The first 200 lines.
Terima kasih buat cerita neokorteksnya.
Kukira di hidup ini aku sudah gagal...,
...tapi aku akan berusaha yang terbaik.
Semoga berhasil.
Karena lagipula, melewati hidup ini adalah pertama kalinya bagi kita semua.
Layanan bus hari ini telah berakhir.
Ayo makan.
Aku tak mau. Kenapa aku harus menghabiskan akhir pekan sama kau?
Aku sungguh ingin menjalin hubungan dengan perempuan ini.
Kurasa dia malu kalau cuma bertemu berduaan.
Bagian yang terbaiknya temannya itu benar-benar cantik.
Kau sudah lihat foto yang kukirim?/ Belum.
Ayolah.
Aku tahu kau juga nantinya makan siang yang tidak enak.
Jadi kenapa kau tidak mau datang?
Jangan remehkan bagaimana aku menggunakan waktuku.
CEO Ma. Kau tak punya belas kasihan.
Kau baru punya harga diri kalau melalui hubungan sosialmu.
Menurutmu, mungkin sepertinya makan siangku tak enak...,
...tapi bagiku, makananku seperti oasis.
Aku saja harus makan sambil mendengarkan orang sepertimu sepanjang minggu.
Apa kau tahu se-stres apa kau buat aku?
Hei, aku keceplosan. Maaf.
Aku akan minta maaf. Jadi, ayo kita reset, format, dan reboot. Oke?
Tolong jangan ganggu aku kalau...
...lagi makan sendirian...
...setelah lima hari./ Ya, itu sangat penting.
Tapi ini genting sekali. Hanya itu saja. Oke?
Tapi...,
...siapa orang yang tinggal di rumahmu?
Si Ji Ho? Dia tidak seberapa dibandingkan dengan kau...,
...tapi aku lebih baik menarik dia sebagai teman serumahmu.
Semua temanku pada sibuk...
Yakin tidak mau? Dia pria yang baik.
Tak usah.
Aku payah soal urusan kencan buta.
Mana mungkin seorang penulis drama tidak punya pengalaman berkencan?
Kau menulis adegan ciuman, tapi kau belum pernah berciuman.
Kau harusnya diliput dalam acara "TV dalam TV".
Hei, itu 'kan acara lama.
Selain itu, ciuman bukan hal penting.
Apa maksudmu?
Bagaimana kau tahu itu?
Aku...
Aku banyak menontonnya di acara seperti "TV dalam TV".
Apa maksudmu?
Ji Ho, sebaiknya jangan sampai kau berpacaran tanpa memberitahuku.
Tidak. Aku tidak pacaran.
Hei, Soo Ji. Ada panggilan masuk. Nanti kutlepon lagi.
Ya.
Hampir saja.
Apa kau bodoh? Kenapa juga kau bilang begitu?
Apa ini?
Yah, lagipula lumayan juga.
Aku akan menganggapnya sebagai hadiah buat si pemilik apartemen.
Baguslah.
Lagipula ciuman 'kan tak perlu harus berpacaran dulu.
Aku juga punya ciuman pertama.
Kau gila, ya?
Itu sama sekali bukan hal yang perlu dibanggakan.
Parah sekali.
Untung dia orang asing.
Halo.
Terima kasih.
Lantai empat.
Lantai empat. Pintu terbuka.
Apa? Dia... si ciuman...
Kenapa neokorteks... Kenapa?
Tunggu dulu.
Sebentar. Kenapa dia turun disini?
Jangan bilang...
Apa dia tinggal disini?
Dompetku ketinggalan.
Bagaimana ini? Bagaimana jika aku bertemu dengannya lagi?
Tidak, tidak.
Ya, aku harus pulang dulu.
Itu tempat teraman saat ini.
Cepat.
Inilah yang harus dilakukan saat ini.
Karena aku sudah aman di rumah sekarang...,
...jadi tak apa. Aku bisa tenang sekarang.
Apa? Si pemilik rumah?
Paket.
Dasar. Bagaimana jika dia tinggal di lantai yang sama denganku?
Tidak, mana mungkin.
Aku boleh saja sial...,
...tapi Seoul itu sangat besar. Mana bisa lantai kami sama?
Aku harus tanya sama si pemilik apartemen.
Dia pasti tahu siapa tetangganya.
Tapi kaki dia besar juga.
Ukurannya 275mm? Apa dia ini pemain bola basket?
