The first 200 lines.
Seharusnya aku memakai lengan panjang.
- Aku punya. - Benarkah?
- Ya. - Aku mau pinjam nanti.
Nanti banyak nyamuk tidak, ya?
Sepertinya akan banyak malam ini.
Kurasa juga begitu.
Di sini agak berangin.
Aku lapar sekali.
Sampai kapan kami harus menunggu?
Sudah hampir selesai.
Aku lapar.
- Ini romantis. - Cantik sekali.
- Hei, cicipi ini. - Baiklah.
Bagaimana?
- Kemarilah. - Apa?
Pacarmu yang mana?
Yang cantik itu.
Halo, aku Baek Soo Ah.
Halo. Aku Kwon Do Hun.
Kalau begitu...
Siapa wanita di sana itu?
Dia temannya pacarku. Lee Su Jin.
Halo.
Senang bertemu denganmu.
- Hei, sini. - Baik.
Bagaimana? Terlalu asin, ya?
Sungguh?
Sudah kuduga.
Soo Ah.
Mungkin hilang ingatannya hanya sementara.
Jangan terlalu cemas. Mana mungkin dia melupakanmu?
Aku sudah menduga hal ini,
tapi setelah benar-benar terjadi,
rasanya sangat menyakitkan.
Hatiku.
Hatiku sangat sakit.
Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja.
Do Hun mencintaimu.
Begitu cintanya sampai tidak akan bisa melupakanmu.
Kita akan tahu kepastiannya saat Do Hun bangun tidur,
tapi jika dia tidak bisa kenal kamu, mungkin dia akan sangat bingung.
Harus ada seseorang yang dia kenali
agar Ah Ram bisa membangunkan dia.
Tapi setidaknya dia masih mengingatmu.
Aku akan baik-baik saja,
jadi, kamu harus terus menemaninya sementara ini.
- Soo Ah. - Untuk sementara ini saja.
Do Hun.
Do Hun.
Apa?
Do Hun. Do Hun, kamu harus bangun.
Ayolah.
Yang benar saja.
Aku tidak harus berangkat bekerja hari ini.
Semalam ada makan malam tim.
Apa? Do Hun.
Do Hun.
- Apa? - Bangunlah.
Kenapa kamu ada di sini?
Aku adalah buah yang matang dengan sendirinya,
Kwon Ah Ram.
Lalu ini adik laki-lakiku, Maru.
Dia ada di luar, di sana.
Ayah dan aku selalu bermain di luar setiap hari.
Ibu Su Jin, Ayah Do Hun, dan putri mereka, Ah Ram.
Jangan lupa anjing kami, Maru.
Kami empat anggota keluarga.
Kami makan dan tidur bersama-sama,
dan di hari olahraga Ah Ram, kami berlomba lari bersama.
Kemarin, Paman dan Ayah
memancing bersama.
Karena Ayah sangat spesial
seperti Putri Tidur,
aku membangunkan Ayah setiap pagi seperti ini.
Sekarang cium aku.
Ah Ram sangat manis, bukan?
Dia putrimu.
Ayah, sudah menjadi ayahku?
Ibu.
Kenapa Ayah tidak menjadi ayahku?
Tidak, Ayah memang ayahmu.
Ayah hanya sedang lelah hari ini.
Mau siap-siap berangkat sekolah?
Baik.
Do Hun, lihat.
Ini putrimu, Ah Ram.
Lalu ini Su Jin, wanita yang kamu cintai.
Su Jin?
Dia ibunya Ah Ram.
Ibunya Ah Ram.
Dia ibunya Ah Ram,
dan kamu ayahnya Ah Ram.
Jadi, kalian pasangan suami istri.
Do Hun, ayo sarapan dahulu.
Halo.
Silakan masuk.
Aku mengecek pemegang hak paten Choco Lubin.
Kamu kenal seseorang bernama Seo Joo Ah?
Seo Joo Ah?
Aku belum pernah dengar.
Kamu kenal nama itu?
Tidak, aku juga baru dengar.
Aku berteman dengan Do Hun sejak kami enam tahun,
tapi belum pernah dengar nama itu.
Pasti Do Hun juga tidak tahu.
Yang lebih aneh, Seo Joo Ah masih di bawah umur.
Di bawah umur?
Ya. Pemegang hak paten di bawah umur
harus disetujui oleh orang tuanya.
