The first 186 lines.
Kakak. Hei, hei.
Lihat, deh.
Hm?
Salju.
Pantas saja dingin. Apa besok saljunya akan menumpuk, ya?
Tidak kusangka saljunya menumpuk sebanyak ini. Tumben sekali.
Yang jelas, dingin!
Aku ingin minum yang hangat-hangat.
Eh?
Ini makhluk salju raksasa!
Jangan-jangan...
ini hukuman bagi umat manusia?
Balas dendam dari alam pada kami...
karena terlalu percaya pada sains?!
Akhirnya dimulai juga!
Pagi.
Ah.
Pagi, Aharen.
Ternyata kubah salju, ya.
Silakan masuk.
Ya, aku akan lihat-lihat sebentar.
Eh?
Kau membuat kursi dan mejanya juga.
Hebat.
Ya.
Selamat datang di Kafe Aharen.
Kafe...
Apa latarnya seperti itu?
Kuikuti saja, deh.
Kalau begitu, karena pagi ini makanku sedikit,
aku pesan set pagi hari.
Ya.
Silakan.
Kafe ini niat banget.
Minuman panas saat cuaca dingin memang terbaik.
Ya.
Aku tak menyangka bisa bersantai saat hendak menuju sekolah.
Eh?
Menuju sekolah?
Apa kami telat?
Tak terasa sudah waktunya pulang.
Syukurlah kita tidak telat tadi.
Ya.
Tehnya masih ada.
Mau mampir ke kafe saat pulang?
Ada kudapan juga.
Jadi enggak sabar.
Hancur...
Dia tak bisa menahan berat kepalanya.
Aharen.
Eh?
Semua yang berwujud, kelak pasti akan hancur.
Itu berlaku untuk apa saja.
Ini hal yang tak bisa dihindari.
Makanya,
kita hanya perlu memperbaikinya saat hancur.
Ayo kita buat kembali bersama.
Ya.
Terima kasih.
Sudah jadi.
Bukan memperbaiki lagi.
Ini, sih, sudah karya lain.
Eh?
Aharen, tanganmu...
Saljunya dingin, sih.
Eh?
Tanganku hangat, jadi biar kuhangatkan tanganmu.
Oh. Sudah hangat.
Ya, terima kasih.
Aku sudah tak apa.
Raidou.
Aharen...?
Pagi.
Ayo pergi sama-sama.
Ya, ayo.
Aharen jadi kaku.
Jangan-jangan, Aharen akhirnya...
Tubuhnya jadi mesin!
Di ujung perjalanan panjang dalam rangka mencari tubuh abadi,
akhirnya dia mendapat tubuh mesin!
Saat aku bangun tadi, bahuku terasa sangat kaku.
Oh, bahu kakumu parah, ya.
Soalnya kemarin kamu berusaha keras membuat kubah salju, sih.
Kalau separah itu, ayo ke UKS.
Ya.
Bu. Apa Ibu ada di dalam?
Kayaknya lagi keluar.
Kalau begitu...
Oshiro yang jago peregangan.
Apa kamu ada di sini?
Kayaknya enggak ada.
Ya.
Apa boleh buat.
Mau melakukan peregangan denganku?
Supaya kamu bisa lebih enakan.
Ya.
Bagaimana? Sakit, enggak?
Aku baik-baik saja.
Nah, kamu sudah bisa bergerak?
Kamu boleh melakukannya dengan lebih kuat.
Aku ingin kau melakukannya lagi.
Oh, begitu. Baiklah.
Bagaimana kalau begini?
Lebih lagi.
Eh?
Lebih kuat lagi?
Benarkah aku boleh melakukannya?
Benarkah aku boleh melakukannya dengan serius?
Ya.
Baiklah.
Kalau itu kemauanmu...
Aku sudah enakan.
Terima kasih.
Enggak apa-apa.
Sama-sama.
Tapi, tubuhnya menjadi terlalu lentur, 'kan?
Eh?
Ah.
Akhir-akhir ini aku kurang tidur karena belajar untuk ujian,
jadi bahuku juga kaku.
Aku juga.
Kamu mau memijat bahuku?
Terima kasih.
Kalau begitu, tolong bantuannya.
Aku ingin dia melakukannya lebih kuat lagi, tapi,
mustahil, ya.
Oh, iya.
Aharen.
Bisa tolong injak punggungku?
A, aku berat, lho?
Tenang saja.
Tubuhku tidak selemah itu.
Baiklah.
Mohon bantuannya.
Aku injak, nih.
Ya, tolong.
Ba-Bagaimana?
Apa tidak berat?
Enggak, aku baik-baik saja.
Pas banget.
Syukurlah.
Ya.
Nah, di situ.
Raidou?
Kamu tidur?
Kamu baik-baik saja?
Pelajarannya sudah mau dimulai, Raidou.
Telat, telat!
Oh? Pelajarannya sudah mau dimulai, lho.
Ya, saya mengerti.
Tubuhku sudah enakan.
Terima kasih.
I-Iya...
Raidou, Aharen.
Hm?
Mau pulang bareng?
Hari ini ekskulku libur karena lapangannya becek akibat salju.
Oh, boleh.
Ya.
Sato mau ikut juga?
Ya, ayo.
Tunggu.
- Eh? - Eh?
Lo?
Enggak ada.
Ayo pulang.
Ah...
Apa mereka berdua pacaran?
Atau enggak pacaran?
Sejujurnya, aku enggak tahu.
Kalau melihat ekspresinya, mungkin aku akan tahu sesuatu.
Aku tak bisa baca emosinya!
Aharen, perutmu lapar?
Ya.
Baiklah, ayo ke restoran.
Bagaimanapun, dia makan terlalu banyak, 'kan?
Kayaknya Aharen tidur.
Aku ke toilet dulu.
Kau pasti lelah.
Hana, seharian ini kamu memerhatikan mereka, 'kan?
Eh, kamu tahu?
Tentu saja.
Kita teman sejak kecil.
Sudah kubilang, jangan panggil aku Hana!
Oke, oke, Sato.
Yah...
No comments yet. Be the first to leave one.