The first 200 lines.
Aku sangat mencintaimu.
Maukah kau menikahiku?
Kau ingin menikahiku?
Tak bisakah kau lihat?
Aku punya standar yang harus dipertahankan.
Apa kau dicampakkan karena kau tak tampan?
B.R.O Khalid punya solusinya.
Tampan sekali.
Kau mau kulit lebih putih?
Malu dengan masalah wajahmu?
Terima kasih banyak!
Bisa juga dijadikan perisa dalam minuman tanpa memakai gula.
Apa yang kau tunggu?
Bro Khalid punya solusinya.
Mari kita makan.
Meski kita membeli mi ini dari kedai lain, mari mencicipinya.
Mungkin rasanya enak.
Tak enak!
Mi apa ini? Kedai macam apa ini?
Kalian tak mendengar yang aku katakan?
Aku akan memberi satu kesempatan lagi.
Lupakan saja, ini mengerikan.
Ada apa denganmu?
Aku hanya membantu mi ini, karena mi ini bau!
Itu makanan! Kau akan membuangnya begitu saja?
Cukup! Berhenti berdebat.
Kalian kembar, tapi persis kucing dan anjing.
Aku kucingnya, dia...
Aku tak ingin mengatakannya.
Teman-temanmu sudah datang. Selalu terlambat.
Lihat pukul berapa ini.
Bagus sekali.
Kenapa kalian lama sekali?
Sofea butuh waktu lama untuk bersiap dan lalu lintasnya mengerikan.
Kami sudah menunggu sangat lama. Kakiku sampai sakit.
Kakimu sakit? Aku punya solusi yang sempurna.
Ini produk baru, ini bagus untuk...
Aku tak ingin dengar tentang krim MLM milikmu.
Tunggu, dengarkan dulu!
Ini akan menyembuhkan semua penyakitmu. Kaki, telingamu...
Aku tidak mendengarkan!
Bagaimana kau bisa begitu jahat?
Sayang, aku tak menyukai dia.
Jangan mengadu kepada pacarmu.
Aku akan muntah mendengarkanmu bicara seperti itu.
Siapa itu?
- Itu Nipis! - Siapa lagi?
Kurasa kau harus membelikan krim ini untuk kakakmu. Kau tidak butuh itu.
Kau sangat jelek, takkan ada krim yang bisa membantumu.
Beli satu, gratis satu.
Murah sekali.
Bahkan jika gratis satu truk, aku takkan membelinya...
...jika hasilnya seperti wajahmu, berjerawat dan mengerikan!
Jika aku menginginkan itu,...
...seret saja wajah kakakku di jalan, dan dia akan memiliki wajah sepertimu!
Sayang, aku tidak suka burung beo ini.
Hei, Sayang? Aku ingin tanya.
Bagaimana pekerjaan barumu dengan Datuk Farouk? Apa menyenangkan?
Baik-baik saja. Seperti biasa.
Mengantar dia ke mana-mana, mendapatkan gaji.
Tidak seperti teman kita di sini yang akan menjadi artis rekaman.
Aku harus lulus audisi lebih dulu.
Audisi? Kau tak perlu ikut audisi.
Kau punya ketampanan, gerak-gerik, dan tubuh.
Biar kuberi tahu.
Kau akan menjadi hostes yang sempurna di karaoke...
Menjijikkan!
Teman-Teman, lihat ini!
Anjing!
Jangan sentuh anjingnya. Aku tak suka.
Tidak apa-apa, anjingnya lucu. Ia takkan menggigit.
Anjing bodoh!
Aku tak bisa menangani anjing.
Sayang, kau baik-baik saja?
Aku rasa tidak. Itu terlihat buruk.
Ini semua salahmu. Jika kau tidak mengejarku...
...seperti pahlawan di film Bollywood, kita takkan bertemu anjing itu.
Bisakah kau diam?
- Kau baik-baik saja? - Rasanya sakit.
Sofea, bawa dia ke klinik.
Tentu saja tidak! Tidak!
Sayang...
Tidak...
Aku punya fobia anjing!
Kalian harus membawaku ke klinik.
Aku akan mengantarmu.
Sayang, kau tak mau menonton kembang api denganku?
Aku takkan lama, aku harus pergi ke ATM juga.
Aku akan antar dia ke klinik dan aku akan kembali, setuju?
Baik, cepatlah.
Kau masih memedulikan kembang api? Teman kita sedang kesakitan.
- Diam! - Anjing, gigit dia juga!
Jaga dirimu, Sayang.
- Baiklah, Bung. - Dah, Sayang.
Bung, pergilah ke poliklinik.
Lampu hijau.
