The first 200 lines.
Pelangi.
Pelangi.
Pelangi.
Pelangi, di mana, sih?
Indonesia tanah.
Air beta.
Pusaka abadi nan jaya.
Namun kita.
Tak mampu menjaganya.
Buang sampah semrawut Bikin Bumi tidak prety.
Sampah plastik di laut, Ikan kira itu candy.
Pohon pohon ditebang Hutan pun menjadi city.
Kupu-kupu jadi lonely Hidup jadi tidak happy
2082, Bumi mengalami krisis yang paling menakutkan.
Tidak ada lagi sumber air bersih.
Semua mata air di dunia tercemar.
Namun, bagaimana kita bisa bertahan?
Atas nama kemanusiaan, demi menyelamatkan Bumi,
Nerotek melakukan eksplorasi ke Mars
untuk mencari Zeolit Omega.
Sebuah mineral langka yang bisa menjernihkan air
jutaan kali lipat dari zeolit biasa.
Namun, ekspedisi demi ekspedisi gagal menemukan mineral tersebut.
Dia adalah Ibu Pratiwi,
astronot dan ilmuwan asal Indonesia
yang memimpin misi terakhir Nerotek di Mars.
Kami meyakini.
Zeolit Omega hanyalah mitos semata.
Bela sungkawa kami
untuk Ibu Pratiwi yang telah menjadi
korban di misi terakhir ini.
Lo, Bunda, 'kan, masih hidup?
Kok, dibilang sudah meninggal?
Itu 'kan yang mereka pikir, Sayang.
Di hari pertama Bunda tiba di Mars,
ada badai besar sekali,
dan enggak terdeteksi sebelumnya.
Halo.
Yuhu.
Mau apa kamu?
Saat Bunda melakukan penyelidikan,
Bunda menemukan sesuatu yang dicari-cari selama ini.
Kamu apa?
Zeolit Omega.
Bunda menduga badai yang terjadi berasal
dari suatu tempat dengan sumber air yang melimpah.
Laporannya segera, ya.
Terima kasih, Bu.
FILTER - REKAM - VOLUME PILIHAN - LAINNYA
Namun, ternyata
pihak Nerotek malah enggak suka dengan penemuan ini.
Mereka berusaha menguasai hasil penelitian Bunda
dan menghancurkan bukti-bukti yang ada.
Halo.
Iya, Bu.
Ke mana, Ibu Pratiwi?
Lo, ada apa ini?
Ke mana, Bu?
Hati-hati.
Ada apa?
Hati-hati, Bu.
Mau ke mana, Bu?
Di tengah usaha Bunda menyelamatkan diri,
Bunda baru tahu kalau Bunda enggak sendiri.
Ada kamu di dalam perut Bunda.
Mereka semua pergi meninggalkan Mars tanpa tahu masih ada kita di sini.
Hanya tersisa robot-robot Nerotek yang bertugas
mengumpulkan sisa mineral-mineral yang ada.
Pesawat kargo yang ada akan otomatis berangkat
saat muatan mineralnya sudah terisi.
Tersisa satu kargo,
khusus untuk Zeolit Omega.
Itulah kesempatan kita untuk pulang ke Bumi, Pelangi.
Berarti, kita harus menemukan Zeolit Omega, ya, Bunda?
Iya, Pelangi.
Zeolit Omega adalah tiket kita pulang ke Bumi dan bertemu lagi sama ayah kamu.
BUMI
Kamu anak yang istimewa, Pelangi.
Kamu adalah anak pertama yang lahir di Mars.
Hadirmu itu adalah keindahan bagi Bunda.
Senyummu itu memberi damai.
Kamu menciptakan harmoni di planet ini.
Kamu adalah harapan baru.
Itu sebabnya Bunda beri nama kamu.
Pelangi.
SURGA YANG HILANG DI BUMI
Satu,
dua,
tiga,
empat.
Pelangi.
Di mana, ya, kamu?
Pelangi.
Kamu di mana, sih?
Pelangi.
Ba.
Lagi, Bunda.
Sudah dulu. Nanti dulu, ya, mainnya.
Bunda harus kerja dulu, ya.
Kamu duduk di sini dulu.
Di sini, ya. Sebentar, ya.
Bunda.
Kira-kira kalau Ayah bertemu Pelangi ketika pulang ke Bumi kaget enggak, Bunda?
Ya kaget, dong.
Tapi kamu akan menjadi kejutan yang terbaik untuk Ayah.
Tapi kenapa Ayah tidak mendatangi Bunda?
Karena Ayah tidak tahu kalau Bunda masih hidup di Mars.
