The first 200 lines.
Dahulu, selain datang ke sekolah untuk bermain,
kami ke sana untuk bertemu seseorang.
Seseorang yang kami semua cintai.
Karena kamu ketua kelas, bapak menugaskanmu agar Tong belajar.
Kenapa Pak Sommai menyuruhku menjaga Tong?
Aku menemukan sosok menantu pintar untuk kalian.
Kenapa kamu bisa sangat percaya diri bahwa dia menyukai orang sepertimu?
Bagaimana, Nak?
Kamu berhasil mencuri hatinya?
Hei, jangan terlalu memikirkannya.
Wanita menyukai salah satu dari sedikit hal.
Jika tidak suka musik, mereka pasti suka emas.
Ini.
Kalau begitu, boleh kuminta semua emas Ayah?
Ambillah.
Lihat apa yang kamu ajarkan kepada anak kita.
Nasihat yang bagus.
Wanita tidak bisa dibeli dengan perhiasan atau semacamnya.
Itu hanya materi.
Namun, kamu setuju menikahiku karena...
Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya?
Kamu harus membeli kepercayaannya.
Di mana mereka menjualnya?
Berapa harganya? - Kamu memang anak ayahmu.
Ayo masuk.
Berapa yang Ayah habiskan, Ibu?
Bisakah Ibu menjualnya kepadaku?
Apa maksudmu?
Kepercayaan tidak dibeli dengan uang!
"Memenangkan hati"
"Salon Haeb"
Ini favoritku.
Pao, ambilkan kacang itu untukku.
Bagaimana denganku, Bibi?
Terima kasih.
Terima kasih. - Yang ini busuk.
Lihat ini, Bank.
Bolehkah aku menanyakan hal yang sangat serius?
Apa itu?
Kamu menyukai Lin, bukan?
Bank.
Tong tidak menjawab,
itu artinya dia menyukainya.
Hei, Paman.
Aku tidak suka Lin.
Kenapa orang hebat sepertiku menyukai Lin?
Tidak mungkin. - Kenapa tidak, Tong?
Lin manis, pintar, dan punya senyum yang indah.
Lin cantik seperti ibunya.
Kalian tahu?
Dahulu ibu Lin adalah wanita cantik di kota ini.
Benarkah?
Semua pria mengejarnya.
Termasuk Paman, bukan?
Hei, Dong. Pamah bahkan tidak perlu mencoba.
Karena Paman bisa segera mendapatkannya?
Karena dia bahkan tidak sudi menyentuh bayangan paman.
Jangan beri tahu siapa pun soal itu!
Sama seperti kalian, hanya bisa melihat dari jauh.
Hei, jangan libatkan aku, Paman.
Aku tidak suka Lin.
Dia hanya menyangkal.
Paman sungguh ingin memukulmu agar sadar.
Kalau begitu, siapa yang kamu suka?
Ja-Oh? - Tinggi dan panjang?
Jangan menjelek-jelekkan Ja-Oh.
Tingginya mencapai standar.
Standar jerapah.
Teman-teman, jangan menghindari topik.
Mari kita bersatu.
Bersatu untuk apa?
Bersatu soal siapa yang bisa merayu Lin.
Omong kosong.
Sudah kubilang, Lin tidak suka orang bodoh seperti kamu.
Kamu.
Kamu. Dan...
Maafkan aku, Paman.
Apa katamu, Berandal?
Beri dia bihun.
Kenapa aku tidak bisa menyingkirkan semuanya?
Hei!
Seharusnya kita melakukan ini sejak lama.
Ini jauh lebih baik.
Suruh ibumu membelikanmu sepeda motor.
Aku juga tidak memahami ibuku.
Ini sangat nyaman.
Ton-Liu.
Bantu ibu membawa masuk barang-barangnya.
Baik, Bu.
Toko ini yang tercantik di sekitar sini.
Ini.
Minumannya tidak manis dibandingkan wajahnya.
Kamu hebat!
Kawan, ayahnya datang.
Kamu mau obat?
Tidak usah.
Ayah!
