The first 200 lines.
SEMUA KARAKTER TEMPAT KEJADIAN DALAM DRAMA INI SEPENUHNYA FIKSI
Mau sampai kapan kau diam begini?
Lupakan saja.
Lanjutkan saja.
Apa kita putus?
Apa? Tidak!
Kau mau putus denganku?
Kau mengabaikanku setelah hari itu.
- Kau juga. - Aku menghubungimu.
Apa maksudmu? Kau tidak tulus bicara denganku.
Hei, kami datang.
- Astaga, pundakku. - Ya.
Kenapa kalian datang bersama?
Kami bertemu di depan.
Tinggal menunggu Ji-wan.
Seo Ji-wan selalu terlambat.
Dia segera tiba. Maaf.
- Kenapa dia minta maaf? - Yun Sol!
Dia…
Astaga, di matanya hanya ada Yun Sol.
Kau tak melihat kami?
Maaf. Aku sungguh minta maaf.
Aku sudah berangkat awal, tapi tertinggal bus.
Lihat ini? Alasan klise seperti biasanya.
Omong-omong, di mana Jae-eon?
- Dia tidak ikut. - Kenapa? Bagaimana ini?
Kenapa tidak? Kau juga suka Jae-eon?
Bukan begitu…
Aku tidak menyukainya!
Kau makin mencurigakan karena marah.
Lupakan dia. Ayo pergi. Semuanya sudah berangkat.
- Ayo. - Bagaimana ini? Na-bi akan datang.
Siapa yang menyetir?
Aku saja.
Kalau begitu, cepatlah!
Apa?
Kenapa aku merasa kesepian?
Hei, tunggu aku!
Terlihat enak.
Bu, minta dua potong.
- Dua? - Ya.
Bagaimana dengan yang ini?
- Kita makan nanti. - Baik.
Terima kasih.
- Ini uangnya. Terima kasih. - Terlihat enak.
- Selamat menikmati. - Ya.
- Sampai jumpa. - Terima kasih.
Tidak berat?
- Tidak. - Biar kubawakan.
Tidak perlu.
Kau tidak lelah?
Tidak lelah.
Ayo.
Ya…
MESKI AKU TAHU ITU TIDAK BISA DIUBAH
Permisi, Nek. Di mana Kuil Mansari?
- Kuil? - Ya.
- Tinggal lurus saja. - Benar, lurus.
Baik.
Kau menginap di sini dengan teman-teman?
Tidak. Aku kembali ke rumah bibi nanti malam.
Sungguh? Biar kuantarkan nanti. Aku juga ingin katakan sesuatu.
Apa itu?
Nanti saja.
Do-hyeok, ini mau ditaruh di mana?
Di sana. Tidak usah, biar aku saja.
Halo. Aku Park Jae-eon.
Halo. Aku Yang Do-hyeok.
Cuacanya cerah sekali hari ini!
Apa? Katamu tak ikut.
Na-bi!
Halo. Aku Oh Bit-na, teman Na-bi.
- Senang bertemu denganmu. - Selamat datang.
Aku penggemar video "Cucu Pemilik Restoran Mi"-mu
Benarkah? Terima kasih.
Kau keren.
- Halo. - Halo.
- Selamat datang. - Aku Se-yeong.
Katamu tak akrab.
Kapan kau kemari?
Bukan begitu, rumah bibiku di dekat sini.
Jadi, ini alasannya sulit dihubungi.
- Sama sekali bukan begitu. - Yang benar saja.
Permisi, Do-hyeok.
- Di mana aku tidur? - Di mana kita taruh barang-barang?
Pundakku pegal.
Na-bi terlihat seperti pemilik rumah.
- Astaga. - Ayo masuk.
- Hei, kamarku yang besar! - Itu kamarku!
- Susah sekali melepas sepatuku. - Ayo, istirahat di sini.
Di mana kuncinya?
Kau membawanya?
Astaga.
Kau baik-baik saja?
- Apa maksudmu? - Maaf aku membohongimu.
Kukira kau tak akan datang jika kubilang Jae-eon akan ikut.
Tidak apa.
Namun…
ada apa denganmu dan Jae-eon?
Kalian tampak tidak ada masalah.
- Sebenarnya… - Dia melakukan kesalahan
seperti saat di kantor polisi, 'kan?
