The first 200 lines.
[Nama, bisnis, tempat, dan insiden yang disebutkan hanyalah fiksi.]
[Kesempatan yang hilang menjadi penyesalan.]
[Jika aku sudah tidak bisa memiliki kesempatan,]
Kali ini akulah yang akan jatuh cinta tidak berbalas.
Sama seperti kau menyukaiku...
Tidak. Lebih lama dari itu.
Aku akan lebih menyukaimu.
Aku akan bersikap sepertimu sekarang.
Kau bersikaplah seperti aku.
Lalu, sama seperti aku menyukaimu,
kembalikan perasaan itu.
Jika ini lingkaran kita,
aku akan menunggu.
Kau masih arogan.
Kau selalu percaya diri
dan berbuat sesukamu.
Aku juga percaya pada dirimu.
Aku harus percaya diri
agar aku bisa menangkapmu.
Jangan tangkap aku.
Jangan tangkap aku, kataku.
Aku tidak mengatakan itu
agar bisa mendatangimu. Tapi agar kau tahu aku tidak bisa kembali.
Sudah terlambat.
Aku hanya akan pusing jika kau mengguncangku.
Aku akan pergi.
Apa yang harus kulakukan?
Orang yang terlambat tidak berhak.
Ini bukan apa-apa.
Bukan apa-apa.
Kenapa aku terus menangis?
[Silakan tinggalkan pesan setelah nada berikut.]
Kau tidak mengangkat teleponmu.
Aku mematikannya.
Tidak apa-apa.
Bagaimana kau bisa baik-baik saja dengan hal seperti ini?
Karena kau Kyung Woo-yeon.
Jika kau marah, marahlah kepadaku. Jika kau kesal, katakan saja.
Kau harus menunjukkan emosimu.
Aku merasa lebih bersalah saat kau bersikap seperti ini.
Kau akan terbiasa merasa bersalah dan bersyukur.
Saat perasaan itu menumpul,
mungkin perasaan lain akan lebih jelas setelah itu.
Aku akan berusaha lebih keras.
Bagaimana bisa lebih baik dari sekarang?
Apa yang kau cari selarut ini?
Aku tidak bisa tidur, jadi, aku mencoba membuat teh.
Duduk. Akan ibu buatkan untukmu.
- Aku bisa melakukannya. - Duduk
dan jangan membuat masalah.
Ada apa?
Apa ada yang terjadi?
Katamu tidak bisa tidur.
Kau minum teh di tengah malam.
Ibu rasa ada yang mengganggumu.
- Ibu. - Ya?
Apa semuanya akan baik-baik saja
seiring waktu?
Apa semuanya akan berjalan lancar jika aku berusaha?
Maksudmu dengan pekerjaan?
Pekerjaan dan hati, keduanya.
Apa saja.
Usaha tidak mengkhianatimu.
Kecuali beberapa hal.
Apa yang kau pikirkan?
"Mereka hebat sekali. Aku iri sekali. Aku iri pada mereka."
Sesuatu yang satu dimensi.
Tidak lama lagi, orang lain akan berdiri di tempatmu
di depan karyamu.
Itu hal yang sangat jauh bagiku saat ini.
Tidak akan terlalu jauh.
Penerbitan Eunyu sangat pandai membuat buku.
Mereka juga menjual dengan baik.
Mereka nomor satu di industri ini.
Aku lapar. Ayo makan.
Aku suka cuaca hari ini.
Aku akan menjadi cuaca hari ini.
Maafkan aku.
Kau baik-baik saja?
Apa kau sibuk belakangan ini?
Tidak. Kenapa?
Kau tampak agak lelah.
Kau tampak pucat.
Mungkinkah itu hatimu?
Benarkah? Haruskah aku minum obat?
Temanku bekerja di perusahaan farmasi yang sangat bagus.
Ini mengandung boxthorn, kismis oriental, maple garis Manchuria,
biji gardenia, kunyit, kudzu, dan mugwort di antara lainnya.
Ini memiliki semua yang baik untuk hati...
- Lupakan saja. - Kenapa?
Aku merasa seperti mencoba menjual sesuatu kepadamu.
Tidak apa-apa. Kau mungkin membawanya karena ini bagus.
Tidak, lupakan perkataanku.
Aku tidak mau disalahpahami orang yang kusuka.
Buku itu hampir selesai.
- Sudah? - Aku sudah bekerja keras,
jadi hanya perlu menyelesaikan pemotretan terakhir.
Saat kubilang kukerjakan di sela waktu, bukan berarti tidak serius.
Aku bekerja sangat keras, jadi pergelangan tanganku sakit.
