Release info

[Sub Indo] Daughters Episode04 (เสียดาย-Siadai 2020) PecintaSosis
A Commentary by PecintaSosis
♡ Translated by iQIYI - Reupload by PecintaSosis ♡

Tags

other
Published on: 2020-12-22
Downloads: 18
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 193 lines.

Subtitle by iQIYI PecintaSosis

Buka tas sekolah kalian dan biar kuperiksa.

Buka tasmu, biar kulihat.

Alasanku harus memeriksa tas kalian

adalah karena penyebaran narkoba yang sedang marak.

Terlebih lagi, aku tak mau narkoba masuk ke sekolah dan merusak kalian.

Kalian harus selalu waspada.

Jika terjadi sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan padaku.

Silakan masuk ke kelas.

Terima kasih.

Maaf, rokoknya rusak.

Tak apa-apa. Setidaknya, aku tak ketahuan guru.

Kau merokok?

Ya. Aku baru mulai coba.

Boleh tanya sesuatu?

Bagaimana rasanya merokok? Ayahku juga merokok.

Merokok itu tak ada rasanya.

Mungkin terlihat cukup keren.

Ayo masuk kelas, kita terlambat. Ayo.

Nilai tugas ini akan masuk ke penilaian umum.

Temanya adalah "Bahaya Narkoba".

Jika tak menyerahkan tugas, satu kelas akan dapat nilai nol.

Kelas selesai.

Hei, ada apa?

Pam, kenapa kelasmu selesai cepat sekali?

Aku membolos. Gurunya tak periksa absensi.

- Baiklah. - Sampai jumpa.

Hei, Duean! Kenapa kau duduk di sini?

Ayo kita pergi makan. Aku lapar.

Ayo ikut aku beli sesuatu.

Beli apa?

Entahlah. Bantu aku memilih.

Apa yang kau pikirkan? Pergi menjual barang?

Apa? Kau mau jadi pedagang?

Bukan. Karena keluargaku tak punya uang.

Aku mau berjualan untuk membantu ibuku membayar biaya pengobatan ayahku.

Baiklah, tentu. Aku sangat bisa pergi denganmu.

Omong-omong, apa kau butuh asisten seseksi aku

untuk membantumu berjualan?

Tentu, mungkin kita bisa menjual lebih banyak.

Aku pikir juga begitu.

Cepatlah berkemas. Aku lapar!

Kita pergi sekarang?

Ya, ayo cepat.

- Biar kubantu. - Bantu aku sedikit.

Ayo.

Sudah. Ayo pergi.

- Bantu pilihkan - Ya, aku akan bantu pilihkan.

Aku jamin kita akan menjual habis. Percayalah.

[Bahaya Narkoba, 1.Heroin 2.Opium 3. Zat volatil (lem super, pengencer)] Aku jamin kita akan menjual habis. Percayalah.

Aku jamin kita akan menjual habis. Percayalah.

Aku jamin kita akan menjual habis. Percayalah.

Aku jamin kita akan menjual habis. Percayalah.

Manis sekali.

Hei, lihat dia.

- Siapa namamu, Nona? - Kau manis sekali.

Aku langsung suka sejak pertama melihatmu. Jatuh cinta pada pandangan pertama.

- Kau manis sekali. - Mau kuantar pulang?

Kelihatannya enak sekali.

Mi-nya?

Bukan, Tetapi dia!

Dia milikku.

Hei!

tak!

Dia milikku.

Makan milikmu.

Manis sekali. Apa dia malaikat yang jatuh ke bumi?

Boleh aku duduk bersamamu?

Silakan.

Kau duduk di sini sendirian

karena tak mau duduk denganku, 'kan?

Kulihat kau sedang duduk dengan teman-temanmu.

Kau tak mau duduk denganku

karena menurutmu aku murid nakal, 'kan? Karena aku merokok.

Kau bilang ayahmu juga merokok, 'kan?

Apa ayahmu juga orang jahat?

Mungkin aku tak seperti yang kau pikirkan.

Aku kenyang.

Aku mau kembali ke kelas.

Sampai jumpa di kelas.

Pao, ke mana kau pergi liburan?

Aku tak pergi ke mana-mana. Hanya di rumah.

Aku juga sama. Sangat membosankan.

Aku bahkan tak bisa keluar.

Menakutkan sekali. Kau berjalan hening.

Maaf, aku mencari tempat untuk merokok.

Kau datang ke tempat yang tepat.

Kau kelas 10B?

Ya.

Ini, isap rokokku saja.

Terima kasih.

Aku Pao, dari Kelas A.

