The first 200 lines.
Pergi!
Pergilah, dasar peleceh wanita Tak Heo Se!
- Pergi! - Tunggu!
Apa yang kalian lakukan?
Siapa yang melecehkan? Apakah kalian gila?
Pergi.
Kalau kalian lanjutkan ini, aku akan memanggil polisi.
- Pergi! - Sayang.
Pergi, dasar peleceh wanita!
Dengar.
Waktu sudah berubah.
Hentikan tingkah kekanak-kanakan ini.
- Ya. - Benar.
Saatnya membangun kembali politik.
Politik harus menjadi elegan dan menarik.
Itu harus menambahkan nilai.
Itulah yang mau aku, Tak Heo Se, lakukan.
- Ya. - Benar.
- Bagus. - Untuk itu,
tidakkah menurut kalian aku butuh bantuan kalian?
Pergi!
Pergi!
Kalian cepat sampai sini.
Terima kasih atas pelayanan kalian.
Aku akan bicara kepada mereka dan menyuruh mereka pergi.
Pergi!
Pergi!
- Singkirkan peleceh wanita! - Yang benar saja?
Mereka seharusnya memprotes janji dan kebijakannya.
Apakah orang boleh menyebarkan rumor menyakitkan seperti itu?
Bisakah kalian menahan mereka semua?
Sayang!
Mereka juga tinggal di distrik pemilihanku.
Maaf, Pak.
Aku akan bicara kepada mereka dan menyuruh mereka pergi.
Kalian bisa pergi sekarang.
Siapa Pak Tak Heo Se?
Yang benar saja?
Kalian bekerja di Jangsa-gu, tapi tidak tahu Pak Tak Heo Se?
Ini tampak seperti dia. Apakah aku benar?
Ya. Aku orangnya.
Aku Anggota Majelis Tak Heo Se wilayah Jangsa-gu.
Kamu ditahan atas penyerangan seksual.
Kamu berhak tetap diam
dan didampingi pengacara.
Semua ucapanmu bisa dipakai untuk memberatkanmu di pengadilan.
Apa maksudmu?
Aku melakukan penyerangan seksual?
Kamu yakin tidak salah?
Borgol dia.
- Apa? - Tunggu.
Namun...
Apa... Sayang!
Apa yang terjadi? Kamu percaya padaku, bukan?
Aku akan segera kembali!
Pergi, Tak Heo Se!
- Pergi! - Aku akan segera pulang.
Sayang, ini konspirasi!
Aku tidak melakukan apa pun! Aku akan segera pulang!
Sayang! Sayang.
Ayo pulang.
Aku bekerja dengan bahan pasokan bangunan seumur hidup.
Aku tidak bisa menjual.
Terlebih lagi di toserba.
Kenapa tidak?
Aku prajurit yang mengurusi pasokan.
Aku bisa apa di garis depan?
Aku hanya akan ditembak mati.
Apakah kamu pikir bisa pilih-pilih?
Kamu tidak melihat Jerman di Piala Dunia belum lama ini?
Bahkan penjaga gawangnya ikut menyerang.
Lalu apa yang terjadi?
Mereka kalah 2 lawan 0 dari kita.
Pergilah dan mati di medan perang.
Bukankah kamu sebertekad itu
saat memerasku?
Aku lebih baik menjadi satpam di suatu tempat.
Apakah kamu pikir semudah itu?
Pak Kim, apakah kamu pernah ke dekat studio taekwondo?
Bisakah kamu melawan perampok kalau bertemu?
Tidak mudah bagiku mendapatkan lowongan itu untukmu.
Aku berusaha semampuku.
Bersyukurlah kamu punya pekerjaan
dan bekerja keras.
Baiklah.
- Pak Kim. - Ya?
Saat seusiamu,
bukankah kebanyakan hal sudah tidak terkendali?
Entah itu pekerjaan ataupun anak-anak.
Lalu apa gunanya marah?
Apa?
Lakukan saja yang terbaik.
Hanya itu yang bisa kamu lakukan.
"Konstruksi KG"
"Konstruksi KG"
Halo, aku pegawai baru Kim Bok Nam.
Aku bekerja Manajemen Pemasokan.
Aku Kim Bok Nam.
Manajemen Pemasokan.
Astaga.
Berapa kali harus kujelaskan agar kamu percaya padaku?
Aku hanya menuangkannya minuman.
Dia menuangkanku minuman, dan aku mau bersikap sopan.
