The first 200 lines.
Sebelumnya di The Chi...
Aku tak pergi tanpa adikku.
Halo. Halo.
Buat permintaan.
-Aku membawamu pulang. -Apa yang kau lakukan?
Menikahlah denganku?
Ya.
Kau jangan selingkuh.
Aku tak akan selingkuh.
Dom dan Darnell
Dua D. Nama kita terdengar seperti berpacaran?
-Aku menyukaimu. -Aku juga.
Aku bilang aku mau kau yang pertama.
-Apa katanya? -Pastikan aku yakin.
-Baiklah? -Ya.
-Aku ingin orang tahu kita pacaran. -Kau ingin orang tahu.
Aku memacari cowok terkeren di geng yang memakai kalungku.
Setiap pemilu wali kota,
aku memilih satu kandidat hitam untuk kuberikan sumbangan.
Saat melihat diriku, aku melihat Otis.
Uang kita kepadanya.
-Kau bilang apa? -Kau hanya tahu...
Aku butuh orang menjalankan bisnisku di jalanan.
Aku akan memastikan kau mendapat yang kau butuh.
Membebaskan jalang itu tak berarti.
Kau masih pembunuh.
Itu untuk Coogie, Sialan.
Kevin, Justice telah banyak menderita.
Begitu juga kita.
Apa akan seperti ini selamanya?
Aku tak tahu.
-Apa? -Aku hamil.
Bayi pria gila itu?
-Kau akan mengaborsi? -Sudah cukup.
-Kau tak bisa. -Itu bukan keputusanmu.
Aku tak sanggup.
Tenang.
-Bagus. -Itu dia.
Bagus. Ya.
Napas. Ya.
SATU BULAN SEBELUMNYA
Jam berapa?
Sial.
Astaga.
Ayahku akan segera selesai meditasi paginya.
Jika melihatmu di sini, kita akan dibunuh.
Aku ada ide.
Ikuti petunjukku.
Itu yang kau bilang kemarin malam. Lalu, lihatlah kini.
Aku tahu.
Kevin, cepatlah.
Baik.
Apa?
Aku bisa atasi ini. Tenanglah.
Aku janji.
Pergi sana.
Kevin.
Kevin.
-Di mana Kevin? -Mungkin dia dengan Jemma.
-Aku tak memberinya izin. -Dia berpikir sudah dewasa.
Kalian belum dewasa hingga mulai membayar sewa.
Mungkin dia ke tempat Malcolm.
Dia mulai bermain bersamanya lagi?
-Aku tak tahu. -Aku bukan pengasuhnya.
-Mau aku kirimkan SMS? -Ya.
Dre.
Negro kecil ini pikir dia pintar.
Hai, Pak Saint John.
Selamat pagi, Kevin.
Masuklah.
Gangster atau wali kota? Itu
pertanyaan tentang Otis Perry.
Sejak pemilihan, spekulasi mengenai jalan wali kota...
Pengantar piza, bokongku.
Kudengar dia mengepalai gerombolan jalan 63.
Aku tahu negro itu dibunuh dengan truk makanan.
Apa? Kudengar dia tak mati,
tetapi dalam perlindungan.
Berapa banyak negro dalam perlindungan?
Aku tak tahu, itu alasan ada program.
Lima dari mereka.
Selamat atas cek pertamamu dari Smokey's.
Baiklah.
Kapan aku menjadi Karyawan Teladan?
Kita tak punya begitu.
Usaha mana yang tak merayakan karyawannya?
Kau harus mengangkat yang mengangkatmu,
atau kau akan terjatuh.
Tak mau menaruh fotomu.
Baik. Setidaknya mulai membayarku secara tunai?
Aku harus memberi setengahnya ke negara?
Tidak, Bung. Aku akhirnya sah.
Mau aku sukses?
Aku mendoakannya setiap malam.
Itulah yang terjadi.
Aku pesan nomor satu, nomor tiga, dan kue stroberi.
Dua sedotan.
Makananmu gratis, bukan berarti kau pesan dua.
Itu bukan hanya untukku.
Itu untuk aku dan Maisha ku.
Kami makan pagi setiap Jumat.
Kau baca koran, Anak Muda?
Tidak, aku membaca berita dari Instagram.
