The first 200 lines.
Ini hari liburmu, makanlah apa pun yang kamu mau dari kulkas.
Ibu akan pulang setelah makan malam.
Ibu.
Aku tahu kami terlalu sibuk mencari nafkah,
tapi kami seharusnya mengatakan hal seperti itu.
"Ibu menyayangimu"
Ibu menyayangimu, Nak.
"Ibu menyayangimu, Nak"
"Episode 13"
Aku terlalu banyak minum anggur malam itu.
Kamu tahu itu bukan alasan.
Aku tidak akan membuat alasan.
Hanya karena kamu terluka,
kamu tidak boleh mengancam orang-orang di sekitarmu.
Kamu tahu...
Aku bekerja keras sendirian setelah mengetahui masalahmu.
Aku mengamatimu.
Tidak perlu repot seperti itu.
Hapus saja aku dari hidupmu dan mulai dari awal.
Aku butuh akhir yang layak untuk awal yang baru.
Itu studi singkat,
tapi aku bisa mengetahui dunia seperti apa
yang kamu tinggali.
Tetap saja, kamu salah.
Aku belum memasuki ruangan itu sejak hari itu.
Kamu harus melihatnya.
Perhatikan baik-baik betapa berantakan
dan buruk pemandangan itu.
Bereskan. Jangan sisakan satu pecahan kaca pun.
Lampunya hijau.
Silakan menyeberang.
Jin Sook.
Jin Sook. Aku tidak terlambat, bukan?
Kamu tersenyum.
Bolehkah aku
mencintaimu lagi?
Sang Shik!
Seseorang, tolong.
Tolong!
Tolong...
Siapa pun, tolong!
Apa yang terjadi?
Kamu baik-baik saja?
Aku agak pusing.
Aku baik-baik saja.
Ayah tidak boleh minum, mengingat kondisi levernya.
Berapa kali dia masuk UGD tahun ini sendirian?
Aku melihat botol soju di mana-mana, di rumah.
UGD ini menghabiskan uang.
Kita meminta Ibu untuk mengawasinya.
Apa dia masih mengikuti kelas tari?
Uang tidak tumbuh di pohon.
Mereka bilang kamu benar-benar paruh baya
begitu mulai mengkhawatirkan orang tua pembuat onar.
Orang tua membuat kita menua.
Ibu akan berpisah dengan ayahmu.
Dia tidak meminumnya.
Bagaimanapun juga. Dia membawanya.
Maksudmu ini salah ibu?
Ayah.
Ayah. - Ayolah.
Katakan padanya ayah akan bekerja.
Dia akan tenang saat ayah tidak ada.
Atau dia akan khawatir ayah mengatakan hal bodoh.
Jangan seperti ini di hari baik ini.
Keluar.
Jangan hentikan dia.
Biarkan saja dia. - Ibu.
Ayah baik-baik saja... - Apa Ayah...
Kita semua keluarga.
Ayah pikir setidaknya kita harus saling mengenal.
Orang tua pembuat onar...
Astaga.
Sudah tidak terlalu pusing? - Ya.
Tinitus dan pusing
adalah gejala otolithiasis.
Dia baru-baru ini mengalami hilang ingatan.
Bukankah dia harus diperiksa secara menyeluruh?
Tentu. Kamu bisa menjadwalkan itu via internet atau telepon.
Baiklah.
Halo.
Halo.
Ya, aku di ruanganku sekarang.
Halo. - Halo.
Terima kasih sudah mau membantu walau mendadak.
Tidak apa-apa. Aku bersemangat karena ini baru.
Silakan masuk. - Baik.
Berbaringlah dan istirahat.
Maaf. Kita melewatkan pertunjukan karena aku.
Kamu seharusnya istirahat jika tidak enak badan.
Kita bisa pergi ke pertunjukan itu kapan-kapan.
Aku belum pernah kalah berdebat denganmu.
Aku tidak akan pernah bisa mengalahkanmu.
Benar, bukan?
Menang atau kalah tidak penting.
Kamu tidak mendapat uang saat menang berdebat.
Lihat? Aku kalah lagi.
Pasti karena itu aku melempar bekal makan siangnya.
Itu
yang kulakukan, bukan?
Aku tidak memecahkan kaca atau semacamnya, bukan?
Dokter bilang
kamu tidak bisa membedakan kenangan dan imajinasi.
Kamu pasti memikirkan banyak hal.
Jika kamu melakukannya sekali saja di depan anak-anak,
aku sudah mengusirmu sejak lama.
