The first 200 lines.
Tamu.
Mau makan kudapan atau menginap?
Mau pijat atau cuci kaki?
Tuan.
Tamu.
Ayo dong.
Ayo, minum arak ya.
Jangan pikir bisa membuatku mabuk.
Aku sudah lapar.
Cepat hidangkan makanan.
Aku mau makan hidangan sungai.
Tamu.
Silakan cicipi.
Rasanya seperti berada di sungai.
Hidung dipenuhi kumpulan ikan.
Sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Meskipun ada rasa ikan,
bagaimanapun, tahu tetaplah tahu.
Wujud dan sifat tertentu
tersembunyi dalam segala makhluk,
tidak kembali untuk selamanya.
Bagaimanapun, kedua matamu telah dikelabui oleh penampilan tahu.
Meski wujud tidak terlihat,
namun wujud tetaplah wujud.
Sebesar apa pun rasa ikan pada tahu,
itu sama sekali juga hanyalah tahu.
Bagaimanapun siluman menyamar sebagai manusia,
juga tetaplah siluman.
Sebenarnya apa yang kamu inginkan?
Ke restoran hidangan sungai, tentu saja ingin makan kalian para penghuni sungai ini.
Kalau tidak, mana mungkin makan babi panggang di sini?
Semuanya maju.
Usir setan, tangkap setan.
Arwah tenang, takdir jiwa.
Hancurkan.
Sebenarnya kamu ini orang suci dari mana?
Aku berasal dari Sekte Tujuh Kemurnian, Gunung Penakluk Harimau.
Namaku Zei Yingjun (paling tampan).
Aku persembahkan Lagu Penenang Arwah buat kalian semua.
Semoga kalian suka.
Aku takut mengotori tanganku
Jika membunuh siluman kecil tanpa nama seperti kalian ini.
Sejak aku masuk ke dalam,
ada seekor siluman yang belum pernah
terpikat oleh ketampananku.
Kekuatan seperti ini
hanya dimiliki Siluman Ular Qing Yun
yang telah berlatih ribuan tahun.
Datang lagi orang yang mau menyerahkan nyawanya.
Dasar siluman jahat.
Kau sudah membunuh 9.981 penakluk iblis.
Hari ini aku akan membunuhmu,
untuk membalaskan dendam para penakluk iblis yang telah mati.
Apakah aku cantik?
Cantik.
Buat apa kalau cantik?
Siluman jahat.
Keluar!
Di mana kau?!
The River Monster
Enam, enam, enam.
Lima yang pertama.
Delapan kuda berlari.
Minum, kau kalah, minum arak, minum arak.
Kerang ya?
Tidak berharga.
Sudah tangkap sampai 3 hari 3 malam lho.
Kakakku sampai jadi kurus.
Belum pernah lihat dunia ya?
Jadi apa yang berharga yang kamu punya?
Si hitam dari Gunung Wushan.
Sifatnya keras.
Jago menyemburkan api.
Suaraku habis.
Kalau yang berharga?
Yang berharga? Ada dong.
Apa kamu punya uang buat lihat?
Kamu tidak biarkan aku lihat, mana mungkin kamu tahu aku tidak punya uang?
Kalau kamu tidak keluarkan uang, aku tidak mungkin tahu kamu punya uang atau tidak.
Sudah, kalian berdua jangan ribut lagi.
Ayo.
Aku ajak kalian buka wawasan.
Ikan koi.
Simbol keberuntungan.
Simbol keinginan terwujud.
Simbol melampaui diri.
Ikan koi bendungan ini begitu besar.
Kalau dipanggang, lalu tidak bisa dimakan, bagaimana?
Jangan menyia-nyiakan barang berharga.
Ikan koi lho.
Ikan koi besar.
Ya sudah.
Apa kamu tahu?
Apa yang paling berharga darinya?
Apa?
Air mata koi.
Tidak semua ikan koi bisa meneteskan air mata.
Apa kamu punya?
Kamu terlalu memandang remeh kemampuan kami
dalam menaklukkan siluman.
Ini asli.
Ini, berapa harganya?
4 tael.
Apa?
6 tael.
8 tael.
Tinju 8 tael, apa kamu mau?
Kali ini sudah bisa 'kan?
Kak, cepat cicipi.
Baiklah.
Bagaimana?
Bagaimana rasanya?
Tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Asin.
Berarti sudah benar.
Air mata, tentu saja asin.
Tuhan memberkati.
Akhirnya keberuntungan kakakku akan jadi bagus.
Dik.
Kenapa anak buah si Golok Terbang
semuanya bodoh-bodoh?
Siapa?
Siapa kau?
Sudah, sudah, sudah, jangan gegabah.
Membuntuti kami.
Lepaskan tanganmu.
Sudah, sudah.
Jujur saja.
Aku bukan orang.
Aku siluman.
Kak.
Kamu beruntung.
Ini siluman.
Cepat ikat dia.
Jual saja di Paviliun Siluman Manusia.
Sebentar.
Ini, ini, siluman ini
dibedakan jadi dua jenis, baik dan jahat.
Yang ini kelihatan ramah,
dia pasti siluman baik.
Pak Tua.
Apakah punya kesulitan?
Kami pasti membantu semampu kami.
Kak, dia itu siluman.
Aku tahu.
Aku bisa membedakan baik dan jahat.
Pahlawan.
Aku ikan mas dari Tanggul Barat.
Ya, ya, ya.
Aku mengasuh cucuku, Xiao Luan.
Yang ada di Paviliun Siluman Manusia.
Ya.
Ikan koi yang sudah dihina habis-habisan.
Tidak pernah ikut dalam pertikaian di dunia.
Tidak pernah punya niat untuk
mencelakai orang.
Ayo.
Baru menapak di Dataran Tengah,
cucuku sudah langsung diculik oleh si Golok Terbang.
Aku ingin memohon pada Pahlawan.
Tolonglah aku.
Selamatkan cucuku.
Kak.
Golok Terbang itu orang hebat menempati peringkat tinggi.
Kamu tidak mungkin melawannya.
Masuk akal.
Uang itu...
sulit dicari.
Kotoran itu...
sulit dimakan.
Kami pergi ya.
Tunggu sebentar.
Pahlawan.
Mendekatlah ke sini, dengarkan baik-baik.
Ada suatu hal yang ingin aku sampaikan.
Kak.
Kamu tidak usah pedulikan dia.
Pahlawan.
Aku tahu siapa kamu.
Tapi adikmu
sepertinya tidak tahu apa-apa.
Aku tidak peduli siapa kamu.
Aku akan menyelamatkan cucumu.
Kalian berdua harus pergi sejauh mungkin.
Bagaimana?
Setelah jam 1 subuh,
aku akan menunggumu di sini.
Kerja yuk!
Ke mana?
Jalan saja, kamu akan tahu.
Kak, kamu mau ke mana?
Ayo.
Baiklah, ayo jalan.
Ada-ada saja.
Datang ke wilayah kekuasaan aku, masih teriak-teriak.
Kamu sama sekali tidak punya sopan santun.
Raja.
Kau, kau, kau.
Aku suruh kamu cari wujud asli naga emas itu ada di mana.
Sepertinya kamu tidak menemukan informasi apa pun.
No comments yet. Be the first to leave one.