Coba kalau Ayah tahu.
Pasti dia akan senang, dan dia akan ke kita.
Kita kasih tahu, ya, Bunda.
Kasih tahu Ayah?
Jangan dong. Kalau kita kasih tahu Ayah,
nanti robot-robot Nerotek tahu kita di sini, terus kita dikejar-kejar.
Robot jahat.
Enggak dong. Enggak semua robot jahat.
Itu, Batik baik.
Batik.
Iya dong.
Batik robot yang bisa dipercaya.
Ayo, Batik, saatnya kita ceklis.
Monggo.
- Cek sistem propulsi. - Berfungsi baik.
- Alat bantu hidup? - Berfungsi baik.
Oksigen dan makanan cukup untuk perjalanan ke Bumi.
- Sistem komunikasi? - Tidak berfungsi.
Oke. Sistem navigasi?
Pesawat otomatis ini
hanya berangkat ke Bumi apabila diisi dengan muatan yang sesuai,
yaitu Zeolit Omega.
- Zeolit Omega. - Betul. Lalu, estimasi
dari sini ke lokasi Zeolit Omega.
Menurut peta yang Ibu Pratiwi berikan,
membutuhkan 35 SOLS perjalanan tanpa kendaraan.
SOLS apa, Bunda?
SOLS itu hitungan hari di planet Mars.
Ya, Batik akan menyiapkan rute perjalanan
sekaligus tempat menginap setiap malamnya, Bu.
Oke, tapi hindari stasiun yang berhubungan sama Nerotek.
- Menghindari Nerotek. - Nerotek?
Dengan ini rute, perjalanan akan semakin lama.
Sekitar 45 SOLS. Bagaimana?
Oke. Kita kunci rutenya dan kita akan berangkat besok.
Hore!
- Batik enggak bisa dipeluk, nih. - Kamu Bunda bungkus
bungkus pake kertas kado, ya. Boleh, ya?
Kenapa, Bunda?
Biar jadi kejutan terbaik buat Ayah.
Kejutan buat Ayah.
- Ayo! - Kita ke Bumi!
Kita ke Bumi!
Yuk, Pelangi. Keburu gelap.
Pelangi tahu, 'kan, kenapa?
- Kalau sudah gelap itu, kita⦠- Batik, biarkan Pelangi yang jawab.
Karena suhu gelap bisa membuat kita mati beku.
Biar selamat?
Biar selamat, kita harus tinggal di koloni terdekat.
- Koloni terdekat? - Di situ, Bunda, koloni Tiongkok.
- Pintar, Pelangi. - Ayo, Pelangi.
Kalau sampai kita mesti ngapain?
Mendapatkan makanan,
- mengisi oksigen, terus tidur. - Iya?
Peringatan! Drone Nerotek.
- Pelangi, ayo sembunyi. - Peringatan! Drone Nerotek.
- Pelangi. - Ayo, Pelangi.
Pelangi, sini.
Pelangi.
- Pelangi sembunyi. - Mana Neroteknya, Bunda?
Pelangi, sembunyi.
Pelangi!
Pelangi! Sembunyi!
Pelangi lupa apa yang Bunda ajarin?
Kenapa tadi diam aja?
- Peringatan. Oksigen bocor. - Kenapa enggak sembunyi?
Ibu Pratiwi, peringatan. Oksigen bocor.
- Ayo cepat ke koloni Tiongkok. - Oksigen bocor. Ibu Pratiwi, peringatan.
Enggak sempat. Harus ke stasiun terdekat.
Stasiun terdekat adalahβ¦
Apa, Batik? Kok diam?
Stasiun riset milik Nerotek.
Enggak ada pilihan, ayo!
Ayo, Pelangi.
- Ayo. - Ibu Pratiwi yakin?
Sini.
Ayo ambil koper dulu.
Batik tidak yakin aman, Bu.
Halo, Bu.
Enggak aman, lo, Bu.
Bu Pratiwi.
Kalau tadi tidak ada Bunda, pasti Pelangi tertangkap Nerotek jahat.
Pelangi harus ingat, ya.
Enggak ada yang bisa dipercaya di planet ini selain Batik.
Batik ikut ke Bumi?
Ikut, dong.
Sehabis kita menemukan Zeolit Omega,
Pulang deh kita ke Bumi.
Pelangi mengantuk, ya?
- Nyanyi pakai gitar, Bunda. - Ayo.
Pelangi ingat enggak gitar ini terbuat dari kayu apa?
- Kayu Eboni Sulawesi. - Benar.
Itu tempat kelahiran Ayah.
No comments yet. Be the first to leave one.