Lihat. Aku bahkan tidak bisa memegang garpu.
Aku harus membiarkan asuransi kami menutupinya.
Kau sudah memutuskan judulnya?
Benar juga.
Aku baru sadar kami lupa membuatnya.
Santai saja.
Aku bukan tipe orang yang memburu orang yang terluka saat bekerja.
Kau sedang membaca. Apa itu buku yang kau suka?
Kita bicarakan pekerjaan saja.
Tentu.
Foto terakhir.
Bagaimana dengan judulnya? Kau sudah memikirkannya?
Bagaimana denganmu?
"Seoul Menjadi Liburan"
Aku ingin bilang bahwa Seoul,
yang tidak asing, bisa menjadi tempat untuk berlibur.
Seoul terlalu cantik untuk dilewatkan dan diabaikan.
Ya. Terlalu cantik.
Jadi, aku tidak bisa pergi.
Bagaimana denganmu?
Kau terpikirkan sebuah judul?
"Sebuah Keseharian Bagimu, Sebuah Perjalanan Bagiku."
Seoul mungkin hal biasa bagimu,
tapi itu perjalanan untukku.
Aku suka itu.
Aku ingin menambahkan sesuatu bernuansa itu.
"Momen saat hal tidak asing tampak baru."
"Tempat di mana hal baru terasa nyaman. Seoul."
Kenapa kau menatapku?
Kenapa kau baik-baik saja?
Kau ingin berteman?
- Apa? - Atau
harus kuajak kau berkencan meski aku tidak suka padamu
hanya karena kau menyukaiku?
Terdengar tidak asing, bukan?
Terasa lebih buruk mendengarnya dikatakan, bukan?
Memang sakit, tapi aku baik-baik saja.
Apa yang bisa kulakukan? Aku yang mengatakannya.
Kuminta kau bersikap sepertiku.
Kau ingin berteman?
Atau haruskah aku menjadi orang yang kau ajak mengisi waktu?
Ini pertanyaan esai, bukan pilihan ganda.
Kau bisa memukulku. Kau bisa mengutukku.
Kulakukan yang kau katakan.
Kenapa kau memaksakan emosimu kepadaku?
Lakukan sesukamu.
Begitulah yang terjadi.
Karena semua yang kulakukan padamu adalah jawaban yang salah.
Itu sebabnya aku bertanya padamu.
Apa yang harus kulakukan?
Apa yang kau lakukan?
Cinta yang tidak terbalas.
Perhatian.
Aku menolak semuanya.
Perhatianmu
dan janjimu untuk melakukan apa pun yang kukatakan.
Aku tidak ingin menjadi sepertimu.
Aku suka judulnya. Mari kita pakai itu.
Kita sudah selesai, aku akan pergi.
Kau tidak mau menjawab teleponku?
Benar.
Kau akan menghindar jika kutemui?
Aku akan menelepon polisi.
Kalau kebetulan?
Apa kebetulan tidak masalah?
Karena kebetulan ada kebetulan.
Aku tidak cukup peduli padamu untuk mengeluhkan kebetulan.
Aku tidak butuh kebetulan.
["The Harmless Person" Novel Karangan Choi Eun-young]
Kau baik-baik saja?
Ini canggung.
Bukan itu. Tentang dicampakkan.
Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Itu bisa terjadi.
Aku yang berengsek.
Hei!
Bagaimana kau bisa mengakhirinya hanya karena kau mau?
Aku tidak akan menjadi bedebah lagi,
jadi tidak bisakah kau memberiku kesempatan?
Bagaimana...
Bagaimana bisa cinta tidak berbalas berubah?
Pantas saja. Aku terkejut dia menjawabnya.
Kau dicampakkan?
Ayah juga tidak mau berkencan denganmu.
Kenapa tidak?
Kupikir dia berkepribadian ganda.
Dia marah, lalu memohon,
lalu tiba-tiba berusaha membujukku dengan alasan...
Ayah.
Itukah alasan Ayah datang?
Tidak.
Ibu ingin makan bersama sebelum kau pergi.
Ada yang ingin ibu sampaikan.
- Aku tidak akan pergi. - Tidak?
Kenapa? Karena dia?
Hentikan, Ibu.
Apa yang ingin Ibu katakan?
Kau marah setiap kali bertemu kami, bukan?
Marahlah setiap kali kau bertemu kami.
Seperti katamu, mungkin itu sudah berlalu, tapi itu memang terjadi.
Luka-luka dari masa itu, kemarahanmu di dalam...
Lepaskan mereka semua.
No comments yet. Be the first to leave one.