Dia tinggal dan bekerja di Jangsa-gu,
jadi, kutuangkan dia minuman untuk menyemangatinya.
Dia menyesapnya,
tapi anggur itu menetes ke dadanya seolah ada lubang di dagunya.
Jadi, kuambilkan tisu dan berikan kepadanya.
Wanita itu memegang tanganku
lalu terjungkal dengan bagian bokong lebih dahulu.
Kamu tidak percaya padaku, ya?
Cerita pegawai itu sangat berbeda.
Sangat berbeda?
Apa katanya?
"Tak Heo Se..."
Berhentilah memanggilku "Tak Heo Se".
Aku anggota majelis. Panggil aku Anggota Majelis Tak.
"Anggota majelis itu
memaksaku minum dan aku tidak punya pilihan."
Dasar...
Kamu yakin itu yang dikatakan pegawainya?
"Aku sedang minum saat dia tiba-tiba mendorongku..."
Aku?
Dia bilang aku mendorongnya?
Ya. Aku tidak sanggup membaca apa yang dikatakannya selanjutnya.
Astaga.
Apakah dia bilang aku melepas pakaiannya selanjutnya?
Ya. Kamu memaksanya melepaskan pakaian.
Aku memaksanya?
Dengan tangan ini?
Ayolah, Bung. Bukan, Pak Polisi.
Aku anggota dewan Jangsa-gu.
Aku mengurusi moral dan pendidikan.
Aku terlibat dalam banyak dewan dan tim.
Ini konspirasi.
Saat pegawai itu pergi dari ruangan,
dia membawa pakaian yang kamu suruh lepaskan.
Pegawai lainnya melihat itu.
Kamu masih menyangkalnya?
Alibinya benar-benar tidak bercela.
Aku tidak bisa lolos.
Astaga.
Hei, Pak...
Pak Polisi.
Bisakah kamu menelepon Anggota Majelis Ji Hwa Ja?
Aku akan meneleponnya.
Jangan memotret. Opsir Bae, keluarkan mereka.
- Jangan memotretku. - Ayo pergi.
- Hentikan. - Hei.
Harap pergi.
Berhentilah memotret!
Bagaimana kalau wawancara?
Sayang!
- Astaga... - Sayang.
- Astaga. - Ke sini.
Sekarang bagaimana?
Kekacauan apakah ini?
Ini topik yang sangat sensitif.
Apa maksudmu?
Tidak ada isu yang lebih sensitif saat ini selain isu seksual.
Dia bisa kehilangan semuanya karena ini.
Apa mereka yakin? Apakah Heo Se sungguh melecehkan seseorang?
Heo Se menyangkalnya. Dia menyebutnya konspirasi,
tapi polisi bilang ada beberapa saksi.
Siapa yang melihatnya?
Pegawai restorannya.
Wanita itu berlari keluar memegangi pakaiannya.
Dia bisa saja melepaskannya sendiri.
- Dengan tangannya sendiri? - Ya.
Kenapa dia mau melakukan itu?
Tentu saja untuk uang.
Mungkin dia berharap bisa mendapat uang banyak dari Heo Se.
Itu bisa saja merupakan rencana.
Kurasa begitu. Sekarang ini, orang tidak mengendalikan uang.
Uang yang mengendalikan orang.
Uang menggerakkan orang dan membuatnya melakukan banyak hal.
Ya. Orang bisa melakukan apa saja saat terpojok.
Kita mungkin saja bersikap berlebihan,
jadi, ayo pergi dan memeriksanya dahulu.
Ya.
Kita tidak bisa diam saja. Ayo pergi.
Berdirilah.
- Ikutlah. - Ayo pergi.
Ini enak.
Wanita itu sepertinya lebih tua.
- Dia sudah menikah? - Ya.
Kamu diam saja. Aku yang akan bertanya.
Ya, masuklah.
Maafkan aku.
Pekerjaanmu pasti sudah cukup sulit tanpa isu seperti ini.
Kamu pasti sangat sedih. Aku meminta maaf dengan tulus.
Kamu pasti menemui orang yang kurang ajar saat jam kerjamu.
Ya. Ada berbagai macam orang.
Aku menahan diri terhadap kebanyakan tingkah konyol mereka.
Namun...
Ini juga yang pertama bagiku.
Rekan-rekan kerjaku menyuruhku jangan melepaskan dia.
Dia kemungkinan besar akan kehilangan jabatannya di dewan.
Dengar. Aku istrinya.
Bukannya aku tidak percaya padamu.
No comments yet. Be the first to leave one.