The first 200 lines.
Pak.
Pak.
Pak.
Ya?
Airnya sudah mendidih.
Air apa?
Astaga.
Bapak masak air, ya.
Sudah kumatikan.
Suaranya nyaring, membuat orang terbangun.
Tik, bapakmu sudah tua.
Pendengarannya pun berkurang.
Merokok yang bertambah.
Tik.
Kondisimu lebih baik hari ini?
Mungkin penat terbang kemarin.
Halo, Ret.
Hai, Tika.
Ya ampun, kau ternyata.
Tak beri kabar, kau sudah pulang.
Sombong sekali!
Bukan sombong, Ret.
Kemarin aku penat terbang.
Lalu aku demam. Aku tidur seharian.
Nanti main ke rumah, ya.
Aku ada oleh-oleh untukmu.
Baiklah.
Ya, nanti aku agak siang ke sana.
Sampai bertemu nanti ya. Dah!
HEI, KAU SUDAH SAMPAI DI INDONESIA?
MAAF BARU BACA. TIGA HARI INI BURUK. AKU DEMAM SAAT TIBA DI DESA.
AKHIRNYA! KUKIRA KAU MEMBLOKIRKU. SUDAH LEBIH BAIK?
YA, SUDAH LEBIH BAIK. JADI, BAGAIMANA LONDON?
AGAK BISING BEBERAPA HARI INI.
KENAPA?
TERGANGGU SUARA SIRENE AMBULANS. SANGAT NYARING.
Tik.
Tik, Bapak pergi dulu, ya.
Bapak sudah sediakan makan.
Ada sayur brongkos iga, kesukaanmu.
Tempe bacem, tahu bacem. Ya Tik, ya?
Tik.
Tika.
Ya.
Pagi, Pak.
Terhubung.
Ya, tentu saja.
Ya, karena kita ini "tas tes".
- Mau dibangun, bangun. - "Tas tes"?
Bongkar, bongkar.
Iya, "tas tes" itu artinya jitu.
Taktis.
Ya.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
Maaf agak telat, tadi ada keperluan sedikit di rumah.
- Tak apa. - Maaf.
Kami juga baru saja datang.
Ri, tolong ajak tamunya ke dalam.
Baiklah, Pak.
Selamat pagi, Pak Dibyo.
Pagi, Pak Bambang.
Mas Amri, ini.
Malah merepotkan.
Sekadar camilan untuk…
Terima kasih.
Baik, Bapak-Bapak. Silakan.
Mari ikut, ke ruangan Bapak Dibyo.
Pak Dibyo.
Saya punya usul untuk soal revitalisasi pasar itu.
Untuk penjualnya juga.
Jadi, nanti kalau pasar itu sudah jadi, Pak,
bagaimana jika kita sewakan,
tidak hanya untuk para pedagang dari desa kita,
tetapi juga untuk para pedagang dari luar desa kita, Pak.
Tentu saja, itu bukan Pak Dibyo.
Itu serahkan saja kepada saya.
Juga satu lagi, Pak.
Untuk anak-anak muda yang biasa menjaga parkir di pasar itu nanti.
Jika sudah revitalisasi pasar dan sudah jadi,
bagaimana kalau mereka kita beri fasilitas, Pak?
Hei, Reng!
Wah.
- Kartu ceria, ya? - Hitung dulu.
Aku dengar katanya,
pasarnya mau direboisasi, ya?
Reboisasi, bodoh.
- Goblok. - Bajingan kau, Drajat!
Renovasi.
Itu maksudku, maaf.
Kita tak apa-apa?
Mereka tidak akan usir kita?
Kau dan anak buahmu tenang saja.
Ketika bangunan baru selesai, dan bisnis sudah berjalan,
kalian akan diangkat jadi pegawai tetap.
Dapat gaji bulanan.
Yang penting kalian menurut denganku. Ya?
- Pintar dia. - Pintar.
Apa kau Pak Bambang?
Sial.
