The first 200 lines.
SERIAL NETFLIX
Adakala kenyataan di depan mata terasa tidak nyata.
Bak salju yang seketika turun,
selagi aku berjalan di jalan yang memutih ini
seperti saat ini.
METAFORA FAJAR PAMERAN YU HYEON-U
Sama halnya saat merasakan cinta.
AKU MENCINTAIMU! SELALU
Kau merasa menjadi orang teristimewa di dunia.
Terasa tak nyata.
Hati…
jadi berdebar.
Karya ini sangat erotis.
Benar.
MOMEN TERINDAH SEORANG KEKASIH DARI BELAKANG
NABI YU HYEON-U
Kenapa judulnya "Nabi"?
Aku juga tak tahu.
Ayo pergi.
- Ingin lihat apa lagi? - Lihat yang ini.
Ini?
- Kau tahu seniman ini? - Tentu saja.
Na-bi.
Indah, bukan?
Na-bi, tunggu!
Yu Na-bi!
Apa artinya cinta?
Dia pria yang serius.
Apa artinya cinta?
Memberikan makna tanpa henti…
pada sesuatu yang rumit dan asing.
Bukankah itu cinta sejati?
- Sudah kuduga. - Apa?
Alasanku mengajak makan piza
untuk mengetahui hatimu yang bisa dilihat jelas
dari caramu berbagi makanan.
- Hatiku? - Ya.
Hatimu yang hanya untukku.
Ada atau tidaknya satu helai kain di antara kita malam ini
akan membuktikan ketulusan hubungan kita.
Hampir selalu…
Tidak.
Dia selalu…
Na-bi, ini sungguh konyol.
Maksudmu?
Jangan suka membuat keputusan sendiri.
Apakah warna kukuku aneh?
Mereka bilang ini bagus.
"Mereka"? Jika aku, kuminta pendapat pacar lebih dahulu.
Apa kau menganggapku
orang lain belaka?
Hanya aku yang selalu serius?
Dia memaknai segala sesuatu secara obsesif dan membuat metafora tanpa akhir.
Kau malu dengan karyaku?
Itukah alasanmu menangis?
Na-bi, jangan hanya dilihat dari luarnya saja.
Lihatlah makna yang terkandung di dalamnya.
Seharusnya kau tanyakan aku lebih dahulu.
Sial!
Aku sungguh kecewa kepadamu.
Kukira kau yang paling memahamiku.
Aku pernah percaya itu suatu hal yang istimewa.
Entah apa aku menyukainya!
Itu agak unik.
Katamu ini bentuk cintanya kepadamu.
Bukankah seniman tak sembarangan menggunakan model?
Jika benar,
berarti dia sungguh mencintaimu.
Kau itu bak dewinya.
- Tidak, ini sangat aneh. - "Dewi"?
Ini seni.
Kau menyebutnya seni?
Terlihat bagus.
Aku mulai bingung…
tentang batasan.
Permisi, Na-bi.
Bukankah pacarmu Yu Hyeon-u?
Ya, ada apa?
Entah apa boleh aku mengatakannya, tapi…
Temanku mengikuti kursus seni itu.
Sudah cukup lama.
Momen tak terduga…
untuk menyadari kenyataan ini.
Sesungguhnya, aku seperti merasa sudah tahu.
Meski begitu…
Na-bi.
Lelah sekali mengajar sambil mempersiapkan pameran.
Jika pamerannya sukses, aku akan berhenti mengajar
dan fokus pada karier seniku.
Namun, aku belum punya konsep pasti.
Sepertinya Pak Baek akan mengangkat citra usia 20-an yang berjiwa bebas.
Si berengsek ini terlalu cerewet bagiku untuk sampai menyalahkan diri.
Na-bi.
Kenapa kau duduk seperti malas mendengar? Aku sedang bicara serius.
Bajingan.
Apa?
Cinta.
Sesuatu yang diinjak-injak,
lalu menghilang dengan sia-sia.
Bukan hal yang penting.
Sama seperti akhir kisah cintaku.
- Na-bi, mau ke mana? - Studio.
