The first 200 lines.
- Di mana alamat ini? - Oh, sebelah sana.
- Terima kasih. - Tentu.
Selamat siang. Aku Luisa Reyes.
Aku berasal dari kota yang sama dengan Grace Cruz.
Grace yang baru lulus keperawatan?
Ya. Dia yang memberiku alamatmu.
Dia bilang aku harus bertanya siapa tahu masih ada yang kosong.
Kau beruntung, yang memesan tadi baru menelepon.
Mereka membatalkan karena akan kuliah semester depan.
Untung masih ada yang kosong.
Sekarang hampir jam lima.
Sekarang. Masuk ke dalam, tunggu aku di ruang tamu.
Aku perlu membayar tagihan ini. Ini pemberitahuan pemutusan hubungan.
- Oke. Terima kasih. - Maaf untuk ketidaknyamanannya.
- Ada orang di dalam. Oke? - Oke.
Maaf menunggu,
ada antrean panjang di pusat pembayaran.
- Tidak apa-apa. - Siapa namamu tadi?
Aku Luisa.
Oh, Luisa.
Kenapa kau tidak menyalakannya?
- Kau sudah menunggu sejak tadi. - Tidak apa-apa. Terima kasih.
Oh. Maaf
Sepertinya ada penyewa lain yang baru datang.
Zander, ini Luisa,
- Penghuni baru kita. - Begitu?
Selamat datang di asrama.
Kau akan menikmati berada di sini.
Kami semua betah di sini.
Permisi...
Ngomong-ngomong,
ruangan yang di sini
milik Zander dan rekannya Jhen.
Yang lainnya kamar Edrick dan Jeff.
Kecil, cukup untuk dua orang.
Di depan kamar mereka kamarmu.
Kalian berbagi ruangan itu. Sewanya 2.500 peso sebulan.
Satu bulan di muka, satu bulan deposit. Jadi semua lima ribu.
Tunggu...
Ini.
Ngomong-ngomong, kau bisa memasak kalau mau.
- Ya, Grace juga mengatakan itu. - Oke.
Itulah biasanya rutinitas penghuni asrama,
membeli bahan makanan untuk menghemat uang.
Oke. Terima kasih.
Duduklah di sana sebentar.
- Aku akan ambil kontraknya. - Oke.
Bu, tolong jangan menangis.
- Aku akan sering meneleponmu. - Manila itu jauh, Luisa.
Kau akan sendirian di sana.
Siapa yang akan menjagamu?
Bagaimana dengan makananmu? Bagaimana jika kau sakit?
Bu, tolong jangan terlalu khawatir.
Aku bisa jaga diri sendiiri.
Lagipula, kost yang akan kutempati aman.
Direkomendasikan Grace, anak Kapten Barangay, kan?
Dia juga tinggal di sana saat kuliah di Manila.
Mungkin sebaiknya kau tidak pergi. Kuliah saja di sini.
Ada juga perguruan tinggi di kota ini.
Dengan begitu, kau tidak jauh dari kami.
Beasiswa yang kudapatkan cuma di Manila Bu.
Sayang disia-siakan.
Aku sudah kerja dan menunggu lama untuk kesempatan ini.
Masak kubiarkan rasa takut mengalahkanku, Bu?
Jangan khawatir, aku akan segera pulang saat libur semester.
Aku juga akan meneleponmu setiap hari.
Kami akan menuruti kata-katamu!
Berhati-hatilah di sana, oke?
Ajak dia. Aku suka dia.
Ya Tuhan, tunggu.
Maaf.
Ya ampun, aku membangunkanmu?
- Tidak. Tidak apa-apa. - Aku Dianne.
Kau teman sekamarku yang baru?
Tunggu, ruangan macam apa ini, membosankan sekali.
Apa-apaan? Lampu pesta? Gila.
Sempurna, kan?
- Kau tidak keberatan kan sayang? - Ya, tentu.
Aku suka lampu berwarna untuk mencerahkan kamar kita.
Beda dengan ruangan lain, membosankan sekali ya?
Oh, ngomong-ngomong, aku ada di tahun kedua di Komunikasi Massa. Kau?
Tahun pertama, Pendidikan BS.
Hm. Jadi begitu.
Jadi, ini pertama kalinya kau kost?
Aku sudah ada di sini selama dua tahun.
Yah, di sini enak. Sebenarnya di sini aman.
Dekat dengan sekolah, pasar, toko kelontong, dan lain sebagainya.
Dan tidak ada orang yang keliaran dengan kasar di jalanan.
Kau akan menikmati ada di sini.
Senang mendengarnya.
Ya Tuhan, tunggu...
Tunggu.
Kau sudah bertemu dengan teman sekamar kita yang lain?