Berapa lama lagi?
Sebentar lagi.
Mereka akan segera tiba.
Akan ada seseorang malam ini.
Kalian sedang melakukan maksiat?
- Astaga. Kami tak melakukan apa pun. - Apa?
Ini malam tahun baru, jangan berbuat buruk.
- Apa kau membawa teman lain? - Tidak.
Sayang sekali!
Ayo.
Ada apa?
Apa kau bahagia bersama Kamarul?
Terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit.
Malam yang hebat.
Selamat pagi, Bu Guru.
Selamat pagi.
Aliff.
Jangan lupa memberi makan hamster anakku.
Ya, Datuk.
Aku bertemu gadis seksi semalam. Dia mengedip kepadaku.
Kenapa kalian tak mengucapkan salam?
- Selamat pagi, Bu Guru. - Selamat pagi, Bu Guru.
Berikan tangan kalian.
Tangan!
- Selamat pagi, Bu Guru. - Selamat pagi, Bu Guru.
Silakan duduk.
- Terima kasih, Bu Guru. - Terima kasih, Bu Guru.
Baiklah, Kelas.
Namaku Rohana Kamaruzzaman.
Kalian bisa memanggilku Bu Ana.
Ada apa?
Bu Khoo memukul kami dengan rotan.
Astaga. Terima kasih.
- Kau Hafiq? - Ya.
- Kau Amir, 'kan? - Ya.
Duduklah. Jangan khawatir, aku tak menggigit seperti Bu Khoo.
Baiklah.
Nora.
Jangan beri aku wajah muram itu.
Wajah muram?
Ada apa?
Aku baru saja bertengkar dengan ibu tiriku.
Lagi?
Ya, seperti biasa.
Kapan kalian akan akur?
Nora, ayahmu sudah meninggal tujuh tahun lalu.
Aku tahu. Entahlah, aku tak ingin memikirkan itu.
Baiklah.
Aku dengar Aliff digigit anjing.
Ya, tapi itu tidak serius.
Krim baru ini bisa digunakan mengobati luka. Minta dia membelinya.
Aku tahu. Itu rencanaku.
Sudah berencana? Baiklah.
Untunglah kau punya pacar yang mudah ditipu.
Ada apa denganmu?
Aku tak tahu.
Mungkin ada gadis cantik mengutukku.
Apa kau bahkan bisa membaca?
Kau sudah mengisi formulirnya? Kamarul?
Kamarul. Sesuai KTP?
Kau bisa masuk. Lebih cepat sedikit.
- Ya? - Aku butuh formulir.
Jangan tidur di kelas!
Apa yang kalian lihat? Lihat ke depan!
Mau tahu saja!
Seribu.
Seribu satu.
Seribu dua.
Ada apa denganmu? Kau tak bisa mengetuk sebelum masuk?
Mengetuk? Ini rumahku!
Apa yang kau sedang lakukan? Apa kau sudah gila?
Tidak, aku hanya bersantai.
Kenapa kausmu robek-robek?
Aku dipukuli. Aku tadi bermain snooker dengan Mael.
Aku tak punya uang untuk membayar dia. Jadi, dia memukuliku.
Kau tahu dia seorang gangster.
Bagaimana jika dia datang mencarimu ke sini? Kau mau lari ke mana?
Aku harus cepat mencari uang.
Kita coba peruntungan kita di 4D?
Lotre 4D? Aku bukan penjudi.
Lagi pula, aku punya pekerjaan, tak sepertimu.
Astaga, orang ini.
Hai, aku Kamarul. Kau?
Angkuh sekali.
Yang benar saja.
Gadis sepertiku tidak berbicara dengan pria sepertimu, paham?
Untunglah kau seorang gadis,...
...atau aku akan menjejalkan sepatuku ke tenggorokanmu.
- Nomor 34. - Itu aku.
- Kau? Ayo. - Ya.
Asiah, 'kan?
Misha kesayanganku. Hari ini aku kesiangan.
Apa kau gila?
Astaga. Lehermu bisa patah, Bung.
Dari mana saja kau? Jam kerjamu dimulai satu jam lalu.
- Macet, Bos. - Ya, benar! Macet apanya?
Kau mengendarai sepeda motor!
Aku bilang jalanannya macet, bukan aku.
Kau mau bekerja atau bermain-main?
Tak bisakah aku melakukan keduanya?
Jaga mulutmu. Cepat antarkan pesanan-pesanan itu.
Biarkan aku merokok lebih dulu.
Lakukan tugasmu atau aku akan memecatmu.
Kau tak perlu sekejam itu.
No comments yet. Be the first to leave one.