The first 170 lines.
Itu adalah kursi paling kesepian di dunia.
Semua abdimu...
...akan memberikan pendapat berbeda.
Siapa yang harus kau dengarkan?
Mana yang benar?
Akan tiba saat kau tidak lagi mengetahuinya.
Bila saat itu tiba,
apa yang harus saya lakukan?
Cukup...
...dengarkan suara hatimu.
Tak ada...
...yang akan mengambil keputusan untukmu.
Tak ada pula yang akan bertanggungjawab atas dirimu.
Itulah... Raja.
Jeoha.
Jeoha! Anda tidak boleh melewatkan kesempatan ini.
Aku...
Pyunsoo-hwe...
...akan kuserang.
Aku akan membalaskan dendam ayah dan ibuku.
Aku akan membalaskan Ayah Guru Chung Woon.
Juga dendam Gyu Ho Eureushin.
Sekarang juga, aku ingin menyerang Dae Mok dan Pyunsoo-hwe.
Jae Hon sungguh mengatakan akan menggerakkan pasukannya?
Ya, itu benar.
Saat itu akhirnya tiba.
Kalau begitu, kita bisa melenyapkan Pyunsoo-hwe dalam sekali libas.
Saya tidak menyangka saat ini akhirnya tiba.
Bahkan Dae Mok sekalipun...
...tak akan sanggup menandingi pasukan Jenderal Jae Hon.
Anda sekarang memiliki 40.000 pasukan dalam genggaman, Daebi Mama.
Siapa lagi yang mampu menandingi Anda?
Saya ucapkan selamat, Mama.
Jeoha.
Namun,
aku pun...
...tidak bisa.
Kita tidak benar-benar tahu kekuatan Pyunsoo-hwe.
Bahkan dengan bantuan pasukan perbatasan sekalipun,
aku tidak yakin kita bisa memberantas...
...mereka sampai ke akar.
Aku mungkin merebut mahkota dan takhta,
namun...
...ribuan rakyat mungkin akan cedera,
atau bahkan tewas.
- Jeoha! - Juga...
bila pemerintahan kacau,
Suku Jurchen (nenek moyang Manchuria, selalu berusaha menjajah Joseon],
tak akan tinggal diam.
Seorang Raja yang menimbulkan kerusuhan...
...dan peperangan di dalam negerinya?
Aku...
...tak mau menjadi Raja seperti itu.
Pasukanmu di perbatasan,
akan tetap di sana.
Jeoha.
Mohon pertimbangkan kembali.
Bila mendiang Raja masih hidup,
beliau pasti memerintah untuk menyerang Pyunsoo-hwe,
tanpa ragu sama sekali.
"Jangan menunjukkan ketakutan di hadapan siapapun."
"Tutupi kelemahan dengan kekuatan..."
"...serta ketakutan dengan keberanian."
"Itulah Raja."
Itulah yang mendiang ayahku katakan.
Tapi... Joseon-ku...
...akan berbeda.
Bila harus mengorbankan rakyat,
aku tak akan mengambil kembali takhta itu.
Aku...
...akan menjadi Raja yang memedulikan rakyatnya.
Rakyat adalah prioritasku.
Bagaimana bisa aku mengambil alih takhta dengan menumpahkan darah mereka?
Jeoha.
Bila kau...
...mengganggapku sebagai Raja sejati,
maka percayalah padaku dan kembali ke perbatasan.
Jangan melindungiku,
tapi rakyatku.
Tolong lakukan itu.
Saya...
...Komandan Militer Jae Hon,
akan mematuhi titah Paduka.
Apa maksudmu itu?
Kau tak akan memanggil pasukanmu?
Jenderal.
Apa kau takut pada Pyunsoo-hwe,
atau memang loyalitasmu serendah itu?
- Mama. - Sudah kuberi izin memanggil pasukanmu,
tapi sampai kini kau belum melakukannya?
Selain izin dariku,
memang perintah siapa yang lebih penting?
Seja Jeoha.
Barusan...
...apa yang kau katakan?
Seja?
Jangan bilang...
...Seja sesungguhnya...
...masih hidup?
Seperti itulah, Mama.
Bagaimana bisa kau tidak memberitahu aku lebih awal?
Sebelum saya mengonfirmasinya sendiri,
saya tidak bisa mengatakan apa-apa.
Bila...
...dia bukanlah Seja yang asli,
maka saya pasti sudah mematuhi Mama,
dan memanggil pasukan saya untuk membalas dendam mendiang Raja serta Seja Jeoha.
Sungguh...
...Seja masih hidup?
Pangeranku...
...selama ini masih hidup?
Seja-ku sehat dan baik-baik saja?
Apakah dia sedang sakit...
...atau terluka parah?
Jangan cemas, Mama.
Mama pun sudah bertemu dengan Seja asli,
secara langsung.
Kepala Pedagang keliling yang membantu Mama,
adalah Seja Jeoha yang asli.
Bagaimana bisa dia begitu mirip dengan...
...mendiang Raja saat muda?
- Orabeoni. - Daebi Mama.
Sekarang yang adikmu ini katakan,
tolong dengar baik-baik.
Jika ini tersebar, Orabeoni, aku,
maupun seluruh keluarga kita akan hancur.
Kau mengerti?
Jika kau pergi ke Heopgyeongdang,
ada tamu Daebi Mama yang sedang menunggu.
Bawakan makanan ringan ini untuknya.
Ya, Mama-nim.
Ga Eun-ah.
Aku tidak akan tanya apa-apa.
Sampai aku selesai meminum tehku,
bisakah kau tetap berada di sini?
Sepertinya,
kau masih senang menggoda dayang istana.
Lain waktu, aku akan melaporkannya.
Aku tak bisa menghabiskannya...
...sampai tetes terakhir.
Doryongnim.
Daebi Mama, Busang Daegam datang menemui Anda.
Biarkan dia masuk.
Bagaimana?
Ya, kami mengurusnya sesuai instruksi Mama.
Kerja bagus.
Ga Eun-ah! Cepat bangun.
Ga Eun-ah!
Ga Eun-ah.
Doryongnim.
Ga Eun-ah. Kau baik-baik saja?
Aku senang kau baik-baik saja.
Ga Eun, kau...
...yang menyelamatkan aku?
Kau hampir mati karena menyelamatkan aku.
Kenapa kau melompat ke dalam air?
Kenapa kau melakukan hal yang berbahaya?
Aku takut.
Tak bisa bertemu Doryongnim lagi,
begitu menakutkan untukku.
Aku takut akan kehilangan seseorang yang lebih berharga...
..dibanding nyawaku.
Kau tidak bisa menemukan Ga Eun Aghassi? Apa maksudmu?
Saya yakin Ga Eun Aghassi pergi ke luar istana.
Sekarang sudah pukul 10 malam.
Semestinya dia sudah kembali sekarang.
Semua gerbang akan ditutup pukul 10 malam.
Aku tidak apa-apa.
Turunkan aku.
Kau sudah menyelamatkan nyawaku. Setidaknya ini yang bisa kulakukan.
No comments yet. Be the first to leave one.