Keith Haring: Street Art Boy

Keith Haring: Street Art Boy

Download Indonesian Subtitle

Release info

Keith Haring Street Art Boy 2020 720p WEBRip x264 AAC-[YTS MX]
A Commentary by SugijoDwiarso

Tags

webrip
web
x264
720p
720
BRip
TS
YTS
Published on: 2021-02-06
Downloads: 33
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Dia seperti sebuah badai di New York

dan dia ada di semua majalah

sebelum dia berusia 25 tahun, di seluruh dunia.

Filosofiku adalah bahwa seni itu

benar-benar mampu berkomunikasi dengan lebih banyak orang

bukannya sekelompok orang elit yang mampu membelinya

dan "memahaminya".

90% atau lebih orang yang menggunakan kereta bawah tanah

tidak pernah pergi ke Museum of Modern Art .

Itu kira-kira saat Keith menuju "Bing!

aku akan melakukan ini."

Bayi merangkak,

anjing, piramida terbang, orang menari,

mengubahnya menjadi, semacam, kosa katanya sendiri.

Aku menyadari potensi sebuah gambar

dan seberapa besar kekuatan yang mereka miliki untuk berbicara hampir seperti sebuah bahasa.

Keith punya kebutuhan dari dalam untuk berdialog dengan orang-orang.

Bagiku, sangat sedikit yang bisa dilakukan pasar

dengan apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh seni.

Secara resmi aku diperkenalkan dengan lukisan ini di sini kemarin

ketika bro itu melukisnya.

Kami menyukainya. Dia gak masalah dengan kita.

Dunia seni tradisional tidak seperti yang dia rasakan

bahwa seni itu harus bisa diakses semaksimal mungkin.

Sebagai semacam ide romantis untuk menjadi seniman kerakyatan,

Aku baru saja menemukan cara untuk melakukannya dengan sangat langsung.

Dia sangat produktif. Waktu itu aku hendak kembali keesokan harinya,

dan akan ada 4 lukisan baru dan 20 drawing.

Oke.

Kupikir lebih penting untuk terus muncul

dengan gambar-gambar dan hal-hal baru yang belum pernah dibuat sebelumnya,

hiduplah sepenuh dan selengkap mungkin,

dan hadapi masa depan yang datang padamu.

Dia benar-benar merayakan hidupnya sampai penghabisan.

SI SENIMAN JALANAN

Jadi saat ini adalah hari kedelapan di bulan Agustus 1989,

dan aku sedang berbincang dengan Keith Haring.

Salah satu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu

adalah anak kecil seperti apa kamu ini, jika kau ingat.

Aku memakai kacamata sejak aku di kelas dua.

Aku sudah seperti semacam kutu buku.

Maksudku, kupikir aku benar-benar tidak percaya diri

menjadi yang terakhir dipilih masuk tim olah raga.

Ibuku benar-benar berusaha untuk membentukku

menjadi sesuatu, kurasa.

Maksudku, tekanan untuk bermain di Liga Kecil

atau bermain bola.

Maksudku, aku lebih tertarik untuk melakukan

hal-hal kreatif yang konyol seperti menciptakan sebuah klub

atau menyusun semacam club house.

Dan kau yang tertua dari berapa saudara?

Dari empat.

Ya, setelah diriku, ibuku melahirkan seorang gadis,

dan lalu setelah dua tahun melahirkan gadis lainnya,

dan adik perempuan ketigaku lahir ketika aku berusia 12 tahun.

Kutztown adalah kota kecil,

yang aku sebut sebagai kota yang sangat konservatif

di jantung wilayah Pennsylvania Belanda.

Aku menyebutnya si kantuk karena...

Yah, hanya karena tidak banyak yang terjadi.

Dan pasti pendapat Keith juga begitu tentang kota itu.

Kami tidak punya tanggal pasti karya ini.

Tapi kami cukup yakin ini dibuat saat kelas tiga.

"Saat aku besar nanti, aku ingin menjadi seorang seniman di Prancis.

Alasannya karena aku suka menggambar.

Aku akan mendapatkan uang dari gambar-gambar yang akan aku jual.

Kuharap aku akan menjadi orang seperti itu. Keith Haring."

Maksud saya, dia selalu menggambar... menggambar di sekolah

saat dia tidak seharusnya melakukan itu.

Dia akan menggambar di atas kertas apa saja,

belakang daftar belanja toko, bagian belakang kartu.

Ya, dia selalu terbuka untuk menggambar apapun.

Dan dia menemukan seorang teman, Kermit.

Mereka berdua suka menggambar.

Kami tumbuh di kota yang sama dua blok dari satu sama lain.

Persahabatan sejati dimulai, aku pikir,

di sekolah dasar, dan cukup banyak

saat itulah kami mulai membuat sesuatu bersama.

Kami menjadi loper koran di jalan yang sama.

Kami membaca koran hari demi hari.

Ada banyak hal buruk yang terjadi.

Kami membicarakannya, dan itu membuat kami khawatir.

Kita akan menang di Vietnam atas agresi komunisme.

Keith, selama aku mengenalnya, adalah seorang aktivis.

Ketika Nixon mencalonkan diri sebagai presiden,

kami berlarian keliling kota membawa sabun batangan,

meletakkan benda-benda yang berhubungan dengan Nixon di gedung-gedung

Di Kutztown, orang tidak menulis

pada benda-benda yang bukan milik mereka.

perbukitan dan ladang jagung

dan kuda dan kereta dan sama sekali tak ada graffity.

Keith tertarik pada Jesus Movement itu.

Yang terilustrasikan kepadaku semacam kerinduan

untuk menjadi bagian dari sesuatu.

