The first 182 lines.
Sebelumnya di
Space Brothers
Mutta sang kakak terkena sial.
Karena lahir di hari kemenangan, Hibito si adik menjadi moonwalker Jepang pertama.
Mutta sang kakak berusaha menjadi astronot, dan menepati janjinya kepada Bibi Sharon
untuk membuat teleskop di bulan.
Mutta berhasil pada babak pertama, tapi dia terus saja dapat masalah.
Saat ujian tertulis, nilainya paling rendah.
Alhasil, dia harus dapat instruktur terbang yang gila.
Tetapi, Mutta sang kakak
belum sadar kalau dia sedang mempelajari apa yang dia butuhkan secara cepat.
Surat-surat dari Bibi Sharon semakin jarang.
Kalau saja aku sudah latihan untuk ke bulan.
Mungkin hal itu bisa memberi Bibi Sharon sedikit harapan.
Kalau aku mau ikut pelatihan misi bulan,
aku harus dapat persetujuan Pimpinan Butler.
Pertanyaannya, "Kapan pertama kali kau merasa sebagai pilot?"
Dan astronot Jason Butler menjawab...
Saat aku pertama kali melakukan vertical climb roll sebelum disuruh.
Jadi, kau mau aku mengajarkan cara vertical climb roll?
Aku harus pelajari itu untuk mengungkapkan keteguhanku.
Kau mau menunjukkan pada pimpinan?
Kau ini orang yang gila, ya?
Tak mungkin!
Satu Jam Sebelumnya
Kenapa kau mau pakai Max?
Aku sedikit kaget.
Apa kau sudah bosan hidup, Mutta?
Kau mau akrobat pakai monsternya si Deneil ini?
Bukan, bukan. Kalau aku berhasil pakai yang ini...
"Kau baru pilot sungguhan."
Pasti itu yang akan dia katakan.
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
Jelas kalau semakin banyak yang kita masukkan dalam kantung
maka akan semakin berat kantung itu
Semakin keras aku berjuang, semakin dekat aku dengan tujuanku
Tapi sayangnya aku tak bisa secepat itu
Kutatap langit di malam hari, tapi tetap ku tak bisa tenang
Sampai-sampai detak jantung ini terdengar keras olehmu
Ayo kita pergi
Rasa laparku pun tahu lautan bintang ini tak terbatas
dalam planetarium mimpi dan kenyataan ini
Sekarang kuperbarui kanvas impianku
Dengan gemerlapnya alam semesta dan bumi yang biru
Rasa laparku pun tahu lautan bintang ini tak terbatas
dalam planetarium kebohongan dan kejujuran ini
Sekarang ku bicara memakai kanvas impianku
di orbit takdir ini
sambil berapi-api
#75 Tanganku
#75 Tanganku
Ngeri sekali!
Pesawat ini sensitif sekali.
Padahal hanya kugeser satu milimeter.
Bagaimana caranya Deneil bisa mengendalikan kendali ini? Jarinya 'kan jempol semua.
Mungkin sudah dimodifikasi supaya bisa dia kendalikan dengan mudah.
Dia 'kan pemalas.
Oh, ya. Sudah waktunya, Mutta.
Kendalinya kuserahkan.
Laksanakan!
Kalau pimpinan melihat aku melakukannya,
apa yang akan terjadi?
Mungkin saja kau kena masalah.
Dia akan bilang, "astronot tak perlu buang-buang waktu."
Hitung 5!
4!
3!
2!
1!
Vertical climb roll.
Let's go!
Come on.
Yuhuuu!
Maaf, sebentar.
Bisa antarkan aku ke Bandara Ellington sebentar?
Sip!
Selanjutnya mulai pukul 18:33.
Akan kulakukan lagi.
Oke!
Kata surelnya, nanti pukul 18:33, setelah kita tiba di Bandara Ellington untuk latihan.
Disuruh melihat langit?
Ya.
Kita harus tiba pukul 18:25,
tapi busnya terlambat.
Kita tak akan tepat waktu.
Memangnya dia mau menunjukkan apa pada Serika?
Jangan-jangan Nanba mau membuat kembang api?
Membuat pesan di langit?
Serika, ayo kita tukar tempat.
Kau pasti bisa lihat dari sini.
Terima kasih, Amanti.
Amanti.
Kau sudah tahu apa yang akan terjadi, 'kan?
Aku akan segera kembali.
Ya, halo? Ini Butler.
Beri tahu aku siapa pilot T-38 yang barusan vertical climb roll.
Pilot pelatihannya Mutta Nanba.
Instruktur yang menemaninya itu Alexander Nikolas Philipos Medina—
Oke, baiklah.
Mutta Nanba.
Sepertinya takkan tiba tepat waktu di bandara.
Nah! Ayo sekali lagi!
Kalau kau bisa menggambar hati di langit, kau lulus.
Ini giliran Serika.
Lihat saja ini.
Kalau kau yakin pujaanmu sedang melihatnya,
kau pasti bisa dapat hatinya, loh.
Heart Mark.
Let's go!
Akan kudapatkan dia!
Oh?
Yang itu, ya?
Hebat!
Nanba!
Luar biasa.
Tapi kira-kira apa itu?
Aku tak tahu apa itu, tapi akrobatiknya bagus sekali!
Ya.
I-Itu 'kan...
Hmm? I-I-I-I-I-Ini...
A-Apa maksudnya ini, Tn. Mutta?
Yuhuu! Aku berhasil!
Yuhuu!
Ja-Jangan-jangan ini yang ingin dia tunjukkan padaku?!
I-Itu tak mungkin!
Pimpinan!
Yang kemarin, Anda melihatnya?
Ya.
Ah, ya. Aku melihatnya.
Itulah caraku menunjukkan perasaanku!
Tolong biarkan aku ikut dalam pelatihan misi bulan!
Ba-Baik, baik! Akan kupikirkan!
Akan kupikirkan, jadi mundur dulu!
Tidak, aku tak mau.
Mundur!
Aku tak mau.
Mu-Mundur!
Aku tak mau.
Kau tak mau?
Sip, begini sudah beres.
Aku berhasil memberi kesan kepada pimpinan itu.
Tapi, aku gagal dengan tanda hati di langit itu.
Nanba!
No comments yet. Be the first to leave one.