The first 200 lines.
"Episode 48"
Mari kita lakukan.
"Ruang Mediasi"
Ada apa ini?
Sedang apa Ji Seok di sini?
"Terdakwa"
Siapa itu?
Apa yang baru saja kulihat?
Kenapa keponakanmu duduk di samping putriku?
Aku tidak tahu.
Aku permisi.
"Ruang Mediasi"
Sudah saatnya. Silakan duduk.
"Firma Hukum Min Ji Seok, Pengacara Min Ji Seok"
Tidak bisa dipercaya.
Kenapa keponakanmu
bisa menangani kasus putriku?
Kebetulan macam apa ini?
Mungkinkah
putrimu tahu Ji Seok adalah keponakanku
dan sengaja melakukan ini?
Kurasa bukan itu.
Andaikan tahu, dia tidak akan bertindak sejauh ini.
Dia mengancammu dan bilang akan menceritakan masa lalumu
kepada keponakanmu.
Andaikan keponakanmu sudah tahu,
putriku tidak perlu berusaha sampai sejauh ini.
Kurasa begitu.
Kita harus bagaimana?
Kita bisa apa?
Kita bisa kalah dalam gugatan ini.
Tingkat kemenangan keponakanmu tinggi.
Gugatan ini tidak penting.
Ji Seok akan mengetahui semua hal tentang masa laluku.
Di mana penggugatnya?
Tadi aku melihat mereka di luar.
Mari tunggu sebentar lagi.
"Terdakwa"
Ya, dengan Min Ji Seok.
Apa?
Baiklah, Pak Kang. Sampai jumpa.
Dari pengacara mereka.
Tiba-tiba ada hal mendesak,
jadi, mereka tidak bisa hadir. /- Apa?
Tadi mereka di sini. Kenapa?
Entahlah.
Apa? Apa katamu?
Mereka tidak hadir? /- Kenapa?
Entahlah.
Jelas-jelas aku melihat Oh Na Ra di pengadilan.
Saat itu dia masih tampak percaya diri.
Tidak ada yang aneh.
Ada hal mendesak apa
sampai mereka tidak bisa hadir?
Apa ini rencana lain mereka?
Apa maksud Anda?
Kenapa mediasinya ditunda?
Penggugatnya tidak hadir.
Apa? /- Kudengar istri baru ayahnya
datang ke pengadilan.
Lantas kenapa mereka tidak hadir?
Itu yang tidak kumengerti.
Bibi.
Kamu tampak lelah.
Bibi memang memahamiku.
Ya, sedikit.
Katamu kamu mencemaskan sesuatu. Kamu lelah karena itu?
Bagaimana Bibi tahu?
Ayah klienku
berselingkuh dengan seorang wanita 10 tahun lalu.
Wanita itu amat licik.
Begitu, ya. Kenapa?
Saat itu ibu klienku hamil
dan wanita itu menyuruhnya melakukan aborsi
karena dia jatuh cinta kepada ayahnya klienku.
Mereka tiba-tiba muncul dan menuntut klienku
untuk menyokong mereka karena mereka terlilit utang.
Mana bisa mereka disebut manusia?
Bukankah itu konyol?
Aku sudah menangani banyak kasus aneh,
tapi belum pernah melihat manusia sejahat mereka.
Teganya mereka melakukan itu kepada sesama manusia.
Tidak, aku tidak percaya wanita itu manusia.
Dia lebih buruk daripada binatang.
Aku amat marah karena ini. Bayangkan perasaan klienku.
Astaga, aku amat ingin melihat wajah mereka hari ini.
Lihat saja. Akan kumenangkan kasus ini bagaimanapun caranya.
Aku menjadi pengacara agar dunia ini lebih baik
bagi orang seperti dia.
Tidak akan kubiarkan mereka menang.
Begitu, ya.
Baiklah.
Kamu habis dari mana?
Sedari tadi aku mencarimu.
Kenapa?
Pengacara Kang baru saja menghubungiku.
Dia bilang mungkin kita akan kalah dalam gugatan ini.
Apa? /- Lalu tiba-tiba dia marah
dan bertanya apakah aku menawarkan ginjalku
karena menginginkan uang dari mereka.
Mereka bersiap menuntutku atas penipuan.
Tunggu, berarti Ji Seok mengetahui segalanya.
