The first 200 lines.
Orang yang kupikir akan memihakku
dan melindungiku
berbalik melawanku seperti itu.
Maafkan ibu.
SEBELUMNYA
Saling memahami
membutuhkan pikiran terbuka.
Sejak kapan kau menjadi begitu pintar?
Kau menyukainya?
Aku menyukainya.
Kejadian yang kau alami di masa lalu
membuatmu hilang kepercayaan pada cinta.
Namun, akan kutunjukkan betapa seriusnya aku kepadamu.
- Ibu! - Bu Na.
- Berdandanlah besok. - Ya?
Kita akan berbelanja besok.
Nut.
Ini Pak Nobu.
Dia ingin membeli acaramu dan menyiarkannya di Jepang.
Halo.
Halo.
- Senang bertemu denganmu. - Sama-sama.
Aku dari Tokyo. Namaku Nobu.
Mohon kerja samanya.
Ini Pak Yoshi.
Dia reporter dunia hiburan dan mau mewawancaraimu.
Senang bertemu denganmu.
- Baik, Pak Nobu. - Ya?
Kita akan menandatangani kontrak di kantorku.
Biar Nut dan Pak Yoshi di sini untuk wawancara.
- Baiklah. - Baiklah. Ayo.
- Pak Nobu. - Ya?
Mau sake Jepang?
Aku suka sake.
- Wiski beras? - Wiski.
Bu Na.
Nut belum membacanya.
Dia mungkin sibuk.
Tak apa-apa.
Kita bisa pergi sendiri.
Bagaimana dengan ini?
Warnanya agak terang.
Orang bisa melihatnya dari jauh.
Bagaimana dengan yang polos?
- Permisi. - Ya.
Ini ada warna lain?
Ada. Tunggu sebentar.
Ukurannya pas?
Ini agak ketat.
- Nona. - Ya?
Ada ukuran lebih besar?
Ada. Tunggu sebentar.
Aku akan melihat ke sana.
Baiklah.
Sepatunya nyaman?
Coba dipakai berjalan.
Ada yang kau suka?
Semuanya cantik. Aku tidak bisa menentukan pilihan.
Bagaimana jika Nut yang memilihkan?
Bagaimana?
Nut.
Bisa pilihkan sesuatu untuk ibumu?
Aku bilang padanya
bahwa ponselmu rusak.
Bagaimana dengan yang ini?
Apa ini cocok untuk Ibu?
Kelihatannya cocok.
Kita harus pilih warna yang tepat.
Kurasa dia akan suka yang merah muda.
Terima kasih, Nak.
Ayo.
Kau mau warna apa?
Yang paling cocok dengan ibuku.
Kalau begitu, kurekomendasikan warna ini.
Pasti cocok untukmu.
Kau menyukainya?
Berapa harganya?
Harganya 599 baht.
Aku sering di rumah, jadi, aku jarang memakai riasan.
Kau juga bisa terlihat cantik di rumah.
Apa mereka berdua putramu? Mereka sangat tampan.
Ya.
Dia putraku.
Dia juga putraku.
Kami bertiga adalah keluarga.
Bagaimana dengan mereka berdua? Apa mereka juga putramu?
Mereka dari tadi melihat ke sini.
Song.
Kenapa kau mengikutiku?
Siapa yang mengikutimu?
Aku hanya lewat dan sedikit penasaran.
Selama ini, aku tidak pernah melihatmu pergi dengan ibumu.
Jadi, aku ingin tahu
apa yang merasukimu hari ini.
Tidak ada.
Aku hanya mengajak ibuku ke mal.
Aku senang kau bahagia.
Aku sudah menantikan hari ini.
Bagaimana denganmu?
Kenapa dia bersamamu?
Kau dan dia…
Aku…
Kenapa dengan kita?
Kenapa?
Jadi?
Anak ini…
bukan bersamaku.
Namun, aku…
yang di sini bersamanya.
Jadi, kalian berpacaran?
Ya, seperti yang kau lihat.
Kau bilang tidak suka pria lebih muda.
Aku bilang begitu?
Kapan itu? Aku tak ingat.
Bagus.
Aku akan memberimu hadiah nanti.
Kau manis sekali.
Kenapa kita tidak pesan makanan? Aku lapar.
Pilihlah, Tofu. Katakan apa maumu.
Hari ini, aku sangat bahagia hingga akan mentraktirmu.
- Kau yang bilang. - Tentu saja.
Aku akan memesan.
Baiklah. Silakan.
- Aku mau yang ini. - Yang ini?
- Dan ini. - Dan ini?
- Yang ini dan ini. - Dua itu?
Yang ini dan ini. Aku mau semuanya.
- Bagus. - Semuanya?
Ya.
Kau mau semuanya?
Kau yakin?
- Katamu mau traktir. - Benarkah?
- Katamu kau yang bayar. - Tentu.
Makan yang kau suka dan aku akan menggesek kartuku.
Cepatlah tumbuh.
Ada anak yang ingin memakanmu.
Suasana hatimu sedang baik hari ini.
Kau berkencan, 'kan? Ibu melihat Song tadi.
Suasana hatiku bagus karena Nut.
Aku melihat Nut. Dia mengajak ibunya dan Tofu berbelanja.
Nut berbaikan dengan ibunya.
Benarkah?
Namun, banyak waktu yang terbuang.
Maksud ibu adalah
andai mereka berdamai lebih awal,
mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama, bukan?
Kau juga, Gen.
Jangan mempersulit cinta.
Kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.
Saling bersikap baiklah agar kalian tidak menyesalinya nanti.
Ibu memang tahu aku.
Lagi pula, kau putraku. Tentu saja ibu tahu.
Terima kasih banyak.
Ibu senang sekali hari ini, Nak.
Inilah bergunanya aku menjadi manusia.
Setidaknya,
aku bisa membantu memperbaiki keretakan antara Nut dan ibunya.
Itu membuatku sadar
entah kau seorang ibu atau anak,
semua bisa membuat kesalahan.
Aku berangkat, Ibu.
Mana…
bekal makan siangku?
Aku berangkat.
Baiklah.
Dengan menerima kekurangan satu sama lain
dengan cinta dan pengertian,
barulah kekosongan bisa terisi.
Melihat ini
terasa sepadan,
walaupun
aku mungkin akan pergi selamanya suatu hari nanti.
Kau datang lebih awal, Gen.
Kau terlambat.
Hei, Gen. Lepaskan.
Kau tiba-tiba sangat posesif.
- Kau tidak mau berbagi lagi? - Tidak.
Untung Prib tidak ada di sini.
Jika tidak, dia akan minta bekalmu.
Kau benar.
Di mana keponakanku?
Kuenchai.
Kenapa menggonggong?
Prib?
Aku perlu bicara denganmu.
Kau tahu Tatarn?
Kau juga tahu tentang dia?
Apa Nut yang memberitahumu?
Nut memberitahuku tentang mantannya.
Dia tidak menyebutkan namanya.
Aku mengetahui namanya Tatarn.
Kau berteman dengannya di Facebook.
Bisa antar aku menemuinya?
Aku harus tanyakan sesuatu kepadanya.
Aku ingin mengantarmu,
tetapi Tarn sedang koma dan belum siuman berbulan-bulan.
Seharusnya aku tidak memberitahumu ini
karena mungkin sulit bagimu.
Namun, ini masalah yang sangat penting.
Aku ingin Nut menjenguk Tarn.
No comments yet. Be the first to leave one.