The first 200 lines.
"Episode 66"
Kamu di Pasaraya Korea?
Kamu juga?
Kamu di mana sekarang? Aku akan menghampirimu.
Aku di lantai lima.
Di dekat toilet.
Tunggu. Di mana Ibu?
Di mana Bibi?
Ini sungguhan?
Apa itu kamu, Oh Na Ra? Wanita jahat.
Wanita jahat?
Tidak sopan.
Beraninya kamu memanggilku begitu.
Kamu pikir aku menahan diri karena tidak bisa berkata kasar?
Memang benar kamu.
Kamu yang mempermainkan nyawa putraku.
Dengar.
Kapan aku mempermainkan nyawa putramu?
- Apa? - Aku hanya
menyelamatkan diriku.
Aku dalam posisi sulit karena bisnis suamiku gagal.
Tentu aku harus menyelamatkan diriku dahulu.
Karena kamu memintaku mengembalikan uang untuk operasi putramu,
aku harus mengembalikannya seakan sudah menunggu momen itu?
- Beraninya kamu menyalahkanku. - Begitu rupanya.
Kamu kesal karena putramu gagal mendapatkan transplantasi.
Beraninya kamu mengungkit hal itu.
Memangnya kenapa? Kami juga korban.
Kudengar keluargamu hendak mendapatkan investasi.
Astaga. Kukira kamu punya uang lebih.
Investasi apanya? Kamu tinggal di rumah kecil.
Aku tidak tahu.
Itu sebabnya aku menahan diri demi uang itu
saat wanita licik itu memakiku. Sulit kupercaya aku membiarkannya.
Aku sudah marah besar karena kalah dalam gugatan
melawan putrimu.
Jika kamu ingin kami menafkahimu setiap bulan,
jangan berani-berani menunjukkan wajahmu di hadapanku.
- Dasar... - Apa? Kamu akan mencekikku lagi?
Jika kamu menyentuh sehelai rambutku saja,
aku tidak akan melepaskanmu kali ini.
Sulit kupercaya!
Bisakah kamu pergi dari hadapanku?
Aku tidak ingin berpapasan dengan siapa pun dari keluargamu.
Tapi siapa juga yang mau?
Kamu wanita gila yang sinting.
Putri sulungmu yang licik menggugat ayahnya sendiri.
Putri keduamu kriminalis yang menghajar ayahnya sendiri.
Selain itu,
putramu sudah cukup beruntung masih bisa bernapas.
Astaga, keluargamu kacau sekali.
Itu sebabnya dahulu aku bilang
kamu harus
melakukan aborsi demi masa depanmu.
Hei!
Astaga.
- Ada apa denganmu? - Kemari kamu!
Hentikan.
- Hentikan, Bu. - Hei.
- Mati saja kamu! - Jangan melakukannya di sini.
- Lepaskan dia, Bu. - Kamu pantas mati!
Anda tidak boleh berkelahi di sini, Bu.
- Wanita jalang! - Mati saja kamu!
Mataku.
- Selamatkan aku. - Lepaskan aku!
- Bu, kendalikan diri Anda. - Tolong aku.
Seseorang, tolong aku.
- Ibu! - Seseorang tolong aku.
Dia akan membunuhku.
Astaga, sulit kupercaya.
- Hei! Mati saja kamu! - Lepaskan aku.
Astaga, mereka berkelahi.
Dia bilang dia di dekat toilet lantai lima.
Ada toilet di bagian lain?
Tidak, di lantai ini hanya ada satu.
Terima kasih.
Nomor yang Anda tuju tidak aktif. Silakan meninggalkan pesan...
Ada apa?
Go Ya, aku di lantai lima. Kamu di mana?
Setelah mendengar pesan ini, hubungi aku.
Aneh.
Benar juga. Bibi Na Ra.
Nomor yang Anda tuju tidak aktif. Silakan meninggalkan pesan...
Ada apa ini? Kenapa dia tidak menjawab ponselnya?
Bibi Na Ra ke mana?
Nomor yang Anda tuju tidak aktif. Silakan meninggalkan pesan...
Bibi di mana?
Aku menunggu Bibi di toko. Kemarilah setelah mendengar pesan ini.
Go Ya, aku di lantai lima.
Langsung hubungi aku setelah membaca pesan ini.
Perkelahiannya sudah selesai? Mereka pergi?
Buka!
Buka sekarang!
- Buka sekarang! - Anda mengerti sekarang?
Dia sudah gila.
Permisi, kenapa Anda hanya menahan ibuku?
Dia yang pantas ditahan.
Hei, ibumu yang berusaha membunuhku.
Mungkin kamu yang memprovokasi dia.
