The first 200 lines.
UNTUK ORANG TUA KAMI, SRI HIROO DAN SMT. VINITA BHARWANI
Hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu.
Karena Mas Adimas datang untuk…
Aku dengar kamu mau ngajak Adelia nikah?
- Iya, Pak. - Apa nggak kecepetan?
- Kalian 'kan baru lima bulan pacaran. - Tapi…
kami rasanya sudah saling cocok.
Siapa yang bilang cocok?
Nggak. Bapak nggak setuju.
Iya, bapak nggak setuju.
Tapi setelah dinego, akhirnya bapak kasih satu syarat buat Mas Adimas.
Besok aku tunggu kamu di pemancingan.
Kita lihat apa kamu pantas bersanding dengan putri bungsuku.
Kamu baru pertama kali mancing?
- Iya, Pak. - Umpannya pake ini.
Hari gini, mancing masih pake cacing aja.
Astaga!
Pak, maaf, Pak.
Ya ampun, Pak!
Pak, maaf. Saya ada baju di motor. Saya ambil. Sebentar.
Siapa yang dapet ikan paling besar,
dialah pemenangnya.
Pak!
Jangan langsung ditarik! Ulur dulu!
- Sini! - Ini, Pak.
Pelan-pelan. Lepas, Pak.
Iya, nih.
- Bukan nyangkut? - Pak.
- Punya bapak! - Ini pegang.
Iya.
Ini lebih anget lagi.
Dapat, Pak! Dapat!
Punyaku lebih besar! Kamu kalah!
- Apaan nih? - Bisa, Pak?
Pak. Itu…
Ya ampun, Pak. Aduh!
- Pak. - Aku gak bisa berenang!
- Iya, Pak. - Tolong!
- Pak. - Tolong!
Eggak dalem. Berdiri.
- Tolong! - Berdiri, Pak. Nggak dalem.
Nggak dalem. Berdiri. Udah.
Udah. Nggak dalem, 'kan?
Biar pun nggak dalem, kalo orang nggak bisa berenang, bahaya!
Iya, Pak.
- Tuh mereka. - Kayanya Mas Adimas dapet ikan deh.
Iya, dapet lo!
Mas Adimas menang, ya?
Kalah, Dek.
- Bapak… - Apa, sih?
Bapak nggak dapet ikan, Mas Adimas dapet ikan.
- Berarti Mas Adimas menang, 'kan? - Hebat!
Saudara-saudara. Pemancing senior ternyata kalah telak sama pemula.
Nggak, ini…
Ini yang pancingan bapak. Tadi, aku…
tuker karena gak ngerti ngulurnya gimana.
Jadi ini pancingan aku.
Ini tuh pancingannya bapak. Yang dapet ikan tuh bapak.
Aku yang kalah, gitu.
Jadi Mas Adimas kalah?
Maaf ya, Dek.
Udah, nggak usah sedih.
Ajak calon suamimu pulang.
Ganti pakaian, biar nggak masuk angin.
Calon suami?
Calon suami, Pak?
Jadi diizinin, Pak?
Pak, ini beneran nggak, sih?
Dapet izin, 'kan? Pak!
Iya, Cantik!
Kalian pernah dong ngerasain senengnya?
Ketika apa yang kalian impikan selama ini, akhirnya terkabul.
Iya? Ini serius?
Setelah lima bulan menikah,
akhirnya kami menemukan rumah impian kami.
Rumah masa depan. Rumah milik kami berdua.
Mungkin nanti bisa dibangun jadi dua tingkat.
Biar banyak kamarnya.
Rumah ini 'kan cicilannya 15 tahun, KPR.
Kalo bisa pengeluaran kita, kamu irit-irit lah.
Atau mungkin aku juga akan bikin kebun bunga di halaman?
Biar seger kalau pagi.
Anak-anak kami bisa main dengan bebas.
Main perosotan, ayunan, kolam berenang, air mancur, rollercoasters!
Termasuk rencana kita untuk punya anak, kita tunda dulu.
Tunda?
Ya 'kan, punya anak juga biayanya besar, Dek.
Tapi orang-orang udah nanya kapan kita punya anak.
Gak usah dipikirin lah, Dek, omongan orang.
Mereka juga nggak tahu rencana kita apa. Yang jalanin 'kan kita.
Ya?
Makasih, Adek Sayang.
Yuk, masuk, yuk.
Soal nunda anak, kita masih nggak sepakat sebenernya.
Tapi ya, sudahlah.
