Season 1

Release info

Isekai Nonbiri Nouka 01 1080p
Isekai Nonbiri Nouka 02 1080p
Isekai Nonbiri Nouka 03 1080p
Isekai Nonbiri Nouka 04 1080p
Isekai Nonbiri Nouka 05 1080p
Isekai Nonbiri Nouka 06 1080p
Isekai Nonbiri Nouka 07 1080p
Isekai Nonbiri Nouka 08 1080p
Isekai Nonbiri Nouka 09 1080p
Isekai Nonbiri Nouka 10 1080p
Isekai Nonbiri Nouka 11 1080p
Isekai Nonbiri Nouka 12 1080p
A Commentary by koleksifilmserial

Tags

webdl
Published on: 2024-06-14
Downloads: 112
Hearing Impaired: No
FPS: 23.98

Indonesian subtitle preview

The first 170 lines.

Mimpi?

Aku sudah lama tidak bermimpi.

Tuan Hiraku.

Saya mohon maaf. Sarapannya belum siap.

Tidak, aku juga salah karena bangun terlalu pagi.

Oh iya.

Tidak perlu bicara formal padaku.

Baik.

Ketua.

Selamat pagi!

Ya, pagi.

Saya lengah.

Tidak kusangka sampai masuk dapur.

Akan saya hanguskan.

Tidak perlu, ampuni dia.

Lo?

Ada apa?

Tumben kamu bangun pagi.

Iya, aku terbangun tanpa sadar.

Selamat pagi!

Ada perlu apa?

Aku ada urusan untuk patroli di daerah Dataran Maria.

Apa ada masalah?

Tidak, aku memang pernah mendapat laporan dari sana, tapi...

Apa terjadi sesuatu?

Iya, sedikit.

Aku bermimpi setelah sekian lama.

Mimpi?

Kurang tepat kalau kusebut mimpi, itu adalah ingatanku yang dulu.

Tunggu!

Aku tidak menyangka bahwa bisa hidup senyaman ini.

Mendirikan kota.

Aku tidak salah dengar, 'kan?

Benar.

Anda siapa?

Aku adalah dewa yang mengawasi dunia.

Dewa?

Akhirnya saya mati juga.

Tepat sekali.

Kamu telah hidup selama 39 tahun.

Kehidupanmu terlalu menyedihkan.

Kamu dikhianati orang-orang,

dan mengidap penyakit yang tak kunjung sembuh.

Maka dari itu, aku berpikiran untuk memberikan kehidupan kedua padamu.

Apa Anda bisa melakukan itu?

Tentu saja.

Aku akan memberikan tubuh sehat yang tahan penyakit di kehidupanmu yang selanjutnya.

Sebenarnya,

kamu jadi menjalani kehidupan yang menyedihkan itu juga karena salahku.

Kesalahan?

Apa kamu bersedia menerimanya sebagai permintaan maafku?

Tentu.

Saya memang tidak terlalu mengerti,

tapi saya menerimanya.

Apa kamu punya permintaan lainnya?

Aku akan membiarkanmu hidup bebas di kehidupanmu yang kedua.

Hidup bebas?

Ya, aku bisa mengabulkan semua permintaanku.

Kalau begitu...

Benar juga!

Saya ingin mencoba bertani!

Bertani?

Selama terbaring di ranjang rumah sakit,

ada satu acara televisi yang selalu saya tonton dengan antusias.

Acaranya tentang para idola yang bertani.

Saya tidak banyak bersosialisasi di kehidupan sebelumnya,

jadi saya ingin hidup santai dan bertani di tempat yang jarang dikunjungi orang.

Tidak bisa, ya?

Bisa.

Pengawas pertanian itu bukan aku.

Berbeda?

Tapi akan kutanyakan dulu.

Ah, oke, aku mengerti.

Permintaanmu disetujui.

Kalau begitu, aku akan memberimu kehidupan baru, tubuh sehat,

dan karena aku sudah mendapat persetujuan dari Dewa Pertanian,

kamu akan kuberikan kekuatan Alat Bertani Mahabisa.

Alat Bertani Mahabisa?

Nikmatilah kehidupan keduamu sepenuh hati.

Tubuhku bisa kugerakkan.

Sudah lama sekali sejak aku menggerakkan tubuh.

Sudah berapa tahun aku tidak berdiri?

Tubuh sehat memang yang terbaik!

Oke, mumpung sudah hidup kembali,

aku akan menjalani kehidupan keduaku sambil bertani dengan santai!

Di sini garis mulainya?

Hutan. Sejauh mataku memandang, cuma ada hutan.

Aku memang meminta ditempatkan di lokasi yang tidak banyak orang,

tapi bukannya ini lokasi yang bahkan tidak akan didatangi orang?

