The first 155 lines.
(Kita gemetar dalam kekaguman yang tidak dapat dilihat)
(Serta kita memuja sesuatu Yang tidak bisa dilihat)
Begitu rupanya. Aku merasakan energi roh kuat.
Apa ini?
Kau mengalahkan Yama dan menyuruh kami menyingkir?
Katakan sesuatu! Dasar berandalan!
Toshirin...
Ini buruk!
Dia kuat sekali!
Bisa diam, kan?!
Dengar, Semuanya. Lihat itu!
Pertanyaan pertama, apa itu?
- Kau, yang di tengah! - Apa?
Bunga untuk anak yang meninggal di sini kemarin?
Benar!
Mit!
Katakan, kenapa vas itu jatuh?
Kami bermain papan seluncur dan menjatuhkannya.
Kalau kau lakukan lagi,
aku akan buat seseorang memberi bunga untuk jiwa kalian juga!
Kami minta maaf!
Kalau kelihatan setakut itu, aku rasa, mereka tak akan kembali.
Aku akan bawakan bunga segar untukmu besok.
Terima kasih sudah menyingkirkan mereka.
Sekarang, aku bisa beristirahat dengan tenang.
Sama-sama.
Waktunya kau "menyeberang."
Aku Kurosaki Ichigo, 15 tahun, kelas 10.
Keluargaku punya klinik medis.
Kadang untung, kadang rugi.
Mungkin karena itu,
tapi sudah sejak lama, aku bisa melihat hantu.
- Aku pulang... - Kau telat!
Dasar nakal!
Kau tahu, makan malam di sini tepat pukul 19.00!
Hei, begini caranya memperlakukan anak
yang mempertaruhkan nyawanya membantu hantu berpindah?
Diam! Ayah tidak mau dengar alasanmu!
Siapa pun yang mengganggu ketenangan di rumah ini akan dihukum!
Atau apa?
Mau menyombong karena hanya kau yang bisa bicara dengan hantu?
Aku tidak minta kemampuan ini!
Berhentilah, kalian berdua. Makan malamnya mulai dingin.
Biarkan saja, Yuzu. Tambah nasinya.
Tapi, Karin...
Omong-omong,
menyuruh siswa SMA pulang pukul 19.00 adalah...
Kak Ichi, ada satu hantu baru.
Apa?
Pria ini... sejak kapan di sini?
Meski sudah berusaha, mereka tidak mau pergi!
Terima kasih untuk makanannya.
Kasihan Kak Ichi. Dia sangat populer.
Tapi, aku agak iri padanya.
Aku bisa merasakan kehadiran mereka, tapi jarang melihat apa pun.
Aku tidak percaya dengan hantu.
Apa? Tapi, kau lihat juga, kan, Karin?
Hanya Ayah yang tidak bisa lihat.
Bisa atau tidak, kalau aku tidak percaya, mereka tak akan ada.
Dingin sekali!
Makan malam...
Terbuka lebar!
Sudahlah, aku mau tidur.
Hei, Kakak.
Ini salah Ayah.
Kenapa?
Kakak dalam situasi sulit sekarang.
Karena Ayah singgung, dia bilang, penampakan jadi lebih sering.
Apa? Maksudmu, dia bicara padamu hal-hal seperti itu?
- Dia tidak bilang pada Ayah. - Tentu tidak.
Ayah sudah tua, tapi cara berkomunikasi Ayah tidak dewasa.
Tidak ada yang mau bicara pada Ayah.
Sayang, entah apa mereka sedang puber,
tapi putri-putri kita dingin sekali padaku!
Apa yang harus aku lakukan?
Sebelumnya, ayo kita buang poster peringatan bodoh itu.
Saat ini, terjadi insiden di jalan utama di luar Pos Karakura.
Menurut penduduk setempat, sekitar pukul 07.30,
tanah bergetar dengan suara keras
dan banyak dinding gedung yang hancur.
Selamat pagi, Kakak.
Pagi. Di mana Ayah?
Ayah ada rapat. Tidak pulang sampai malam.
Begitu, ya.
Para penyelidik dan ahli peledak sedang mencari tahu penyebabnya.
Ada apa?
Itu dekat sini.
Hei!
Suara apa itu?
Aku tidak dengar apa pun.
Ledakan lagi!
Apa itu?
Tolong aku!
Lari!
- Ada apa ini? - Tidak tahu!
Hei! Ayo, cepat!
Hei...
Hei, kau...
Apa itu tadi?
Ledakan lagi?
Apa yang terjadi?
Lihat itu. Dindingnya hancur.
Aku tidak tahu.
Siapa itu?
Siapa kau?
Siapa kau? Apa maumu?
Hei!
Dekat...
Apa maksudmu?
Kau membuatku takut dan sekarang mengabaikanku?
Aku bertanya, kau siapa?
Kau bisa melihatku?
Tunggu, kau baru menendangku...
Apa? Bicara apa kau?
- Tentu, aku bisa melihatmu. - Tadi, kau ada di kota, kan?
Kau lihat?
Aneh. Manusia biasanya tidak bisa melihatku.
Berhenti melantur!
Kau...!
Kalau begitu, dengar.
Aku Malaikat Maut.
Lagi... di mana?
Baik. Jadi, kau Malaikat Maut.
Lalu, kau datang ke sini dari Soul Society
untuk membasmi iblis jahat.
Artinya, monster itu adalah iblis
dan ia menyerang gadis itu.
Baik, aku percaya.
Bodoh! Kau pikir, aku percaya?
Maksudmu, meski bisa lihat hantu,
kau tidak percaya Malaikat Maut?
Tentu!
Sayangnya, aku belum pernah melihat Malaikat Maut.
Aku tidak percaya yang tidak bisa aku lihat.
Tapi, kau melihatku sekarang.
Aku akui, kau bukan manusia.
Tapi, berhentilah berpura-pura jadi Malaikat Maut.
Paham? Dasar anak kecil.
Kau berani memanggilku begitu?
Bakudo Nomor Satu. Sai!
Aduh! Apa yang kau lakukan padaku?
Kau tidak bisa bergerak, kan?
Ini Kido, mantra tingkat tinggi yang hanya bisa dipakai Malaikat Maut.
Mungkin tidak terlihat, tapi aku hidup sepuluh kali lebih lama darimu.
Kau berani memanggilku "anak kecil"?
Di situasi lain, kau pasti sudah lenyap.
Tapi, aku dilarang mengeksekusi nama yang tidak ada dalam perintah.
Bersyukurlah, anak kecil.
Beraninya kau...
Jadi...
Kau pria yang kemarin.
Jangan...
Aku tidak mau ke Neraka!
Jangan takut.
Tujuanmu bukan Neraka.
No comments yet. Be the first to leave one.