Kau tak membaca The Tribune pagi ini?
Tidak, Pak.
Ada beberapa anak sepertimu
membakar bisnis lokal kemarin malam.
Beritanya di halaman utama.
Mengapa ayah membahasnya?
Karena kulit putih akan membacanya lalu berpikir jelek
-mengenai kita. -Itu yang mereka pikirkan?
Jika terus terjadi, Olimpiade tak diadakan di sini.
Ayah, tak ada yang mempedulikan Olimpiade.
Aku suka Olimpiade.
-Sungguh, Kevin? -Apa?
Semua orang suka Olimpiade.
Jadi, itu alasan kau marah anak-anak itu membakar kota.
Tak ada yang mau pergi ke tempat tak aman.
Siapa seharusnya membuat kita aman?
-Polisi? -Tak semua polisi buruk.
-Berbicara seperti kapitalis sejati. -Itu benar.
Kapitalisme adalah akar kejahatan.
Aku akan ingat saat kau ingin ayah membelikan dompet Chanel.
Sekarang, makan.
Baiklah sekarang.
Wow! Tunggu. Apa kabar?
Hei, Tuan.
Apa?
-Kau ingin punya anakku? -Sudah.
Kau mau lagi?
Anakmu sudah cukup.
Serius, aku tutup toko.
Aku mengusir semua orang di sini.
Memainkan lagu Jonas di pengeras suara.
-Kau tahu aku suka Jonas. -Tentu tahu.
-Ya! -Apa?
Aku bosnya, Sayang.
Aku tahu.
Kau memanggilku apa?
Aku tak suka memanggilmu "ayah".
Bukan itu.
Aku tak akan memanggilmu Sang Bos, Emmett.
Mengapa tidak, itu benar.
Sialan, dia ke mana?
-Neng... -Kau mau apa?
Obatku sudah habis.
-Hanya kau pembuat yang aku tahu. -Tak seperti itu.
Aku hanya bisa mencampur beberapa gram ganja dalam wajan.
Kau tahu yang harus dilakukan.
Kau kacau serta menjualnya di jalanan,
membicarakan cara kita melakukannya.
Ayolah, tak sesulit itu.
Oh sangat sulit.
Aku tahu pria yang melakukannya.
Lihat apakah dia mau.
Apa yang kalian bicarakan?
-Tak ada. -Tenang.
Kalian membicarakanku?
Tidak. Mengapa membicarakanmu?
Emmett, ini tak selalu mengenaimu.
Sana. Kau ada pelanggan.
-Baiklah. -Dah!
Sayang, aku harus memotongmu.
Aku tak mau duduk di kursi itu.
Hei, kau terlewat satu titik.
Ini juga terlewat.
-Kau mau guntinganku? -Tidak, Bu.
-Apa kabar, Temanku? -Apa kabar, Trig?
Ada sesuatu untukmu.
Aku ingin mendapatkannya.
Silakan. Aku harus pergi ke sekolah juga.
Hei, kau siap untuk kuis biologi itu?
Sepertinya begitu.
Lebih baik begitu.
-Biologi sialan. -Jaga mulutmu, Nak.
Aku mau bilang, aku ahli.
Mengapa kau sepertinya terkejut?
Karena aku tak berpikir akan menikmati kelas
yang bukan olah raga atau waktu istirahat.
Bagus melihat uangku tak sia-sia.
Gangster atau wali kota?
Itu pertanyaannya.
Sejak kapan menonton berita?
Sejak aku mulai bekerja denganmu.
Bukan bekerja denganku, tetapi bekerja untukku.
-Itu apa? -Uang sekolah Jake.
Kau bisa menitipnya di kotak surat.
Aku lebih suka melakukan urusan pribadi.
Lagi pula, aku ingin melihat kabar semuanya.
Imani, kau ahli menata tempat ini.
Berkat bantuanmu.
Tentu saja. Semuanya demi keluarga.
Bisa aku pergi?
Ikut denganku.
Aku akan mengantarmu.
Sebenarnya, itu bukan ide buruk.
Aku harus mengurus bisnis di South Side.
Dah, Sayang.
Aku mencintaimu.
Selamat bersekolah.
No comments yet. Be the first to leave one.