The first 200 lines.
ZainuddinAri mempersembahkan
Dulu, aku melihat dua dunia.
Mata kiriku melihat masa kini.
Dan mata kananku melihat akhirnya.
Karena mendambakan masa depan terwujud sesuai keinginanku,
aku kehilangan semua harapan.
Aku yakin masa depan yang kulihat tak dapat berubah.
Aku merasa seperti membuat masa depanku sendiri, tapi nyatanya, aku hanyalah budak
dari dewa yang telah turun derajatnya.
Kalau semua ini hanyalah delusiku,
mungkin aku pun bisa menjadi orang yang lebih baik.
Yo.
Kau sudah terpojok, Tukang Pengebom.
Penerawanganku itu mutlak.
Apa pun yang terjadi, takkan dapat berubah.
Karena itu sudah menjadi hal yang pasti di dunia.
Kalaupun ada yang ingin menentangnya, siapa pun mustahil bisa melakukannya.
ZainuddinAri mempersembahkan
Kara no Kyoukai
Wahyu Masa Depan
Kepada siswa kelas 1-A, Shizune Seo,
harap ke kantor di lantai 1 untuk menerima telepon dari ayahnmu.
Akademi Wanita Reien
Pemberitahuan libur musim panas:
Siswa yang tinggal di asrama wajib menerima slip izin dari akademi dan menyerahkannya ke kantor sebelum pergi keluar.
Siswa yang ingin meninggalkan asrama dalam waktu lama wajib menyerahkan izin dari walinya masing-masing.
Para siswa wajib menyadari statusnya sebagai siswa Akademi Wanita Reien dan bersikap dengan semestinya di luar sekolah.
Kepala Akademi Wanita Reien
M. Riesbyfe.
Jadwal Bus
Depan Akademi Wanita Reien ke Stasiun Mifune
Waktu
Hari Kerja
Hari Sabtu
Hari Libur
Duh. Bus berikutnya baru akan datang setengah jam lagi.
Ah! Ada kucing pemalas tidur di sofa.
Eh, bukan. Daripada kucing, kalau Seo mungkin lebih mirip anjing.
Bercanda, bercanda.
Jadi, kenapa kau tidur di sini?
Aku tak tidur.
Sekarang ini aku mau pulang ke rumah orang tuaku.
Eh, serius?
Naomi, kau tak pulang?
Rumahmu di Hong Kong, 'kan?
Aku tak dapat izin pulang.
Berkat seorang anak baru, peringkatku turun ke bawah,
jadi kurasa aku akan belajar di sini dengan tenang selama liburan.
Maksudmu, anak yang dapat peringkat teratas di ujian nasional itu, ya?
Kenapa dia masuk ke sekolah kita, ya?
Entahlah.
Kelihatannya dia sangat diharapkan di sekolah ini.
Omong-omong, Seo, kau mau pulang dengan pakaian itu?
Tak ganti seragamnya dulu?
Aku tak punya pakaian lain.
Ayahku tak pernah mengirimku satu pun.
Bodoh! Harusnya bilang dari tadi!
Sini, akan kupinjamkan pakaianku!
Ada apa?
Tidak, bukan apa-apa.
Ya sudah, ayo pergi.
Ayo bangun.
Ah, ya.
Tanggal 3 Agustus, pukul setengah sepuluh pagi.
Masa yang terjadi saat ini, sama seperti yang sudah kulihat tiga hari yang lalu.
Semuanya biasa, tanpa ada yang baru lagi bagiku.
Daftar barang yang mau minta dibeli
Album baru Suicide Garden
Ada dua diriku di dunia ini.
Satu di masa kini, dan satu di masa depan.
Kami melihat dunia yang sama dari sudut pandang berbeda.
Diriku yang dapat mengetahui hasil akhir,
adalah dewa yang tak bertanggung jawab.
Aku tak dapat mengubah masa depan,
hanya menunggunya terjadi.
Aku tak punya harapan ataupun komentar untuk masa depan.
Hari-hari yang membosankan.
Masa depan yang membosankan.
Kehidupan yang membosankan.
Tapi aku yakin, yang paling membosankan adalah diriku sendiri.
Ma-Maaf.
Maaf, tolong tunggu sebentar.
Anda, orang yang mukanya seperti penipu!
Anda!
Hah, apa?
Yang kau maksud itu aku?
A-Anu...
Kalau Anda membawa tas itu, nanti...
Mungkin nanti Anda akan terluka, kecelakaan misalnya.
Kalau harus jujur, nanti Anda tertabrak truk sampah dan jadi daging giling.
Hei!
Lepaskan!
Kubilang, lepaskan!
Jangan pergi
ke sana!
Maaf mengganggu.
Sedang ada apa, ya?
Siapa kau? Kenalan dia?
