The first 200 lines.
Mana Bailey?
Tuli dan bisu, eh?
Bisa kau baca gerak bibir?
Mana Bailey?
Akan kembali hari ini?
Ayo.
- Halo, Marny. - Lihat siapa yang kembali.
- Kau mewarnai rambutmu? - Kenapa?
Aku selalu berpikir kau wanita berambut pirang.
Karena segala yang kau pikirkan tentangku, aku bisa jadi botak.
Ham dan rye. Kau rindu aku, sayang?
Kalau aku tidak, aku tak berpikir ada orang lain yang rindu.
- Satu hal yang pasti, Bailey tidak rindu sama sekali. - Tidak pula denganmu.
Dia wanitamu, dan dia bukan lelakiku.
Jadi itu bukanlah urusanku. Aku hanya lihat apa yang kulihat.
Kau yakin kau tak lihat apa yang kau dengar?
Tak ada yang bisa terjadi di kota ini yang tidak kudengar, di depan konter.
Aku hanya bilang yang aku lihat. Tiap hari mereka pergi mancing sama-sama.
Dengar, roti lapis.
Dua hal yang bisa kucium sejauh 100 kaki: lagi bakar hamburger dan percintaan.
Kau ada pelanggan.
- Kau pesan apa? - Kopi.
- Tak ada yang lain? - Krim.
- Kau dari mana kali ini? - L.A.
- Kopi? - Tidak, terima kasih.
Dulu dia mendapatkanmu, sekarang dia mendapatkanmu dan Bailey.
Dan satu-satunya hal sepertinya aku jadi semakin tua.
Terima kasih banyak, Marny. Sampai ketemu nanti.
Aku rasa aku pasti telah mengatakan sesuatu.
Kau sudah cukup banyak bicara.
Sepertinya segala hal yang orang harus tahu, mereka sebenarnya tak mau dengar.
Aku rasa itulah masalah besar pada semua orang.
Entah itu atau kau ada di sisi konter yang salah.
- Katakan padaku sesuatu. - Kau tak terlihat seperti yang bisa aku kira.
Itu Bailey yang membuatmu kesal, dia pemilik stasiun bensin itu?
- Kau mengenalnya? - Aku mungkin mengenalnya, kala itu.
Meski dia selalu bersama kekasihnya Jim, tak ada yang akan mengenalnya...
dan itu akan disayangkan.
Kau, sering lihat Bailey ini?
Ya, setiap hari dari sini.
Aku sering bertanya-tanya apa yang terjadi dengannya...
Suatu hari aku lewat sini, dan ada namanya di papan.
- Ini dunia yang kecil. - Ya, atau papan yang besar.
- Ikannya tidak memakannya hari ini. - Akan dimakan nanti. Ini lagi mendung.
Mereka bilang hari kau mati, namamu akan tertulis di awan.
- Siapa bilang? - Mereka.
Tak pernah mendengarnya.
Tak ada apa-apa di awan itu selain air hujan. Berpikir kita harusnya pulang?
Ya.
- Kau mau pulang? - Tidak.
Tiap kali aku lihat langit, aku memikirkan semua tempat yang belum pernah aku kunjungi.
Ya, dan tiap kali kau lihat ke atas, langitnya semua sama.
- Kau sudah berada di banyak tempat, kan? - Satu tempat terlalu sering.
- Yang mana menurutmu yang terbaik? - Yang ini tepat di sini.
- Aku yakin kau bilang itu ke semua tempat. - Kau lihat teluk kecil di sebelah sana?
Aku ingin bangun rumah tepat di sana...
menikahimu, tinggal di sana, dan tak pernah pergi ke tempat lainnya.
Aku harap kau begitu.
Kau belum pernah nikah sebelumnya, kan?
Tidak yang bisa aku ingat.
Itu bagus.
Kau bakal terkejut bagaimana orang-orang membicarakan tentangmu.
Si misterius Jeff Bailey.
Ibuku bilang padaku aku hanya mengenalmu sedemikian singkat.
Dari mana asalmu. Dan apa pekerjaanmu.
Ayahku dulu...
- Sebaiknya kita pergi. - Ada masalah?
Mungkin tidak.
Ini.
Kau jelas orang yang penuh rahasia.
