The first 175 lines.
The Fable
Malam yang Indah
Tapi
kau yakin melindungi pembunuh bayaran adalah ide bagus, Bos?
Kita tak punya banyak pilihan.
Kita dan grup itu saling bergantung.
Bos terakhir juga bekerja dengan mereka, jadi, aku tak bisa mengabaikan mereka.
Lagi pula, kita tak menyembunyikan mereka.
Kita hanya memberi tempat tinggal untuk anak-anak teman kita.
Aku penasaran orang seperti apa Fable ini.
Entahlah.
Aku juga belum pernah bertemu dia.
Bos terakhir memberitahuku tentang dia. Dia terdengar sangat tak nyata.
Pekerjaan yang dia lakukan
tiga tahun lalu untuk melenyapkan Grup Sameken bahkan membuatku ngeri.
Dia seorang diri,
dan dia membunuh bos mereka dan setiap anggota hanya dalam dua menit.
Hampir setiap mayat hanya punya satu luka tembak
yang menembus kepala atau jantung.
Dia membunuh mereka semua dengan satu tembakan yang tepat.
Apa bisa seseorang membunuh tanpa ampun?
Kau tahu korelasi antara rasa bersalah dan jarakmu dari korban?
Trauma dari membunuh satu orang
dengan tangan atau pisau lebih besar daripada membunuh ribuan orang dengan bom.
Biasanya, orang merasa sangat enggan untuk membunuh orang.
Tapi dia bisa membunuh, lalu makan steik hamburger dalam perjalanan pulang.
Seperti itulah Fable.
Dia genius dalam membunuh.
Bos, ada tamu. Namanya Sato.
Baiklah. Antar mereka ke ruang tamu.
Jangan biarkan siapa pun masuk untuk sementara.
Mengerti?
Baik.
Baiklah, pembunuh bayaran legendaris itu sudah datang.
Duduklah di sampingku, Kapten.
Baiklah.
Permisi.
Hai.
Halo.
Silakan duduk.
Jangan sungkan.
Hei.
Benar juga.
Aku punya pertanyaan untukmu.
Apa kau Sato?
Apa ada orang lain bernama Sato yang mengunjungimu hari ini?
Jangan bicara kasar.
Menurut rumor, kau pembunuh genius, tapi sepertinya tak pandai bergaul.
Sebaiknya jaga ucapanmu.
Aku tak bermaksud jahat.
Benar. Dia tak bermaksud jahat.
Jika harus membunuhku dan Bos sekarang juga,
apa yang akan kau lakukan, sebagai profesional?
Dalam situasi ini?
Ya. Saat ini juga, dalam situasi ini.
Pertama, akan kuhancurkan tenggorokanmu, dan ambil pistol dari saku dada kirimu.
Hei! Kau bawa pistol?
Kalian menyebutnya pistol akar teratai.
Menurutku itu revolver kaliber .22.
Bukan. Kaliber .38.
Hei!
Kau tahu dilarang membawa senjata ke kantor.
Maaf. Karena Fable akan datang, aku tak ingin menemuinya tangan kosong.
Lalu apa yang akan kau lakukan?
Dengan sisa lima peluru, bagaimana caramu menghadapi sepuluh orang di luar?
Tak masalah. Aku juga akan mengambil pistol Bos.
Apa?
Kau benar.
Kau memang hebat, Sato.
Bagaimana kau tahu?
Apa karena sikap kami? Tindakan kami?
Sulit menjelaskannya. Meski kujelaskan, kalian tak akan paham.
Omong-omong,
kalian berdua akan tinggal di sini selama setahun, bukan?
Santai saja.
Yang tahu identitas aslimu hanya aku dan Bos.
Para anggota muda tak tahu apa-apa.
Ingat itu.
Aku mengerti.
Aku tahu. Aku profesional.
Kami senang kalian berdua tinggal di sini selama setahun ke depan.
Meski begitu...
Kita harus membuat peraturan.
Peraturan?
