The first 200 lines.
Halo?/ Joon Young.
Ini aku, Young Jae.
Aku ingin menghubungi seseorang...,
...tapi tak ada orang yang bisa kuhubungi.
Orang-orang yang kusayangi...
Semuanya pada kesakitan...
...dan meninggalkanku.
Young Jae.
Kita tidak seharusnya.../ Aku tahu.
Aku harus pergi.
Aku akan pergi.
Aku akan pergi.
Dia sendirian saja?/ Sepertinya dia di sini sendirian.
Young Jae. / Agasshi.
Apa dia terluka?/ Young Jae.
Kau baik-baik saja?
Bagaimana ini?/ Dia sendirian di sini?
Lee Young Jae ./ Bicaralah sama orang yang di telepon.
Cepat.
Halo?
Dimana tempatnya?
Baiklah.
Dia mabuk dan jatuh sendirian.
Dia berdarah karena dia terkena pecahan botol...,
...tapi dia bahkan tidak mau kami pegang.
Aigoo, dia kesini sendirian.
Dan dia tak menggubris pertanyaanku.
Aigoo.
Kalau sudah sampai rumah, obatilah lukamu.
Berdirilah.
Kau bisa jalan?
Aku bisa pulang sendiri.
Terima kasih.
Terima kasih.
Istirahatlah.
Ya, Se Eun.
Kau sudah sampai rumah?
Ya.
Maafkan aku.
Aku cuma mau bilang minta maaf.
Selamat malam, Oppa.
Kau hebat.
Kejar ibumu./ Ibu?
Ibu? Kau mau tangkap Ibu?
Ya.
Tangkap ayahmu./ Ayah?
Haruskah kita kejar Ayah?
Kemarilah. Ketangkap kau.
Ketika baru pertama mulai kemoterapi...,
...orang berharap mereka mati karena stomatitis.
Aigoo. Bukan maksudku "mati".
Aku jadi tidak enak karena memberimu makan...
...padahal aku sadar kau pasti susah memakannya.
Ya, kemoterapi itu soal menjaga staminamu.
Kau setidaknya harus makan beberapa suap.
[Pemberitahuan tidak terbaca, Panggilan telepon: 37, Pesan: 13]
Bu Direktur, apa tak masalah aku di New York sendirian?
Aku kecapekan, jadi mukaku mulai kurusan.
Awal-awalnya memang menyenangkan...
...karena aku punya kendali penuh atas segalanya.
Tapi aku merindukanmu, Bu Direktur.
Cepatlah kembali.
Kau terluka?
Ya, sedikit.
Aku baik-baik saja.
Kau biasanya bawa catatan pemesanan kemana-mana...,
...tapi kau lupa bawa.
Akhirnya keluarga kita akan bertemu dua hari lagi.
Ini terasa tak nyata.
Benar.
Oppa.
Kalau sudah menikah, apa kita tinggal di Lisbon saja?
Seperti katamu...,
...kita selalu senang disana.
Aku rindu masa-masa itu.
Oppa.
Ya.
Kau anggap ini hidup?
Pindahlah sama aku kalau kau jadinya seperti ini.
Apa kau rutin makan?
Bagaimana pekerjaanmu belakangan ini?
Restoran ini kotak makannya jelek sekali.
Jangan pesan dari restoran mereka mulai sekarang.
Kenapa dia pergi tanpa bilang-bilang lagi?
Apa?
Si Baek Joo Ran maksudku.
Dia juga tidak ada di salonnya.
Dia biasa meneleponku seratus kali sehari...,
...tapi dia sekarang tidak meneleponku atau mengangkat telepon dariku.
Dasar Baek Joo Ran itu.
Dia pasti dicampakkan lagi kali ini.
Walau kau tak nafsu makan, kau tetap harus makan.
Itulah hidup.
Hanya ini yang kuingat dari pesan Ibu sebelum dia meninggal.
"Soo Jae, kau harus menjadi gunung."
Sebagai kakakmu, kukira aku sudah berusaha keras...
...menjadi gunung bagi orang-orang terdekatku seumur hidupku.
Tapi tiba-tiba aku kecelakaan.
Tapi, Young Jae...,
...di otakku...
...aku kepikiran...
...ingin lompat saja sampai mati ratusan kali.
Dalam imajinasiku, aku bunuh diri ratusan kali.
Entah bagaimana aku berhasil baca suatu buku dalam situasi itu.
Ceritanya tentang bagaimana iman yang kecilpun bisa memindahkan gunung.