Halo, kau sudah pulang...
Kenapa kau...
...disini?
[Episode 2: Karena ini Ciuman Pertamaku]
Kenapa kau di sini?
Itulah yang harus kutanyakan sama kau.
Kenapa kau bisa masuk ke sini?
Aku...
Ini kamar 401...
Aku tinggal di sini.
Mana mungkin.
Mungkin aku salah masuk.
Maaf. Habis, semua ruangan disini sama semua.
Sampai jumpa.
Halo?
Halo.
Kau si Yoon Ji Ho?
Apa?
Panas, panas, panas.
Mana kakimu.
Sekarang, kita akan...
Buat apa? Itu bau.
Aku sudah mencium baunya selama tujuh tahun. Jadi aku sudah biasa.
Lihat. Semuanya kaku.
Apa yang pernah kusuruh kau?
Kau harus beristirahat dan seringlah duduk.
Oh, iya. Apa hari ini, ya?
Hari ini? Hari ini, kenapa memang?
Apa ini hari istimewa?
Bukan apa-apa. Kemarin hari istimewanya.
Kemarin? Tak mungkin kemarin.
Aku sudah cek semuanya. Itu bukan hari jadi atau apapun.
Itu memang bukan hari jadi kita.
Masa datang bulanku sudah selesai.
Hei, Yang Ho Rang.
Apa, kenapa?
Kenapa kau tidak bilang daritadi? Kau ini...
Oppa./ Aku senang sekali.
Aku suka.
Sebentar.
Apa?
Ya, Ji Ho./ Hei, Hyung.
Gawat ini.
Kenapa teman serumahnya itu wanita?
Apa? Apa maksudmu?
Apa? Kenapa pemilik apartemennya itu laki-laki?
Kau bilang namanya Ji Ho dan dia tampan.
Kau bilang dia berhenti merokok.
Ya, Ji Ho. Dia tampan.
Dia sungguh sudah berhenti merokok.
Kau bercanda sekarang?
Bukannya kau yang bercanda denganku?
Kau bilang namanya Se Hee.
Orang yang tenang, memelihara kucing, dan lahir tahun 1980.
Kau bilang dia orang yang berdiri di sampingmu.
Ya, dia orangnya tenang, dan dia punya kucing.
Dia berdiri tepat di sampingku. Itu si Se Hee.
Tanpa ditanya lagi, itu si Se Hee.
Hyungnim.
Mana ada yang menyangka ada pria yang tenang memelihara kucing.
Terus siapa yang menyangka wanita tampan berhenti merokok?
Tamatlah kita.
Tamat sudah.
Ya.
Baiklah.
Ya.
Ini. Temanku...
...bilang dia akan mengurusnya. Dia bilang minta maaf.
Bagaimana mereka bisa mengurusnya?
'Kan kita berdua yang mengalami masalah ini.
Benar juga.
Waktu kudengar namamu, kukira kau itu wanita.
Aku juga kenal pria yang namanya seperti kau.
Dia dulu satu angkatan militer denganku.
Begitu, ya.
Aku ada kerjaan, jadi sebaiknya aku harus keluar.
Ya.
Jadi tolong hubungi aku setelah kau tahu cara bereskan masalah ini.
Baiklah.
Ya.
Kau benar.
Sebaiknya aku makan dulu.
Hidup ini, harusnya kuakhiri saja.
Ji Ho./ Ya?
Kau mau steak juga?
Sebentar. Biar kupesan...
Tak perlu, ini sudah cukup.
Maaf.
Apa ini masuk akal?
Bong Hee dan Ok Hee itu 'kan nama perempuan.
Mana bisa Se Hee itu nama laki-laki? Nama itu 'kan cantik sekali.
Hei, tidak semua nama cantik itu nama perempuan.
Benar juga. Namamu 'kan Soo Ji.
Kau mau minum? Sebentar.
Dasar orang itu.
Kau tak apa?
Soo Ji.
Begini, si pemilik apartemen itu.
Kurasa dia...
Aku.../ Kenapa?
Dia mendekatimu?
Dia mendekatimu?
Apa dia tampan?
Berapa penghasilannya?
Sudahlah.
Hei, kepala stafmu tinggal di Namcheon-dong, bukan?
Aku semua yang mengurus soal dia.
Jjajangmyeon-nya enak sekali.
Kau ingin aku bagaimana?
No comments yet. Be the first to leave one.