The first 200 lines.
"Episode 7"
Tadi pagi kamu tidak dengar?
Jun Seung bilang dia bukan ayah dari bayi itu.
Seumur hidupku, hanya dia
pria dalam hidupku.
Selain dia, aku tidak pernah
berpacaran dengan pria lain.
Kamu berusaha menghancurkan hidup putraku?
Aku mengetahui kehamilanku di Hari Tahun Baru Imlek yang lalu.
Jadi, aku memberi tahu Jun Seung,
tapi dia langsung menyangkalnya.
Hei!
Di hari itulah dia meninggalkanku.
Ayah baik-baik saja?
Sekalipun ucapannya benar,
aku akan berpura-pura hamil.
Semua orang akan tahu yang sebenarnya.
Sayang.
Kupikir kamu hanya gila, ternyata sinting.
Aku akan mengurus situasi di sini. Jadi, pergilah.
- Suruh Jun Seung pulang. - Kenapa?
Ini waktu yang penting baginya.
Dia dalam pembicaraan soal menikahi orang penting.
Sadarlah.
Hubungan dengan Grup Hansoo sudah berakhir.
Tidak. Aku tidak akan menikah.
Apa katamu?
Apa pun yang terjadi, aku akan mengikuti rencanaku.
Ayah mengajarimu seperti itu?
Ayah tidak menyekolahkanmu dan mendukungmu agar hidup seperti ini!
Dia juga tidak tahu.
Kita juga korban dan terkejut akan kabar ini.
Dia menghamili putri orang lain.
Apa? Kamu akan mengikuti rencanamu?
Dia bersembunyi hingga perutnya menjadi sebesar itu.
Apa ini yang akan dilakukan oleh orang waras?
Dialah yang gila. Apa ini salahku?
Kamulah yang tidak berhati-hati.
Ini akibat perbuatanmu. Berani sekali kamu membentak!
Aku sudah dewasa.
Itu terjadi tanpa paksaan dan aku tidak bersalah.
Hei!
Katakan. Apa aku memaksamu?
Apa aku melakukannya saat kamu tidak menginginkannya?
Kamulah yang menginginkanku!
Jaga ucapanmu!
- Ayah! - Ada apa denganmu?
Jangan memukulnya.
Kamu sudah dewasa? Terjadi tanpa paksaan?
Dia mempertahankan kehamilannya maka dia juga bisa hidup mandiri.
Dia pasti yakin dengan konsekuensinya.
- Bedebah. - Ayah.
- Sayang. - Jangan memukulnya, Ayah.
Dia tetap ayah dari bayi kami.
Hei. Bayi kami?
Pengacara Park.
Kamu menerima uang pemberianku dan sekarang berubah pikiran?
Kenapa? Kamu butuh lebih banyak uang dariku?
Pikirmu aku akan memberimu lagi jika kamu berlagak polos?
Ayah.
Aku tidak butuh uang ini.
Aku melakukan ini bukan karena uang.
Pembohong.
Jadi, berapa hargamu?
Butuh berapa banyak agar kamu enyah?
Bedebah.
Tidak akan kubiarkan Ayah memukulku kali kedua.
- Apa katamu? - Ini hidupku.
Jadi, jangan ikut campur dan pergilah!
- Hei, kemarilah. - Bunuh aku!
Bunuh aku!
Bunuh aku sebelum kamu pergi.
Bunuh aku!
Sejak awal, aku tidak berniat melakukan ini.
Aku menemui Pengacara Park begitu tahu aku hamil.
Dia mengajakku ke dokter secara paksa.
Meskipun begitu,
seharusnya kamu bicara kepadanya.
Masa depan bayimu bergantung pada itu.
Andai bisa meyakinkannya,
aku pasti sudah bicara kepadanya.
Kamu tahu perangainya, bukan?
Bahkan setelah memutuskan untuk mempertahankan bayi ini,
aku pergi ke rumah sakit beberapa kali.
Aku tidak sanggup melakukannya.
Apa itu alasanmu bertahan hingga perutmu menjadi sebesar ini?
Apa aku tampak aneh bagimu?
Beberapa hari yang lalu, perutku terasa sangat sakit.
Kupikir jika aku mati seperti ini,
bagaimana nasib bayiku?
Aku sangat takut.
Itulah sebabnya aku naik taksi
dan mengikuti truk pindahan.
Aku akan terus kemari.
Aku akan terus kemari hingga mereka menerimaku.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin itu benar.
Hei.
Dia bilang apa?
Dia berbohong, bukan?
Dia berbohong agar bisa menikah dengan putraku?
Hei.
Sepertinya dia mengatakan yang sebenarnya.
Apa? Omong kosong apa itu?
Kamu tidak tahu itu kebohongan?
Kamu masih bisa mengaku kakak iparnya?
Kamu tidak pantas menjadi kakak iparnya.
Tenanglah.
Kita cari Jun Seung saja dan mendengarkan penjelasannya.