Lalu aku tiba-tiba teringat pesan ibu kita.
Aku percaya aku adalah gunung dan berusaha keras.
Kemudian aku bisa bergerak sendiri.
Aku bisa bergerak seperti ini dengan sedikit keyakinan.
Young Jae.
Itu memang tak mudah. Aku pun butuh waktu 10 tahun.
Mengobrol sedikit membuatku nafsu makan lagi.
Aku harus makan kalau begitu.
Jangan pilih-pilih makanan dan makanlah saja.
Biarkan angin membawamu ke Gunung Halla.
Aku akan membiarkan sepedaku membawaku ke Gunung Paekdu.
Oppa.
Joo Ran Unni sakit.
Apa?
Ya, Unni.
Kau harus menikmati sinar matahari saat kau jalan-jalan pas waktu luang.
Aku ketahuan, berarti.
Bagaimana di sana?
Ada banyak orang sakit di sini.
Akhirnya sekarang, terasa kalau aku memang sakit.
Kau tak mengerti maksudku, 'kan?
Si Malang Young Jae.
Aku juga begitu.
Aku tidak mengerti.
Aku banyak bicara soal ingin menemukan cintaku...,
...tapi sebenarnya aku tidak tahu apa itu cinta.
Kukira cinta itu soal merindukan dan bersama seseorang...,
...ingin menyentuhnya, atau semacam itulah.
Tapi cinta juga ternyata soal membuat diriku nyaman di sekitarnya...,
...tersenyum tanpa alasan...,
...ingin bergantung padanya, dan semuanyalah.
Para pasien di sini...
...tidak kelihatan sedih.
Mereka semua tersenyum. Tak terduga, 'kan?
Kukira itulah hak istimewa bagi orang yang telah menghadapi penyakitnya.
Mereka menerima takdirnya dan merelakan semuanya.
Mungkin karena itulah mereka bisa menerima hiburan dan dukungan.
Aku seharusnya begitu juga.
Kenapa aku berusaha keras melindungi harga diriku...,
...padahal itu tidak ada artinya?
Aku seharusnya mengakui aku kesakitan...
...dan meminta pelukan hangat.
Seharusnya aku mengatakannya saja.
Young Jae.
Aku sangat ekstra sentimental musim gugur ini.
Jika kau sudah cukup terkena paparan sinar matahari...,
...pulang saja sekarang. Jangan keluar sambil depresi begitu.
Ya.
Sudah, ya.
Ini namanya "duri mahkota". Bukan, maksudku, "mahkota duri".
Katanya bunga ini melambangkan...
...kedalaman penderitaanmu.
Rambutmu...
Aigoo.
Kemarilah.
kau mirip kacang lucu sekarang.
Ya, ampun.
Siapa sangka air mata wanita bisa seseksi ini?
Hei, kenapa kau sangat imut dan seksi sekarang.
Dingin disini.
Dinginnya. Biar kupakaikan ini untukmu.
Kau pasti kedinginan.
Tutup telingamu juga.
Dingin, 'kan?
Ketika kedua keluarga bertemu pertama kalinya...,
...pasti sangat canggung dan tidak nyaman.
Aku jadi ingat dulu.
Jika aku bisa kembali ke waktu itu, aku mungkin akan cari gara-gara...
...saat pertemuan keluarga dan tidak menikahi suamiku.
Semoga lancar, ya. Sampai jumpa hari Senin.
Ya. Hati-hati di jalan./ Ya.
Cocok sekali di Anda.
Sepertinya ini agak kecil di aku.
Aku mau coba ukuran yang lebih besar.
Bagaimana, ya.
Cuma itu ukuran yang tersisa saat ini.
Halo?
Ya, Oppa.
Baiklah.
Sampai nanti di sana sebentar lagi.
Ya.
Ini juga bagus.
Aku bertanya-tanya apa pakaianku lenyap tiap kali aku buka lemariku.
Kukira tak ada baju yang bisa kupakai...,
...tapi sekarang aku punya alasan membeli baju baru karena putraku.
Kenapa Ibu berterima kasih sama putra Ibu?
Padahal putri Ibu, yang gajinya banyak ini yang akan membayarnya.
Betul.
Kita harus berterima kasih pada putra dan putri kita.
Thank you, anakku.
Ini cantik.
Bagaimana?
Bukankah itu mencolok untuk acara formal seperti itu?
Apa maksudmu? Ini bukan hanya buat dipakai di acara seperti itu saja.
Aku butuh baju yang bisa kupakai buat acara lain juga.
No comments yet. Be the first to leave one.