Hingga anak itu dewasa,
orang tuanya berhak menggunakan hak itu sesuka mereka.
Astaga.
"Sertifikat Hak Paten"
Do Hun bekerja sangat keras untuk mengembangkan cokelat ini.
Tapi pengembang produk ini lebih muda dari Ah Ram?
Sepertinya itu tidak mungkin.
Saat Do Hun mengembangkan Cokelat Lumi selama ini,
pasti dia saling bertukar surel dengan pembuat cokelat.
Tentu saja.
Mereka bekerja sama selama dua tahun.
Sementara ini, aku akan meminta pembatalan hak paten.
Sebelumnya, kita harus menemukan siapa orang tua Seo Joo Ah.
Su Jun, kirimkan semua surel Do Hun kepadaku
dan materi yang berkaitan dengan proposalnya.
Baik.
"Fail Kata Kunci"
"Situs Pengenal, kata kunci"
"Kata Kunci, Kwon Do Hun 1003"
"Kotak Masuk"
"Cokelat Lumi, Pembuat Cokelat"
Ini untuk putri dan istriku,
jadi, tolong pertimbangkan sekali lagi.
Aku tahu permintaan ini sangat sulit.
Namun, hanya ini yang bisa kulakukan
untuk putriku dan istriku saat ini.
Jadi, aku sangat memohon padamu.
Aku tidak peduli berapa pun biayanya.
Cokelat ini harus bebas gula agar anak-anak tidak sakit gigi,
dan berkalori rendah agar bisa jadi camilan sehat untuk semua orang.
Aku harus membuat cokelat seperti itu.
Ibu!
Ibu bilang Ayah yang membuat cokelat itu.
Tapi itu tidak benar.
Mereka bilang Ayah pembohong.
Do Hun.
Maaf,
tapi ini ruanganku.
Baik, maaf aku mengganggumu,
Do Hun.
Aku ingat Do Hun
menemui seseorang dari perusahaan tempat dia bekerja dahulu.
Tapi katanya dia menyembunyikan Alzheimer-nya dari semua rekannya
dengan mengatakan ingin bertani.
Dia bilang semua rekan kerjanya tidak mengetahui kondisinya.
Sungguh?
Hari itu, aku menunggu dia di dalam mobil,
dan tiba-tiba dia bergegas kembali karena kondisinya memburuk.
Tapi ponselnya tertinggal,
jadi, seseorang berlari keluar membawakan ponselnya itu.
Apa orang itu Pak Seo?
Sepertinya aku ingat dia bilang dia menemui Pak Seo.
Pak Seo?
Aku mengembalikan proposalnya.
Mungkin dia tersinggung. Sejak itu, aku tidak dengar kabar darinya.
Dia tidak ingat sama sekali?
Dia tidak ingat kamu sama sekali?
Ya.
Saat aku melakukan riset,
mengingatkan orang pada kenangan yang tidak terlupakan
terkadang bisa membantu.
Kenangan tidak terlupakan?
Tempat yang kalian kunjungi, makanan yang kalian nikmati,
dan kejadian spesial. Kamu bisa melakukan hal seperti itu lagi.
Ide bagus. Memori tubuh kita tidak mudah untuk lupa.
Mau hidupkan kembali momen-momen itu?
Mungkin itu bisa membantu.
Benar. Meski ingatan dapat hilang,
momen seperti saat hujan atau bersalju,
dan suasana pada saat itu tidak mudah terlupakan.
Entahlah.
Akan kupikirkan.
Saat ini, kondisinya paling penting.
Tempat yang kalian kunjungi, makanan yang kalian nikmati,
dan kejadian spesial. Kamu bisa melakukan hal seperti itu lagi.
Model ini cukup tua.
Tapi kondisinya masih bagus.
Anda hanya butuh ujung pena baru.
Kamu punya ujung pena yang sama?
Model ini sudah tidak keluar lagi.
Akan kucarikan yang sesuai untuk pena ini.
Do Hun, kamu sedang apa?
Aku boleh bergabung?
Tidak.
Ini harus kulakukan sendirian.
Baiklah.
Tadi ada kupu-kupu duduk di sini,
sekarang sudah hilang.
Jadi, kamu sedang melihat kupu-kupu.
Aku juga pernah kenal seseorang
yang menyukai kupu-kupu.
No comments yet. Be the first to leave one.