The first 200 lines.
Astaga, wajah seorang gadis tidak boleh terluka.
Kamu seharusnya lebih waspada saat bersamanya.
Bagaimana bisa kamu membiarkan ini terjadi?
Maaf.
Maaf saja tidak cukup.
Dia masih kecil.
Kita harus bagaimana soal ini?
Astaga, aku tidak percaya ini.
Kamu seharusnya mengurusnya dengan lebih baik.
Lihat apa yang terjadi.
Aku sungguh minta maaf.
Astaga.
- Ini tidak bisa dipercaya. - Tidak apa-apa.
Malangnya kamu.
Kamu melakukan hal buruk kepadanya.
Ada apa dengan Ibu?
Ibu sudah hilang akal?
Tidak bisakah Ibu bahkan mengurusnya dengan benar?
Astaga, Mi Sun. Apa maksudmu?
Ibu membuatku gila.
Mi Sun.
Aku tidak tahan lagi dengan Ibu.
Mi Sun!
- Dasar... - Da Bin, kemari.
Akan ayah bawa ke rumah sakit.
Minggir.
Tidak, Mi Sun...
Aku kemari untuk mengantarmu!
Ibu ikut.
Kamu mau ke mana?
Apa?
Aku sungguh minta maaf.
Kamu tidak perlu minta maaf.
Aku sungguh
minta maaf.
Ini semua salahku.
"Pusat Medis Darurat"
Tidak apa-apa, Sayang.
Sakit, bukan?
Ini akan segera berakhir.
Ini semua akan berakhir, tidak apa-apa.
Sedikit lagi.
- Ibu! - Da Bin...
Ibu!
Ibu!
Sayang...
Sayang.
Sayang!
"Episode 5"
Ini, ambil.
Kita sudah selesai? Sekarang pergilah.
Tunggu.
Ada apa?
Ini blusmu.
Aku sudah mencucinya.
Kenapa?
Sudah kubilang buang saja.
Aku tahu kita akan bertemu lagi.
Kamu memberiku kartu namamu.
Kamu manajer umum pemasaran.
Jadi, kurasa kita akan bertemu lagi.
Ini tampak mahal,
jadi, kurasa kamu akan menghargai kebaikanku.
Setidaknya begitulah menurutku.
Ini.
Kamu mau aku menghargai perbuatanmu.
Lantas, kenapa kamu bersikap seperti itu saat di kantor?
Membantahku
di depan pegawai lain?
Kamu yang menumpahkan kopi kepadaku
dan jika aku terlambat untuk rapat dengan Wong,
kita mungkin kehilangan banyak uang.
Aku tidak tahu apa kamu mau menjaga citramu,
tapi aku melakukannya untuk perusahaan.
Walaupun aku harus mengorbankan blusku, kamu dengar?
Maaf.
Aku marah karena perkataan Pak Park.
Itu membuatku lepas kendali.
Apa yang dia katakan
sampai seseorang yang baru bergabung dengan perusahaan
lepas kendali seperti itu?
Katakan. Dia bilang apa?
Kamu sebaiknya tidak tahu.
Pak Han.
Dia bilang aku pacarmu.
Pak Park...
Dasar Pak Park...
Sudah kubilang itu tidak benar,
tapi dia sama sekali tidak memercayaiku.
Tidak bisa dipercaya.
Apa dia gila?
Aku minta maaf.
Bu Kang.
Cukup.
Kulihat kamu memedulikan setiap orang di kantor.
Silakan saja terus seperti itu
selama bekerja di kantor.
Tapi maaf,
aku sudah mulai membencimu.
Kamu boleh pergi.
Kuharap hal seperti ini tidak pernah terjadi lagi.
"Jasa Pindahan"
"Prime Officetel"
"Toko Buku dan Penerbitan Dol Dam Gil"
Dol Dam. Diam.
Maaf aku salah mengiramu sebagai penulis lain.
Kamu tidak perlu minta maaf.
Sayangnya,
kami tidak akan menerbitkan bukumu.
Tapi awalnya kamu bersedia.
Itu sebelum aku membaca naskahmu.
Apa?
Kamu menunggu terlalu lama.
Aku merasa tidak enak.
Tidak apa-apa.
Omong-omong, di mana Pak Kim?
Kenapa putranya...
Kamu sebaiknya mendengar itu dari dia sendiri.
Apa?
Dasar bedebah keji!
Ini bukan satu-satunya perusahaan penerbitan.
Berengsek!
Tunggu dan lihat saja.
Aku pasti akan menerbitkan bukuku.
Tidak bisakah kamu bersikap lebih baik?
Kamu selalu begini.
Ini demi kebaikannya.
Agar dia menyerah dengan buku membosankannya.
Dengan begitu, dia tidak akan menyia-nyiakan hidupnya.
Dari yang kulihat, dia penulis yang buruk.
Bahkan 10 tahun menulis pun tidak akan membantunya.
Jika terus menjadi penulis,
dia akan sengsara seumur hidupnya.
Perhatikan ucapanmu. Kita kedatangan tamu.
Benar juga.
Kamu ada urusan apa kemari?
Kamu mengenal ayahku?
Ya.
Bagaimana kamu mengenalnya?
Itu...
Dia menerbitkan bukuku.
Kamu penulis juga?
Ya...
Benar.
Kenapa kamu kemari hari ini?
Apa?
Kenapa kamu kemari untuk menemui ayahku?
Apa
Pak Kim Tae Joon sakit?
Jangan bertele-tele.
Begini...
Aku kemari
untuk menunjukkan naskah terbaruku.
Aku mau dia
membacanya.
Begini...
Pak Kim
baik-baik saja, bukan?
Dia sudah meninggal.
Apa?
Aku akan mengajak Dol Dam jalan-jalan.
Ayo, Dol Dam.
Apa? Kapan?
Pentingkah itu?
- Apa? - Kamu tidak tahu dia meninggal.
Apa pentingnya kapan dia meninggal?
Ada urusan lain?
Astaga.
Tidak.
Tidak.
Dengar.
Apa Woo Jin mengatakan hal kejam kepadamu?
Tenanglah. Aku minta maaf mewakilinya.
Katakan kepadaku di mana Pak Kim Tae Joon.
Dia mungkin memarahiku lagi karena terlambat.
Astaga.
Kakak tidak pergi ke rumah Mi Sun?
- Kak. - Berhenti memanggil kakak
dan pindahkan itu.
Baik.
Kakak yakin tidak harus pergi ke rumah Mi Sun?
Apa dia libur hari ini?
Ada apa, Kak?
Taksi.
Ayo.
Ibu.
Kamu sedang apa di sini?
- Ayah. - Kakek.
Hai, Da Bin.
Bukankah kamu seharusnya bekerja? Kamu sedang apa di sini?
Kami menunggu bus jemputan.
Kamu tidak terlambat?
Bukankah kamu seharusnya sudah berangkat bekerja?
Bagaimana dengan Jin Soo?
Dia sudah berangkat bekerja.
Bagaimana ibumu?
Aku tidak tahu.
Aku tidak meneleponnya.
Ayah paham kamu marah,
tapi jangan begitu kepadanya.
No comments yet. Be the first to leave one.