Aku murid sekolah ini sejak kelas 6.

Jika kau butuh sesuatu yang lain, beri tahu aku.

Aku bisa bantu menemukan apa pun.

Namaku Pu.

Apa maksudmu "sesuatu yang lain"?

Katakanlah sesuatu yang lebih nikmat daripada rokok.

Kau mungkin tak banyak mengerti sekarang,

jadi kau tak membutuhkannya.

Tetapi jika kau sudah paham dan menginginkannya,

jangan lupakan kami.

Murid-murid baru kelas 10 ini cukup baik.

Apa incaran kita sama?

Katakan, siapa yang kau suka?

Ayo pergi. Anak-anak kelas 12 yang berengsek ada di sini.

Baik.

Hei! Kau mau ikut?

Sebagai murid lama sekolah ini, aku harus memperingatkanmu.

Sebaiknya jangan berurusan dengan mereka.

- Baiklah, ayo pergi. - Ayo.

Pao.

Di mana barang-barangku?

Aku belum mendapatkannya, Kak Nid.

Semester baru dimulai. Agak sulit untuk menemukan barangnya.

Kau harus menunggu.

Apa kau murid baru? Siapa namamu?

Pu.

Kau merokok?

Hei, Pu sangat manis. Aku suka dia.

Tapi aku lebih menyukai temannya.

Aku melihat mereka berdua saat makan siang.

Aku mau.

Karya sastra biasanya menggambarkan status quo

kehidupan masyarakat yang hidup di era karya itu ditulis.

Penulis biasanya memasukkan nilai moral

dan filosofi hidup jadi karya mereka dengan cara yang cerdas.

Hal ini membangkitkan emosi pembaca.

Sastra seringkali membuat pembacanya terlibat secara emosional.

Bisa dibilang sastra tak hanya memiliki makna sejarah,

tapi juga makna pendidikan.

Pu.

- Kwanruedee! - Ya!

Aku sedang mengajar.

Apa yang kau gambar?

Kenapa kau tak memperhatikan guru?

Coba lihat.

Kau menggambar siapa? Pacarmu?

Jangan ulangi lagi, Kwanruedee.

Sekolah baru dimulai.

Kali ini aku hanya akan beri peringatan.

Kuharap kau tak akan mengulanginya lagi.

Baik.

Baik, ayo lanjutkan.

Ada dua jenis sastra,

puitis dan non-puitis.

Mari kita catat.

Halo, Yao.

Kudengar suamimu sakit parah. Bagaimana keadaannya? Sudah membaik?

Sudah lumayan.

Dokter mengizinkannya dirawat di rumah.

Tapi dia masih tak bisa bergerak.

Boleh aku melihatnya?

Ini terlihat cukup parah.

Aku punya teman yang keadaannya hampir sama.

Tapi dia jadi lebih baik setelah minum obat herbal.

Begini saja. Aku akan tanyakan temanku.

Mana tahu aku bisa dapat obat herbal itu untuk suamimu.

Baiklah.

Kau akan baik-baik saja. Kau bisa sembuh, setuju?

Tunggu.

Bagaimana soal sewa flat ini?

Aku tak tahu harus bilang apa pada istriku.

Yao, ini sudah akhir bulan lagi.

Aku paham kau mengalami banyak kesulitan.

Tapi keluargaku bergantung pada biaya sewa ini. Kau mengerti, 'kan?

Aku juga mau membantu.

Dulu suamimu selalu bayar sewa tepat waktu.

Bisa kau tunggu sampai akhir bulan ini?

Aku sungguh tak punya uang saat ini.

Aku akan cari uang untuk melunasi biaya sewa.

Tapi jangan melewati akhir bulan ini.

Tentu, terima kasih.

Kita membeli banyak barang.

Aku lelah.

Lihat ini! Aku yang memilihnya. Bagaimana? Cantik, 'kan?

- Pilihanku lebih cantik. - Mana?

Ini.

Jauh lebih cantik dari pilihanmu.

Ini, yang ini. Keren! Biar kupakai.

Ke mana kau mau jual barang-barang ini?

Ke mal yang sering kau datangi untuk main gim.

Kulihat di sana sangat ramai. Harga sewanya pasti murah.

Astaga.

Putus.

Tak apa-apa. Aku akan membayarnya.

- Kau sudah janji, Pam. - Ya.

Aku lupa tanya padamu.

Dari mana kau dapat uang untuk membeli barang-barang ini?

Dari celenganku.

Kau bangkrut sekarang, ya?

- Tak apa-apa. - Aku bercanda.

- Ini, yang ini. - Kau jangan pakai yang ini.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left