Maaf, aku hanya kebetulan lewat.
Jadi begini, saat aku lagi jalan,
tiba-tiba saja dia mengajak ribut denganku.
Eh?
Anu... Apa itu benar?
Sudah tak masalah, 'kan? Aku mau pergi.
Aku serahkan gadis itu padamu.
Kau tak apa-apa?
Ma-Maaf. Terima kasih banyak.
Tapi aku harus mengejar orang itu.
Tu-Tunggu sebentar.
Boleh aku tanyakan satu hal lagi?
Kenapa kau merasa kalau dia akan bernasib buruk?
Itu, anu...
Hanya perasaanku saja.
Intuisiku biasanya selalu tepat.
Mengejutkan sekali.
Kau sampai berkata seperti itu hanya karena intuisi?
Tapi kalau benar, itu memang gawat.
Baik. Aku akan membujuk orang itu.
Kau diam di sini saja.
Kalau berjalan lancar, aku akan memberitahumu.
Anu... Coba pastikan kembali.
Tadi itu bukan khayalanku, 'kan?
Rasanya seperti bohongan, tapi ini nyata.
Dia meninggalkanku setelah bilang akan mengatasinya.
Tapi, kalau aku diam di sini, aku bisa ketinggalan kereta.
Tapi...
Mungkin tak apa-apa juga.
Hei, apa itu?
Ledakan?
Ada apa?
Di sana!
Apa sesuatu terjadi pada orang itu?
Tapi...
Yang kulihat bukan ini.
Kau tak apa-apa?
Maaf sudah menunggu.
Ternyata perkataanmu tadi benar!
Tadi itu benar-benar bahaya.
Tapi, dia akhirnya hanya terjatuh saja, kok.
Eh?
Dia selamat?
Ya. Dia terselamatkan.
Orang itu saat ini pasti masih berterima kasih padamu.
Eh?
A-Apa?
Hal seperti itu bisa saja terjadi, ya.
Sebentar.
Kalau kau mau, bagaimana kalau istirahat di kafe itu?
Kau pasti kelelahan, 'kan?
Ah, ya!
Terima kasih banyak!
Sebenarnya, kereta berikutnya masih sekitar satu jam lagi.
Kalau begitu, sebagai imbalan perbuatan baikmu, aku yang traktir.
Ah, kita masih belum berkenalan, ya?
Namaku Mikiya Kokutou.
Salam kenal!
Aku Shizune Seo!
Seperti inilah permulaan, dan seperti ini pula akhirnya.
Itu adalah pertemuan takdir antara aku, Shizune Seo, dan Mikiya Kokutou.
Deg-deg.
Aku tak menantikan ataupun mengharapkan apa pun dari masa depan.
Aku, Meruka Kuramitsu, memiliki kekuatan untuk membuat masa depan.
Dengan mata kanan, aku melihat hasil dari idealismeku.
Dan dengan mata kiri,
aku melihat bagaimana cara idealisme itu terealisasi.
Cepat keluar dari sini!
Masa depan tidaklah seperti yang terlihat di mimpi.
Karena masa depan itu terbentuk dengan satu per satu hal yang membosankan.
Apa yang aku "lihat" bukanlah masa depan,
melainkan hasil yang wajar dari lima atau sepuluh menit kemudian.
Aku tak mengharapkan apa pun dari masa depan.
Dalam hidup, semua hal yang terjadi sudah dalam perhitunganku.
Tak ada satu hal pun yang di luar dugaan.
Tukang Pengebom bayaran.
Seperti itulah aku menjalani hidupku.
Bom milikku hanyalah alat untuk menggerakkan massa.
Intinya, peledakan adalah cara terbaik untuk mengoptimalkan kemampuan penerawanganku.
Permisi, Nona Aozaki.
Terima kasih atas rancangan indahnya.
Sama-sama.
Aku akan ambilkan minuman.
Maaf!
Aku tak menemukan minuman yang kurasa akan kausuka.
Eh?
Hei. Di sana berbahaya!
Ah, bisa saja!
Hei. Di sana berbahaya!
Wanita itu, dia tahu kalau hotel ini dalam bahaya.
Apa aku melewatkan sesuatu?
Mungkin begitu.
Tapi aku harus membereskan ini.
Ada kemungkinan kalau sosokku sudah terlihat.
Di masa depanku, wanita itu
tak dibutuhkan.
Tukang Pengebom itu mengincarmu?
Daripada mengincar, dia lebih seperti terpaku padaku.
Kurasa dia orang yang sama dengan yang mengebom hotel.
Sepertinya kau sudah ditakdirkan hanya bisa menarik perhatian laki-laki aneh.
Ini bukan gurauan.
Coba lihat.
No comments yet. Be the first to leave one.