Terima kasih.
Seseorang hanya ingin bertemu denganku.
- Sudah lama. - Halo, Joe.
Aku mengharapkan dulu sebaiknya aku menemuimu.
Semua orang jelas kehilanganmu, Jeff, tapi tidak sebesar yang aku rasakan.
- Kenapa? - Whit biasa memandangku...
menggelengkan kepalanya, dan mengharapkan aku punya otak sepertimu.
- Masih ada alasan lain? - Aku harus menemukanmu.
- Aku berhutang padamu sesuatu? - Bukan padaku.
Siapa?
- Seberapa jauh anak itu bisa baca gerak bibir? - Aku tak tahu. Aku tanyakan ke dia kapan-kapan.
Sejauh ini?
- Kau tak suka melakukan kesalahan, kan, Joe? - Mereka tidak izinkanku melakukan sering.
Baiklah, masuk ke dalam.
- Usaha menyenangkan yang kau jalani ini, Jeff. - Oh, ya, aku dan anak itu ketawa sepanjang waktu.
Aku rasa itu karena ini cukup baik.
Pemilik kafe di seberang jalan itu bilang kau begitu juga.
- Bagaimana kau kebetulan bisa menemukanku, Joe? - Aku berkendara melewati jalan ini suatu hari...
lalu siapa yang kulihat di pompa bensin itu selain teman lamaku dari masa lalu.
Tentu saja, dengan nama yang berbeda di papan.
- Jadi kau hanya mampir? - Kenapa tidak?
Baiklah, berarti aku senang berjumpa kawan lama juga.
Jadi aku ajak kau makan malam, traktir kau minum, mengobrol sampai larut malam...
kau masuk ke mobilmu kemudian kau pergi. Itu benar?
- Hampir. - Apa lagi?
Aku masih bekerja pada orang itu, Jeff.
- Whit? - Dia ingin menemuimu.
Sebesar yang kau rasakan?
- Lebih besar. - Begitu.
Tak ada yang memikirkan lebih tentangmu selain Whit.
Atau lebih banyak tentangku.
Itu bisa jadi juga.
- Baiklah, apa maunya, Joe? - Mungkin dia punya sesuatu yang baik buatmu.
Mencoba sekali lagi.
Dengar, Whit tak pernah menjerumuskanmu dalam hal yang buruk, kan?
Dia tak pernah mengomel waktu kau buang barang terbaik yang pernah dia berikan padamu.
- Teruskan. - Orang ini hanya ingin bertemu denganmu.
Kau sudah katakan hal itu, aku bisa bilang apa?
Kau tahu hal lain untuk dikatakan?
- Bagaimana pagi besok? - Di mana?
Danau Tahoe. Belok kanan di Emerald Bay. Rumah besar di bukit. Kau jangan melewatkannya.
Kau tak bisa.
Ann? John, kau hendak biarkan dia keluar seperti ini?
Kau akan izinkannya, dengan orang yang bahkan tak mau datang ke rumah?
Jangan khawatirkan mereka.
- Sayang. - Ini tidak baik, kan?
- Itu tak penting. Itu hanya karena mereka... - Sayang, aku tahu apa yang mereka rasakan.
- Jangan mengkhawatirkannya. - Aku tidak.
- Maka jangan terlihat cemberut begitu. - Tidak, ini hal lain.
- Apa? - Orang yang kemari hari ini...
Ya?
Kau mau berkendara denganku ke Danau Tahoe?
- Sekarang? - Ya, sekarang.
Aku mau beritahukanmu sesuatu.
Baiklah, Jeff.
Kau bilang padaku aku harus beritahukan padamu suatu waktu.
Inilah saatnya.
Hal pertama yang ingin aku ungkapkan: Namaku bukan Bailey, itu Markham.
- Markham. Jeff Markham? - Aku harusnya beritahukan padamu sebelumnya.
Aku bermaksud begitu, tapi aku selalu menundanya...
karena aku tak suka segala halnya.
- Tolong beritahukan padaku, Jeff. - Beberapanya akan menyakitkanmu.
Itu tak masalah.
Teman kita Markham tinggal di New York.
Dia bekerja sama dengan orang bodoh, licik yang bernama Jack Fisher.