Bersih.
- Dek. Ada kecoak. - Apa, sih?
Tuh, itu!
Mana?
Di bawah situ.
Itu, tuh!
Kena nggak, Dek?
Apa, sih?
Mas. Tenang. Tenang. Jangan bergerak!
Adek akan melindungi Mas dari kecoak dan siapa pun yang mengganggu hidup Mas.
Istriku memang luar biasa perkasa!
Sini.
Tuh.
Bagus, 'kan? Adek nyusunnya kaya gini?
Bagus, 'kan?
Minum dulu, Mas.
- Apaan, nih? - Miranda Executive Spa.
Bandel, ya?
Copot! Copot dulu!
Ayo!
"Ada api di atas kayu, I love you."
"Ada kayu kena paku."
"I love you too."
Dek, jangan pake toge, ya!
Iya, Mas.
Kalau saja di rumah ini, kita sudah punya malaikat kecil seperti itu,
mungkin aku dan Mas Adimas akan lebih bahagia.
Mas.
Seksi banget, sih, kalo lagi masak pake beginian.
Ampun.
Jangan, dong. Ini kita aja belum sarapan.
Ya udahlah, nanti 'kan bisa dibungkus.
Bandel banget sih ini. Ngapain, sih? Ngapain?
- Mas! Aduh. - Jangan salahin aku.
Kamu, sih. Kaya gini masaknya.
- Bandel banget, sih. - Ayo.
Assalamualaikum.
Pak RT. Pintu terbuka, rumah kosong.
- Curiga saya ini. - Jangan-jangan…
Jangan masuk?
Bukan. Jangan-jangan ada maling.
Jangan ada maling?
- Ayo. - Sabar.
Anak buah duluan.
Ada orang di dalam?
- Mas Adimas? - Mas. Ada orang, deh.
Asli?
Mundur! Mundur, Sep!
Mundur! Kita salah waktu!
Mereka tuh lagi…
- Pak RT? - Maaf, Mas Adimas.
Kami tuh ngeliat, pintu depan tadi tuh terbuka.
Insting keamanan kami langsung bekerja.
Takut terjadi apa-apa.
Dan memang, terjadi apa-apa.
RT, terjadi apa?
Pak RT, begini. Kami di dalam hanya lagi ngobrol santai aja.
Gak ada apa-apa.
Jadi, gimana, Pak RT? Ada apa?
Kami mau mengantarkan undangan.
Karena bulan depan ini, anak saya yang kedua itu 'kan sunatan.
Iya. Oke, terima kasih, Pak RT.
Dan yang kedua,
kami tuh mau mengenalkan Pak Yosep ini
sebagai koordinator sekskamling.
- Siskamling. - Begitu.
Jadi begini, Pak. Setiap warga di sini
itu berkewajiban untuk ikut ronda.
Nah, Mas Adimas ini mau ikut ronda
atau setor uang keamanan saja buat kami?
Saya ikut ronda.
Sekskamling tanggung jawab kita bersama. Benar, Pak RT?
Ngeledek Mas Adimas, tuh.
Saya jadi malu.
Halo!
Mau ambil obat, ya? Udah Ning siapin.
Jawab dulu, Bang Meka.
Linda nih siapa, sih? Pacarnya Bang Meka, ya?
Bukan, cuma temen kantor.
Tapi suka?
Kok, baik banget? Pasti cantik, ya?
Apaan tuh?
Makasih, ya.
Oppa.
Ning udah tambahin vitamin C.
Vitamin cinta.
Jangan sakit, nanti aku khawatir.
Aku cinta kamu, Oppa.
Oke. Makasih, ya.
Oppa!
Beli.
Beli!
Nih, kenapa nggak denger juga?
- Mau beli obat apa ya, Bu? - Non. Apa…
Batuk pilek buat anak bocah.
- Ingusan gitu. - Iya, ingusan gimana?
- Ijo? - Iya, ijo.
Ijonya ijo pucet atau ijo kekuningan gitu?
Encer atau kentel? Teksturnya gimana?
- Lengket nggak di tangan? - Aduh.
Saya kurang merhatiin, Bu. Ya pokoknya begitu deh, Mbak. Apa…
Kayak ingus begitu.
Ibunya balik dulu aja. Contoh ingusnya dibawa ke sini, ya.
Biar saya pas kasih obatnya.
Nanti kalau salah gimana? Saya yang kena? Ya 'kan, Bu?
No comments yet. Be the first to leave one.