Biarkan ibuku keluar. Dengarkan ceritanya, Pak.
Kamu! Wanita jalang menjijikkan!
Jangan berisik.
Jika Anda terus begini, aku akan menambah tuduhannya.
Benar, bukan?
Ibu, tolong tenanglah.
Mana bisa ibu tenang?
Ibu harus tetap mencoba.
Dia ingin Ibu berbuat onar. Jangan menuruti keinginannya.
Ibu ingin dia melihat Ibu seperti ini?
Go Woon menunggu Ibu di rumah.
Kumohon, Ibu.
Ibu!
Baiklah.
Bagaimana? Dia akan bekerja sama?
Ya.
Bu Woo Yang Sook, Anda menyerang Bu Oh Na Ra, benar?
Itu bukan penyerangan biasa.
Dia siap membunuhku.
Sungguh?
Bu Woo Yang Sook, benarkah ucapannya?
Aku memang menyerang lebih dahulu,
tapi dia mengejek putraku yang sedang sakit.
Dia bilang putraku beruntung karena masih bernapas.
Itu sebabnya kami berselisih sedikit.
Yang benar saja. Berselisih sedikit?
Bu Oh Na Ra, bisakah Anda diam?
Kami memeriksa video CCTV dan mendapatkan keterangan dari saksi.
Bu Woo menyerah Bu Oh lebih dahulu,
tapi tampaknya itu tidak direncanakan.
Bagaimana jika kalian saling meminta maaf
dan mengurus biaya pengobatan?
Kalian berdua terluka.
Tidak, aku tidak akan berdamai.
Aku akan menuntutnya.
- Sayang! - Sayang.
- Siapa yang menyerang istriku? - Sayang.
Sayang.
- Apa yang terjadi? - Bukankah sudah jelas?
Wanita ini bertanggung jawab karena menghajarku seperti ini.
Sungguh?
Pak, apa yang terjadi?
Istri Anda dan wanita ini berkelahi.
Masalah yang lebih besar adalah urusan dengan pasaraya.
Sebaiknya kalian berdamai sekarang.
Kerugian kedua pihak tidak terlalu besar.
Dia benar. Mari berdamai dengannya, lalu pulang.
Tidak mau. Dia belum minta maaf kepadaku.
Sayang, minta maaflah kepada Na Ra, maka semua akan tuntas.
Bermimpilah.
Pak, jika interogasinya sudah berakhir, boleh kami pergi?
Adikku sendirian di rumah.
Baik, aku akan menghubungi Anda jika membutuhkan informasi tambahan.
Apa? Dia tidak boleh pergi begitu saja.
Ini dan ini. Anda tidak melihat memarnya?
- Sakit. - Wanita ini juga terluka.
Astaga.
Sayang, mari kita pulang saja.
Tidak mau! Yang benar saja?
Sayang, mengalahlah dan minta maaf kepada Na Ra.
Anda bergurau?
Kenapa Anda memanggil mereka "Sayang"? Istri Anda yang mana?
Aku tidak bergurau. Tidak ada yang salah.
Aku memanggil mereka berdua "Sayang".
Astaga. Hentikan lelucon ini. Bawa istri Anda pergi.
Sampai jumpa.
Pak, Anda tidak boleh membiarkan mereka pergi. Dia...
Astaga. Dasar...
- Sayang. - Astaga!
Lepaskan aku! Minggir!
Astaga. Sampai jumpa.
Astaga.
Lihat memarmu. Biar kulihat, Sayang.
Sayang?
Teganya kamu memanggil wanita itu "Sayang" di hadapanku.
- Apa? - Kamu tahu
perbuatannya kepadaku?
Dia menjambakku, memukulku, dan mencubitku.
Astaga.
Aku belum pernah dipermalukan seperti ini.
Tapi kamu memanggilnya "Sayang"?
Itu hanya kebiasaan.
Maksudku, dahulu.
Aku hidup lebih lama bersamanya
- dibandingkan bersamamu. - Sayang!
Maaf.
Aku sedang bersama Ji Seok.
Untunglah dia tidak melihat kekacauan itu.
Andaikan dia melihat...
Aku lupa. Ji Seok.
Astaga.
Anda memiliki pesan.
Bibi di mana?
Aku menunggu di depan toko.
Kemarilah setelah mendengar pesan ini.
Aku harus bagaimana?
Aku harus bilang apa?
Makanlah tofu ini. Jangan sampai airnya tumpah.
Kamu menumpahkannya. Singkirkan.
- Kamu sudah mencari ke mana-mana? - Ya.
- Tidak ada siapa-siapa di sana? - Tidak ada.
No comments yet. Be the first to leave one.