The first 200 lines.
EPISODE 5
STASIUN SEOUL
Ini halte Stasiun Seoul, Pusat Transfer Bus.
Halte berikutnya Sungnyemun.
Ini halte Stasiun Seoul, Pusat Transfer Bus.
STASIUN BUDAYA SEOUL 284
Ki-ho.
Kau Ki-ho, 'kan?
Kau…
Bo-geol, kenapa kau di sini?
Kau sendiri sedang apa di sini?
Aku…
Aku mendapat catatan
yang meminta bertemu di sini.
Itu sebabnya kau jauh-jauh kemari?
Bukan, aku…
Kukira Ki-ho mengirimnya setelah menonton acara itu.
Ini sebabnya kularang dia mengatakannya.
Itu hanya mengundang orang gila.
Itu niatku.
Kukira salah satu orang gila itu mungkin Ki-ho.
Ki-ho!
Apa hanya Ki-ho yang Woo-hak dan kau pikirkan?
Kau tak berpikir jernih karena dia.
Kau jadi tidak masuk akal.
Pasti kau sangat mudah ditipu.
Kau memercayai secarik kertas
- karena ada nama… - Baik!
Maafkan aku!
Aku ceroboh
dan tak berpikir logis,
jadi maafkan aku.
Namun, aku memang begitu.
Bahkan sekarang, aku tak paham kenapa ayah Ki-ho yang datang
dan bukan Ki-ho sendiri.
Aku ingin tahu apakah dia aman.
Hanya itu yang kupikirkan!
Aku tak peduli meski hanya secarik kertas.
Aku hanya ingin menemukan Ki-ho.
Hanya itu yang aku minta.
Ayo pergi.
Berhenti menangis.
Orang akan salah menganggapku
bajingan yang membuat wanita menangis.
Itu memang benar.
Ki-ho aman.
Kau kenal Ki-ho?
Kau kenal dia?
Tidak.
Namun, aku yakin soal ini.
Karena ayahnya repot-repot datang jauh-jauh kemari,
dia pasti belum menemukannya.
Artinya Ki-ho bersembunyi.
Kita tak tahu
apa dia bersembunyi
atau sudah meninggal.
Dia bersembunyi.
Dengan baik.
Bagaimana kau tahu?
Aku hanya tahu.
Kau masih belum menjawabku.
Apa maksudmu?
Bagaimana kau tahu aku ada di sini?
Kak Woo-hak memberitahuku.
Jadi, begitu.
Kau tak tertarik
kepadaku, 'kan?
Tidak.
Lalu kenapa menolongku?
Kau tidur?
Atau hanya pura-pura?
Bangun saat kita tiba.
Aku tidak punya uang.
DRONE
Halo?
Mok-ha, kenapa tak angkat telepon?
Maaf.
Aku sangat kacau sekarang.
Kau di mana?
Di dalam taksi. Dalam perjalanan pulang.
Semua baik-baik saja?
Ki-ho tidak datang.
Namun,
ayahnya yang datang.
Siapa?
Ayah Ki-ho.
Ayah Jung Ki-ho?
Ya.
DRONE
Halo?
Kau masih bangun?
Ya. Apa terjadi sesuatu?
Kau pasti cenayang. Bagaimana kau tahu?
Karena aku melihatmu.
Kau pasti terkejut.
Aku tak mengira ayah Ki-ho akan datang.
Aku juga. Aku sangat terkejut.
Maaf. Ini semua salahku.
Maaf soal apa?
Aku justru bersyukur.
Berkat kau, aku merasa lega hari ini.
Pikirkan saja.
Jika ayah Ki-ho sudah menemukannya,
akankah dia jauh-jauh datang menemuiku?
Dia datang karena dia belum menemukannya.
Seperti aku,
Ki-ho ingin hidup di dunia tanpa keberadaan ayahnya.
Entah di hidup ini
atau di akhirat,
keinginannya itu jelas terwujud.
Karena itu,
aku pikir aku akan bisa
tidur sedikit lebih nyenyak.
Begitu aku yakin dia masih hidup,
aku akhirnya akan bisa tidur nyenyak.
Apa kau…
tidak menyesal?
Pergi dengan Ki-ho?
Apa maksudmu? Itu keputusan terbaik yang kubuat.
Kenapa begitu?
Kau tak akan terdampar jika tak pergi dengannya.
Kau bisa jadi bintang global.
Kenapa kau…
Kenapa kau mengkhawatirkannya?
Harus kubilang berapa kali lagi?
Itu keputusanku.
Ki-ho hanya membantuku membuat keputusan itu.
Jadi, tolonglah.
Berhenti menghinanya.
Apa?
Apa kau…
Kau menangis?
Astaga.
Kau bukan anak kecil.
Kenapa kau menangis?
Hari ini…
sangat melelahkan.
Kerja bagus.
Semuanya sudah berlalu.
Kau akan…
tak apa-apa sekarang.
Kau baru pulang?
Ya. Mok-ha memberitahuku apa yang terjadi.
Dia bilang kau menyelamatkannya.
Terima kasih.
Kenapa berterima kasih?
Karena aku penyebab itu semua.
- Kau senggang besok? - Besok? Kenapa?
Aku ingin melaporkan ayah Ki-ho ke polisi.
Jangan!
Melaporkannya untuk apa? Tak ada alasan valid.
Apanya yang tak valid?
Dia pura-pura jadi Ki-ho dan berniat menculik Mok-ha.
Dia bisa dilaporkan karena menguntit.
Penguntitan itu jika berulang.
Ini pertama kali.
Penculikan lebih konyol lagi. Bagaimana kau tahu itu niatnya?
Katamu kau lihat
Mok-ha lari ketakutan.
Benar, tapi Mok-ha…
Dia tidak terluka.
Tak ada bahaya sungguhan.
Bagaimana jika dia bilang hanya ingin menyapa Mok-ha?
Kita bisa dituntut atas pemfitnahan.
Bo-geol.
Aku cemas melaporkannya justru jadi bumerang.
Lalu dia jadi akan tahu
tempat tinggalnya.
Jadi, kita duduk diam saja?
Bagaimana jika ini terulang lagi?
- Dia dilindungi. - Oleh siapa?
Oleh kita.
PENYESALAN VERSUS KEBANGGAAN
Aku jadi emosional.
Biar kuperkenalkan lagu berikutnya.
Astaga, lihat ini.
Hampir semua pendengar kami
meminta lagu ini sejak kemarin.
Ini dia.
Ini lagu Yoon Ran-joo di Berjaya Lagi
dan menjadi populer.
- "Malam Itu". - "Malam Itu".
Astaga.
Biar kuambilkan.
Mereka memutarnya berulang kali kemarin. Kurasa hari ini juga.
Biar aku saja.
Astaga.
Harus kubilang berapa kali?
Sadarlah dengan tinggimu. Taruh di rak yang rendah.
Baiklah.
Bagaimana perasaanmu hari ini? Tak apa-apa?
Ya, aku merasa sangat segar.
Berikan ponselmu.
Ponselku?
Untuk apa?
Coba lihat.
Mana nomorku?
Oh, ya.
Kusimpan nomormu dengan nama "Drone".
"Drone"?
No comments yet. Be the first to leave one.