The first 145 lines.
Mari kita lanjutkan pertarungan kita, Kuzunoha sang Penyihir!
Hah? Sang penyihir?
Itu... aku?!
Aku tidak mau mempermalukan diri dengan menunjukkan sisik-sisikku.
Ini juga salahmu. Bersiaplah.
Kuzunoha!
Tinggalkan sang pahlawan dan Benteng Stella, begitu?
Baiklah. Aku menerima tuntutanmu.
Dia mengerikan. Pantas saja mereka menyebutnya sang penyihir.
Sudah waktunya mengakhiri ini sungguhan.
Larva-dono!
Kau akan membayar karena telah melukai tuanku.
Kau tidak tahu kapan harus diam.
Musim Kedua
Malam Ke-Dua Puluh Empat Penyihir vs. Drakonida
Malam Ke-Dua Puluh Empat Penyihir vs. Drakonida
Kau duluan.
Aku akan mulai dengan membunuh pengikut sang penyihir.
Larva-dono, usirlah kabut di area ini.
Lalu kita bisa ikut bertarung.
Pahlawan Limia, aku tidak kepayahan.
Hah! Kau sudah compang-camping.
Larva-dono, aku bicara terus terang.
Biarkan aku membantumu membunuh naga yang menghancurkan ibu kota.
Aku tidak bisa mengizinkan itu.
Tapi jika kau mau fokus bertahan, aku akan menyelamatkan penyihir itu setelah pertempuran.
Kau, seorang lich?
Kenapa makhluk tak hidup mau menyelamatkan yang hidup?
Sungguh? Kau yakin bisa menyelamatkan Woody?
Tentu saja.
Lubang di perut manusia mudah saja disembuhkan.
Onee-chan...
Aku mempercayaimu.
Tapi Hibiki...
Tidak, ini keputusan yang tepat.
B-Berdasarkan apa?
Lich itu mirip sekali dengan orang yang kita temui di Tsige.
Mereka menepati janji. Tampaknya mereka memang tipe seperti itu.
Larva-dono, lebih baik kau tepati janjimu.
Bisakah kau enyahkan kabutnya, sekadar jaga-jaga?
Kita sudah sepakat.
Niffelheim, enyah.
Sudah selesai mengobrol?
Apapun yang kalian bicarakan, usaha kalian sia-sia belaka.
Sekarang, biarkan aku menghancurkan kalian dengan pedang sejatiku.
Lancer, si naga bilah. Naga pedang dan manusia.
Makhluk langka yang memiliki dua nyawa.
Kau tahu soal itu?
Meski berwujud naga, kau mengambil bentuk humanoid untuk memperkuat dirimu.
Begitu. Kata-kata Luto-dono memang sangat akurat.
Luto?
Dari mana kau tahu nama itu?
Dikelilingi banyak pedang pilihan, kau adalah naga agung yang dikenal sebagai Mitsurugi.
Pedang-pedang itu menjadi saksi bisu nasib para pejuang yang pernah menantangmu.
Kau tahu terlalu banyak.
Aku tidak bisa membiarkanmu tetap hidup.
Aku akan menjadikanmu bagian dari kekuatanku!
Aku menyelimuti diriku dengan dendam.
Gross Shear.
Sangkar perak yang bergoyang menangkis anak panah.
Marugiri!
Kau mampu bertahan dari pedang sejatiku?
Aku sudah merisetmu dengan seksama, Lancer,
dengan bantuan Luto-dono, pemimpin para naga.
Tak kusangka ada lich yang punya hubungan dengan Luto.
Aku percaya senjata terbesar yang dimiliki manusia adalah kecerdasan mereka.
Tentu saja, aku hanyalah mantan manusia.
Layak bagi diri keenam, lepaskan cambuk dan jadilah bilah.
Ascaron!
Bukankah kau seorang penyihir?
Ini adalah Ascaron, bilah yang direndam dalam racun dan kutukan.
