The first 200 lines.
Pak.
Pak.
Bapak merasa sakit?
Aku pikir Bapak demam.
Apa Bapak ingin ke IGD?
Aku akan membawakan Bapak air.
Itu...
Apa luka bakar Bapak terinfeksi?
Kita seharusnya tidak pergi berseluncur es.
Aku baik-baik saja.
Bukankah seharusnya Bapak pergi ke rumah sakit?
Tidak.
Silakan duduk.
Kamu bertanya
kenapa aku tiba-tiba pergi ke arena es, bukan?
Itu bermula saat aku berusia 12 tahun.
Aku dan teman-temanku berjanji akan berseluncur es bersama.
Ketika aku mengetahui teman-temanku datang bersama ibu mereka,
aku mulai menjadi cemberut.
Jadi, ayahku menyuruh Seo Hyung untuk pergi bersamaku.
Tapi sepertinya dia memiliki janji.
Dia mulai marah pada ayahku
dan berkata bahwa dia bukan ibuku
dan ibuku meninggal saat melahirkan aku.
Dia meninggal ketika mencoba menyelamatkanku.
Awalnya aku tidak
merasakan apa-apa, jadi, aku pergi ke arena es.
Tapi saat aku berseluncur,
aku tidak bisa berhenti menangis.
Dan aku tidak ingin teman-temanku mengejekku.
Jadi, aku mencoba berseluncur makin cepat.
Aku terkadang memimpikan hari itu
setiap kali aku mengecewakan ayahku
atau gagal memenuhi standarnya.
Ketika aku lahir,
ayah dan kakakku harus kehilangan orang yang mereka cintai.
Jadi, aku bertanya-tanya kenapa aku tidak bisa lebih baik.
Fakta bahwa aku memiliki mimpi-mimpi semacam ini
dan aku ingin bermain seluncur es
setiap kali aku merasa bersalah pada ayahku...
Sebelum aku menceritakan semua ini kepadamu,
hanya ada satu orang yang tahu tentang itu.
Sepenting itulah
Se Hyun bagiku.
Aku tidak akan peduli jika itu orang lain,
tapi aku tidak bisa menyakiti Se Hyun.
Apa maksudmu aku tidak boleh merusak pertemanan kalian?
Jangan sampai aku terlibat
di antara kalian berdua.
Kumohon.
Sampai bertemu besok.
Pak Kang.
Pak Kang, apa ini?
Ini dari kampung halamanku.
Bawalah satu dus saat kamu pulang.
Terima kasih.
Aku ingin memberikan dus satunya kepada Direktur Eksekutif Choi.
Tapi dia mungkin tidak akan mengambilnya.
Tapi orang tuamu sudah mengirimnya dari jauh.
Taruh saja di sepen kantor dan berikan padanya kapan saja.
Baik.
Hei, Chae Young.
Kapan kamu pulang kerja?
Entahlah. Kenapa?
Adikku ada di Seoul sekarang, jadi, dia ingin bertemu.
Tapi So Dam juga harus pergi untuk latihan.
Baiklah. Aku akan pulang secepatnya.
"Jeruk Seogwipo"
Tidak, tunggu
Tidak apa-apa.
Apa kamu akan naik kereta bawah tanah membawa ini?
Aku pernah membawa yang jauh lebih berat dari ini.
- Aku akan membawanya. - Tidak usah.
Berikan saja padaku.
Astaga.
Astaga.
Kamu tidak terlahir miskin.
Kenapa kamu sangat menyukai makanan?
Astaga.
Bisakah kamu berhenti melempar? Kamu akan merusaknya.
Hanya satu lagi.
- Itu disengaja, bukan? - Tentu saja tidak.
Aku tahu kamu tidak ingin bercanda.
- Tapi kamu baru saja bercanda. - Itu kesalahan.
Kamu menyebut itu kesalahan?
Astaga.
Hentikan.
Aku bilang berhenti.
Bantuan?
Ibu terkejut kamu ingin meminta bantuan ibu.
Apa itu?
Ini tentang So Yu dan Seo Jun.
Bisakah Ibu...
Apa? Apa yang harus Ibu lakukan dengan mereka berdua?
Bisakah Ibu
mencampuri hubungan mereka?
Kamu ingin ibu ikut campur? Bagaimana?
Ini memalukan.
Tapi aku meminta ini sebagai putramu.
Sebenarnya apa yang kamu ingin ibu lakukan?
Se Hyun.
Bisakah Ibu memisahkan
Seo Jun dan So Yu?
Apa?
Aku merasa gelisah dengan kebersamaan mereka.