Astaga, bagaimana jika aku dipenjara?
Pengacara bilang
mungkin kita harus memberi mereka alimentasi.
Astaga.
Ini gawat. Kita tidak bisa diam saja.
Bagaimana jika kita memohon ampun kepada Ji Seok?
Kamu gila?
Kamu ingin dia tahu kita berdua binatangnya?
Apa? Dia bilang kita binatang?
Ya.
Jika dia tahu aku orangnya,
aku tidak akan menemuinya lagi sampai mati.
Lantas kita harus bagaimana? Kita bisa apa?
Biasanya kamu bisa berpikir cepat.
Kita kalah. /- Apa katamu?
Kita
kalah.
Tidak mungkin.
"Kelas Memasak Jang Ok Ja"
Apa? Nenek tahu apa?
Jangan memancing kakak.
Dia mendengar soal Ibu yang bertengkar
dengan seorang wanita di kuil.
Kurasa begitu. Aku yakin di sana banyak orang.
Mungkin Nenek marah kepada Ibu.
Ya, amat marah.
Nenek mengungkit hal itu lagi?
Ya.
Nenek lagi-lagi bilang Ibu membunuh putranya.
Astaga.
Sejujurnya, hati kakak pun hancur saat mendengarnya.
Kakak tidak bisa membayangkan perasaan Ibu.
Kakak merasa kasihan. /- Ini sungguh sulit.
Aku andal menangani mediasi kasus orang lain,
tapi tidak bisa melakukan itu untuk Nenek dan Ibu.
Kapan mereka akan akur?
Itu sebabnya
kakak memikirkan sesuatu. /- Apa?
Ada cara agar mereka bisa berdamai?
Entah ini akan berhasil, tapi kita harus mencoba segala cara.
Pertama, keluarkan azimat itu dari bantalmu.
Ada azimat dalam bantalku?
Ibu meminta azimat dari kuil.
Azimat itu untuk membantu kita menikah.
Dia memasukkan satu ke bantalmu tanpa sepengetahuanmu.
Astaga, tidak bisa kupercaya.
Bagaimana jika azimatnya dimasukkan ke bantal Ibu dan Nenek?
Siapa tahu saja.
Mungkin mereka akan akur.
Ayo.
Tunggu. Apa ini?
Sudah ada azimat.
Siapa yang memasukkannya?
Astaga, kenapa tidak bisa ditutup?
Eun Seok. /- Hai.
Kenapa kamu memegang bantal nenek?
Begini...
Aku kemari ingin menemui Nenek
dan melihat serangga di bantal Nenek.
Duduklah. /- Baik.
Apa ini soal ibumu?
Apa?
Nenek.
Tidak bisakah Nenek memahami Ibu?
Nenek sudah berusaha.
Terlepas dari perasaan nenek,
nenek berusaha membuka hati kepadanya berkali-kali.
Tapi lihat perbuatannya.
Memangnya dia bocah? Bisa-bisanya dia
berkelahi di kuil tempat abu suaminya disimpan.
Berhentilah berusaha. Sekuat apa pun nenek berusaha menerimanya,
dia terus saja ingin menjauh dari nenek.
Siapa yang bertanggung jawab atas kematian putra ibu?
Siapa?
Hatiku juga mendidih.
Ibu. /- Kompor dimatikan.
Ibu akan mendidih.
Ibu masih kesal? /- Kamu sudah mendengarnya?
Berbaikanlah dengan Nenek.
Keputusan bukan di tangan ibu.
Itu terserah Nenek. Bukan begitu?
Ibu akan blak-blakan. Apa ibu membunuh ayahmu?
Ibu.
Ibu tahu.
Kita berlibur karena ibu
dan suami ibu tewas saat kita berlibur.
Tapi
menurutmu siapa yang paling sedih karena hal itu?
Pikirmu hanya nenekmu yang sedih?
Ibu juga sedih.
Ibu masih sering terbangun saat tengah malam mencari ayahmu.
Lalu sadar tidak ada siapa-siapa di samping ibu.
Nenekmu tidak memahami perasaan ibu.
Ibu juga terluka.
Lantas dia bilang apa?
Dia tidak sadar itu juga menyakiti ibu.
Dia menyalahkan ibu atas kematian putranya.
Mana bisa kami berbaikan?
No comments yet. Be the first to leave one.