The first 182 lines.
*Yayoi
Aku benci hal-hal gaib.
Karena kondisiku sebagai medium ideal,
aku pernah kena serangan roh bersama temanku,
dan aku mengurung diri karena takut menyakiti orang-orang yang kusayang.
Namun,
aku melakukan normalisasi setelah didukung orang-orang,
dan aku mulai beraktivitas seperti orang-orang normal lain.
Kemudian,
untuk melatih kemampuan sosialisasiku yang berkurang karena gaya hidup buruk,
aku mulai bekerja sebagai tutor.
Akan tetapi...
Keitarou.
Halo, Yayoi.
Anak yang kubimbing
adalah orang yang paling ingin kujauhi
yaitu gadis indigo.
Berdampingan dengan Alam Tampak yang dihuni oleh para makhluk hidup,
terdapat Alam Gaib yang dipenuhi para roh.
Kedua alam terpisah itu terkadang saling bersinggungan
dan makhluk-makhluk mati bisa menjadi ancaman di Alam Tampak.
Gadis itu tak bisa mengabaikan ancaman yang pernah merenggut orang tuanya,
dan dia menangkap serta memperbudak mereka.
Demi menghancurkan dendam makhluk-makhluk mati
dengan dendam yang lebih kuat.
Baiklah.
Bimbingan hari ini sudah selesai.
Kerja bagus.
Gampang.
Kerja bagus.
Kau berjuang keras hari ini, ya.
Terima kasih, Eiko.
Ini dia.
Cokelat untuk Yayoi.
Pelayanan yang luar biasa.
Keitarou!
Ayo ke tempat angker!
Ogah banget!
Ma-Maaf.
Aku masih punya urusan lain.
Pasti takut, tuh.
Begitulah Keitarou.
Hei!
Aku benar-benar ada urusan!
Apa untuk penyucian?
Ya, benar.
Penyucian?
Benar. Melakukan penyucian.
Berangkat, yuk!
Yuk!
Pada akhirnya, aku tak bisa menolak!
Hei, ayolah!
Ajak aku, dong!
Tidak! Pokoknya tidak boleh!
Tempatnya jauh dan besok baru sampai!
Enggak apa-apa!
Eiko!
Aku juga ikut, deh!
Tunggu!
Sesak, sesa—
Kenapa malah begini?
Ayolah, ini tidak berbahaya.
Eiko selalu mendukung Yayoi.
Oh iya.
Kau mencintai rasa takut.
Apa maksudnya itu?
Hei, Kei!
Apa?
Jalan-jalan naik mobil begini terasa menyenangkan, ya.
Rasanya seperti bertualang.
Keitarou, apa kau sering melakukan penyucian?
I-Iya.
Dulu, aku kena serangan roh.
Setelah itu, aku melakukannya secara teratur.
Kuil yang akan kita kunjungi
adalah kuil yang dikelola neneknya Kei.
Neneknya Keitarou.
Kita sampai!
Dasar bodoh!
Makhluk apa yang kau bawa?!
Nenek?
Bau miras.
Maaf, Kei. Aku membuatmu basah.
Hei, dasar anak nakal!
Kau merusak patung jizo, 'kan?
Ada lima roh yang mengamuk!
Salah.
Tujuh.
Tu-Tujuh?
Nenek memiliki kepekaan roh yang lebih besar dariku.
Dan Yayoi bisa melihat makhluk yang tak bisa dilihat nenekku?
Cepat pulang sana!
Hei, Nenek!
- Tunggu, Nenek! - Tidak mau!
Jangan hentikan aku, Kei!
Buat apa melindungi bocah nakal yang suka cari bahaya ini?
Itu...
Tindakannya memang tidak masuk akal,
dan sejujurnya, dia cukup merepotkan,
tapi...
Di-Dia adalah murid yang kubimbing
dan aku punya tanggung jawab atas dirinya.
Ini juga diperlukan untuk latihan sosialisasi.
Ya sudah, kalau kau bilang begitu.
Dengar, Bocah Nakal!
Jika Kei sampai kenapa-kenapa, aku takkan pernah mengampunimu!
Kei, ikutlah denganku karena persiapannya sudah selesai.
Ahli anestesi juga sudah datang.
Baiklah.
Mantul, Keitarou!
Omong-omong,
apa kau sungguh merusak patung jizo?
Ya.
Kenapa?
Karena patung itu menyegel roh jahat.
Terus kenapa dirusak?
Mungkin roh jahat itu adalah roh yang menculik ibuku.
Satu setengah tahun lalu,
orang tua Yayoi meninggal karena kecelakaan lalu lintas.
Alasan kenapa dia bersikeras mengunjungi tempat-tempat angker
mungkin karena dia ingin mencari ibunya.
Yayoi.
Kei, apa kau sering meditasi?
Ya.
Apa kau makan dan olahraga secara teratur?
Ya, aku melakukannya secara teratur.
Jika kau menajamkan kepekaanmu dengan meditasi,
Kau bisa merasakan tempat-tempat berbahaya.
Jika tubuhmu sehat dan punya vitalitas tinggi,
Kau takkan mudah dirasuki roh.
Ya.
Aku belajar cara mengatasi masalah medium ideal dari nenekku.
Salah satu alasan di balik keputusan normalisasiku
adalah karena aku cukup yakin untuk tak melibatkan orang lain dalam insiden gaib.
Tanpa bantuan nenekku, aku takkan berani keluar rumah.
Aku mulai, ya.
Ya-Yayoi?
Aku mau mengintip!
Hei, nanti kau bisa dimarahi.
Bagaimana kalau aku tunjukkan hal bagus?
Hal bagus?
Misalnya, foto yang pernah diambil untuk diperlihatkan pada neneknya Kei,
yaitu foto tentang sesuatu di dalam sarung tangannya.
Mana?
Kau tertarik banget.
Maafkan aku, Kei.
Lihatlah!
Apa ini?
Kelihatannya seperti tangan berbulu putih, 'kan?
Namun, ini bukan bulu.
Ini adalah...
...saraf.
Saraf ini selalu tumbuh secara perlahan
dan menyebabkan rasa sakit.
Karena itu, mereka sering memotongnya dengan pedang suci
sambil melantunkan doa setelah tangannya dibius.
Apa kau sudah puas?
Ada yang aneh.
Duh, pinggangku sakit.
Terima kasih, Nenek.
Ini bukan apa-apa.
Terima kasih atas kerja kerasnya!
Kami bawa penyegar!
Eiko, Yayoi!
Terima kasih.
Keitarou?
Tanganku masih mati rasa.
Nenek hebat.
Sudah mengecil.
Jelas, dong.
Namun,
energi kalian terkuras.
Sebaiknya kalian istirahat.
Aku mau ke toilet sebentar.
Ini sarafnya?
Nanti kerasukan, lo.
Boleh kuambil?
Dasar bocah nakal menyeramkan.
Bocah,
apa kau suka hal-hal seram?
Seperti kari.
Favorit, dong.
No comments yet. Be the first to leave one.