Aku merasa gelisah saat bekerja, makan, dan mengemudi.
Aku tidak bisa berhenti memikirkan mereka.
Maaf karena sudah seperti ini.
Tidak.
Kamu pasti makin stres terlebih dengan beban kerjamu.
Ibu benar-benar tidak tahu.
Tapi kamu tahu, Se Hyun. Jika kamu merasa begitu sekarang,
kamu akan merasakan hal yang sama bahkan setelah kamu menikahinya.
Ibu pribadi berpikir kamu harus menunda pernikahanmu
sampai kamu menghilangkan kecemasan itu.
Aku tidak bisa hidup tanpa So Yu.
Bagaimana kamu membiarkan keadaan menjadi tidak terkendali?
Kamu punya waktu.
Kamu bilang kamu bertemu dia lagi sebelum kamu pergi ke Amerika.
Kamu mungkin sudah berpisah, tapi kenapa tidak terjadi apa-apa?
Kenapa kamu terburu-buru?
Aku sedang menunggu.
Menunggu apa?
Sampai aku dan So Yu sama-sama bisa mengatasi masalah pribadi kami.
Tapi, apa kamu tiba-tiba cemas akan kehilangan dia
karena Seo Jun?
Apa yang kamu ingin ibu lakukan?
Aku ingin Ibu memindahkan So Yu ke tempat lain.
Ibu akan mengusahakannya.
Ibu pasti kecewa.
Tidak, ibu tidak kecewa.
Ibu orang yang bisa kamu andalkan.
Tidak masalah.
Aku akan pergi berlatih.
Makanlah jeruk ini.
Tapi kenapa semua jeruk ini terbuka?
Ini karena direktur eksekutif.
Apa yang dia lakukan?
Apa dia memberimu semua jeruk yang hancur?
- Tidak. - Lalu apa yang dia lakukan?
Dia melemparnya.
Dia melemparimu dengan jeruk?
Dia sama seperti kakaknya.
Kenapa kamu membawa ini pulang?
Tidak, bukan itu yang terjadi.
Ini dari orang tua Pak Kang.
Kenapa kamu tidak bisa bicara?
Apa?
Dia benar. Kamu membuat kami penasaran.
Itu...
Direktur eksekutif menawarkan untuk membawakan dus jeruk itu,
tapi dusnya tiba-tiba terbuka.
Bagaimanapun semuanya rusak.
Dia seperti anak sekolah dasar.
Dia mencoba melemparnya ke dalam dus seperti bola basket.
Tapi kenapa wajahmu memerah?
Wajahku tidak merah.
Itu karena aku baru saja masuk dari udara yang dingin.
Makan saja ini.
Hei, Ji Yoon.
Seo Jun.
Sedang apa kamu di sini?
Aku ingin meminta maaf kepadamu.
Ini akan segera menjadi hangat.
Apa kamu tidak akan menemuiku lagi?
Kenapa aku tidak mau menemuimu? Kita berteman.
Lalu kenapa kamu tidak menjawab teleponku?
- Karena aku marah. - Lihat?
Kamu berencana untuk tidak pernah menemuiku lagi.
Aku akan menemuimu lagi begitu aku sudah tenang.
Bagaimana aku bisa tidak menemuimu lagi?
Kamu tidak bisa hidup tanpa bertemu denganku?
Itu tidak berarti aku sangat merindukanmu.
Lalu apa?
Aku hanya akan merasa sedikit hampa jika aku tidak melihatmu.
- Itu artinya kamu menyukaiku. - Tentu saja, aku menyukaimu.
Aku hanya tidak menyukaimu seperti menyukai seorang pacar.
Aku kedinginan, Seo Jun.
Baik.
Aku kedinginan.
Aku membutuhkan
hangat tubuhmu.
Astaga.
Satu gelas lagi.
Habiskan.
Astaga.
Kamu benar-benar tahu cara minum alkohol, Pak.
Astaga, berhenti memanggilku "Pak".
Posisiku mungkin lebih tinggi dalam keluarga.
Tapi kamu lebih tua dariku.
Kita anggap impas dan jadi teman saja.
Anggap impas?
- Minumlah. - Baik.
Astaga, aku sungguh senang hari ini.
Tae Woong, kamu terlihat tampan dari samping.
Kamu seperti patung.
Pantas saja Eun Byeol sangat cantik.
Dia mirip aku, bukan?
Dia memiliki hidung yang mancung seperti hidungku.
Sejujurnya, aku sangat terkejut ketika mendengar
No comments yet. Be the first to leave one.