Tidak, tidak. Murung pun percuma.

Mari pikirkan apa yang bisa kulakukan sekarang.

Pakaianku seperti warga desa yang ada di dalam gim.

Aku juga merasa lebih muda.

Apa ada yang bisa kugunakan?

Benar juga, ada Alat Berani Mahabisa.

Jadi ini alatnya!

Tu, wa!

Apa ini kekuatan sihir?

Aku tidak kunjung lelah ketika mengayunkannya,

aku juga bisa menggali tanah yang keras serta akar pohon dengan mudah.

Tanahnya gembur!

Aku bisa memanen sayuran yang apik kalau bertani di sini.

Tidak, tidak. Sebelum itu aku harus mencari air dan pasokan makanan.

Di sekitarku masih tetap hutan.

Aku memfokuskan telinga untuk mendengarkan suara sungai,

tapi aku hanya mendengar desiran daun.

Jangankan tumbuhan yang bisa dimakan, rumput saja tidak tumbuh di sini.

Tingkat kesulitanku tidak salah, 'kan?

Kalau dipikir baik-baik, bertemu dengan binatang buas di sini juga tidak akan aneh.

Aku harus segera mencari tempat menetap.

Pohon yang besar sekali.

Tempat ini bisa jadi penanda. Aku akan mendirikan markas sementara di sini.

Aku sudah berjalan bolak-balik,

tapi aku tidak kunjung menemukan sungai.

Kalau begitu...!

Pencari Arah!

Mungkin kalian berpikir aku bodoh karena memakai ini untuk mencari sumber air,

tapi terkadang cara ini justru digunakan.

Enggak berguna.

Sekop!

Tampaknya Alat Bertani Mahabisa bisa berubah menjadi segala jenis alat.

Kecuali alat-alat yang rumit.

Sesuai harapanku, menggali lubang sebanyak apa pun tetap tidak membuatku lelah!

Kalau begini, aku tinggal terus menggali lebih dalam sampai airnya keluar!

Aku tidak bisa keluar.

Kalau begini...

Aku akan menggali miring!

Aku menggali di tempat yang tepat! Beruntung sekali!

Tidak, mungkin ini juga berkah dari dewa.

Air sudah aman, sekarang tinggal pasokan makanan.

Inginnya sih begitu...

Anehnya aku tidak merasa lapar sama sekali.

Apa ini juga kekuatan Alat Bertani Mahabisa?

Aku juga merasa akan berbahaya jika masuk ke dalam hutan lagi...

Sabit!

Aku akan terus memakai Alat Bertani Mahabisa untuk mendirikan markas di sini.

Aku berharap bisa menemukan sesuatu untuk dimakan...

Yah, ternyata tidak ada apa-apa.

Jika aku ingin membuat ladang, pohon ini menghalangi.

Pohon ini kelihatannya keras, tapi mungkin aku bisa menebangnya dengan alat ini.

Kalau tidak salah, buat tebasan di salah satu sisi,

lalu lanjut tebang dari sisi berlawanan.

Berhasil!

Oke, pertama-tama mulai dari sisi ini.

Langsung terbelah dua.

Alat Bertani Mahabisa memang seram.

Parang!

Mumpung sudah kutebang, selanjutnya akan kupotong-potong.

Potong batangnya menjadi dua,

lalu sayat kulit pohonnya.

Pohon yang keras bisa dipotong layaknya keju.

Omong-omong, alat khusus untuk menarik pohon ini...

...aku memang tidak tahu namanya,

tapi selama bisa dibayangkan, Alat Bertani Mahabisa akan berubah sendirinya.

Potongan kayu sudah cukup terkumpul.

Kalau di gim bertani yang kumainkan dulu,

sekarang sudah saatnya mendirikan rumah kayu di sekitar sini.

Tapi bahan untuk atap dan dinding tidak bisa dibuat begitu saja.

Sejak awal, paku dan lem saja tidak ada.

Mendirikan rumah dari nol ternyata lumayan sulit.

Bayangan dari batang kayu yang kuberdirikan ini mirip seperti jam matahari...

Gawat! Saking asyiknya, aku sampai lupa waktu!

Kalau begini, matahari akan tenggelam dan hari menjadi gelap. Lalu aku harus bagaimana?

Sudah jelas bakal gelap gulita! Apa tidak ada cahaya?!

Penerangan darurat! Lampu!

Tidak bisa, ya. Kalau begitu, aku harus menyalakan api.

Pematik api! Korek!

Tidak bisa! Aku tidak menanyakan ini secara detail pada dewa!

Lagi pula, aku takut akan kehilangan Alat Bertani Mahabisa jika membakarnya.

Aku harus mencari sesuatu yang bisa memancarkan panas...

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left