Sudah pasti.
Tidak.
Aku yang bersalah kepadanya.
Dia mungkin marah padaku.
Begitu, ya?
Biar kubantu.
Aku menyiapkan dua kamar.
Ini yang pertama.
Kamar satunya di sebelah sini.
- Bagus sekali. - Kita tidur di sini?
Berikan tasku.
Di mana kamar pria?
Tempat ini bagus sekali.
- Hei, ayo tidur di sini. - Ini kamar pria?
Silakan kemari.
Tunggulah sebentar di sini.
- Ji-wan. - Ya?
Beri tahu aku setidaknya satu jam sebelum barbeku.
- Akan kusiapkan tepat waktu. - Baik.
- Apa kau sibuk nanti? - Apa?
Kami semua juga teman Na-bi, bergabunglah dengan kami.
Benar. Kami akan ke taman bermain.
Aku harus menyiapkan makanan.
Ayolah. Kita bisa menyiapkannya bersama-sama.
Kau bisa bercengkerama dan memotret kami.
Benar juga. Dia punya kanal YouTube.
Pasti mahir memotret.
- Kalau begitu, tunggu sebentar. - Ya.
Dia akan bicara dengan Na-bi?
Kenapa kau di sini? Kau tak perlu membantuku.
Lagi pula, aku tidak sibuk. Sudah selesai mengobrol?
Ya.
Teman-temanmu mengajakku ikut ke taman bermain.
Jika tidak nyaman, kau tak perlu ikut.
Tidak. Aku senang jika bersamamu.
Baiklah kalau begitu.
Baik.
Bukankah itu agak tak sopan? Dia seperti tidak ingin ikut.
Aku hanya mengajaknya saja.
Kalau begitu, kita ajak dia makan barbeku juga!
Aku sudah lelah.
Apa maksudmu? Kita baru mulai.
Kau tidak boleh lelah!
- Kenapa Na-bi belum keluar? - Ya.
Ayo berangkat dahulu. Lagi pula, mobil penuh.
Kau saja lebih dahulu.
Se-hun!
- Kita pergi? - Ayo.
Jae-eon, ajaklah Na-bi.
- Hati-hati. - Ya. Pergilah.
Cepat, Se-hun!
Ayo.
Tunggu aku.
Naiklah. Mereka sudah pergi.
Duduk di belakang seperti bos.
Tunggu sebentar. Do-hyeok segera datang.
Astaga.
ALARM AKAN BERBUNYI LIMA MENIT LAGI
Berapa alarm yang kau pasang?
Gyeong-jun, bangunlah. Alarmmu bunyi.
Kenapa menyalakan alarm di akhir pekan?
Aneh sekali.
Tiap melepas kacamata, dia terlihat…
Selamat pagi.
Aku…
Berapa alarm yang kau pasang? Selalu aku yang terbangun karenanya.
Jika tidak, aku khawatir kesiangan.
Aku akan membangunkanmu. Pasang dua alarm saja.
Benarkah? Baiklah.
Halo.
Kau masih mencari tempat?
Ada satu tempat. Cepatlah datang.
Jadi…
ada tempat kosong? Aku akan ke sana.
Apa? Siapa itu? Tempat apa?
Telepon dari agen real estat. Ada tempat kosong tersedia.
Aku memang berencana tinggal di sini sampai menemukan tempat baru.
- Mau kutemani? - Kau tidak sibuk?
Aku senang jika ditemani. Namun, ini akhir pekan.
Tak masalah. Aku suka melihat-lihat rumah.
Kalau begitu, kutraktir makan malam. Mau makan apa?
Apa, ya? Tteokbokki .
Lagi?
Tidak mau? Bukankah kau suka?
Apa?
Pakai kacamatamu.
Aku harus membasuh muka.
Kudengar kau bertemu Seol-a di kampus?
Ya.
Katanya kau menarik.
Dia masih ingin mengobrol, tapi kau sudah pergi.
Aku juga merasa dia sangat cantik.
Kuncinya sudah tua.
Kau lihat jamurnya? Parah sekali.
Jangan berlebihan. Rumahnya bagus.
Bagus apanya?
Jangan hanya diam, bilang saja kalau tak suka.
- Berhenti. - Kau terdesak mencari rumah?
No comments yet. Be the first to leave one.