku.
Tampaknya aku makin tua.
Aku ingin sekali melihat wajahnya.
Kau bilang, kau tidak berhak, 'kan?
Kau membuangnya sesaat setelah melahirkannya.
Kenapa marah-marah setelah sekian lama kita tak bertemu?
Aku salah mempekerjakan orang dan hampir bangkrut.
Berkatmu, aku kini melawan kanker.
Aku akan melupakan semuanya, jadi, jangan datang lagi.
Bangun!
- Ibu. - Ya?
Dompetku ketinggalan.
- Ya. - Ini dia.
Baik.
- Aku pergi dulu. - Ya.
KEBENARAN YANG TAK MENYENANGKAN
- Tidak, bukan begitu. - Apa?
Makan ini.
Kau suka pir?
- Tentu. - Bagus.
Omong-omong, Mi-jo tidak mengangkat teleponnya.
Apa mereka bertengkar karena tak jadi berkemah?
Apa mungkin begitu? Mungkin mereka sedang mengobrol.
- Manis? - Ya.
Kapan kau membelinya? Ini sangat manis dan matang dengan baik.
- Enak sekali. - Ya ampun.
EPISODE 7
Ya.
Dari mana kau mendapatkan ini?
Sepatu itu?
Aku punya kenalan senior di rumah sakit, jadi, aku memintanya.
Aku seperti pria paruh baya.
Aku akan membelikanmu sepatu.
Kita mau ke mana? Tidak pulang?
Kita harus melakukan sesuai yang kita rencanakan.
Apa yang bisa aku lakukan? Mari lakukan bersama!
Tidak. Kau sudah membantuku memasang tenda.
Kau hanya perlu makan dan istirahat saja.
Baiklah.
Terima kasih.
Makan ini.
Kau saja yang makan lebih dulu. Aku akan makan pelan-pelan.
Sari dagingnya pas saat ini. Makan saja.
- Bagaimana? - Enak.
Kau memiliki gangguan panik, 'kan?
Terkadang, tapi tidak parah.
Apa karena itu kau ingin istirahat?
Bukan karena itu saja.
Seon-u, kenapa tidak makan? Ayo cepat makan.
Siapa wanita yang ada di sana tadi?
Dia istrinya Jin-seok.
Antarkan sampai sini saja. Untuk apa mengantar ibu keluar?
Aku senang menyetir, jadi, biarkan aku mengantar Ibu.
Itu membuat ibu lebih tidak nyaman.
Aku seperti melihat Chan-young tadi.
Dia memang mirip dengan ibu.
Lain kali mampirlah ke Yangpyeong, akan kusiapkan makanan enak.
Baik, Bu. Aku pasti akan ke sana.
Ibu, antar aku sampai ke halte bus, ya!
Baiklah, ayo kita pergi.
- Dah. - Tapi aku…
- Astaga, tak usah diantar. - Baik.
- Kami pulang dulu. - Ayo pergi.
- Hati-hati menyetir. - Dah.
- Ya. Dah! - Dah.
- Dah. - Hati-hati.
Bukankah ibumu begitu keren?
Sungguh.
Kau baik-baik saja?
Ya, tidak apa-apa. Ayo duduk.
SEON-JU
Ada telepon untukmu.
Ya. Aduh, aku juga ingin duduk dan istirahat.
Aku kehilangan akal.
Benar.
Ibu tidak mungkin menyadarinya, 'kan?
Kapan kau akan mengatakannya?
Entahlah.
Jin-seok, coba telepon Seon-u dan tanyakan keberadaan Mi-jo.
Baiklah.
Hei, Seon-u. Ini aku.
Di mana Mi-jo?
Apa?
Begitu?
Baiklah.
Baiklah. Ya.
Apa katanya?
Mi-jo sedang tidak enak badan, jadi, mereka pergi berkemah.
Dia tidak enak badan, tapi pergi berkemah?
- Ya. - Apa maksudnya?
Kau bilang ingin menjadikannya sebagai orang sakit parah paling bahagia di dunia,
tapi justru kau hanya kesulitan sendiri.
Kau bisa sakit.
Sepertinya aku pengecut.
Apa?
"Mungkin seharusnya kubujuk dia lagi untuk kemoterapi."
"Mungkin 0,8 persen itu sungguh terjadi pada Chan-young, dan dia selamat."
Aku memikirkan hal itu setiap hari.
Kenapa itu pengecut?
Aku ingin perasaanku menjadi nyaman,
jadi, aku ingin jadikan dia sebagai orang sakit parah yang paling bahagia di dunia.
Karena itu keinginan Chan-young,
kupikir, "Baiklah.
Aku akan berpura-pura bersikap ceria."
Sepertinya aku berpikir terlalu mudah.
Aku ingin meminta sesuatu.
Kuharap kau juga memikirkan dirimu sendiri
sesering dirimu memikirkan Chan-young.
Memikirkan Chan-young juga hal yang penting.
Namun, ini kemah pertama dalam hidupmu.
Aku mengajakmu untuk berpikir lebih banyak tentang kehidupanmu yang sekarang.
Bukankah ini menyenangkan? Cuacanya juga bagus.
Udaranya pun segar.
Kau tidak pengecut,
juga tidak egois.
Ada ubi yang sudah kita beli.
Kita membelinya tadi. Bagaimana kalau dipanggang?
Kalau begitu, kita makan mi instan besok pagi?
Makan mi instan di pagi hari memang yang paling enak.
Tunggu, akan kuambilkan ubinya.
Mohon berikan ini kepada Unit 1203.
Baik, Pak.
Siapa namamu?
Kim Jin-seok.
- Kim Jin-seok? - Ya.
Itu pasti enak.
Kau mau memakan itu?
Lebih sehat dimakan seperti ini.
Itu kotor.
Aku ingin mengupaskan yang baru untukmu.
Dasar!
Tas dan sepatumu sudah kutitipkan di lobi.
Ambillah saat kau tiba di rumah.
Aku mencemaskan kondisi badanmu.
Astaga.
Sekarang kita harus fokus pada ubi panggang ini. Paham? Fokus.
Kau harus fokus dan melakukannya dengan baik kali ini.
Jika kau jatuhkan lagi, aku akan pulang saja.
Sisa satu lagi.
Selamat pagi.
Aku sedang berangkat kerja.
Ya. Selamat bekerja.
Baik.
Sial!
Hai.
Terima kasih sudah mengantarkan tas dan sepatuku.
Tidak masalah. Itu tidak jauh.
Bagaimana kondisimu? Sudah membaik?
Ya.
Kau bilang…
dia datang?
Ya.
Kau ingat?
Saat kau datang ke sini sambil menangis,
aku menjadi sering terpikir tentang itu.
Mi-jo, apa…
Aku akan membunuhmu.
Kau!
Aku akan membunuhmu!
Kim Jin-seok…
No comments yet. Be the first to leave one.