The first 200 lines.
"Kelab Malam Samgeori"
"Episode 1"
Jaksa dan gangster.
Kamu tahu apa kesamaan mereka?
"Ruang Interogasi Kejaksaan Wilayah Seoul Pusat"
Ini wilayah kami.
Apa pun yang terjadi di sini,
tidak ada yang boleh tahu.
Satu. Mereka punya wilayah sendiri.
Artinya,
kamu bisa tenang sekarang.
Kuharap para penyidik tidak terlalu merepotkanmu.
Keadaan tidak seburuk ini
saat kasus Lee Bong Sik merebak.
Makin sedikit jumlah jaksa penuntut
yang bisa kuajak bicara dengan mudah.
Tenang saja.
Tidak masalah selama kami tidak mendakwa.
Dan tidak ada orang lain yang punya kekuatan untuk mendakwa.
Dua. Bukan hanya kita yang memakai senjata.
Mereka juga punya senjata sendiri.
Tidak ada bukti bahwa kamu menyuap
komisaris Dinas Pajak Nasional dengan lukisan.
Mereka bisa apa?
Omong-omong, karena Lee Bong Sik pergi,
daftar orang yang kamu suap tidak akan pernah muncul.
Tenang saja.
Kami juga akan memercayaimu kali ini.
Astaga, aku bukan siapa-siapa.
Belakangan ini, kata orang-orang,
kejaksaan hanyalah departemen Kementerian Kehakiman.
Tidak banyak yang bisa kamu capai sendiri.
Meski kamu mendapat bantuan dari seseorang,
itu juga prestasimu.
Sebentar.
Aku dipanggil.
Aku permisi.
Begitu si jaksa digantikan, semua akan baik-baik saja.
Jaksa Agung. Halo, Pak.
Ya.
Tiga. Kenyataannya sama sekali tidak demikian.
Mereka cuma berlagak.
Dengan kata lain, perbedaannya, geng mereka legal,
sementara geng kita
ilegal.
"Jaksa Cho Yeon Ju, Seoul"
Kamu memahami maksudku?
Entahlah.
Maksudku, jangan gugup di depan jaksa.
Astaga.
Sejak dipenjara di lapas remaja 14,
aku selalu gelisah tiap kali melewati kantor pemerintahan.
Bagaimana bisa aku mengajukan gugatan ke kantor kejaksaan?
Kalau begitu, kamu ingin dihukum bersama Geng Samgeori
karena menggunakan senjata lagi?
Zaman telah berubah.
Aku yakin 100 persen Geng Samgeori, para bedebah itu,
mempekerjakan belia dan menghindari pajak
di kelab malam mereka.
Setidaknya, mereka pasti melanggar UU Sanitasi Makanan.
Temukan saja buktinya, lalu serahkan.
Untuk sisanya, andalkan saja pemerintah.
Mengenai UU Sanitasi Makanan, kita juga melanggarnya.
Yang benar saja.
Sia-sia saja aku memberimu penjelasan.
Kamu harus percaya diri sekalipun di depan jaksa.
Jadi, apa yang kamu butuhkan?
Keberanian?
Orang-orang cerdas
pasti meninggalkan geng untuk kuliah.
Hanya kejaksaan yang bisa mendakwa.
Selama kamu bisa merebut hati kejaksaan,
kejahatanmu tidak berarti apa-apa.
Siapa yang bisa merebut hati mereka dan bagaimana caranya?
Padahal aku berniat memberikannya kepadamu nanti.
Kamu tidak perlu memintanya secara langsung.
Jadi...
Kamu tahu?
Aku hampir salah paham. Kenapa lama sekali?
Bagus. Ini akan membuat segalanya jauh lebih mudah bagi semua orang.
Meminta bantuan jaksa
tidaklah mudah.
Kamu tahu itu sesulit apa?
Minggir!
Berengsek!
Bos, Geng Samgeori muncul dengan senjata.
Apa? Para berandal itu sudah menyerbu saja?
Kamu sebaiknya pergi.
Astaga.
Dasar berandal! - Enyahlah!
Sial. - Astaga.
Kalian masih bertengkar di kelab malam?
Zaman telah berubah. Kenapa kalian masih sama?
Apa kata wanita ini?
Kamu jelas tidak tahu siapa aku.
Dasar bodoh.
Dia penerus Geng Seopyung Nammoon.
Ya ampun. Semua itu sudah berlalu.
Apa kamu teler?
Sayang, bisa katakan kamu siapa?
Lepaskan. Kumohon.
Aduh!