Kita harus pikirkan tindakan selanjutnya.
Memikirkan apa?
Kita harus membungkamnya agar dia tutup mulut.
Kita harus menghancurkan dia
sebelum tetangga sebelah tahu.
Aku pulang.
Kurasa tetangga baru kita sudah pindah ke rumah sebelah.
Lampunya menyala.
Ke mana perginya semua orang?
- Gi Ppeum. Ibu. - Ayah.
Ayah!
Gi Ppeum. Ini dia putri ayah.
Gi Ppeum, di mana nenekmu?
Dia ada di kamar Nenek Buyut.
Apa?
Nenek.
Apa yang terjadi kepada Ibu?
Apa yang terjadi?
- Nenek terjatuh. - Apa?
Bagaimana itu bisa terjadi?
Itu terjadi saat dia menuruni tangga.
Apa Nenek tersandung? Pergelangan kaki Nenek terkilir?
Ini bukan apa-apa.
Karena jiwaku masih muda, kupikir aku masih bisa berlari.
Lalu aku terjatuh.
Aku sudah meminta Nenek berpegangan saat turun tangga.
Kenapa Nenek berlari? Nenek terburu-buru pergi ke toilet?
Dia bermain petak umpet denganku.
Apa?
Nenek terjatuh karena berusaha tidak kalah dari Gi Ppeum?
Bagaimanapun itu permainan. Haruskah kubiarkan dia menang?
Nenek merasa pening?
Nenek merasa mual? Atau kaki dan tangan Nenek kebas?
Sama sekali tidak. Pikiranku juga sehat. Tidak perlu cemas.
Mari pergi ke rumah sakit. Jangan hanya mengompres pergelangan kaki.
Ayah tahu Nenek tidak suka rumah sakit.
Nenek tidak akan pergi sekalipun pergelangan kakinya bengkak besok.
- Tidak, ayo berangkat. - Apa?
Aku tidak boleh mati sebelum bertemu dengan Gong Joo.
Ayo ke rumah sakit.
Karena ligamen pergelangan kakinya sobek, aku memasang gips tipis.
Omong-omong, dia bilang agak pening saat tergelincir.
Jadi, kami melakukan MRI. Hasilnya tidak menunjukkan masalah.
Mengingat usianya, aku ingin dia dirawat sehari di rumah sakit.
Kalau begitu, mau memeriksakannya ke dokter THT sebelum pergi?
Ya, kami akan melakukannya, Dokter.
Baiklah. Aku akan mengatur janji temu.
Lebih baik menjalankan lebih banyak pemeriksaan selama diopname, bukan?
Tentu saja. Mari melakukannya.
Aku akan menunggu di rumah sakit. Silakan pulang.
Besok pagi kamu harus bekerja. Jangan bermalam di sini.
Biar ibu saja.
Jangan cemaskan Nenek. Pulanglah dan jaga Gi Ppeum.
Besok pagi ibu harus mengantarnya ke TK.
Baiklah.
Ibumu hendak menginap di sini.
Kenapa kamu mempersulit diri sendiri?
Apa maksud Nenek? Ini seru karena kita seperti bepergian.
Kamu pasti tidak punya teman untuk bepergian.
Kamu menyukai seseorang?
Kamu tidak bisa menyukai seseorang?
Tidak bisa.
Bagaimana jika kamu membuka hatimu?
Kamu memilih tidak menyukai siapa pun. Pasti ada seseorang.
Sangat disayangkan kamu harus berurusan dengan wanita seperti itu.
Aku tidak bisa membayangkan betapa terlukanya dirimu.
Kamu tidak berniat mengencani seorang wanita.
Aku suka keadaan saat ini.
Seharusnya kubiarkan saat kamu bilang akan hidup bersama Gi Ppeum.
Kamu harus mengalami kesulitan untuk membesarkan anak sendirian.
Itu pasti membuatmu ingin berpacaran.
Itu kesalahan nenek.
Setidaknya kamu harus berpacaran.
Lebih banyak wanita baik daripada yang jahat di dunia ini.
Pergelangan kaki Nenek sakit? Denyutnya pasti lebih kuat.
Nenek akan menikahkanmu sebelum mati. Ingat ucapan nenek.
Agar Nenek hidup lebih lama, aku tidak boleh menikah.
Kamu melantur lagi.
Minta ketua tim hukum kita menemui nenek di rumah.
Maksud Nenek, Pengacara Oh?
Sepertinya nenek harus mengubah wasiat nenek.
Wasiat nenek saat itu,
nenek sama sekali tidak memikirkan Gong Joo.
Meski nenek telah tiada,
setidaknya dia harus tahu perasaan nenek kepadanya.
Apa kamu kecewa?
- Ya. - Kenapa?
Apa kamu cemas dia akan mengambil bagianmu?
Ya, aku sangat iri pada Gong Joo.
Mungkin sebaiknya aku tidak menelepon Pengacara Oh.
Dasar berandal.
No comments yet. Be the first to leave one.