The first 200 lines.
"Drama ini murni fiksi dan tidak terkait"
"Tokoh, organisasi, lokasi, atau insiden nyata"
Jangan pergi.
Jangan temui dia.
Aku tidak mau kamu menemuinya.
Kamu menyadari ucapanmu?
Ya.
Aku melarangmu.
Katamu hubunganmu selalu buruk karena aku.
Kamu tidak bisa menyukai siapa pun selain aku.
Karena itulah kamu tidak bahagia.
Aku merasa bertanggung jawab atas semua itu.
Jangan memacari sembarang orang meski tidak menyukainya...
Siapa yang bilang begitu? Siapa bilang aku tidak menyukainya?
Siapa bilang dia sembarang orang?
Dia orang baik, karena itu kupikir aku bisa menyukainya.
Jadi,
kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab,
dan kamu tidak berhak mengatur siapa yang harus kutemui.
Kita hanya...
teman.
Dia masih belum mengubah kebiasaan itu.
Kebiasaan membingungkan seseorang.
"Jaksa Han Jin Joo"
"Kamu diundang ke pernikahan Shin Dong Hoon dan Jung Ji Yoon"
Bagaimana bisa dia mengirimiku undangan pernikahannya?
Dia bisa jika mau.
Sejujurnya, kalian tidak berpacaran.
Atau setidaknya berhubungan?
Aku bukannya tidak mau berhubungan.
Ini bukan sesuatu yang bisa kubeli dengan uang.
Perasaan itu harus timbal balik agar berhasil.
Kamu benar.
Kamu hanya tertarik kepadanya, kenapa dipikirkan?
Hanya ada satu alasan yang membuatku sangat kesal.
Saat orang lain berkencan dan menikah,
kenapa aku selalu sendirian?
Kenapa aku selalu lajang?
Tidak ada gunanya terus-terusan berpacaran.
Lihat aku. Aku juga sendirian.
Lajang seperti kita harus pergi minum.
Sekarang?
Ya. Haruskah aku ke tempatmu atau kamu di luar?
Masalahnya...
Aku punya rencana.
Dengan siapa?
Dengan Pak On?
Ya. Mau coba menelepon Young Hee?
Tidak perlu. Nikmati kencanmu.
Baiklah.
Katanya dia sendirian.
Kenapa kamu berdiri di luar?
Untuk melakukan ini.
Kamu lapar? Ayo makan sesuatu yang enak.
Hubunganku selalu buruk.
Aku mengencani siapa pun meski tidak menyukai siapa pun.
Karena aku menyukaimu, aku tidak bisa menyukai siapa pun.
Aku sudah muak.
Aku merasa bertanggung jawab atas ucapanmu kepadaku.
Kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab
dan kamu tidak berhak mengatur siapa yang harus kutemui.
Kita hanya...
teman.
"Episode 5, Objek Lebih Dekat daripada Yang Terlihat"
"Gadis Malang"
Apa yang dia lakukan sampai tidak mengangkat teleponnya?
- Halo? - Nomor yang Anda hubungi
- sedang sibuk. - Tidak usah diangkat.
Tinggalkan pesan...
- Baik, Pak. - Biar kutuangkan.
Nona Kim, bagaimana kamu menghindari pertengkaran dengan pacarmu?
Kami sedang bertengkar sekarang.
Tapi kamu baik-baik saja? Kamu tidak cemas?
Kami sudah berpacaran sepuluh tahun.
Polanya sudah pasti.
Dia mungkin sudah tenang sekarang.
Sudah saatnya aku mengirim tanda untuk berbaikan.
Kini aku berpura-pura tidak tahu dan membiarkannya. Begitu.
Begitu rupanya.
Nona Kim. Kamu bertengkar dengan pacarmu?
- Tidak. - Aku punya telinga. Aku dengar.
Kamu baru saja bilang sedang bertengkar.
Pendengaranmu sangat tajam.
Ini pujian.
Kamu benar. Aku punya pendengaran yang tajam.
Ya.
Tapi kamu harus meminta maaf lebih dahulu.
Siapa lagi yang bisa kamu kencani? Kalian sudah pacaran sepuluh tahun.
Apa maksudmu?
Jujur saja.
Jika kalian sudah berpacaran sepuluh tahun,
kalian sudah melakukan semuanya. Sudah seperti menikah.
Menurutmu berapa lagi peluangmu?
Mungkin ini kesempatan terakhirmu untuk menikah.
Kamu setuju, bukan?
Pak, biar kutuangkan.
- Ini. Untukmu juga. - Tolong tuangkan untukku juga.
Ini. Mari kita minum.