Hanya Zander.
Ya Tuhan.
Tampan, kan?
Jangan khawatir. Kau akan bertemu yang lain nanti saat makan malam.
Tapi sebelum itu,
kau mau sedikit informasi
tentang mereka?
Jhen, partner tinggal Zander.
Komunikasi Massa mata kuliahnya.
- Oh, kau penghuni baru di sini? - Enak sekali!
- Aku Jhen. - Luisa.
Dia orangnya baik, tapi gampang emosian saat dia dan Zander bertengkar.
Mungkin dia memang cukup kacau. Bercanda!
Dan itu Zander, partner kamar Jhen.
Tahun kedua, Teknik Sipil.
Dia menarik banyak perhatian para perempuan, sehingga Jhen sering cemburu.
- Maaf, aku tadi menelepon. - Ini Jeff, dia di tahun kedua Arsitektur.
- Orangnya tenang... - Oh, terima kasih.
Pendiam.
Tapi dia juga enak.
Mau makanan lagi?
Dan Edrick, playboy kampus.
- Olahraganya? Seks. - Bro, aku mau ambil sesuatu.
- Hei, ada yang mengirimimu pesan. - Bisa bawa kemari?
Dia sering horny. Katanya dia panseksual,
baik perempuan atau laki-laki, dia mau melakukannya.
Sama sepertiku... Bercanda!
- Ayolah, sedikit saja. Coba. - Aku tidak mau.
Ini enak sekali.
Luisa, kau sudah selesai mendaftar?
Kasirnya tutup.
Aku akan pergi lebih cepat besok untuk mengurus ini.
- Oke. - Bagaimana denganmu?
Aku sudah selesai pagi ini.
Kalau begitu, ke mana tujuanmu?
Keluar bersama teman-teman. Karena kuliah dimulai Senin,
jadi sekarang saatnya kesenangan, kesenangan dan kesenangan
selagi kita masih bisa. Kenapa kau tidak ikut?
- Banyak yang harus kulakukan. - Oke, tentu.
Aku mungkin tidak pulang sampai tengah malam.
Aku sudah bilang pada Arman. Sampai jumpa.
Luisa?
- Keluar sekarang. - Hah?
Luisa?
Kita menginginkan hal yang sama.
Satu-satunya permintaanku tidak ada orang lain yang tahu ini,
atau aku akan melaporkanmu.
Jangan khawatir, hanya kita berdua yang tahu tentang ini.
Keluarlah. Keluar.
Hey?
Hey!
Oh maaf.
Ya Tuhan.
Jeff mengirimkan ini untukmu.
Hmm!
Jeff merayumu?
Aku tidak tahu tentang itu.
Serius, kau berpura-pura tidak tahu apa-apa?
Menurutmu aku tidak memperhatikan,
bagaimana dia menemanimu ke kampus selama berminggu-minggu?
Dan,
coklat? Cuma berteman?
Dia belum mengatakan apa pun.
Itulah tepatnya.
Kau dilahirkan di pegunungan, Bibi Luisa?
Beri tahu aku,
jika dia mengajakmu pacaran,
maukah kau mengatakan ya?
Jeff itu baik.
Cerdas...
Dia juga seorang pendengar yang baik.
Dan dia sepertinya...
Sepertinya dia akan setia jika kalian pacaran.
Sungguh pacar yang sempurna.
Benar kan? Benar kan? Aku benar kan?
Oh, aku melihat senyuman. Aku tahu arti senyuman itu.
Aku tahu itu. Kau juga menyukainya?
Tidak, tidak.
Oh tolonglah.
Hidungmu mungkin akan bertambah panjang loh.
Pembohong bisa masuk neraka, loh.
Akui saja,
kau juga menyukainya, kan?
Aku tahu itu.
Kau sudah bingung sejak tadi.
Tapi tidak mungkin terjadi.
Ya ampun, aku mengerti.
Mungkin karena orang tuamu tidak menyetujuinya.
Mereka mau kau menyelesaikan kuliah terlebih dulu sebelum pacaran. Begitu?
Kau tidak harus memberi tahu mereka, kan?
Jadikan saja dia sebagai inspirasi.
Ingat. Pahami batasanmu, oke?
Dan juga
jangan pernah,
menyerah begitu saja.
Andai saja sesederhana itu...
Kenapa tidak bisa?
Terserah lah.
Sayang, tunggu.
Apa?
Sayang, aku akan terlambat.
Kita akan melakukannya cepat. Ayo lah.
Lorraine akan datang menjemputku.
Bilang padanya jemput Cara dulu.
Sampai nanti, oke? Untuk sekarang, tidak.
Apa yang kau lakukan?
Seperti kemarin.
No comments yet. Be the first to leave one.