Hei! Ja-Oh!
Kamu sangat menarik, Lin.
Semua pria di seluruh kota pasti mencoba peruntungan mereka denganmu.
Kamu berlebihan.
Mereka hanya datang untuk membeli minuman.
Aku ingin menjadi semenarik dirimu.
Kamu harus berhenti membungkuk dahulu,
itu merusak posturmu.
Orang pendek sepertimu tidak akan pernah mengerti.
Para anak laki-laki mengejekku sejak SD.
Jadi, kamu mengejar dan mencoba menendang mereka?
Jadi, mana mungkin ada yang berani merayumu?
Benar sekali.
Namun, itu memuaskan.
Lihat itu?
Kamu mau minum?
Kalian masih tetap cantik.
Terutama Lin.
Mai, jika kamu akan gatal seperti ini,
kenapa kamu tidak masuk dan membeli obat?
Aku sudah punya obat, tapi tidak memakainya.
Itu perih.
Omong-omong, bolehkah aku membeli sesuatu, Lin?
Tentu, kamu mau apa?
Bisakah itu hatimu?
Lin, kurasa aku sakit.
Sentuh dahiku.
Lin, jangan memercayainya.
Dia hanya ingin kamu menyentuh dahinya.
Kalian datang untuk melecehkan Lin?
Hei, bukan aku.
Aku datang untuk minum.
Lin, jika tidak mau menyentuh dahinya,
kamu bisa memegang tanganku.
Tangan yang kamu pakai untuk menggaruk selangkanganmu?
Dasar jerapah! - Kotor!
Kamu menginginkan daun?
Mai! Ja-Oh! Berhenti!
Diam.
Ja-Oh. Hentikan.
Sedang apa kalian di sini?
Jika tidak ada kegiatan, pulang saja.
Kubilang aku datang untuk minum.
"Sebotol besar minuman krisantemum"
Aku ingin sepotong hatimu.
Entah apa aku bisa mendapatkannya?
Jika kau mau sesuatu, pergi saja ke pasar.
Ayah.
Halo, Ayah.
Itu ayah Lin, bukan ayahmu.
Halo.
Ayah Lin bukan ayahmu.
Lin, boleh aku minta satu minuman krisantemum?
Baiklah, tapi tunggu antreanmu.
Jadi, kamu tidak hanya makan daun, Ja-Oh?
Urus urusanmu sendiri.
Dong, ada apa?
Dong?
Ada apa denganmu, Dong?
Manisan tersangkut di tenggorokanku.
Aku tadinya berpura-pura sakit, tapi sekarang aku benar-benar sakit.
Pao yang malang.
Itulah yang terjadi kepadaku, Lin.
Ayo pulang.
Bagaimana kamu akan pulang?
Ini masih hujan.
Benar, rambutku akan berantakan.
Hei, kamu lupa ini hari Sabtu?
Ada film baru di rumah Paman Haeb.
Filmnya akan tidak tersedia jika kamu terlambat.
Hei, Paman Haeb!
Paman suara serak?
Paman Haeb!
Suara serak?
Paman Haeb!
Paman Haeb!
Paman Haeb!
Paman Haeb!
Tunggu, Ja-Oh.
Bukankah Paman Haeb itu salon?
Apa dia juga menjual film?
Aku tidak pernah bisa memahami anak laki-laki.
Lin!
Lin!
Tong.
Bisa jual obat kepadaku, Lin?
Aku sakit.
Ini sudah larut malam, Tong.
Pulang dan tidurlah.
Aku benar-benar sakit.
Tidak ada obat lagi di rumah.
Kamu tidak memercayaiku?
Lihat aku.
Datanglah ke depan.
Jika kamu benar-benar sakit, pergilah ke rumah sakit.
Kenapa kamu datang ke sini?
Untuk membeli obat?
Namun, kamu akan membaik lebih cepat dengan suntikan dokter.
Aku tidak mau disuntik.
Kamu takut jarum?
Tidak.
Kamu pasti takut jarum.
Tidak.
No comments yet. Be the first to leave one.