The first 96 lines.
Kapan kamu akan memberitahuku orang yang kamu sukai?
Aku tidak bisa memberitahumu sekarang karena sudah tidak ada.
Aku mendapat kelas yang tidak asik, aku akan datang untuk bermain denganmu!
Hana!
Kimha! Doha! Itu artinya aku memanggil kalian berdua.
Kenapa kamu datang lebih awal hari ini?
Ini hari pertama di kelas 12. Kalau aku tidak datang lebih awal hari ini, aku bukan murid kelas 12.
- Oh~ - Kita masuk ke kelas yang berbeda.
- Aku tidak terbiasa. Sedih. - Aku kan di kelas sampingmu.
Doha! Sering-sering datang ke kelasku saat jam istirahat.
Baiklah. - Janji! Berjanjilah.
Haha.
Astaga! Hah?
Apa kelas ini hanya untuk murid pintar?
Mana mungkin. Kan ada kamu dan aku.
Tapi, kenapa suasananya begini?
Tidak ada yang terlambat, kan?
Ya.
Kalian sekarang sudah kelas 12. Jangan terlambat.
Dalam sekejap, kalian harus menghadapi Ujian Nasional.
Maksudku, kalian harus fokus. - Ya.
Di sini kalian tulis kampus dan jurusan impian kalian.
Nanti, guru BP akan memberi konsultasi pada kalian. Bagikan ke belakang.
19.
Umur di mana aku harus menghadapi ujian terbesar dalam hidupku.
Yeo Boram.
Apa?
Dan usia dimana aku harus membuat pilihan terbaik.
Kamu tulis apa?
Oh? Masih belum.
Kamu menulis Universitas Seoyeon.
Aku tidak tahu harus menulis jurusan apa.
Tapi, kamu kan bisa masuk ke jurusan yang kamu inginkan. Aku iri.
Kalau sudah selesai, dikumpulkan sebelum pulang.
- Kalian tahu besok kita akan pilih ketua kelas, kan? - Ya.
- Maaf...pak! - Ya?
Bolehkah saya mengumpulkannya besok?
Kalau kamu mau mencoba ujian lagi, sepertinya tidak buruk untuk menargetkan perguruan tinggi di Seoul.
Ujian ulang?
Bukannya kesempatanmu masuk perguruan tinggi tidak jelas?
Kamu juga tahu itu, kan? Makanya kamu konsultasi di sini.
Bukan berarti aku menyuruhmu begitu, tapi kalau mau masuk perguruan tinggi di Seoul, cara itu bisa dicoba.
Kalau situasinya seperti itu.
Persiapkan lagi selama setahun dan kamu bisa masuk kampus yang kamu inginkan. Tidakkah itu lebih baik?
Aku ingin coba mendaftar melalui jalur keterampilan di Universitas Seoyeon.
Ya, persiapkanlah dengan baik.
Kamu pasti sibuk karena sekarang kelas 12. Tapi, karena kamu memulainya lebih lambat dari yang lain
- kamu harus belajar lebih keras. - Baik.
- Kamu menungguku? - Ya, konsultasinya sudah selesai?
Ya, begitulah.
Kalau besok kamu masuk pelatihan, kapan keluarnya?
Maksudku bukan yang hari Jumat.
- Liburannya? - Ya.
Tunggu, aku cek dulu.
Kapan kamu akan mengganti ini?
Aku tidak akan menggantinya.
Ayo kita lihat pameran kalau aku dapat libur!
Oke, tapi itu kapan?
- 16 Maret. - Oke.
Oya, kamu bilang kamu makannya terpisah, ya?
Ya, aku makan dengan tim atlet.
Oh.
- Hahaha. - Apa itu?
Hahaha.
Apa ini? Oh.
- Lihat ini hahaha. - Aduh!
Maaf. Kami akan diam.
- Mereka sangat cantik. - Apa?
Sangat sensitif maksudku. - Oh...
Kamu bicara apa?!
Kalau begini, bisa-bisa bibir kita dijahit dengan jaring laba-laba.
Itu dia. Dia ketua kelas kelas 1 tahun lalu.
Katanya dia baik. Tapi, waktu ujian dia jadi menyeramkan.
Kalau begitu, aku hanya perlu dekat dengannya di hari biasa, bukan hari ujian.
Tidak mungkin. Untuk murid kelas, 12 ujian itu kan setiap hari sepanjang tahun.
Apa dia akan calonkan diri jadi ketua kelas lagi?
Mungkin.
Tapi, suasana kelas bisa berubah tergantung ketua kelasnya.
Itu kenyataannya.
Hmm...
Aduh!
Apa? Ketua kelas?
Ya!
Mana mungkin aku jadi ketua kelas. Aku tidak bisa.
Kenapa tidak? Jadilah ketua kelas kita..
Kenapa? Kenapa aku harus jadi ketua kelas?
Akan lebih baik kalau kamu jadi ketua kelas. Kamu bisa tulis itu di resume sebagai pengalamanmu.
Dan itu juga bagus untuk masuk universitas.
Kalau begitu, jangan suruh dia. Kamu saja yang jadi ketua kelas.
- Oh... - Ey~ kalau kami yang jadi ketua kelas hanya akan merepotkan.
Nilai kami sudah terlanjur sulit untuk digunakan masuk perguruan tinggi.
Lebih baik untuk dia gunakan.
Tapi, aku belum pernah jadi ketua kelas sebelumnya.
Kalau begitu, sebenarnya kamu mau?
Apa?
Bukannya kamu menolaknya karena tidak mau?
No comments yet. Be the first to leave one.