Aku berpikiran sempit dan bodoh, tapi tidak serendah itu.
Kuharap aku baik-baik saja.
Jadi, kamu tahu cara datang ke sini.
Maaf soal tempo hari.
Aku tidak akan pernah melakukannya lagi.
Bagus.
Terima kasih.
Aku juga akan menemui pengacara
dan menyelesaikan semuanya sesuai keinginan Eun Joo.
Kenapa repot-repot menemui pengacara?
Aku tidak mau duduk di sana dan menghitung semuanya.
Dia bisa mendapatkan sebanyak itu jika terus bekerja. Ibu tahu itu.
Satu hal lagi. Aku akan menutup rumah sakitku,
tapi akan terus bekerja sebagai dokter.
Aku tidak akan membuang semua.
Jika tidak, aku akan merasa terlalu menyedihkan.
Kamu sudah memutuskan tempatnya?
Masih mencari.
Jadi, berhentilah mempermasalahkan ini.
Lain kali, aku akan bicara dengan Ayah.
Aku tahu Ibu tidak menginginkan itu.
Aku pamit.
Eun Hee. - Apa?
Pernahkah kamu berpikir
kenapa Chan Hyuk tidak punya SIM?
Dia akan punya.
Dia akan segera mendapatkan SIM sementara.
Benar sekali.
Dia harus membawa semua peralatan berat itu,
kenapa dia baru punya SIM sekarang?
Kenapa kamu tiba-tiba penasaran soal itu?
Awalnya aku tidak tertarik,
tapi Seo Young menatapku seolah tahu sesuatu.
Dia tahu segalanya tentang keluarga kita.
Tapi sepertinya kamu tidak tahu banyak soal keluarga temanmu.
Teman tidak harus saling berbagi masalah keluarga.
Aku tipe orang yang menceritakan detail semua masalah.
Dia tipe orang yang tidak suka.
Sudah memberinya kesempatan untuk berbagi?
Ini indah. - Aku tahu.
Ini salah satu yang ingin kulakukan saat di Korea.
Aku tidak punya teman,
jadi, aku memikirkannya dan meneleponmu.
Aku juga belum pernah ke tempat seperti ini.
Jadi, kamu serius saat bilang ini baru.
Mengetahuinya, membuatku merasa tidak terlalu payah.
"Burung di kampung halamanku bernyanyi, 'Damai.'"
Itu kutipan dari pemain selo yang rindu rumah,
yang melarikan diri dari diktator.
Saat membacanya, kupikir aku harus mencoba
mendengarkan burung saat aku datang ke Korea.
Begitu rupanya.
Kurasa dia mendengarnya seperti itu karena merindukan kedamaian.
Di Korea, ada celepuk.
Nama Koreanya dari legenda wanita yang bereinkarnasi menjadi burung.
Bahkan suara burung berbeda sesuai tempat tinggalmu.
Aku tidak tahu.
Di sini, aku ceroboh dalam segala hal,
aku kurang mengerti,
dan membuat banyak kesalahan.
Kapan kamu meninggalkan Korea?
Saat usiaku sepuluh tahun, orang tuaku memaksaku
pergi sendirian ke Amerika tempat bibiku tinggal.
Pasti sulit bagi anak sepuluh tahun untuk bertahan.
Kamu cepat mengerti.
Aku kesulitan berbahasa Inggris saat di sekolah,
dan di rumah,
aku menyembunyikannya dari bibiku.
"Tidak bisakah mereka menjelaskan yang akan terjadi
saat aku belajar di luar negeri?"
Aku membenci orang tuaku.
Mungkin mereka juga tidak tahu.
Aku mengatakan ini karena kita sudah dewasa,
tapi orang dewasa bisa menjadi menyedihkan
dan terkadang kekanak-kanakan.
Pernahkah kamu berpikir
kenapa Chan Hyuk tidak punya SIM?
"Eun Hee"
Hai.
Di mana kamu, Chan Hyuk?
Aku keluar untuk makan.
Kencan buta?
Maaf, sampai nanti.
Dia berasumsi kamu menemui seseorang
hanya dengan mendengar nada suaramu
dan menutup telepon agar tidak mengganggumu.
Itu hanya mungkin jika kalian sudah lama bersama, bukan?
Dia selalu bersikap seolah tanggap.
Pak Park.
Menurutmu apa yang paling dibenci Eun Hee?
Entahlah.
Aku bahkan tidak tahu apa yang kubenci.
Membenci seseorang.
Dia paling terganggu dan disusahkan dengan hal itu.
No comments yet. Be the first to leave one.