Itu bagus.
Kamu tidak suka makanannya?
Tidak, ini enak.
Setelah makan malam, mau ke tempat yang membuatmu senang?
Apa yang kamu suka?
Kurasa kamu orang yang baik.
Kuharap aku bisa menjadi orang yang kamu sukai.
Dahulu,
aku akan berpura-pura menyerah dan memacarimu.
Aku bukannya tidak menyukaimu,
aku sudah menduga akan menyukaimu.
Kenapa kamu tidak berpura-pura menyerah dan berharap?
Harapan itu selalu mengkhianatiku.
Aku tidak mau menjalani hubungan buruk seperti itu lagi.
Mungkin saja itu bukan hubungan yang buruk.
Aku mungkin tidak akan bisa memiliki
hubungan yang baik.
Bagaimana kalau kita uji?
Bagaimana kalau kita uji, kau bisa punya hubungan baik atau tidak?
Aku akan menjadi pria yang bisa kau uji.
Aku tidak mau melakukan itu.
Kamu bilang tidak membenciku.
Kamu bilang kamu sudah menduga.
Jika alasanmu menolakku demi kebaikanku dan bukan kamu,
aku tidak keberatan.
Kamu menolakku,
tapi terlepas dari itu, akulah yang menahanmu.
Jika aku terluka, itu salahku sendiri.
Jangan memperumit semuanya.
Jika aku membuat alasan bagus,
temui saja aku seperti sekarang.
Jika kamu melakukan itu, pada akhirnya kamu akan menyukaiku.
Aku akan mewujudkannya.
Kamu cukup percaya diri. Itu membuatku ingin memercayaimu.
Aku berpura-pura begitu
agar kamu bisa memercayaiku.
- Makanlah. - Baik.
Bisa ambil sesuatu dari kursi belakang?
Tentu.
Ini suap.
Agar kamu menyukaiku?
"Malam Ini"
Astaga. Ada apa?
Dilihat dari wajahmu, sepertinya kamu cemas.
Hei. Berhentilah cemberut
dan ceritakan semuanya.
Apa aku tidak menarik?
- Apa aku penuh kekurangan? - Astaga.
Ada banyak pria yang menyukai Woo Yeon,
dan Young Hee menerima banyak cinta dari Hyun Jae.
Tapi kenapa aku sendirian?
Kenapa hanya aku yang sendirian?
Kenapa kamu menyalahkan diri sendiri?
Kamu hanya belum bertemu jodohmu.
Itu bukan salahmu.
Lagi pula, melajang itu bagus.
Apa bagusnya?
Kamu punya banyak hal. Baik waktu maupun uang.
Karena itu, kamu berhak minum
miras tradisional mewah ini,
tapi aku ingin bilang tidak perlu jika kamu tidak mau.
Kenapa kamu selalu marah? Astaga.
Tepat waktu. Jika bukan karenamu, aku pasti sudah mati.
Kamu cukup sering datang belakangan ini.
Apa mengabaikanku tren bagi kalian?
- Selalu begitu. - Mengabaikanku adalah kebiasaanmu?
Aku terkejut kamu baru sadar.
Astaga.
- Berikan aku bir. - Aku tidak mau memberikannya.
Kamu tidak akan kembali ke Pulau Jeju?
Kamu tidak mau pergi? Cepatlah pergi.
Apa dia membenciku?
Aku terkejut kamu baru sadar.
Entah apa Woo Yeon menikmati kencannya.
Apa dia berkencan lagi?
Dia orang yang sangat hebat.
Dia tampan, kaya,
- dan dia mengebut. - Dia mengebut?
Selain itu, dia sangat peduli.
Mereka pasangan yang serasi.
Hei! Kenapa kamu tidak punya rasa keadilan padahal kamu jaksa?
Selamatkan dia dengan menyuruhnya keluar.
- Kamu mau ke mana? - Toilet.
Apa pekerjaannya?
Entahlah.
Kenapa kalian selalu memarahiku?
Aku terkejut kamu baru sadar.
Astaga, kamu...
Mengebut? Apa dia sopir mobil balap?
"Malam Ini"
Benar. Aku tidak merokok.
Baiklah. Dengar.
Kalian pernah mencoba membeli tiket konser di internet?
Pernah?
Aku...
Ada apa?
Begitu mereka tahu kamu bisa melakukannya,
kamu akan selalu melakukannya.
Pak, bukankah kamu bilang
pernah pergi ke konser Red Velvet?
Itu bukan tiket yang mudah didapatkan.
- Kamu benar. - Kamu sangat hebat.
No comments yet. Be the first to leave one.