Hajar dia!
Semuanya, hajar dia!
Astaga! - Tidak!
Hei!
"One the Woman"
"Kejaksaan Wilayah Seoul Pusat"
Hei. - Astaga.
Apa yang kamu lakukan di sini dari Seopyung?
Kemarin kamu di Seopyung?
Kurasa begitu. Baumu seperti koyok.
Untuk apa aku ke sana?
Geng Samgeori mencoba melawan Geng Piala Dunia,
tapi seseorang menyerang mereka dan menghilang.
Jadi, mereka hanya membuang waktu.
Perang antarpenjahat adalah sesuatu
yang harus kita urus selama sisa hidup kita.
Informanku melihatmu.
Pria berbaju olahraga kuning, bukan? Aku bisa tahu...
Kamu masih menerima suap dari para preman
seperti di Seopyung?
Kami berkonflik dengan polisi baru-baru ini
atas kejahatan terorganisasi.
Jika kamu tertangkap di sana saat razia polisi,
kamu akan berada dalam masalah besar.
Aku mengerti, Yu Jun.
Aku akan melakukan yang terbaik agar kamu bisa menangkapku.
Omong-omong, setelanmu tampak bagus.
Bukan itu maksudku.
Apa yang terjadi kepadamu?
Kamu tidak seperti ini di Institut
atau saat janji temu pertamamu.
Kamu bicara seolah-olah sangat dekat denganku.
Tapi kedekatan itu mungkin hanya ada di kepalamu.
Benarkah?
Apa aku tidak mengenalmu?
Aku bisa melihat otakmu sedang berputar.
Siapa yang akan menjadi jaksa kepala berikutnya? Divisi dua atau tiga?
Siapa yang harus kamu jilat?
Hei.
Berikan itu. Biar kubawa.
Terima kasih.
Selamat pagi.
Hai. Selamat pagi.
Kenapa aku mencium bau koyok?
Astaga. Kamu bekerja semalaman lagi?
Leherku sakit karena kebanyakan membaca transkrip.
Kamu andalan Divisi Tiga.
Lihat itu? Inilah Divisi Tiga.
Jarang sekali menemukan orang yang bergadang seperti ini.
Tapi aku tidak sebanding dengan Anda, Pak Wakil Kepala.
Jaksa dengan stamina, jaksa dengan dua hati,
Ryu Seung Duk.
Aku memotong artikel koran itu
dan selalu membawanya.
"Jaksa Dengan Dua Hati"
Dua hati?
Artikel itu dari kasus Lee Bong Sik, 'kan?
Skandal besar bahwa Ryu Seung Duk, jaksa kesayangan kita,
langsung kalah sebelum kita menangkapnya?
Apa gunanya punya dua hati?
Kamu harus menangkap satu penjahat.
karena begadang semalaman tanpa alasan,
kamu jadi tidak bisa fokus saat dibutuhkan
dan kehilangan jejak penjahat tepat sebelum mereka ditangkap.
Apa aku salah? - Apa?
Itu...
Tidak apa-apa. Bicaralah dengan bebas.
Ya.
Jangan hiraukan dia. Bicaralah dengan bebas.
Apa kamu efisien setelah begadang semalaman?
Aku tidak begadang semalaman.
Tidak?
Aku tidak bisa bilang tidak.
Itu artinya kamu bergadang.
Itu belum pasti.
Jika tidak yakin, artinya kamu tidak bergadang?
Aku tidak bisa bilang bahwa aku tidak bergadang.
Pokoknya,
itu efisien.
Benar sekali. - Ya.
Benar, bukan?
Silakan naik, Pak. Baiklah.
Aku tidak membuat mereka kesal.
Itu kesimpulan yang bijaksana.
Kasus Lee Bong Sik yang kamu minta aku tangani
awalnya adalah kasus yang ditangani anak buah Wakil Kepala Ryu.
Kamu menemukan sesuatu?
Itu sebabnya kamu di sini.
Jangan linglung. Bicarakan saja di sini, Berandal Menggemaskan.
Itu mahal. Jadi, mari bicara empat mata, ya?
Aku akan meneleponmu. Pergilah. Sampai nanti.
Dia sangat unik.
Tidak ada yang bisa mendekatinya.
Mungkin hanya ada satu orang seperti dia
di seluruh dunia.
"Kang Mi Na"
"Menantu dari Grup Hanju, putri bungsu dari Grup Yumin"
Aku menyuruhmu turun sejak tadi. Kenapa lama sekali?
No comments yet. Be the first to leave one.