- Terima kasih untuk usulnya, Pak Bambang. - Ya.
Saya coba sampaikan nanti ke para investor.
- Ya. - Semoga diterima.
Baik, terima kasih banyak.
Maaf, satu lagi, Pak.
Bapak sudah terima?
Maksudku apa sudah terima
ucapan selamat karena Mbak Tika sudah pulang dari Inggris.
Terima kasih sudah ingat dengan Tika.
Ya.
Maaf, saya malah lupa belum kirim SMS.
Tidak apa-apa.
Permisi, saya ke sana.
Silakan.
Seperti inilah pasar yang kami harapkan, Semuanya.
Jika memang anak-anak muda yang suka parkir liar,
atau menongkrong di sini kadang bikin gaduh…
Jika kau telat bayar lagi, kupatahkan kakimu!
- Ya. - Berengsek.
…aku akan paksa giring mereka ke luar.
Tidak ada kompromi.
Saya sebenarnya bertujuan ingin membuat standardisasi lapak.
Untuk mengikis kesenjangan para pedagang tradisional.
Saya ingin sekali pembangunan pasar ini,
diusahakan semaksimal mungkin bagi warga asli di sini.
Bukan dijual kepada warga lain dengan tujuan komersialisasi lapak.
Tidak begitu.
Saya berjanji.
Para warga, akan saya dukung.
Saya dukung sepenuhnya. Caranya bagaimana?
Mereka tidak perlu bayar sewa.
Cukup dengan retribusi harian.
Itu maksud saya dengan program revitalisasi desa.
Sekaligus juga untuk membangun manisnya rezeki, Pak.
Pak Dibyo!
- Pak. - Siapa itu?
Am.
Ada apa?
Itu, Pak.
Tadi ada Bu Rahmat tiba-tiba masuk mencari Pak Dibyo.
Bu Rahmat?
Iya Pak, betul.
Bagaimana gadis Inggris ini?
Pasti lupa.
Membawakanku oleh-oleh.
Tidak, Ret.
Malah bajuku yang hilang.
Kenapa bisa?
Entahlah.
Rasanya kemarin aku baru pakai.
Lalu aku lupa taruh di mana.
Kau memang kebiasaan.
Jangan cemberut begitu.
Kau dari dulu begitu.
Yang penting gadis Inggris ini
tidak lupa bawakan oleh-oleh untuk temannya.
Ya, bukan?
Aku menumpang menyeduh di dapur, ya.
Dulu buka kulkas saja tak minta izin.
Sebentar.
Halo?
Saya ke sana sekarang, Pak.
Ya, terima kasih.
Kenapa, Ret?
Ibuku.
Tolong, Pak.
Suamiku belum pulang dari semalam.
- Ya. - Tolong dibantu dicari, Pak.
Baik, Bu.
Saya minta tolong warga mencari.
Tolong ya, Pak.
Permisi, Pak Dibyo.
Masuk, duduklah.
Bu.
Kenapa datang ke sini?
Retno sudah katakan, Ibu di rumah aja, biar Retno yang cari Bapak.
HP-nya tak aktif dari semalam.
Tidak biasanya seperti ini.
- Bu, sabar. - Ret…
Ret, sudah, biarkan.
Tenang dulu.
Aku sudah dengar semuanya dari Ibumu.
Jadi begini, Bu.
Nanti kalau saya tahu,
atau dengar cerita dari orang terakhir yang dekat dengan Pak Rahmat,
atau ada info apa pun, nanti saya kabari, ya.
Sekarang pulanglah.
Bawa ibumu.
Baik, Pak.
Tik.
Makanlah dahulu.
Dari kemarin kau belum makan.
Ayo.
Nanti, Yah. Tika belum lapar.
Kalau kau bosan dengan makanan Bapak,
kau bisa jajan di warung.
Ayo?
Yang penting,
perutmu diisi, nanti sakit lagi.
Jaga kesehatanmu, Nak.
Nanti kalau Tika sudah lapar,
No comments yet. Be the first to leave one.