Baik, sampai nanti.
Dah.
- Sedang apa? - Bersantai.
Cepat kembali.
Kalian tidak ke studio?
- Kau saja dahulu. - Aku nanti.
- Hai. - Hei.
Hai.
Hai.
Hai, Na-bi.
Hai.
Na-bi, dari mana saja?
Cari udara segar.
Na-bi, bantu aku.
Kerjakanlah sendiri.
Na-bi, bisakah fokus beberapa jam?
Astaga, sangat menyebalkan.
Kenapa lagi kali ini?
Dia bilang tak suka motel, tapi lebih memilih hotel.
Kini memintaku yang bayar.
Siapa? Pria yang kau kenal lewat aplikasi?
Ya!
Aku tak keberatan jika dia baik.
Tidak ada gunanya bermalam bersamanya!
- Kenapa tidur dengannya? - Tentu karena dia tampan.
Dia suka pria tampan.
Menyebalkan. Ayo merokok.
Aku berhenti untuk sementara. Aku tak merokok selama tiga hari.
Kenapa tiga hari?
Kencan buta.
Berhenti merokok sampai kencan. Jika tak tahan, kulanjutkan lagi.
- Kencan buta lagi? - Kau bukan main.
Apa kau begitu menyukai pria?
Becerminlah sebelum bicara.
Ada benarnya.
Sudahlah.
- Mau bekerja? - Ya.
- Sungguh tak merokok? - Dah.
Siapa yang akan menemaniku?
Jika merokok sendiri, aku bisa diculik,
- lalu ibuku akan menangis… - Baik, kutemani.
Kau yang terbaik.
- Ayo, Nona! - Padahal baru tiba.
- Tangganya banyak sekali. - Sebentar lagi sampai.
Kau selalu naik tangga ini tiap merokok?
- Ayolah, ikut saja. - Astaga.
Geser kanan jika suka. Geser kiri jika tidak.
Jika saling menggeser ke kanan, kalian cocok.
Setelah itu?
Bisa saling mengirimkan pesan.
Jika lancar, kalian bisa bertukar nomor dan saling bertemu.
Aku belum dapat hari ini.
Namun, banyak yang memalsukan identitas, 'kan?
Benar. Wajahku juga tak terlihat di foto profilku.
Namun, beberapa orang mencantumkan nama dan wajah aslinya.
Aku benci yang bertato begini!
Tato?
Pria yang kutemui kemarin juga punya tato besar di tubuhnya.
Tahu apa tulisannya?
"Aku tak akan pernah mati."
Sekali bercinta saja dia terkapar kelelahan.
- "Tak pernah mati"? - Diamlah!
Tak masuk akal.
Ada juga orang yang punya tato bagus.
Siapa?
Apa?
Kau punya pacar?
Apa? Jangan bercanda.
Pacar apanya?
Aku akan minum dengan yang lain. Kau mau ikut?
Tidak. Aku mau lembur hari ini.
Lagi?
- Hidupmu sungguh membosankan. - Terserah.
Lihat. Dia junior kita.
Katanya dia ingin minum denganmu.
Kapan aku akan selesai?
Sepertinya untuk malam ini aku harus lembur lagi.
Kau tahu aku belum lama putus.
Memangnya aku bilang apa?
Kami semua saling kenal, kecuali kau.
Aku ingin kalian saling kenal saja.
Begini… Tetap saja…
Astaga, kau membosankan.
Gawat! Aku menggeser ke kiri
- pria tampan! - Mana? Coba kulihat?
Aku tak bisa melihatnya lagi.
Kau terlihat aneh belakangan ini.
Kenapa? Apa lagi kali ini?
Kau sudah buang rongsokan. Saatnya cari yang baru, bukan?
- Aplikasi ini bukan untukmu. - Kenapa?
Kau cantik, tapi tak bisa menilai pria.
- Hanya menarik minat pecundang. - Hei!
Apa?
Sebenarnya…
Mungkin begitu.
- Sungguh tak mau ikut? - Tidak.
Bersenang-senanglah.
Kau membosankan.
No comments yet. Be the first to leave one.