Kukira kejadian itu sewaktu

aku menemukan ganja untuk pertama kalinya.

Apa pendapatmu tentang itu, Allen?

Bong rokok.

Kami cukup yakin dia melakukan itu.

Sampai saat ini, aku menggunakan obat-obatan

'angel dust' bersama temanku yang membuatnya.

Tapi lalu aku mendapat pekerjaan di pusat kesenian dan kerajinan

di Pittsburgh.

Meskipun aku bukan siswa, aku tetap menggunakan

fasilitas lain di sekitar sana untuk membuat karyaku sendiri.

Salah satu hal terpenting di Pittsburgh

adalah saat Carnegie memamerkan retrospeksi Pierre Alechinsky,

yang belum pernah aku dengar sebelumnya.

Dan karya-karya itu sangat mirip dengan apa yang aku buat.

Itu adalah pertama kalinya aku merasakan

bahwa aku melakukan sesuatu yang berharga.

Pada usia 20 tahun 1978,

Aku mengadakan pameran pertamaku sendiri.

Aku tahu bahwa aku harus membuat terobosan.

Aku tahu aku harus pergi ke New York karena itu adalah satu-satunya tempat

di mana jelas aku akan menemukan intensitas

yang ingin aku temukan,

baik dari segi dunia seni maupun dalam kehidupanku.

Juga, aku menyadarinya sedikit demi sedikit

bahwa aku tertarik dengan sesama lelaki.

Aku mencari sekolah dan menemukan sekolah ini

yang tampak sangat menarik bagiku,

yaitu School of Visual Arts.

Itu membuat kami khawatir dia akan terpengaruh banyak hal

yang kami coba lindungi terhadap anak-anak.

Dan kami tidak akan punya kendali atas itu.

New York di akhir tahun 70-an, ketika aku tiba,

ketika Keith tiba,

adalah tempat tujuan yang ditakuti banyak orang.

Kota tu membuat orang merasa tertindas.

Pada tahun 1978, kota itu bangkrut.

Selamat malam, Kota New York

berada di ambang default hampir sepanjang hari.

Banyak bangunan yang ditinggalkan.

Itu sangat berbahaya. Ada banyak kejahatan.

Tapi banyak musik punk rock yang hebat

dan pemandangan film-film underground.

Dan itulah tempatnya.

Tribut untuk Gloria Vanderbilt, take one .

Aku berada di sekolah sehari penuh dengan suatu tujuan

di lingkungan baru ini

dan melulu berkarya.

Itu semua baru bagiku, dan itu semua sangat menarik.

Dan usiamumu 20 . / Dan usiaku 20, ya.

Aku berkenalan dengan beberapa orang dengan sangat cepat.

Seperti di pelajaran drawing-ku,

Aku segera tertarik pada gadis yang satu ini

yang bernama Samantha McEwan..

Dan dia benar-benar duduk, maksudku, di hadapanku

tapi lutut kita bersentuhan dan dia begitu saja bilang,

"Bolehkah aku menggambarmu?" Dan itu adalah Keith.

Aku berada di lorong,

dan aku sedang mendengar musiknya Devo,

dan ada Keith melukis sendiri di pojok

dengan goresan hitam.

Dan setiap goresan untuk setiap ketukan musik.

Dan dia telah mengecat seluruh ruangan

dan dia berada di akhir sudut

dan dia berdiri di sudut itu

dan dia menandatanganinya dan aku takjub, "Wow."

Kubilang, "Inilah alasanku datang ke New York."

Kupikir Keith, semacam, yang menguasai sekolah itu

sejak dia tiba di sana.

Dia tinggal di sebuah apartemen kecil di lantai tiga atau empat.

Kecoak besar-besar dan lantai kayu lapis.

Kamar Keith sebenarnya adalah sebuah lemari,

tapi memiliki, semacam, fonograf.

Dan dia akhirnya memutar, sepertinya, "Rock Lobster"

20 jam berturut-turut

saat dia akan menggambar di apartemen itu.

Tak seorang pun di East Village yang punya pesawat televisi.

Kami pergi keluar setiap malam. Itulah hiburan kami.

Pada malam hari, aku menjadi bagian dari klub malam

dan kemudian mulai menjadi bagian dari keramaian di Klub 57,

gereja Polandia.

Di ruang bawah tanah gereja itu, ada aula sosial.

Kami benar-benar bosan dengan dunia seni

sebagai tempat para elitis.

Sepertinya dunia itu semakin lama semakin

menjadi lebih dan lebih esoteris

dan tidak ingin melibatkan masyarakat luas.

Klub 57 adalah cara kami untuk pergi ke Hollywood

tanpa harus pergi ke Hollywood.

Semua semangat swadaya itu, kami tidak akan menjadi semacam pusat kota

tunduk di kaki entitas korporat

demi persetujuan mereka untuk melakukan apapun.

Kita bisa cari taman bermain lain.

Saat ini aku terobsesi dengan

mencoba mencari tahu mengapa aku jadi seorang seniman

dan jika aku ini seorang seniman, mengapa aku seorang seniman,

dan juga menjadi sadar dan sangat tertarik

pada apa yang terjadi di jalanan New York.

Aku terpesona dengan grafiti-grafiti yang kulihat.

Tidak hanya hal-hal besar di luar mobil,

tapi kaligrafi yang luar biasa

yang menghiasi bagian dalam mobil.

Itu untuk bersaing dengan iklan

dalam hal tertentu.

Seperti, semua perusahaan ini hanya memaksakan produk mereka

di depan wajahmu sepanjang waktu.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left