Kami menyebut diri kami detektif.
Itu kira-kira tiga tahun yang lalu, mungkin lebih.
Musim dingin. Salah satu hari terdingin yang aku ingat di kota.
Kami ada panggilan untuk datang menemui seorang pebisnis besar.
- Seorang apa? - Seorang pebisnis, pejudi.
Dia tidak datang menemui kami karena dia tokoh yang teramat penting.
Juga karena ada wanita menembakkan empat tembakan
padanya dengan pistol kaliber 38 miliknya.
Salah satunya berhasil mengenainya.
Dia tidak permasalahkan, tapi dia punya teman yang bicaranya menggebu-gebu.
Orang surat kabar, orang-orang sok tahu, siapa menurut mereka yang lagi bercanda?
Jadi dia menembak dirinya sendiri dengan pistol doblis.
Jadi aku keluarkan as sekop dari lengan jas selama permainan gin rummy.
Orang tak bisa ditembak oleh wanita...
tanpa seluruh kota mulai mengoceh seperti... seperti...
Sepertimu?
Rokoklah rokok, Joe.
Kau tinggal duduk dan tenangkan dirimu.
Kau tunggu aku bicara. Aku suka itu.
Aku belum pernah jumpai orang banyak dengarkan dirinya sendiri.
Membuatku tercengang bagaimana dia meleset begitu banyak.
Barangkali kau berhasil menghindar.
Kau tahu, wanita dengan pancing seperti pria dengan jarum rajut.
- Mau apa dia kemari? Aku memanggilmu. - Partnerku.
- Haruskah aku tanya kenapa kau tak panggil polisi? - Haruskah kau?
Aku rasa tidak.
- Ada yang terjadi padanya? - Dia meninggalkanku.
- Membawa $40,000. - Aku ingin dia kembali.
Atau uangnya?
Kau tahu, aku pernah bertaruh $40,000 pada kuda yang finis di posisi terakhir, lalu aku beli kuda itu.
Ya, itu yang aku maksud.
Oh, kau salah. Aku taruh kuda itu di padang rumput hijau yang bagus...
agar dia tak pernah injakkan kakinya di arena pacuan.
Kau harusnya keluar mengunjunginya suatu waktu.
Tidak, aku hanya ingin dia kembali. Ketika kau menemuinya, kau akan mengerti lebih baik.
Mungkin dia hanya seorang wanita impulsif.
- Bisa kita abaikan hal itu? - Aku bisa abaikan semuanya.
Termasuk 5,000 sekarang dan 5,000 waktu kau membawanya kembali?
Dan biaya pengeluaran.
Itu harusnya hal pertama yang kau katakan.
- Temukan dia, Jeff. Bawa dia kembali. - Kenapa aku?
Aku kenal banyak orang pintar dan beberapa orang jujur, dan kau keduanya.
Apa yang terjadi dengannya?
Aku tak mau menceritakannya.
Baiklah.
Berikan aku informasi tentang keluarganya, foto, apa saja yang menarik.
- Kau akan mendapatkannya. - Sampai nanti.
Kau bawakan itu, Joe. Ayo, pergi.
Oh, ya, kau keberatan beritahukan padaku namanya?
- Kathie Moffat. - Terima kasih.
Dia pasti bukan wanita biasa. Perempuan membawa 40,000.
Kau tahu, demi orang pintar, Sterling itu jelas amat mempercayaimu, bukan?
Kenapa tidak?
- Aku diikutsertakan? - Tidak.
Dia tak suka kepribadianku, huh? Aku tetap dapat bagian, Jeff, 50-50.
- Aku apa bilang hal yang berbeda? - Baiklah, baiklah. Itu keputusan yang bagus.
Jangan marah padaku. Dan jangan punya pemikiran yang tidak-tidak.
Ini dariku.
Ini teman lamaku, Jeff Markham. Dia ingin menanyakan ke kalian sesuatu.
Yang mana di antara kalian yang bernama Eunice Leonard?
Aku.
Bisa aku ajukanmu beberapa pertanyaan?
Ayo, sayang, mari berdansa.
Kau bekerja pada Katherine Moffat?
Tidak lagi, dia sudah pergi. Dia memberi perintah seenaknya.
No comments yet. Be the first to leave one.