Berharap suatu hari bisa membunuhmu,
aku menamainya setelah pedang lain yang dikenal sebagai pembunuh naga.
Itu hanya memancarkan aura suram.
Tak ada kilauan pedang terbaik yang sejati.
Tidak masalah. Akulah yang mengayunkannya.
Pedang terbaik tidak cocok untukku.
Lepaskan langkah keenam, Flay.
Sword Spiritem!
Jadi kau bertekad menggunakan itu?
Sungguh penyihir tolol yang menantangku dengan pedang.
Inilah medan perang.
Prajurit terbaik ibu kota dan setan-setan terkuat bertebaran di mana-mana.
Banyak di antaranya pasti akan menambah kekuatanku.
Sampai kapan kau bisa terus melawan?
Kau mau menantang Ascaron dengan pedang-pedang orang rendahan itu? Memalukan.
Saatnya kau merasakan ketakutan.
Bagaimana? Terasa sakit?
K-Kau akan menyesal!
Kudengar kau memutus jari-jari tuanku.
Inilah balasanmu atas itu!
Apakah ini pedang-pedang yang dulu dibrandal para pahlawan masa lalu?
Itu bukan semuanya!
Ada apa? Aku seorang penyihir.
Ini seharusnya tidak mengejutkanmu.
Tembus kecemerlangan vitalitas.
Stare Celot!
Kau melantunkan mantra di sela-sela serangan?
Pedangku kembali dengan sendirinya.
Rot Counter!
Jangan remehkan aku!
Kau tidak akan bisa menghitung berapa banyak yang kupatahkan sebelum kehancuranmu.
Ini berkat ketiga orang itu yang melatihku.
Sebelumnya aku tidak akan sekuat ini.
Demi sang tuan muda, juga demi diriku sendiri, aku tidak boleh mempermalukan diri.
Sialan. Masa aku dikalahkan bukan oleh sang penyihir sendiri, tapi oleh pengikutnya?
Racun Ascaron perlahan menggerogotinya.
Semua reaksinya semakin melambat.
Semoga kau tidak menyadarinya. Semoga kau mati dalam keputusasaan.
Para pahlawan, jadilah kekuatanku!
Chiya!
Sealy-san...
Sialan. Meleset.
Terima kasih, petualang.
Kalau pendeta itu jadi pedang, aku mungkin sudah kalah.
Tak kusangka aku akan pergi seperti ini...
Tidak ada pilihan lain.
Meski kau tidak sebanding dengan sang pahlawan atau pendeta,
akan kujadikan kau bagian dari kekuatanku.
Sealy-san!
Sialan!
Aku belum pernah terpojok seperti ini sejak melawan Sofia.
Kau pasti akan menjadi pedang yang bagus dan melayani aku dengan baik.
Siapa yang mau melayanimu?
Aku sudah punya tuan yang kulayani!
Lihat itu, pengikut sang penyihir?
Inilah kekuatan mereka yang menguasai naga dan hukum alam—
Si-Siapa itu?
Aku malu mengakuinya, tapi ini yang bisa kulakukan saat ini.
Aku menggunakan wujud lich-ku sebagai umpan
untuk serangan nekat dengan Ascaron dari titik butanya.
Itu hampir saja gagal.
Aku butuh lebih banyak latihan.
Si-Siapa kamu?
Apakah itu kamu, Larva-dono?
Apa?!
Hah? Tidak mungkin.
Jadi si orang dari dunia lain bisa menebaknya.
Orang biasanya tidak semudah itu menyadarinya.
Termasuk semua kegagalanku sejauh ini, ini sungguh membuat kepalaku pusing.
Apa maksud ini? Apakah kau sebenarnya seorang manusia sejak dulu?
Sudah sangat lama sekali.
Nah, janji tetaplah janji.
Lepaskan langkah kelima, Keto.
Agatoram, sembuhkan dia.
No comments yet. Be the first to leave one.