Release info

Mama Fairy and the Woodcutter Complete HDTV NEXT Dramaday
A Commentary by Dincht
Credit to Translator~ Request subtitle

Tags

HDTV
hdtv
HD
Published on: 2020-04-05
Downloads: 61
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Pada hari itu, aku mandi bersama teman-temanku.

Tunggu. Di mana gaun bersayapku?

Kalian benar-benar akan meninggalkan aku?

Maaf, tapi ini saatnya makan siang.

Pelan-pelan saja mencarinya!

Tunggu!

Halo?

Aku tidak butuh asuransi.

Jika sakit, aku akan mati begitu saja.

Apa orang-orang ini tidak rehat di hari libur?

Cepat bangun!

Aku tahu kamu terbangun. Berhentilah menyamankan posisi.

Sial.

Aku tidak bisa tidur di rumah, tapi selalu tertidur di sini.

Apa yang harus kulakukan?

Jika kamu ingin aku pergi, resepkan obat yang lebih kuat.

Obat sebelumnya tidak manjur?

Aku sungguh tidak tahu kenapa obat itu tidak manjur untukmu.

Apa bosmu tahu soal mulut kotormu?

Diam dan pergilah.

Kumohon.

Baiklah, aku akan pergi.

Boleh aku minta kopi sekalian keluar?

- Apa? - Selama dua hari terakhir,

aku hanya tidur selama 45 menit

dan mataku terasa berat.

Seduhkan kopi untukku.

Kafeina adalah musuh terbesarmu.

Konon kita harus tidur bersama musuh kita.

Lekaslah.

- Ini. - Apa?

Ini hanya melatonin.

Minum itu saja agar tidur.

Kamu akan tetap di rumah selama Chuseok?

Mungkin.

Puaskan tidurmu selama liburan

dan lanjutkan mimpi yang sebelumnya kamu alami.

"Episode 1"

Hei!

Profesor.

Sudah kubilang bawalah kunci.

Bawalah kunci karena kamu tidak bisa mengingat delapan angka mudah.

Menyebalkan.

Kenapa kamu belum berkemas?

Jalanan makin padat. Sekarang bukan saatnya mendengar Beethoven.

Bukan Beethoven, tapi Mozart.

Sandal itu milikku, bukan milikmu.

Kubilang aku tidak mau pergi ke kampung halamanmu.

Jangan bersikap begitu. Bawalah bawaan yang ringan.

Jika berangkat sekarang, kita bisa tiba sebelum makan malam.

- Aku tidak mau. - Tapi

aku sudah memberi tahu ibuku kamu akan datang.

Dia akan sangat kecewa.

Kamu yang salah karena berbohong. Lepaskan sandalku.

Untuk membuatkanmu bindaetteok,

selama ini ibuku mengupas setiap butir kacang hijau.

Aku tidak bisa pergi karena belum berkemas.

Astaga.

Aku juga memberi tahu ibuku bahwa kamu membawakannya

wiski single malt Irlandia kesukaannya.

Dia melompat kegirangan.

Kamu gila, ya?

Bukannya menghadiahi profesormu,

kamu malah berusaha mendapatkan hadiah dariku

dengan memanfaatkan ibumu sebagai alasan?

Kamu membeli ini karena ini kesukaannya.

Aku tahu itu.

Kemasi apa pun sebisamu. Kita hanya pergi selama dua malam.

Kamu hanya butuh pakaian dalam bersih.

Hei!

Kamu...

Kamu memegang pakaian dalamku tanpa mencuci tangan?

Kamu ahli biologi yang tahu ada banyak kuman di tangan kita.

Selain itu, ranselmu belum pernah dicuci.

Kamu dipecat sebagai asisten pengajarku.

Baiklah. Aku akan mengeluarkannya.

Ini milikku.

Cepat lempar itu ke keranjang!

Kamu mengemas semuanya di kantong ritsleting terpisah.

Kenapa tidak mau pergi?

Aku tidak berniat pergi,

tapi kamu terus bersikeras agar aku ikut denganmu.

Kamu bahkan menjadikan ibumu sebagai alasan.

Ya, terserah.

Tapi aku ingin bertanya.

Kenapa kita harus memakai setelan?

Kita harus tampak hebat demi ibuku.

Rupanya kamu kebanggaan kampung halamanmu.

Andai saja kamu juga bisa mengingat kode delapan angka mudah.

Aku akan pergi sekali ini saja.