Peraturan sederhana.
Kami akan memberimu tempat tinggal. Tinggallah di sana sesukamu.
Tapi jika terjadi masalah atau kecelakaan, kami tak akan membereskannya.
Jika kami menganggap kau menyebabkan masalah bagi grup,
kami akan segera mengusirmu.
Kami mengerti.
Itu sangat jelas.
Itu saja.
Kapten, tunjukkan rumah mereka.
Baiklah. Siap pergi?
Rumahnya sangat dekat...
Ada apa?
Apa maumu?
Boleh aku mengatakan satu hal?
Apa?
Bulu hidungmu mencuat.
Apa? Benarkah?
Kau tak perlu mengatakan itu.
- Yakuza harus memperhatikan penampilan. - Bukan di sisi itu.
- Lubang kanan. - Cukup!
Hei, jangan mendorongnya masuk.
Aku akan mencabutnya nanti.
Nanti keluar lagi.
Kau ini merepotkan. Sebaiknya kau berhati-hati!
Siapa yang peduli soal bulu hidung?
Semua kelakuanmu membuatku gugup.
Itu menggangguku.
Melakukan hal tak berguna seperti itulah yang membuatmu dalam masalah.
Lebih berhati-hatilah!
Tapi aku tak bermaksud jahat.
Sial! Si bodoh itu!
Kenapa kau tersenyum?
Kau mau orang luar di sini?
Tidak. Hanya saja adiknya sangat cantik.
Ini dia.
Rumah.
Dua rumah bersebelahan. Gunakan sesuka kalian.
Awalnya, aku dan anggota lain menggunakannya saat kami dalam masalah.
Jadi, di dalamnya ada perabot.
Dan ini adalah mobilku. Ini hobiku.
Mobil yang tua.
Ya, ini Hakosuka. Ini mobil pria sejati.
Pintu di belakang mobil mengarah ke rumah di lantai dua.
Kamar mandi, toilet, semuanya ada.
Aku punya peraturan lain untukmu di sini.
Jangan berani menyentuh mobil ini.
Mengerti?
Aku tak tertarik dengan mobil ini.
Omong-omong, bulu hidungmu mencuat lagi.
Hei!
Maafkan aku. Aku akan mengajarinya.
Hei, Sato.
Aku sudah dengar tentang pekerjaanmu dari Bos.
Kau membunuh hampir semua targetmu dengan satu tembakan.
Tapi aku tak percaya rumor.
Aku ingin melihat kemampuanmu sendiri.
Jika itu yang kau inginkan, baiklah.
Kau tak boleh menembakkan pistol di sini!
Semua akan baik-baik saja.
Hanya orang tua yang tinggal di sekitar sini.
Revolver
bukan keahlianku.
Apa yang harus kutembak?
Akan kuberi tahu targetnya. Cari dan tembak kurang dari dua detik.
Kamera pengawas.
Kameranya di sana! Di sana!
Lihat, ada di sana.
Kau seharusnya tak terburu-buru.
Yang ini lebih menggangguku.
Mungkin lain kali.
Ada puing-puing di atap Hakosuka-ku!
Kau yang memintaku menembaknya.
Pak Ebihara,
akan kubersihkan mobilnya.
Jadi, tolong lupakan yang terjadi.
Hei, buka video dari kamera garasi dengan ponselmu.
Baik.
Apa?
Sepertinya salah satu kameranya rusak.
Satu tembakan, ya?
Padahal kamera itu kecil.
Mobilku yang berharga jadi kotor.
Dan wanita itu, dia bukan sekadar teman biasa.
Aku tak percaya dia memengaruhiku.
Jalan!
Apa benar ini mobil yang bagus?
Hei! Keluar dari sana!
Hal seperti itulah yang membuatku kesal! Sial!
Awasi mereka berdua. Itu perintah dariku.
Mengerti? Terus awasi mereka.
Baik. Aku akan berusaha semampuku.
No comments yet. Be the first to leave one.