Baiklah. Di lain waktu, aku akan mengajak istriku.

Kamu yang mengemudi.

Andai saja kamu juga bisa mengingat kode delapan angka mudah.

Omong-omong, berapa lama perjalanannya?

Menurut sistem GPS, tiga jam perjalanan.

Ayo bergegas. Aku sudah mengantuk.

"Seoul"

"Kantuk menyebabkan kecelakaan, tingkat kematian 80 persen"

"Taman Nasional Gunung Gyeryong"

Geum, aku butuh kafeina.

Ada tanda jalan untuk kedai kopi.

Apa itu?

Itu mirip Profesor Park.

Itu tiang totem.

Aku tahu benda itu. Hanya kelihatannya seram.

Di mana selera humormu?

Totem itu terlalu mirip untuk dijadikan lelucon.

Benar, bukan?

"Kafe Peri"

Apa ini tampak seperti kafe?

Bukankah ini rumah hantu?

Aku tidak melihat ada komedian.

Apa itu lelucon?

"Kafe Peri"

Namanya "Kafe Peri".

Astaga.

- Selamat datang. - Astaga.

Mau pesan apa?

"Barista"

Kami pesan dua kopi.

Kopi jenis apa?

"Menyajikan"

"Air Mata Rusa, Sarapan Burung Gereja"

"Tanpa Tuan Putri, Keanggunan Sinar Bulan, Air Hitam"

Profesor.

Kita harus pesan kopi apa?

Sudah kubilang kita harus kembali.

Pesanlah.

Santai saja.

Aku bisa menunggu seharian sambil berdiri,

lalu meminum kopiku besok.

Bukan begitu?

Benar. Serta sehari setelah bekerja.

Santai saja dan pilih dengan hati-hati.

Lututku terasa sangat sakit,

tapi aku sanggup berdiri selama dua hari.

Kamu lihat persendianku kendur?

Dokter klinik bilang,

semua tulang rawan di lutut ini hilang.

- Hilang? - Ya.

Maaf.

"Menyajikan"

"Air Hitam, rasa gelap"

Air Hitam tidak terkesan begitu konyol.

Kami pesan dua Air Hitam.

Mereka baru saja memesan Air Hitam?

Hebat.

Anak muda memang pemberani.

Sudah lama tidak ada yang memesan itu.

Kami pesan menu pertama. Apa itu?

Lihat, kucing ini bisa berdiri.

Ada yang aneh dengan tempat ini.

- Kenapa? - Sebuah kafe

di tengah jalan Gunung Gyeryong?

Aku merasa pening.

Apa karena kita berada di tempat tinggi?

Kurasa begitu.

Aku belum pernah melihat barista setua itu.

Benar. Kamu lihat menunya?

Aku merasa sangat malu hingga pipiku seakan-akan terbakar.

Baiklah. Mari menerimanya.

Apa maksud "Tanpa Tuan Putri"? Tuan putri tidak bisa melakukan apa?

Astaga.

Itu teka-teki terburuk setelah mekanisme jam biologis.

- Kopinya sudah siap. - Astaga.

Menu pertama di Kafe Peri.

Air Mata Rusa.

Anda nyaris tidak bersuara.

Bukankah ini mangkuk?

Aroma kopi ini harum.

Apa ini...

Permisi.

Lihat.

Ada lalat di kopiku.

Astaga.

Bagaimana hewan konyol ini masuk kemari?

Lalat bisa terbang saat sayapnya kering.

Kenapa memasukkan jarimu ke sana?

Tenang saja, lalatnya baik-baik saja.

Apa aku tampak mencemaskan lalat itu?

Kopinya kotor.

Astaga.

Tidak ada yang sebersih jemariku.

Apa-apaan?

Buatkan kopi yang baru.

Buah yang dilubangi serangga biasanya sangat manis.

Aku tidak tahan dengan ini.

Kopi adalah kopi dan buah adalah buah.

Aku akan membuatkanmu kopi baru.

"Tidak ada yang sebersih jemariku."

Rasa kopinya nikmat.

Soal itu juga. Rasanya terlalu nikmat.

Seharusnya rasanya biasa saja.

Kamu juga mengeluh soal kopi?

Dia pasti menambahkan sesuatu.

Dia bisa menipu orang tua lain,

tapi tidak bisa menipu orang Seoul seperti aku.

Bukankah jalannya agak aneh?

Sepertinya kita hanya berputar-putar.

Tidak ada sinyal GPS.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left